
Mapan mesumm...!"
Erena berlari ke arahku dengan muka bermasalah.
Sudah kuduga akan menjadi seperti ini.
"Mapan mesum...! Kau harus ikut aku sekarang!"
"Maaf, apa aku mengenalmu...!"
"Ayolah... ini juga masalahmu, karena sesuatu milikku yang paling berharga sudah kujual! Kau juga harus ikut menjelaskan kepada orang tua itu! Lagian, kenapa kau tidak memberiku uang sepeserpun?"
"Oi, jangan ngomong sesuatu yang bikin salah paham gitu!"
Lagi-lagi, kami jadi bahan tontonan satu guild.
"Menjual sesuatu paling berharga!?"
"Menjelaskan!?"
"Gadis itu tidak diberi uang setelah menjual sesuatu yang paling berharga... aku rasa dia dipaksa..."
"Kalian salah paham!"
Aku menarik Erena keluar dari dalam guild agar menghindari salah sangka, diikuti Mekata dari belakang.
Di luar guild...
"Lalu, masalah apa lagi yang kau lakukan?"
"Kau bicara seolah-olah, aku adalah pembuat masalah... huft!"
Karena itu adalah fakta, dasar Erena idiot.
"Kakek merchant yang membeli tasku... dia tidak ingin menyerahkannya lagi. Katanya kami harus membayar sejumlah uang untuk mengambilnya kembali, tapi kata Felix harganya sepuluh kali lebih mahal dari harga yang Felix jual kepadanya. Kami akhirnya berdebat, dan kalah sama kakek itu. Aku tau tasku itu memang mahal, tapi kalau disaat begini, itu malah bikin susah!"
"Lalu?"
"Mapan mesum, kau harus membantuku mendapatkan tas itu, padahal kakek itu sudah aku beritahu tentang aku adalah pahlawan, dan di dalam tas ada senjata pahlawanku. Saat dicek, benar aja... di dalamnya ada batu yang katanya punya sihir yang kuat. Sejak tau itu, dia malah naikin harga jualnya..."
Jadi benar, ada senjata pahlawan di tas milik Erena...
__ADS_1
"Kau memohon kepadaku, tapi masih memanggilku dengan sebutan mapan mesum... kau ada akal tidak?"
"Tolonglah Junma! Buat dunia ini! Kalau aku tidak jadi pahlawan, dunia indah ini akan hancur!"
"Memohonlah dengan benar..."
"Eh? Ca– caranya?"
"Jongkok, cium sepatuku..."
Aku rasa aku akan sedikit mengerjainya...
"Permisi?"
"Jongkok... cium sepatuku."
Wajah Erena agak malau-malu kucing dan sangat imut. Aku rasa, kelebihan satu-satunya Erena adalah kecantikannya.
Tapi...
Detik selanjutnya, dia berjongkok dan benar-benar mencium sepatuku.
Aku pikir dia akan menjujung tinggi martabatnya yang rendah itu, tapi aku rasa dia benar-benar ingin jadi pahlawan... sampai melakukan ini.
"Lihat itu..."
"Dia menyuruh wanita itu mencium sepatunya..."
"Betapa rendahnya cowok itu."
"Muka ngeselinnya ingin aku tonjok..."
Beberapa petualang mengintip dari sela pintu guild. Sejak kapan mereka ada di situ?
Kenapa karma instan selalu menghampiriku? Apa aku kena hukuman ilahi, karena membuat pahlawan mencium sepatuku?
Aku bahkan udah di cap bajingan di hari kedua ku di dunia ini...
"Ba–baiklah aku mengerti! Ayo kita pergi dari sini... huuhuuu."
Aku pergi menyeret Erena menjauh dari bangunan guild, sambil sedikit meneteskan air mata.
__ADS_1
– Kami sampai di tempat yang di tunjukan Erena.
Toko yang tidak seberapa besarnya, dan terletak lumayan jauh dari guild petualang.
Di dalam sana, Felix masih berdebat dengan merchant tua itu.
"Itu Junma! Dia adalah iblis tua yang kurang ajar! Dia masih adu mulut dengan Felix!"
"Lalu, apa yang harus aku lakukan..."
"Yakinkan dia, kalau aku, Erena Yuki adalah pahlawan itu."
"Caranya...?"
"Itu urusanmu."
Sebenarnya dia ingin dibantu apa tidak.
Pada akhirnya aku masuk ke dalam toko.
"Selamat datang tuan pembeli!"
Si kakek yang berdebat dengan Felix langsung menghentikan debatnya, dan langsung menyapaku.
Kakek itu adalah seorang manusia biasa, dengan badan super besar. Malah, keliatannya dia lebih seperti tukang besi daripada penjual.
"Ada banyak barang-barang bagus tuan pembeli, silahkan lihat-lihat."
"Eh!? Bang Junma?"
"Hah? Kau kenal gadis itu tuan pembeli? Sungguh, dia dan temannya itu sungguh lancang sekali..."
"Anu... maaf, saya ke sini bukan untuk membeli, tapi tujuan saya, sama seperti mereka..."
"Oh, begitukah? dua temanmu itu, mencoba mengacak-acak barang-barangku, dan mengambil paksa tas ransel yang sudah aku beli. Mereka beralasan sesuatu tentang pahlawan... mana mungkin aku percaya begitu saja kan? Sudah begitu, mereka tidak terima, malah memakiku seperti tua bangka dan sejenisnya..."
.
.
.
__ADS_1
Aku memandang ke dua teman cewekku ini...
"Sekarang, siapa yang iblis?"