Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !

Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !
Part 3


__ADS_3

Pengeroyokan itu terjadi begitu cepat.


Saat aku sadar, aku sudah duduk di kursi dengan pelayan wanita yang sedang mengobati luka lebam ku.


"Apa kamu sudah sadar...!?" ucap lembut pelayan itu.


"Uh,,, apa yang terjadi?"


"Dimana aku?"


"Tadi kamu di keroyok oleh tujuh orang, untung saja mereka hanya memukulimu. Lalu gadis setengah hewan itu menyuruh para petualang berhenti."


Pelayan itu menjelaskan.


"Ha...? Ja~ jadi aku masih di bar...."


"Akh, Sakit...!"


Pelayan itu menempelkan kain basah disamping mulutku. Aku rasa wajahku babak belur.


Bahkan di beberapa titik, aku tak bisa merasakannya.


Sesaat aku berpikir begitu, kemudian aku sadar Erena tidak ada di sini.


"Ini, pegang kain ini. Air dingin bisa mengurangi lebam mu."


"Te,,, terima kasih."


Pelayan itu berambut coklat panjang dengan mata biru yang indah.


Siapa yang butuh Erena kalau aku bisa mesra-mesra an dengan pelayan imut yang baik.


"Terima kasih kak, anu..."


"Tidak usah sungkan, usia kita tidak jauh kok. Namaku Alecia Rolecroft, tapi kamu bisa memanggilku Alice."


Ada apa dengan situasi ini.


Ini seperti saat karakter utama bertemu dengan si heroine untuk pertama kali.


Kisah Si Petualang Sagria Junma di mulai!


Persetan dengan Erena,,, kali ini aku akan membuat kisahku sendiri.


Tadi sempat aku berpikir begitu.


"Um,,, salam kenal Alice, namaku..."


"Junma kan?"


",,,,"


"Tadi teman wanitamu sudah berpesan kepadaku untuk mengawasimu agar tetap disini, selagi dia pergi dengan Felix untuk membeli potion pemulih."


Orang ini mengenal Felix.


"Dia juga sudah memberi tahu namamu. Dia bilang kalau kamu itu gampang tersesat, jadi dia menyuruhku untuk menjagamu deh..."


Aku sedikit kecewa. Lebih baik kalau Si Erena dan loli pembuat masalah itu menghilang dari sini.


Tapi Alice tadi bilang potion pemulih? Jadi ini benar dunia pararel.


Alice lalu tersenyum dengan manis.


"Tekan saja perlahan seperti itu, air dingin membantu mengurangi pembengkakan. Aku akan lanjut kerja, kalau ada sesuatu bilang saja kepadaku oke?"


"Ba~ Baiklah, aku terbantu berkatmu, terima kasih Alice."


Alice mengulum senyumnya, lalu pergi setelah aku mengucapkan terima kasih.


Aku lalu menatap sekitar.

__ADS_1


Tanpa kusadari para petualang itu memperhatikan ku sedari tadi.


Ada beberapa wajah yang ku kenal, yang ikut mengeroyokku sebelumnya.


Saat aku menatap balik mereka, mereka memalingkan wajah, dan pura-pura tidak melihat.


"Lihat, setelah membuat anak kecil menangis dan melecehkan gadis, dia sekarang mengincar Alice..."


"Benarkah begitu!? Kalau benar, itu sungguh parah..."


Sungguh, kalau ingin menggosipiku setidaknya pelankan suara kalian dasar petualang idiot.


Aku rasa banyak kesalahpahaman disini.


Kenapa ini harus terjadi padaku.


Aku bersandar di kursi dan menempelkan kain basah yang Alice berikan kearah wajahku perlahan.


"Sungguh, hari yang melelahkan di dunia lain."


Aku memandang ke langit-langit bar.


"Al-em-kik kah...?"


Aku mengingat-ingat saat Felix mengatakan kalau kami ada di kota yang bernama Alemkik.


Beberapa menit setelah aku melamun.


"Mata...pandaAAA...!!"


Hanya suaranya saja yang terdengar, mungkin dia sedang berlari kearah sini dengan cepat.


Aku bisa mendengar langkah kakinya.


Benar saja, di pintu masuk bar, tubuh Erena tersembul keluar. Lalu diikuti oleh Felix yang berlari dibelakangnya.


Mereka menghampiriku.


Lemparan kain basah yang ku pegang tepat mengenai wajah Erena, dan membuat kata-katanya terputus.


Sungguh, satu-satunya hal yang baik darinya adalah kecantikannya.


Note: Menurut ahli di American Psychological Association, introvert adalah sikap yang cenderung menarik diri, pendiam, tenang, suka menyendiri, dan tidak tergesa-gesa atau berhati-hati.


"Kalau kau ingin mengejekku, sebaiknya berpikirlah dua kali atau kau akan ku buat merasakan neraka."


