
Pada akhirnya aku bergabung dengan mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi."
Mereka tetap diam.
Satu meja makan terdiri dari aku, Erena, Felix, gadis hantu, dan seorang laki-laki yang tidak ku kenal.
"Bfft..."
"Suara siapa tuh yg nahan tawa!"
"Bwahahaha...!!"
Tertawaan Erena, dan gadis hantu meledak tiba-tiba.
"Nona Erena! Andai kau tau mukanya saat itu..., bwahahaha!!"
"Ah.., mendengar ceritamu saja sudah membuat perutku sakit karena tertawa..., apalagi kalau melihatnya langsung... bwahaha!!"
Mereka malah seenaknya sendiri...
Apa mereka kurang puas membicarakanku tadi?
Lalu si pria yang tak kukenal akhirnya buka suara.
"Ah... maafkan pelayanku, anu... Junma kan?"
"Eh.., um, tidak masalah sih... tapi.., pelayan?"
"Ah, kalau itu, biar dia yang memperkenalkan diri sendiri saja."
Si gadis hantu bangkit dari duduknya, dan memperkenalkan diri.
"Ba.., baik tuan..., anu..., namaku Lilya, aku seorang spirit elf pelayan di mansion ini... um, maafkan aku untuk yang terjadi kemarin.."
Gadis hantu yang memperkenalkan diri sebagai Lilya, menundukan badan saat meminta maaf.
"Oh..., gitu ya, baiklah, kamu juga udah menyesali perbuatanmu, jadi kumaafkann... enak banget ngomong gitu! Setelah membuatku lari terbirit-birit sambil kencing di celana, kau bilang minta maaf! Juih, aku sudah kebal sama pesona gadis cantik. Aku yakin, di dalam hatimu kau sedang menertawakanku kan!? Iya kan!?"
"Cih, cowok nyebelin..."
"Hoi! Kau baru aja mengatakan sesuatu kan!? Aku bisa mendengarnya! Jangan sok polos begitu!"
"Ah, Junma.., aku sangat meminta maaf untuknya. Setelah ini akan ku marahi dia habis-habisan.., tolong maafkan dia."
Laki-laki yang gak ngenalin diri tiba-tiba bilang begitu.
"Yah..., sejujurnya aku sudah tidak peduli sama kejadian itu. Tapi ya.., tolong jangan kau ulangi begitu lagi ya Lilya...? Aku bisa serangan jantung kalau kau lakukan itu lagi..."
"Sepertinya menarik."
Aku mendengar itu dari mulut Lilya, pelan tapi jelas. Aku akan pura-pura tidak mendengarnya.., untuk sekarang.
"Lalu, anda ini siapa?"
"Ah maaf, aku belum memperkenalkan diri..., namaku..."
"Dia yang punya mansion ini dasar mapan gak peka. Dia temannya Felix, Meka Mekata."
Erena mengatakan itu sambil masih asik makan hidangan di meja. Sungguh, kalo gini, tidak ada yang tersisa untukku...
"Sepertinya Erena sudah memperkenalkanku. Namaku Meka Mekata, aku seorang alchemist di kota Alemkik. Kamu bisa memanggilku Mekata aja."
"Uh..., um, namaku Sagria Junma. Aku berasal dari luar kota... salam kenal."
"Yah..., ngomong-ngomong..., ada apa gerangan kalian datang ke mansionku ini?"
"Eh..., jadi kamu yang punya rumah? Berarti kamu temannya..."
"Yap, dia itu teman yang aku bicarakan." Felix menimpali.
Felix lalu menjelaskan semuanya secara detail tentang pertemuan kami, dan bagaimana kami sampai ke sini.
Tapi, saat Felix mengatakan asal kami yang berasal dari Indonesia, muka Mekata tiba-tiba berubah aneh.
__ADS_1
"Indonesia...!?"
"Uh..., be,,, benar."
Mekata terlihat setengah tidak percaya entah karena apa. Ada apa dengan Indonesia?
Apa hanya karena pahlawan Cassel juga yang katanya berasal dari Indonesia juga, mereka sampe terkejut begitu.
"Ah, Junma, Erena..., tunggu di sini sebentar, aku ingin mengambil sesuatu. Ah, sementara itu silahkan nikmati hidangannya."
"Ba... baiklah."
Mekata lalu pergi ke ruangan lain, entah untuk apa.
Sementara itu...
"Hoi Erena jelek! Kenapa tidak ada yang tersisa untukku!?"
"Eh...!? Jangan menyalahkanku karena kebodohanmu sendiri dong.., siapa suruh pergi keluar?"
Orang ini, kemana perginya semua makanan itu? Hey..., cewek ini tidak normal...
Jadi begitulah..., aku harus merelakan perut yang keroncongan ini. lagipula aku masih memegang uang semalam milik Erena.
"Hei, Kemarin aku memberikan kantong apel kepadamu kan?"
Aku jadi kepikiran tentang apelnya.
"Hm..."
"Dimana itu?"
"Ku tinggalkan di jalan..."
"Sungguh... cewek idiot."
"Mau bagaimana lagi! Itu sangat berat dan merepotkan!"
"Kenapa gadis idiot sepertimu bisa masuk ke sekolah elite hah!?"
Sungguh..., untuk kedepannya, tidak ada belas kasihan untuk Erena...
