
"Dasar idot! Ayo kaburr...!!"
Erena tiba-tiba saja berada di pintu goa, berdiri seorang diri.
Kenapa dia bisa di sini? Apa dia mengikutiku sedari tadi?
Dari pada memikirkan itu...
"GRAAA...!!"
Giant Hedgehog itu langsung mengejarku dengan sangat cepat dan brutal.
Secara reflek saat ada bahaya mendekat, aku berlari keluar dari goa itu. Tapi Erena tidak bergerak sedikitpun.
"Hoi! Ayo kita pergi dari sini!"
(Diam)
"Hei, Erena! Kau dengar aku tidak!?"
'"GRAAA...!!"
"Baiklah, jangan menungguku di alam sana..."
Aku berlari meninggalkan Erena yang sepertinya sedang kerasukan jin atau semacamnya.
"Baiklah, selagi monster itu sibuk makan daging Erena, aku dapat melarikan diri sejauh mungkin. Hiks,,,hiks,,, pengorbananmu takkan pernah ku lupakan."
Aku sudah berjarak sedikit jauh dari pintu goa, tapi aku masih bisa melihat Erena dari tempatku berdiri.
Bersembunyi di balik pohon dan melihat apa yang sedang terjadi, mungkin ide yang buruk.
"Loh Junma!?"
"Ha Mekata! Ada apa ini!? Felix juga di sini!"
Ternyata dua orang itu juga bersembunyi di balik pepohonan yang tak jauh dari tempatku.
Sebenarnya apa yang terjadi...
"Dimana Erena?"
"Dia di dalam, kayaknya lagi bertarung sama Giant Hedgehog."
"Apa!? Dia bangun...!?"
Mekata lalu berlari ke arah goa dengan muka panik.
"Siapa yang bangun!?"
"Dasar bang Junma bodoh, Landak itu sangat berbahaya tau! Kalau sampai kak Erena terluka..."
"Bahaya? Bukannya kau bilang landak itu cuma monster terlemah? Erena pasti bisa ngalahin dia dengan batu kegelapannya!"
"Kami belum bisa membelinya! Meski Mekata sudah memberikan semua uangnya, itu hanya bisa membayar separuh harga. Kami akhirnya sepakat untuk mengambil misi dan membayar kekurangan itu."
"Kami mendapat misi untuk membunuh monster tingkat rendah ini, karena dia aktif di waktu malam, jadi kami pikir, ini adalah misi yang cocok bagi pemula seperti kak Erena..."
"Tapi dia, landak itu sudah bangun..."
"Itulah bahayanya! Landak itu dijadikan monster rank rendah, karena kemudahannya dibunuh saat siang hari. Tapi kalau dia bangun, sudah lain lagi!"
"MONSTER ITU BAKAL NAIK JADI TINGKAT MENENGAH SAAT BANGUN DI SIANG HARI...!!"
Glek...
Apa-apaan itu..
__ADS_1
Meski aku sudah menduga ini, tapi tetap saja rasanya mengerikan.
"He– hei, apa Erena membawa senjata saat masuk ke goa?"
"Hanya belati yang aku pinjamkan padanya. Kami berniat menyuruh Erena memotong syaraf didekat leher agar makhluk itu langsung mati... sekalian agar Erena yang mendapatkan experience untuk menaikan status levelnya! Tapi ini gak berjalan lancar...!"
"Jadi dia juga mendaftar menjadi anggota perserikatan petualang..."
Di otakku aku memikirkan ini. Apa landak kalau tidur emang selonjoran gitu? Bukannya, dia akan berubah jadi gumpalan bola saat tidur ya?
Oh aku tau, mungkin landak di dunia ini berbeda. Meski ada sedikit kesamaan dengan landak di dunia asalku, tapi belum tentu semuanya sama persis.
Yah, ini dunia lain sih...
"Kita udah ngabisin banyak waktu! Ayo bang Junma, kita bantu Mekata dan kak Erena di dalam sana...!!"
Aku mencoba kabur, tapi Felix mencegahnya dengan menahan body armorku.
"Kau mau kemana bang Junma... gua itu ada di sana."
"Bukankah Mekata sudah membantu Erena? Semua masalah teratasi, dan kita tinggal menunggu mereka kembali ke guild. Ayo, pulang..."
"Giant Hedgehog tidak semudah itu di kalahkan, lagian Mekata bukan ahlinya untuk bertarung, aku mohon..."
"Demi Mekata dan kak Erena, ayo bantu mereka!"
Felix terlalu mendramatisir, dan anehnya aku ikut terbawa kedalam kedramatisannya...