Hei, kata-kataku terlihat keren...


"Huh, sudah kubilang kak Erena, jangan menggodanya seperti itu..."


Felix menghela nafas.


Tunggu, sejak kapan mereka seakrab ini?


Apa yang terjadi saat aku pingsan?


"Akh,,,apa,,, ini basah! Jijay...! Muka ku uhhh....!"


Erena melempar balik kain basah yang tadi menempel dimukanya. Itu terlihat sangat kocak, perpaduan antara cewek cantik dan kain lap.


"Hei! Bersikap baiklah sedikit sama orang yang rela berlari untuk membeli obat untukmu!"


"Yah..! Soal itu aku berterimakasih, tapi kata-katamu ter... Tunggu, kau membeli potion itu dengan apa?"


"Kau pikir, di dunia ini transaksi jual beli memakai apa kalau bukan uang? Pake angin!?"


"Kau pikir, aku seidiot dirimu dasar cewek jahanam?! Aku tanya, dari mana kau mendapat uang itu?"


"Sungguh, apa kalian seperti ini setiap saat?"


Ucapan Felix mendahului Erena yang ingin membalas ejekanku.

__ADS_1


Felix maju satu langkah sambil mengambil sesuatu didalam tas ikat pinggangnya itu.


Kalau memungkinkan, aku selalu ingin punya satu yang seperti itu.


"Namamu Junma kan? Aku sungguh meminta maaf tentang sebelumnya, ini adalah hasil dari aku menjual tas milik Kak Erena, di potong untuk aku membeli segelas minuman dan potion itu untukmu."


Dia memberikan sekantong kecil yang aku rasa berisi penuh dengan uang koin.


"Apa ini...?"


"Sudahlah ambil saja! Untuk kekurangannya aku akan membayarnya kapan-kapan."


Bersamaan dengan itu, Erena memberikan potion didalam botol hitam sebesar kepalan tangan itu kepadaku dengan muka cuek.


Note : Potion atau ramuan sihir adalah sebuah obat medis ajaib dalam bentuk cair. Digunakan untuk menambah efek maupun menghilangkan efek baik/buruk bagi tubuh.


Yah, aku sedikit berterimakasih, tapi tidak ku ucapkan, karena gadis itu mungkin akan sok keganjenan lagi.


Aku menerima kedua benda itu.


"Aku tinggal meminum potion ini kan?"


Keduanya mengangguk.


Yah, entah kenapa aku tak merasa ragu atau semacamnya.


Aku lalu membuka penutup botol, dan meneguknya beberapa kali.


Saat selesai, bagian tubuhku yang terluka bersinar dan aku tidak merasakan sakit lagi.


Dunia lain memang hebat.


"Ba,, baiklah! Aku akan pergi. Kamu bisa menemuiku disini lagi untuk mengambil sisa uangmu. Baiklah, sampai jumpa."


"Kau tidak usah memikirkan itu. Lagian aku tidak se tega itu, menyuruh gadis kecil membayar hutang dengan bekerja. Lupakan saja."


Heh!? x2


Erena dan Felix terkejut.


"Apa potion itu juga mempengaruhi otak mapan sepertimu Junma!? Kau tiba-tiba sangat baik."


"Sumpah hoi, selama ini kau memikirkan aku orang yang seperti apa!?"


"Apa benar begitu kak Junma? Aku tidak usah menggantinya!?"


Aku mengalihkan pandanganku ke Felix.


"Ya, lupakan tentang uang sisa! Aku memikirkan yang lebih baik. Bagaimana kalau sebagai gantinya kau harus mengenalkan kota ini kepada kami?"


"Apa?"


"Kau tau, aku dan gadis jablay ini bukan dari tempat ini kan? Karenanya kau harus membawa kami untuk berkeliling kota ini sebagai ganti."


"Tunggu dasar mapan! Apa kau tadi menyebutku gadis jablay!?"


"Apa hanya begitu? Baiklah! Itu lebih baik dari mencuri uang untuk membayar hutang. Kita deal?"


Kami mengabaikan Erena.


Felix lalu mengangkat sedikit tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda sepakat.


"Hm..." ucapku sambil menerima jabatan tangannya.


"Hei!? Apa kalian mengabaikanku?! Hei ingin kemana kalian!? Jangan tinggalkan aku...!"


Konflik ini pun berakhir, dengan Aku dan Felix meninggalkan Erena yang mengomel, lalu aku di cap oleh para petualang yang salah paham, sebagai pria pedo yang meninggalkan kekasihnya begitu saja demi seorang gadis kecil.


Note : Pedo atau Pedofilia adalah kelainan mental (tepatnya kelainan seksual), yaitu berupa nafsu atau ketertarikan seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Orang yang mengidapnya disebut pedofil.


......※......

__ADS_1


__ADS_2