
— Beberapa hari setelah quest giant hedgehog
"Ingin mengambil quest lagi?"
"Apa kau ingin membunuhku...!?"
Dengan santainya Erena mengatakan hal seperti itu. Apa dia tidak tau, kalau mentalku sedang turun gara kemarin.
Oh iya, saat aku mengetahui skill Darkness of javelin milik Erena, aku mengerti kenapa landak itu hanya mengincarku.
Sebenarnya, saat terkena sekali serangan tombak Erena. Landak itu akan berubah menjadi undead, dan menganggap Erena sebagai tuannya.
Syaratnya adalah, musuh harus mati dalam sekali serangan, dan landak yang notabennya adalah monster rendah, mati dengan serangan itu.
Seharusnya masalah sudah selesai sampai disana.
Harusnya...
Tapi gara-gara kami yang langsung kabur, apalagi aku membawa Erena terlihat seperti aku menculiknya.
Mungkin dipikiran landak itu adalah, tuannya sedang dalam bahaya, makanya dia hanya tertarik mengejarku.
Sungguh alasan bodoh, yang membuat aku hampir terbunuh.
"Aku rasa mengambil quest bukanlah hal yang harus dilakukan sementara ini. Kita harus cari cara aman untuk mendapatkan uang."
Aku, Erena dan Mekata berada di dalam kedai guild. Memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Beberapa hari sebelumnya, aku mendapat pekerjaan menjadi penjual buah-buahan. Meski tidak seberapa, itu cukup untuk membeli makanan di tavern.
Untuk tempat tinggal, aku masih menumpang di mansion Mekata.
Kau tau, orang itu sangat baik.
"Lalu bagaimana sekarang? Akan semakin lama untuk membeli senjata pahlawan milikku jika terus begini..."
"Kau, kau dari awal tidak melakukan apapun yang berguna. Bahkan saat aku bekerja, kau malah bermalas-malasan di mansion. Sebenarnya kau itu ingin di bantu nggak sih?"
"Huft..."
Itulah yang dia lakukan saat aku memarahinya. Selalu saja seperti itu.
"Hei, Mekata... apa dengan hanya empat pahlawan saja tidak bisa? Aku rasa Erena akan mengganggu progres mereka untuk mengalahkan monster abadi. Menurutku anak idiot itu lebih baik tidak usah bergabung dengan para pahlawan deh. Aku khawatir dengan nasib pahlawan lain jika Erena bergabung..."
"Hm, kau benar."
Mekata membenarkan perkataan tidak bertanggung jawabku.
Aku tau, sedikit banyaknya Mekata sudah mengerti sifat yang dimiliki oleh Erena, padahal baru beberapa hari bersama.
Dia itu gadis yang ucapannya tidak bisa dipercaya gitu aja. Gadis yang setiap gerakan yang dibuatnya selalu menimbulkan masalah.
Aku masih tidak percaya, dia adalah gadis yang sama dengan orang yang sering merundungku di sekolah dulu.
"Kenapa kalian berbicara seperti itu kepadaku, hatiku tersakiti kau tau..."
"Bukan begitu Erena, yang aku maksut adalah, lebih baik kamu menguasai kekuatanmu dulu, agar saat bertemu dengan pahlawan lain, kamu tidak dicap sebagai yang terlemah."
"–Oh, begitu ya..."
Dia, adalah gadis yang gampang dibohongi, bahkan Mekata yang buruk dalam berbohong bisa memperdayainya.
"Pokoknya, aku akan terus mengambil kerja paruh waktu. Untuk quest berburu atau sejenisnya, aku rasa aku masih trauma. Nah Erena, setidaknya kau bisa sedikit berguna."
"Aku akan membantu kalian!"
__ADS_1
"Tidak, tidak perlu... kau sudah memberikan kami tempat tinggal. Aku dengar dari Felix, kau sudah membayar separuh dari harga aslinya. Jadi terimakasih, biar aku dan Erena yang membayar sisanya.
"Mapan mesum sepertimu bisa berpikir seperti itu juga, hm... baguslah."
"Tolong berhenti memanggilku seperti itu saat di tempat umum."
"Baiklah, Jhunmhaaa..."
— Kami keluar dari kedai guild.
Aku pergi menuju blacksmith, sedangkan Erena dan Mekata pergi mengambil quest, hanya saja bukan quest perburuan seperti kemarin.
(Note Blacksmith : Pandai besi)
"Selamat datang...!"
"Yo paman, apa kau bisa mencarikanku armor plate yang cocok denganku. Ah, hanya saja dengan haga yang murah, dan ringan."
"Ah, aku rasa tidak ada armor seperti itu. Kalaupun ada, harganya bisa berjuta-juta cassel."
