Gadis Hijab Biru

Gadis Hijab Biru
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Sudah hampir 3bulan, dan 2bulan ini Ramdan berada di kosan Ibu Kota, kini dia bekerja kembali di PT.x sebagai operator produksi, Perusahaan dibawah naungan owner WNA Jepang bergerak dibidang industri mobil. Setelah menandatangani kontrak kerja untuk satu tahun ke depan, Ramdan kembali menghubungi ibunya dikampung.


tuutt ..tuuut. .


"Hallo?" ucap Azis


"Hallo zis.. ibu ada?"


"Ada mas!"


Azis berjalan menemui ibunya yang sedang membersihkan sayuran hendak memasak didapur, "bu, mas Ramdan telpon!" kata Azis


Ibu menerima ponsel lalu meletakkan di telinga kanan nya.


"Hallo Dan?"


"Hallo bu, alhamdulillah aku udh kerja lagi, 3bulan ini masa training aku, tadi pagi aku tandatangan kontrak kerja lagi bu.." ucap Ramdan semangat


"Iya, alhamdulillah baguslah Dan, ibu bersyukur, oia jangan lupa kirim buat spp adikmu ya Dan! sama bulan kemarin belum!" kata Ibu tegas.


Ramdan terlihat sedih, karna dia berharap ditanya bagaimana kabarnya oleh ibunya, bahkan ibunya menanyakan dia tinggal dimana juga tidak, hanya meminta uang langsung.


"Baik bu, ya sudah aku tutup dulu telponnya ya!" ucap Ramdan.


Ramdan mengakhiri panggilannya. menatap miris di layar ponselnya yang kini terdapat gambar adik-adiknya itu.


*


Ami memulai hari dengan semangat, setelah mengetahui kabar Ramdan yang kini sudah bekerja kembali, membuat dia semakin ingin bertemu, namun dia tak mau memulai duluan, rasa gengsi sebagai wanita tentunya.

__ADS_1


Ponsel Ami berdering, Ada nama customer dilayar itu. Ami menjawab terlihat mondar mandir berbicara dengan customernya.


Diwaktu yang sama Ramdan mencoba menghubungi ponsel Ami, namun sibuk, dicoba lagi sampai beberapa kali tetap sibuk.


"Hmm.. sepertinya dia sedang sibuk!" gumam Ramdan.


Ami merasa getar pada ponselnya saat ia berbicara dengan customer, terdapat beberapa panggilan dari nomor Ramdan. Konsentrasi Ami pecah, ia menjadi tidak fokus membicarakan masalah pemesanan buku dengan customernya, bahkan pikirannya hanya berpusat pada panggilan dari Ramdan tersebut.


"Baiklah pak, nanti saya kabari lagi, jika sudah dapat buku yang bapak cari!" ucap Ami menutup panggilannnya.


"Ramdan?" gumam Ami.


"Ngapain telpon pagi-pagi!" kemudian menekan tombol dial pada layar menghubungi nomor Ramdan.


Panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban sampai beberapa kali tetap sama.


Ami menghela nafas berat, disimpannya kembali ponsel miliknya ke dalam tas, kemudian mencatat agenda hari ini.


"Ka Diyan, baru datang?" kata Ami.


"Iya, tadi mampir warung dulu sama friema!" ucap Diyan


"Jalan bareng gak ka?" kata Ami yang sudah siap memasangkan ranselnya di bahu.


"Aku bareng friema mi, kamu sama yang lain dulu ya!" kata Diyan


"Ooh. gitu.. ya sudah, padahal aku mau jalan ke setneg lagi, kupikir akan sangat menyenangkan kalo sama Ka Diyan, yasudah aku jalan ya!" ucap Ami sambil melangkah kakinya keluar gerbang kantor.


Ami berjalan menelusuri jalan gang menuju stasiun kota D, ponselnya berdering, seketika senyumnya mengembang di bibir merahnya.

__ADS_1


"Ya Hallo?" kata Ami.. sambil berjalan, Ami menjawab panggilan telpon tersebut, sepanjang jalan, senyumnya mengembang, sesekali cemberut kemudian tersenyum lagi, tak terasa kakinya telah melangkah masuk ke dalam stasiun, kemudian berdiri menunggu kereta datang, panggilan masih berlanjut, hingga tak Ami ketahui ada sepasang mata yang memperhatikan dia dari jauh, berbeda peron membuat pria itu lebih leluasa memperhatikan gerak gerik Ami di ujung matanya, "Oke.. nanti malam ku sambung lagi ya, Assalamu'alaikum" Ami menutup panggilan saat kereta hampir berhenti di depannya.


Dengan langkah pasti Ami menaiki kereta dan mencoba mencari tempat duduk yang kosong, menata tas ranselnya di atas tempat penyimpanan, kemudian dia duduk dengan tenang sambil mengirim pesan singkat kepada para customer, hari ini Ami begitu semangat, semangatnya terlahir bukan hanya dari sarapan pagi yang ia dapatkan dirumah melainkan sarapan berupa kebahagiaan hati.


Ami menyimpan kembali ponselnya, kemudian meletakkan di saku kemeja yang ia kenakan hari itu, hijab panjang yang menutupi hampir separo tubuhnya, membuat Ami merasa aman berada di mana saja.


*


Sore hari, Ami kembali menggunakan jasa kereta api untuk kembali ke kantor, Ami kembali berjalan menuju kantor dan segera pulang untuk membelikan ibu dan bapaknya martabak telor kesukaan, yaa.. hari ini Ami mendapatkan kelebihan rejeki, yang ia nazarkan untuk membelikan camilan dirumah.


"Mi.. udah pulang?" tanya Diyan yang baru saja masuk, diikuti friema dibelakangnya.


"Iyaa ka, aku langsung mau pulang nih, abis sholat maghrib, mau beli martabak dulu!" jawab Ami


"Waahh.. ring the gong yaa!" ucap Diyan


"Enggak ka, biasa aja.. ring the bell, cuma tadi dpt rejeki dr customer lumayan, mau traktir ibu bapak dirumah" jawab Ami sambil menyerahkan uang setorannya..


"Udah ya ka.." kata Ami berjalan keluar kantor untuk kembali ke rumahnya


"Iya mi, hati-hati!" kata Diyan yang kini masih memperhatikan punggung Ami yang berjalan semakin menjauh.


*


epilog.


"Who are you girl?" begitu kira-kira pikiran lelaki keturunan pakistan yang sejak pagi memperhatikan Ami di stasiun kereta.


*

__ADS_1


to be continue


__ADS_2