
Menenteng buku dalam tas, kini wanita berhijab itu ingin memulai aktifitas harian, berjalan bergerombol menelusuri rel kereta api, wanita yang kerap disapa Ami itu membicarakan apapun sepanjang perjalanan.
"Jalan kemana mi? "sapa Temannya yang bernama Hasan
Hasan pria keturunan jawab yang ikut bekerja sebagai marketing di Cv yang sama dengan Ami.
"Gak tau, mau ke "gondang dia" kayaknya ", gedung Bimantara. (yang sekarang dikenal dengan Menara Kebon Sirih)
Dengan berjalan kaki mereka sampai distasiun kereta dan membeli tiket, Hasan senantiasa mengekor kemanapun Ami pergi dan itu membuat Diyan jengah.
"Mi, awas lho ada penguntit!" ucap Diyan sambil terkekeh ke arah Hasan, kali ini mereka sedang berasa didalam kereta yang lumayan penuh sesak.
"Haha.. gapapa ka Diyan, itung-itung bodyguard!" ucap Ami sekena nya.
"Oia ka Diyan mau kemana hari ini?"
"Aku mah ke SetNeg aja, nganter pesenan.!" abis itu jumping di Depkeu!" ucap Diyan
Obrolan orang marketing, memang gak selalu orang paham.
Namun mereka menikmati pekerjaan mereka.
*
Sore di stasiun Pasar Minggu, Ami turun dan diikuti oleh Hasan, benar kata Diyan, Hasan seperti penguntit Ami..
Namun karna Ami menganggap dia teman, jadi Ami tidak merasa terganggu walau diikuti sekalipun, justru dia senang karna ada teman ngobrol.
Suasana kantor masih sepi, Ami meletakkan ransel nya berisi sisa buku yang dia bawa hari ini, sejenak dia merebahkan tubuhnya di ruang meeting yang kosong.
"Mi.. loe disini?" ucap Hasan
Ami malas mendengar Hasan bicara lagi, pasalnya seharian Hasan mengikuti dia.
"Mi, keluar yuk, ku traktir bakso!" ucapnya lagi
Dan kali ini Ami tidak menolak. Ami bangkit kemudian berjalan ke arah Hasan..
"Ayo . katanya mau makan bakso?" sambil berjalan berlalu menuju tempat konsinyasi melaporkan hasil penjualan hari ini,, mangambil uang komisi kemudian Ami berjalan keluar terlebih dahulu, Hasan masih laporan dibelakangnya.
__ADS_1
"Ayo." kata Hasan selesai melaporkan hasil dagangannya.
mereka keluar menuju tukang bakso yang dimaksud.
Disela makan Hasan bercerita bahwa sebulan lagi dia akan resign dan pulang kampung, Ami mendengarnya biasa saja, Hasan sedikit kecewa pasalnya dia ingin Ami merasa sedih atas kepergiannya.
Obrolan berlanjut namun Ami cuek saja,
"Eh darimana?" kata Diyan yang saat ini baru saja kembali dari petualangannya hari ini.
"Ditraktir bakso sama Hasan!" jawab Ami.
"Ehh . kok Ami doank sih Hasan yang ditraktir, aku juga mau donk!" kata Diyan, gadis keturunan jawa ini suka lebay kalo minta sesuatu.
"Yaah ka Diyan baru pulang..?" telatlah!" jawab Hasan sambil menenteng ransel seraya keluar kantor.
"Mau kemana lagi? " tanya Ka Diyan
"Pulang!" jawab Hasan
"Ooh" jawab Diyan singkat kemudian masuk kedalam untuk melaporkan hasil penjualannya hari ini.
*
"Hallo.. kerja shift berapa?" kata Hasan membuka kata
"_____"
"Aku mampir sebentar kesitu ya!"
Hasan memutuskan panggilannya kemudian berjalan ke depan halte menunggu angkot dari kota D menuju ke rumah kawan satu kampung nya itu dikota J.
Hasan memandang rumah kost berjejer disana, dia mengetuk salah satu pintu bernomor 10, seorang pria membuka pintu dengan malas.
"Masuk!" katanya
Hasan masuk dengan wajah ditekuk, namun dia lebih menekuk wajahnya ketika melihat kawannya itu baru saja bangun, bahkan kamar itu terlihat seperti kandang.
"Hufft." desah Hasan
__ADS_1
Kawannya izin ke kamar mandi yang berada di ujung lorong.
kemudian masuk kembali dengan wajah yang lebih segar,
"Minum apa san?" tanya nya
"Apa aja!"
Ramdan.. yaaa teman Hasan yang satu kampung itu bernama Ramdan, karyawan kontrak disalah satu Pabrik ternama di kota J. Ramdan keluar menuju warung kopi memesan dua gelas es teh manis dan mengambil beberapa gorengan disana. kemudian kembali ke kamar kost
"Diminum san!" kata Ramdan
"Ya terimakasih Dan!" Hasan menyeruput es teh manis tersebut.
"Kenapa kamu tiba-tiba kesini san?" tanya Ramdan heran karna tak biasanya Hasan mau mampir karna memang kostan Ramdan berbeda arah dengan rumah tinggalnya kalo ditempuh dari kota D.
"Aku mau pulang kampung Dan!" jawab Hasan Lesu.
"Gak nunggu lebaran San!" kata Ramdan
"Enggak lah, aku merasa nggak mampu Dan hidup dikota!" ucap Hasan
"Ya sudah yang terbaik saja San, semoga rejeki mu lancar ya!" ucap Ramdan menenangkan hati Hasan
Namun Hasan masih memperlihatkan wajah murungnya.
"Kayaknya berat nih ninggalin kota D!" tebak Ramdan tepat membuat Hasan menatap wajah pria jawa dihadapannya.
"Hmm.." jawab Hasan sambil memainkan tuts ponselnya.
"Ada gebetan?" tanya Ramdan
"Yaaahh . gitu deh!" jawab Hasan
Ramdan tertawa pasalnya Hasan terkenal orang yang pendiam, ketika tau Hasan punya gebetan dia hanya menertawai nya, karna dia yakin Hasan tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya.
Terus saja menertawakanku, batin Hasan
Dan Ramdan masih terus tertawa, tanpa melihat raut wajah Hasan yang sudah berubah jengah.
__ADS_1
*
bersambung