"Lalu, apa solusinya? Statistik fisik milikku terlalu rendah untuk membawa armor berat."
"Bagaimana bisa? Bahkan semua pemula yang membeli armor dariku tidak pernah komplain dengan masalah ini."
Aku tau aku lemah, tapi saat mendengar diriku lebih lemah daripada pemula itu terdengar agak...
"Boleh aku melihat kartu serikatmu?"
"Sebentar."
Aku memberikan kartu milikku kepada paman blacksmith.
"Hoh, semua stats mu sangat di bawah rata-rata kecuali yang ini."
Paman itu memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam kartu milikku.
Itu adalah sebuah stat baru milikku yang bahkan aku sendiri belum menyadarinya.
Itu bertuliskan Agility.
Hanya status itu yang memiliki poin yang lumayan tinggi dari semua status ku.
Agility, itu adalah suatu kelebihan yang berpusat kepada kecekatan, ketangkasan, dan memiliki suatu keunggulan dalam bidang intelejensi.
Jadi intinya, aku hanya sedikit mahir dalam bidang yang bertipe bukan bertarung.
"Agility mu sedikit tinggi di sini. Aku sarankan kau mengambil job priest."
"Maaf, terimakasih."
Itu benar... Karakter utama mana yang mempunyai job penyembuh dan pendukung?
...
Mungkin ada, tapi job priest sangat tidak menggambarkan diriku.
Aku menginginkan job tingkat tinggi yang keren.
"Oh, aku ingat... daripada membeli armor, bukankah lebih baik kau merombak pakaianmu?"
"Apa itu?"
"Ah, tapi biayanya sangat mahal..."
"Tunggu, aku tidak mengerti."
__ADS_1
"Oh maaf, maksutku kau bisa memasukan status sihir kedalam pakaianmu. Itu bukan zirah, tapi ada status yang membuat pakaian memiliki ketahanan ekstra seperti zirah."
"Itu sepertinya menarik, baiklah aku ingin itu saja."
"Aku hanyalah pandai besi, jika ingin, kau bisa pergi ke toko sihir dan rombak pakaianmu. Tapi ya, seperti yang ku bilang... setiap status akan dikenakan biaya yang mahal."
"Ah, lagi-lagi masalah uang..."
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil sarung tangan plat silver saja. Terimakasih atas info nya!"
— Keluar dari tempat blacksmith...
"Ah, sangat melelahkan..."
Aku duduk di kursi taman yang ada di samping danau.
Sambil sesekali memandang langit yang indah di dunia lain ini...
"Ah, aku tidak pernah memikirkan kekurangan uang sebelumnya..."
Kau tau, aku tinggal terpisah jauh dengan orang tuaku. Mereka terlalu sibuk bekerja, dan bahkan saat aku memutuskan untuk pergi, mereka tidak masalah dengan itu.
Yah, aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula mereka mengirimi uang yang lebih dari cukup dalam sebulan sekali.
Aku dapat membeli video game, manga, dan light novel sesuka hatiku. Sungguh kehidupan yang glamor bukan...
Tapi sekarang aku merasakan hidup yang sesungguhnya.
Remaja tak berpengalaman dengan dunia kerja sepertiku, harus hidup di dunia yang mirip zaman kolosal ini.
Membayangkannya saja sudah membuatku malas.
Yah, sebenarnya aku punya pilihan...
Tidak bekerja dan bergantung kepada Mekata selamanya, atau bekerja dengan upah minim, tapi mandiri.
Pemalas sepertiku pastinya akan memilih solusi yang pertama. Tapi seperti pemikiran karakter utama yang lainnya, aku merasa itu tidaklah benar.
"Baiklah...!"
Aku sudah menemukan jawaban...
Mengambil quest dari papan buletin, membahayakan diri dengan monster seperti petualang lain, dan jika beruntung aku bisa mendapat harem di sini.
Kau tau, aku cukup tampan untuk seorang pecundang.
"Kisahku di dunia alternatif ini dimulai...!!"
"Ekheem..."
Wanita paruh baya pemancing yang beberapa kali bertemu denganku berdehem.
(Note : Wanita tua itu adalah wanita yang sama dengan orang yang memakai sihir cahaya untuk mengusir undead landak beberapa hari lalu)
"Apa kau tau, semua priest di kota ini termasuk aku, mempelajari sihir yang bernama inner reader?"
.
.
.
Aku tetap memandang jauh ke arah langit, dan berjalan dengan cool menjauh dari tempat itu.
Setelah agak jauh, aku menutup wajahku sembari berteriak dalam hati...
__ADS_1
"Akhh... malu-maluin...!!"
(Note Inner Reader : Pembaca Batin)