
Ramdan menerima telpon dari Ami, sore itu dia sedang bersama Hasan dan kawan-kawan. Ramdan berbicara dengan biasa, walaupun dia mengenal Ami melalui ponsel nya yang digunakan oleh Hasan, namun tak sedikitpun obrolan tentang Ami muncul ketika sedang mengobrol dengan Hasan. Begitupula ketika dia sedang berbicara dengan Ami, Ramdan kini duduk diatas motor butut yang selalu ia bawa kemana-mana, sepulang dari berkumpul dengan teman-temannya, Ramdan memilih membantu sang Bapak kembali, dia melihat Azis dengan gaya anak kota yang angkuh, sedang memegang remot tv dan mengganti chanel tanpa menghiraukan bapak nya yang kesulitan dalam membawa kayu bakar.
"Sini pak, sama aku aja yang bawa kayunya!" ucap Ramdan
sang Bapak hanya tersenyum ke arah Ramdan.
Mereka duduk di lantar teras, Pak Jono terlihat sangat lelah, tak berapa lama Ramdan bangkit dari sana menuju dapur untuk mengambil minum bapaknya, Dilirik nya Azis yang asik memakan kerupuk dari toples yang dia buka dan kini berada di samping dimana dia duduk. menikmati acara televisi Azis memang kurang empati, sikapnya juga terkesan cuek.
Walau berasal dari rahim yang sama, namun perbedaan mereka begitu mencolok. Azis terkesan playboy dan kurang menghargai wanita, sejak SMP dia sudah gonta ganti pacar, itu membuat Ramdan kesal, dan merasa kecewa karna Azis sering meminta uang kepadanya hanya untuk menjajani teman wanitanya.
*
Ami melanjutkan aktifitas seperti biasa, setelah memutus panggilan telpon dari Ramdan, otaknya berfikir tentang tampang pria yang kini selalu memenuhi kotak masuk dan kotak keluar pada pesan singkat atau panggilan.
"kalo dia baik, dekatkan ya Allah!" ucap Ami dalam hati
Sejak SMA Ami memilih untuk menjauh dari perhatian laki-laki, ia tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki sejak ia ditinggal pergi tanpa kabar oleh lelaki yang dia percaya akan menjaga dan menunggu nya sampai lulus kelak,
Saat itu Ami berusia 15tahun, dan baru saja duduk di kursi Sekolah menengah Kejuruan di kota B, sebelum itu Ami menyelesaikan sekolah di kota J, kepindahan domisili Ami di dukung karna pindahnya Orangtua Ami ke kota B tersebut, hingga sekolah Ami pun ikut pindah kesana. pada awal kepindahan Pria bernama Olas yang saat itu berusia 21th dan bekerja di salah satu kedutaan besar dikawasan Kota J mendekati Ami, sampai Ami pindah rumah, ia senantiasa mengunjungi Ami untuk sekedar mengisi waktu, pada mula nya Ami tidak menyadari akan perasaan yang tengah berada diantara mereka, Ami menyadari itu semua saat Olas pergi meninggalkan nya tanpa kabar, bahkan ketika ditelpon pria yang lebih tua 6tahun dari Ami itu selalu menghindar, dari situ Ami tau bagaimana perasaan nya, dia pun merasakan sakit didalam hati yang selama ini belum pernah dia rasakan.
"Bahkan jika mengingat hal itu, hatiku masih terasa sakit !" gumam Ami.
*
Ami menyelesaikan laporan sebelum pulang, besok adalah hari libur, waktunya dia mendatangi kampus dimana nanti dia akan melanjutkan pendidikannya.
"mi, udah siap pulang?" tanya Diyan yang baru saja sampai dikantor sore itu
"iya ka, Ka diyan mau bareng apa gimana?" tanya Ami
"Diyan gak pulang mi, mau nginep dikosan Yuli!" katanya.
"Oh" jawab Ami. kemudian melanjutkan menggendong ransel nya dan keluar kantor.
"Aku pamit semua, sampai jumpa hari senin!" ucap Ami sambil melambaikan tangan kepada teman-teman yang sedang asik mengistirahatkan badan mereka.
*
dirumah.
Ami kembali melihat ponsel, saat berada dikamar, terlihat pesan dari beberapa customer dan satu nomor yang selalu mengisi hari-hari nya akhir-akhir ini.
Seperti orang yang sedang jatuh cinta, Ami mengabaikan pesan dari para customer dan membalas pesan dari Ramdan, pria yang bahkan belum dia lihat bagaimana tampangnya.
