
"Mverhenmti...! tvhidakhhk...! Jangkkhaaaan...!"
"Bangun...!"
"Gaah...!"
Aku terbangun karena seseorang meneriaki ku.
"Hoah...! Erena!? Kenapa kau bisa ada dikamarku!?"
Aku terkejut. Wajah Erena ada di depan mataku saat ini.
"Sungguh, aku tadi bermimpi aneh. Aku bermimpi, kita ditarik oleh pusara merah dan....Akh aku tidak ingat!"
"Sebelum itu, bersihkan iler itu dari wajahmu."
"OHh,,, maaf..."
"Dan juga... Kejadian senyata itu kau anggap mimpi!? kau habis memakan apa sih mata panda?!"
"Apa yang kau maksutkan ituUUU...!?!"
Nada bicaraku yang sebelumnya bertanya, menjadi kaget campur histeris, saat mengetahui disini bukanlah kamarku, melainkan hutan lebat dengan tebing goa besar yang ada di belakangku.
Yap, itu bukan mimpi. Aku benar-benar masuk kedalam pusara aneh itu, dan entah mengapa bisa sampai di hutan ini.
"Apa yang terjadi...?"
"Yang terjadi adalah, kau tidur sambil ngorok selama 2 jam dan mengigau seperti orang yang ingin diperkosa."
"Apa...! Dua jam!? Tunggu, apa kau mengatakan sesuatu yang aneh barusan?"
"Ya ampun mata panda,,, ini bukan waktunya untuk membahas itu! Yang lebih penting, dimana kita sekarang!?"
Hutan ini sangat lebat dan juga, aneh.
Ya, aneh. Entah mengapa aku merasa hutan ini agak berbeda dengan hutan-hutan yang pernah kulihat.
Tapi, yang penting adalah, mencari tahu keberadaan kami sekarang, dan juga apa yang sebenarnya terjadi.
"Hei mata panda, apa kau memikirkan apa yang ku pikirkan?"
"Hm....kita akan dihukum, karena mencuri beberapa rak buku tua?"
"Ya,,, itu salah satunya... Tapi bukan itu yang aku maksut dasar mata panda jelek!"
"Tenang lah, aku hanya bercanda. Itu bisa mengurangi stres kita kau tau..."
Erena lalu menoleh kearahku dengan cepat.
Detik selanjutnya, dia mendekatiku dan mencengkram jaketku.
"Lihat wajahku...! Apa kamu pikir stres ku berkurang dengan wajah seperti ini...!?"
Ah,,, Ini dia, Erena yang sebenarnya telah muncul.
Erena yang dikenal orang, memiliki sikap anggun, cantik bak seorang idol.
Erena yang dikenal berbicara sopan terhadap semua orang, kecuali aku.
Erena yang...
Erena yang ngakunya anak pejabat atau apalah itu, sekarang sedang mengacak-acak rambutnya sendiri karena histeris, dan berbicara sendiri seperti orang gila.
* Ilustrasi Junma yang sedang di uji mentalnya.
"Kenapa hal seperti ini dapat terjadi kepada ku! Aku ini seorang putri. Aku tidak seharusnya ada ditempat seperti ini...! Jika saja blablabla..."
Erena masih terus, terus, dan terus mengoceh sendiri.
Mungkin aku akan mendengarkan ocehannya sampai mulutnya pegal dan diam secara otomatis.
Aku pun memutuskan untuk duduk, dan melihat pertunjukan eksklusif Erena yang tak banyak orang bisa melihatnya.
Seharusnya seperti itu.
Baru setengah jalan diriku untuk menempelkan pantat ini ke rumput, tiba-tiba ada suara mendengus yang membuat kami berdua terpatri diam untuk sementara.
"Jun...?"
__ADS_1
"Ah, kau juga mendengarnya?"
Aku dan Erena: "Itu berasal dari..."
Ucap kami berbarengan sambil menoleh kearah goa di belakang kami.
Beberapa saat setelah kami menoleh, muncul sepasang kilatan mata yang tajam.
Mata merah itu dengan cepat bergerak maju, seakan ingin keluar dari goa.
Dan yang terjadi adalah...
"KyaaAAA...!!" 2x
Itu adalah landak yang memiliki size super besar gila. Itu seukuran bus mini, mungkin lebih besar!
Dan makhluk itu sekarang sedang mengejar kami.
Kengerian mulai menggerayangi sekujur tubuhku.
Mau tak mau, aku dan Erena berlari melewati rimbunnya pepohonan, berharap landak raksasa itu akan kesusahan mengejar kami.
Bodohnya aku berpikir begitu.
Pohon yang berdiri kokoh, dengan mudahnya di koyak oleh duri dari landak raksasa itu.
"Sial...! Sial...! Sial...! Makhluk mengerikan apa itu...!?"
"Tunggu Junma! Tunggu aku...!"
Aku berlari dengan cepat, sambil sesekali melihat makhluk itu yang terus mengejar.
Meski kecepatannya menurun karena terhalang pohon, tapi aku rasa dia masih bisa menangkap kami yang bahkan sudah berlari sekuat tenaga.
BughhHH....
Suara itu datang dari Erena yang tersandung akar pohon.
Lalu diikuti oleh suara gubraAAk...! datang dari ku yang menabrak pohon karena melihat kebelakang.
"Sial...! Kepalaku pusing sekali...!"
