Gadis Hijab Biru

Gadis Hijab Biru
Anak kost


__ADS_3

Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan badan berisi, saat ini sedang menghabiskan waktu nya seharian didalam kamar kost, tentu setelah menyelesaikan urusan percucian. Dia terlihat memegang remote tv dan menggonta ganti chaneel disana.


"Dan ngapain?" sapa tetangga kostan bernama Didik ,


Ramdan yang memang serius ketika menonton, dia hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan tatapannya dilayar tv 22" tersebut.


"Woy.. orang nanya kok dicuekin, gimana sih bro!" akhirnya dengan kesal teman tetangga itu masuk kekamar kost Ramdan dan menepuk bahunya. mengambil toples disebelah tv kemudian memakannya.


"Asuuu.. ini kripik dari kapan dan?" katanya sambil melepeh kembali kripik yang tadi masuk kemulutnya.


"Udh dari lebaran tahun lalu." ucap Ramdan ringan


"Gila yaa? kelamaan jomblo jadi stress nih orang, sampe makanan udh setahun masih disimpen!" kata Didik


Ramdan tetap datar. hanya menoleh sebentar kemudian melihat tv lagi.


Didik yang merasa kesal pun akhirnya keluar dari kamar kost Ramdan, kemudian memainkan ponsel, dan menghubungi seseorang.


Ramdan melihat itu hanya berdecak sebal.


"Huhh.. pamer!"


Kemudian menutup pintu kamar kost.


Didik hanya menengok sebentar kemudian melanjutkan percakapannya dengan seseorang di telpon.


*


Siang hari nya Ramdan keluar kamar, mengecek apakah pakaian nya sudah kering atau belum, kemudian mengeluarkan motor bututnya menuju warung nasi didepan gang.

__ADS_1


Dia melihat lihat menu di dalam kaca etalase, aneka ragam masakan tersaji disana.


"Makan disini apa dibungkus mas?" Tanya mbak warung.


"Disini mba!" jawabnya


"Pake tumis kacang panjang sama telor dadar , minumnya air putih anget aja!" kata Ramdan lagi


Mbak warung melayani dengan cekatan, kemudian menyerahkan piring berisi lauk yang disebutkan melalui atas kaca etalase, kemudian menyusul air hangat nya juga,


Ramdan memakan dengan nikmat, sebagai perantauan, menikmati makanan yang begini sudah sangat dia syukuri.


Usai makan dia kembali melamun, "huft.. 6bulan lagi yaa kontrak kerjaku habis!" pikirnya. Ramdan tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan dari jauh.


"Woy ngelamun aja!" Ramdan menengok dan ternyata Didik yang sedari tadi sudah duduk disampingnya berhadapan dengan sepiring nasi berisi macam2 lauk.


"Berapa mba?" kata Ramdan.. melirik ke Didik yang tengah menikmati makan siangnya.


"12.000 mas!" Ramdan membayar kemudian keluar warung, tanpa permisi lagi,


Didik yang sedang makan, tiba-tiba menoleh ke arah Ramdan yang terlihat aneh itu.


*


Dikamar kost, ponsel Ramdan berdering


Ngomah calling..


Dia melihat ke layar ponsel tertera nomor rumah kampung yang menelpon,

__ADS_1


"Yaa Hallo.. kenapa dek?" sapa Ramdan dengan bahasa jawa halus


"Mas.. ......!" panjang lebar adiknya menelpon, hanya untuk bercerita bahwa dirumah sedang membutuhkan uang.


"iyaa.. ntar mas transfer!" begitu jawabnya.


Hatinya terasa pilu ketika mendengar ibu nya kesulitan, dia kembali mengambil kunci motor bututnya.. kemudian keluar, dia menatap motornya sejenak "sampai saat inipun, motor ini yang setia menemaniku!" Gumam dalam hati


Ramdan keluar menuju ATM di depan gang, dia mengecek saldo terlebih dahulu, kemudian menghitung-hitung kebutuhannya, dirasa uangnya berlebih, dia menekan pilihan transfer kemudian menekan yes ketika mesin itu menanyakan lanjutkan transaksi atau keluar .


Ramdan menatap lembar kecil yang keluar dari dalam mesin, kemudian memfoto dan mengirim kepada nomor adiknya, memberitahu bahwa dia sudah transfer. Pesannya hanya terbaca namun tidak terbalas, Ramdan hanya mengelus dada. dia kembali ke kostan..


*


Didik duduk dengan santai, earphone terlihat menempel di kedua telinga nya, motor Yamaha Vixion keluaran terbaru, sudah mentereng karna baru selesai ia steam.


Didik melihat Ramdan yang masuk pekarangan rumah kost. "Darimana Dan?"


Ramdan memarkir motor bututnya disamping motor Yamaha vixion, terlihat sangat mengenaskan.


"Biasa.. dari ATM!" Ucapnya singkat


"Sinilah, ngobrol! diem-diem bae lo!" kata didik


"Ngobrolin apa sih Dik?" Ramdan agak malas kalo ngobrol sama Didik, pasalnya ia pasti hanya memamerkan barang kepunyaanya.


*


bersambung

__ADS_1


__ADS_2