"Anu..."
Lilya membuka suara.
"Maaf mengganggu reuni kalian, tapi..., apa sungguh kalian ini datang dari Indonesia? Kalian tidak mencoba berbohong kan...?"
"Huh? Aku berani sumpah, kalau aku orang asli Indonesia. Tapi aku bertanya-tanya soal itu..., memangnya ada apa sih sama orang Indonesia?"
"Begini.. yang aku tau dari penduduk kota, negeri Indonesia adalah negeri yang penduduknya memiliki kewibawaan yang tinggi. Mereka adalah kelompok manusia yang beradab dan bijaksana. Itu lah yang aku pikir. Tapi setelah melihat kalian..., aku jadi meragukan kejujuran kalian."
"Aku berani bertaruh soal kejujuranku."
"Yah, aku sudah melihatnya dari pengelihatanku. Meski kalian mencurigakan, tidak ada tanda-tanda kebohongan dari dirimu."
"Eeeh..., kau ini kayak peramal pembaca pikiran atau gimana?"
"Begitulah...."
"Huh..., sebenarnya kami ke sini juga tanpa alasan yang jelas. Ada buku jelek yang membuat kami tiba-tiba berpindah tempat."
"Eh buku? Bang Junma..., jangan-jangan buku itu..."
"Maaf membuat kalian menunggu!"
Mekata kembali kemari dengan membawa sesuatu di tangannya, dan itu tampak familiar.
"Bagaimana Lilya? Apa mereka berbohong?"
"Tidak tuan, meski kelihatan meragukan, dia jujur."
"Hoi Erena! Lihat itu!"
Yang ku panggil tetap sibuk makan tanpa menyahutiku.
__ADS_1
"Hah!? Bukannya itu.."
"Apa kalian tahu buku ini?"
"Itu adalah buku yang membuat kami berteleportasi ke tempat ini! Bagaimana bisa?"
Mekata menelan ludah, setelah mendengar jawaban ku. Dia menoleh sedikit ke arah Lilya.
"Bagaimana Lilya?"
"Dia jujur."
Sedangkan Erena..., dia masih asik memakan makanan yang ada di meja tanpa memperdulikan kami.
"Kalau begitu, kalian adalah..."
"Adalah apa!? Cepet katain! Ini bukan film yang kalo bicaranya setengah-setengah dan bikin orang penasaran!"
"Kalian adalah pahlawan yang di pilih untuk..."
"Yaap diam, jangan di terusin."
"Heh!?"
"Pasti kau ingin bilang gini... Oh...! Kalian adalah pahlawan yang di pilih dewa untuk membunuh raja iblis dan membawa perdamaian dunia ini...! Iya kan!? Iya kan!?"
"Menyelamatkan dunia dari monster peninggalan penyihir, lebih tepatnya..."
"Alah, sama aja, sebelas dua belas...!"
Itu benar, di suruh bawa perdamaian dunia dan ngebunuh raja iblis, atau semacamnya itu...
Ini adalah alur cerita pasaran di serial film fantasy kebanyakan.
Dan juga, aku punya pertanyaan yang menganjal di pikiranku. Aku bertanya-tanya, sebaik apa sih karakter utama di film-film.., sampai mau menyelamatkan dunia yang asing dan tanpa di bayar.
Mereka juga mati-matian, rela terluka demi orang gak di kenal. Aku tau itu cuma film, tapi.. alur ampas kayak gitu malah nyata terjadi kepadaku. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku juga harus seperti main character itu? Mempertaruhkan nyawa demi dunia ini?
"Hm..., tapi aku merasa ada yang aneh..."
Mekata mengatakan itu.
"Ada lima buku seperti ini tersebar ke seluruh dunia. Lalu, seharusnya masing-masing buku ini hanya membawa satu orang saja yang terpilih..., tapi kenapa kalian datang berdua?"
"Benar juga..."
Felix dan Lilya juga terlihat berpikir.
Tampaknya, cerita tentang pahlawan yang di kirim untuk menyelamatkan dunia itu sudah terkenal dan malang melintang di dunia ini.
"Oh iya.., saat kalian di kirim kesini, apa kalian berdua seperti masuk ke dalam portal, atau kalian di kelilingi cahaya aneh begitu?"
"Aaah... yaa seperti itu sih.., saat itu tiba-tiba ada cahaya aneh berputar mengelilingi tubuh Erena..., tapi karena sesuatu, aku malah tertarik masuk ke dalamnya... dan akhirnya kami berdua berteleport ke sini."
Tikk...
Mekata menjentikan jarinya.
"Itu berarti, Erena adalah pahlawan yang sesungguhnya! Ya.., kau tau, cahaya itu mengelilingi Erena kan?"
"Benar..."
"Tapi, secara tidak sengaja bang Junma malah ikutan masuk ke dalam portal."
Felix menimpali.
"Ehh..?"
Artinya aku...
Cuma gak sengaja ikut ikutan masuk ke sini.
Jadi aku cuma karakter sampingan...?
Sementara itu, cewek yang aslinya pahlawan yang di pilih buat nyelametin dunia, memasang muka bodoh, dan bengong ke arah kami dengan mulut penuh makanan, seakan tak mengerti apa-apa karena telat nyimak pembicaraan.
__ADS_1
"Ada minum nggak? Aku seret..."