"Hoi Erena! Ayo berdiri! apa kau pikir kalau kita melakukan hal-hal konyol, monster itu bakal berhenti untuk ngelihatin kita gitu aja?!"
Itu adalah kata-kata dari seorang beban, yang biasanya ada di adegan filem-filem murahan.
"Junpou..! bantu aku buat lari!"
"Aku akan memperbolehkanmu untuk menggendongku...! Kau tertarik kan!? Jarang ada gadis imut yang menawarkan diri seperti ini! Ini kesempatanmu sebagai jomblo abadi...Jadi cepatlah gendong aku...!"
"..."
Lalu aku yang jomblo ini pun memutuskan untuk melanjutkan berlari...
"Hei Junma tunggu! Monster landak itu berhenti!"
Aku yang berlari menjauh, tidak tahan dan memutuskan untuk melihat ke belakang.
"Hei Junpou, kau salah... Dia berhenti untuk melihat kita melakukan hal konyol..."
Bodoh banget. Otak monster ini tak jauh lebih kecil dari seorang Patrick Star.
Note : Kalian pasti tau, siapa patrick yang dimaksut Junma. ;)
GraaAAA....!
Monster yang terlihat seperti landak itupun marah, mungkin karena dia mendengarku menyamakan nya dengan makhluk paling jenius sedunia.
Dia pun mulai mengejar kami lagi.
GraAAA...!
Nyaliku semakin ciut dan ciut, saat mendengarnya mengaum seperti singa. Tidak, aku rasa itu jauh lebih keras dan mengerikan dari pada singa.
Apalagi langkahku yang mulai gontai karena terlalu lama berlari. Dampak buruk yang ditimbulkan karena aku yang tak bernah berolahraga.
Saat aku menarik nafas dan ingin menyerah saja, aku sadar. Pohon yang tadinya rimbun, sekarang sudah mulai berkurang.
Itu pertanda hutan tak lama lagi akan berakhir.
"Sial...!"
__ADS_1
Jika hutannya berakhir, maka pergerakan monster landak itu akan semakin cepat. Kalau di depan ternyata adalah jalan setapak, mungkin aku bisa mengikuti jalan itu dan mencari bantuan.
"Kenapa ini harus terjadi...!"
Sedikit demi sedikit, cahaya yang menandakan hutan segera berakhir semakin dekat. Aku pun berusaha mempercepat langkahku, meski faktanya, aku malah semakin melambat.
Dan akhirnya...
Hutan berakhir. Didepan sana, hamparan rumput yang luas terbentang.
Didalam hatiku ada dua pertanyaan.
Sebenarnya dimana ini, dan...
kenapa landak itu malah berdiam disana?
Setelah melihat kebelakang. aku melihat landak itu berhenti untuk kedua kalinya, lalu diikuti Erena yang ternyata dari tadi ikut berlari dibelakangku.
Landak itu berhenti beberapa puluh meter dari batas hutan. Dia terlihat mengeram, dan didetik selanjutnya, monster itu berlalu pergi masuk ke kedalaman hutan.
"~Ap,,apa kita selamat..?"
Aku menanyakan itu selagi mengatur pernafasan yang sudah sesak senin kemis.
Sedangkan Erena... Dia merobohkan diri, dibawah teriknya matahari, diatas padang rumput yang terbentang luas.
"S..save...."
Aku melihat Erena yang setengah sadar dengan peluh yang membasahi bajunya, membuat dia tak layak dilihat oleh sebagian orang.
Yah,,, untungnya aku tidak tertarik dengan tubuh iblis ini. Meskipun begitu, aku yang masih memiliki rasa iba, membopongnya dan mencari tempat untuk berteduh.
"Panas banget..."
"Apa aman kalau aku kembali kehutan?"
Nggak,,,nggak,,,nggak! Itu sangat berbahaya.
Lebih baik disini, daripada berurusan dengan landak itu.
Tapi, meski berkata begitu, aku tetap berjalan kearah yang berlawanan dari hutan.
Disana hamparan rumput dan bukit-bukit kecil terlihat seperti dunia didalam dongeng.
"Ada sesuatu disana..."
Aku menyipitkan mata kearah tempat itu.
Benar saja, Itu adalah tembok besar yang mengelilingi kota yang sangat aneh.
"Ya ampun...Ada dimana aku ini..."
Didepan sana, ada kota bak negeri dongeng yang sangat besar.
Jarak kami dengan kota itu terbilang masih lumayan jauh. Aku rasa aku akan pergi kesana.
Kota itu membuatku berpikir, kalau kita sudah tidak berada di dunia lagi.
Berarti, apa aku sudah mati?
Apa ini surga?
Yah,,,kalau surga, pasti tidak ada landak segede gajah kan?
"Lalu dimana ini..."
Erena yang setengah sadar, menyahutiku. Ternyata dia mendengarkan aku mengoceh sendiri dari tadi.
"Bagaimana menurutmu?"
"Dunia lain? Dunia pararel? Atau dunia abad pertengahan?"
"Yah,,, mengandai-andai percuma saja. Ayo kita kesana, mata panda...! GO..!"
"Hoi, apa kau ingin merasakan teknik bantingan gulat ku!?"
"Sial... Kalau benar ini dunia pararel..."
Kenapa aku harus datang bersama orang ini...!!!!
Lalu Erena pun, mencekik leherku sampai aku berada dalam titik sekarat.
__ADS_1
......※......