Ramdan
"Hai mi, udh pulang?" pesan dikirim sejak pukul 16.50
Ami sampai dirumah pukul 17.00 dan bru mengecek ponselnya lepas maghrib,
Ami
__ADS_1
"Hai, maaf ya, baru ngecek hape! aku sudah pulang!"
ting
ting
ting
3pesan langsung masuk di ponsel Ami, dan segera Ami buka
Ramdan.
"Aku punya kabar gembira!"
"Terlalu cepat sih"
"Tapi, setelah ini apa kamu masih mau bertemu denganku?"
Ami mengeryit. "Maksudnya apa?" gumamnya
Ramdan mengirim pesan kembali
"Mi, aku dapat panggilan kerja di Jakarta, Boleh gak aku bertemu kamu?"
Ami membaca pesan, dan menelaah isinya, kemudian senyumnya terukir di bibir, hatinya seakan menghangat, semangat menggebu, tampak saat dia sontak mengiyakan ajakan Ramdan.
Ami
Ramdan kembali membaca, kemudian tersenyum
"Terimakasih mi!"
"Sampai bertemu di Kota J!" pesan dikirim nya kembali
Ami membaca bolak balik pesan itu, semua terlihat sangat indah, 'Apa aku mulai membuka hati ya!" gumam Ami pada dirinya sendiri.
Kemudian dia kembali sibuk mencatat pesanan buku customernya itu.
*
"Dan, kamu yakin mau ke kota J lagi?" ucap Hasan saat Ramdan mengabari bahwa dia mendapat panggilan kerja.
"Yakin san.." ucap Ramdan mantap
"Aku sudah menghubungi temanku disana, sementara sampai keputusan kerjaku ditetapkan.!" ucap Ramdan
"Ya sudah, semoga sukses ya Dan, cepet dapet jodoh orang kota J!" kata Hasan meledek
"Kalo itu udh ketemu, cuma gak tau dianya mau gak sama aku yang orang kampung ini.." kekeh Ramdan..
"Waaahhh.. kok aku ketinggalam berita!" kata Hasan
__ADS_1
"Siapa Dan!? anak mana?" kata Hasan
"Ntar juga kamu tau San. " Ramdan tersenyum membayangkan reaksi Hasan yang melihat dia bertemu gadis teman dari Hasan itu.
*
Ramdan mengepak kembali pakaiannya kedalam tas ransel.
"Mas, emang mas udh dapat panggilan?" kata azis yang tiba-tiba masuk kamar Ramdan
"Iyaa.. mas dpt panggilan kerja, doain semoga lolos tes!" ucap Ramdan
"Iya mas!" jawab Azis
"Jangan pacaran terus zis.. kasian ibu sama bapak, bantuin kalo mas gak ada dirumah.!"kata Ramdan yang kini sedang meresleting tas renselnya.
"Iya mas!" jawab Azis
"Azis juga mau kerja di kota J mas, kalo udh lulus,!"ucapnya lagi
"Sekolah aja dulu yang bener!" kata rAmdan
"Masalah kerja, kalo mas udh kerja, ntar mas bantu!" kata Ramdan lagi
ketika kedua anak lelaki itu sedang berbincang, ibunya masuk kedalam kamar Ramdan.
"Berangkat jam berapa Dan?" kata Ibu
"Jam 06.00 pagi bu!" jawab Ramdan
"Kamu tinggal dimana disana? kan kosan mu sudah kamu tinggalkan!"
"sama temen bu,, ntar Ramdan sms dulu , sementara.!
"Ya sudah, ibu gak bisa ngasih ongkos, spps adikmu aja belum dibayar, gapapa ya Dan!"
"Iya bu, gapapa, aku masih punya pegangan uang!" kata Ramdan yang menyembunyikan kekecewaannya.
Azis dan Ibu keluar kamar, sebelum keluar, ibu kembali meminta untuk bayar listrik, kata ibu, selama Ramdan disana listrik menambah pembayarannya. Ramdan hanya menghela nafas, dikeluarkan dompet, dihitung dan diperkirakan untuk biaya hidupnya sampai tandatangan kontrak kerja, paling tidak dia harus punya uang sampai gaji pertama turun kemudian mencari kosan baru.
Pikirannya tertuju pada Marno, dia kembali menghubungi teman semasa kerja di tempat kerja sebelumnya.
"Hallo No!" kata Ramdan
*
Bersambung
Jangan lupa memberi Like dan komen yaa gaes
happy reading😘
__ADS_1