"Bukannya aku tidak mau membantu mereka, tapi bisa apa aku? Musuhnya adalah monster raksasa kelas menengah. Aku juga tidak punya kemampuan apapun dalam bertarung. Sihir? Aku bahkan tidak mempunyai..."
Saat aku mencoba memperlihatkan kartuku kepada Felix, aku menyadari sesuatu.
Ada suatu tulisan baru di dalam kolom skill kartu milikku. Itu bertuliskan 'Akselerasi '
"Apa ini?"
Mau tidak mau aku harus mengikutinya. Kekuatan anak kecil ini seberapa besar sampai aku tidak bisa melawan begini?
Kami akhirnya masuk ke dalam goa.
"Ether Coat..!!"
Tiba-tiba muncul pelindung transparan yang mengelilingi Mekata dan Erena.
"Itu sihir Mekata! Dia mungkin tidak memiliki sihir serangan yang efektif melawan giant Hedgehog, tapi pertahannya lumayan kuat."
"Jadi itu sihir... tunggu, lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya terdapat pada kak Mekata. Mungkin sihir pelindungnya tidak akan bertahan lama melawan giant Hedgehog itu!"
Melihat mereka bertahan, tapi aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa.
Erena yang bodoh itu... kalau saja dia tidak berteriak, aku mungkin akan dapat bayaran lebih awal, dan semua ini takkan terjadi.
Sungguh, kenapa selalu saja seperti ini.
"Sial, andai aku punya kekuatan sihir!"
Baiklah, sepertinya aku punya satu. Dan itu baru saja muncul di list kartu petualangku.
Aku membaca deskripsi sihir yang bernama Akselerasi itu.
"Eh, tunggu, memberikan peningkatan... sial terlalu panjang!"
"Baiklah, tinggal bilang nama sihirnya saja kan!?"
"Eh, bang Junma?"
__ADS_1
Aku menarik pedang pendek satu tangan milikku dari sarungnya, dan mencoba menyerang landak itu dari belakang. Itu kesempatan yang bagus, selagi dia disibukan oleh Mekata.
Kemampuan menyelinapku sungguh dapat di andalkan. Mekata sekilas melihat diriku, tapi dia tetap diam. Aku rasa dia tau rencanaku.
"Baiklah! Akselerasi..!!"
Tiba-tiba tubuhku menjadi sangat ringan.
"Aku tidak ada waktu untuk kagum..."
Aku berlari kearah landak besar itu dengan lebih cepat ketimbang sebelumnya. Tubuhku rasanya sangat ringan dan kuat.
Dan saat aku ingin menusuk landak itu...
"Jangan di situ...!!"
Ting...!!
Tiba-tiba duri landak itu sangat rapat di area belakangnya. Padahal tadi, aku masih melihat celah kulit yang lumayan besar. Tapi sekarang, bahkan aku hanya melihat duri-duri yang bergerak merapat.
"Apa yang..."
Landak itu menoleh kearahku...
"Si–Sial..!!"
Tubuhku terasa berat lagi, ini mungkin karena efek akselerasi hanya sementara. Aku mencoba mengaktifkannya lagi, tapi tidak bisa.
Graaa...!!
"Hoaah...!! Akselerasi! Akselerasi! Akselerasii...!!"
Aku berlari dengan panik, sambil mengulang-ulang mantra skill milikku, tapi gagal. Bahkan sekarang, tubuhku terasa lebih berat dan lemas dari sebelumnya.
"Hoah buntu...!!"
"Bang Junma!"
"Junma!" 2x
"Jangan cuma teriak dan cepat tolong aku...!!"
jebugh...!
Landak itu menyerang tubuhku dengan cakar miliknya. Al hasil, aku terpental dan menabrak tembok bebatuan goa.
Sungguh beruntung aku membeli plat armor kulit ini. Tapi keberuntungan yang sementara.
Karena goa ini sangat kecil, aku malah terjebak di sudut goa dengan landak raksasa itu menutup jalan keluar ku.
Sangat lelah, tak berdaya, dan tidak bisa kemana-mana.
Apa ini adalah akhir dari petualanganku...? Bahkan belum genap dua hari aku ada di dunia baru ini.
Sungguh, aku pasrah.
Aku berdiri mematung selayaknya Erena tadi.
"Oh, jadi saat Erena bengong tadi, gara-gara dia ketakutan ya... sungguh konyol."
Landak itu mengeram seperti singa. Sambil menyeringai, dia memperlihatkan gigi tajam putih bersihnya itu.
Mungkin landak ini rajin sikat gigi.
Tanpa aba-aba, dia langsung mengarahkan mulut terbukanya kepadaku dengan sangat cepat.
Graaa...!!
__ADS_1
Jreph...