Gadis Hijab Biru

Gadis Hijab Biru
Dia Ahsan


__ADS_3

Lelaki itu berjalan menelusuri peron kereta, mencoba kembali mencari sosok bayangan seorang wanita, wanita dari sekian banyak yang menarik perhatiannya, wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita.


"who are you girl?" katanya.


Dia Ahsan, Lelaki keturunan India Pakistan yang sedang menjadi TKI di Indonesia, kantornya yang berada di Pasar Baru Jakarta Pusat membuat lelaki yang baru 2 bulan berada di Indonesia hanya mengerti tentang transportasi kereta api Indonesia.


Ahsan berperawakan tinggi, memiliki rambut kuning kecokelatan, dan memiliki bola mata berwarna ke abu-abuan. Selain Ahsan, ada juga lelaki berkebangsaan India asi bernama Mustofa, mereka berdua memiliki tujuan yang sama selama di Indonesia yaitu bekerja, bisnis textile yang mereka jalani di Indonesia sangat berkembang pesat,,


"What are you see?" tanya Mustofa


"Thats!" kata Ahsan sambil menunjuk ke arah wanita berhijab panjang berwarna hijau lumut, dan sedang melakukan panggilan, sesekali senyum manisnya mengembang.


"She is so beautyfull, she was different!" ucapnya lagi.


"Don't be crazy, we only one year in here, don't you?" Mustofa mengingatkan.


Ahsan hanya mengangguk- anggukkan kepalanya. namun tak melepaskan pandangan matanya, bahkan saat kereta api hampir sejajar dengan Ami, hingga menutupi pandangan Ahsan, lelaki pakistan itu sengaja berjalan ke arah depan supaya tetap bisa melihat Ami.

__ADS_1


"Ahhh.. shit..!!" ucapnya kesal


"I cant waiting to know who is she?" katanya lagi pada diri sendiri, karna seperti yang dilihat, Mustofa telah dia tinggal jauh dibelakang.


Mustofa yang mengegelengkan kepala melihat tingkah laku temannya itu, merasa aneh, dia tau mengingatkan Ahsan mengenai wanita itu akan susah, apalagi jika dia memang sudah kepincut hatinya.


"How?" tanya Mustofa


"I loosing her! she goes by that train!" ucap Ahsan


"Lets going by train again, tomorrow!" kata Ahsan.


"Yes. We do!" jawab Mustofa


*


Hari ini Ramdan akan pindah dari rumah kost Marno, sejak 3bulan masa training, akhirnya ada kamar kosong ditempat dia kost dulu, tempatnya yang kecil membuat Ramdan mendapatnkan biaya sewa yang ringan, entah dia berfikir untuk menghemat segala pengeluaran, mendapatkan pelajaran di pekerjaan sebelumnya, saat pekerjaan sekarang Ramdan menjadi lebih kencang, bahkan dia tidak lagi mengirim uang setiap bulan, hanya jika ibunya meminta saja, hal itu dia lakukan sejak dia tau, bahwa selama ini uang yang dititipkan kepada ibunya tak bersisa sama sekali,

__ADS_1


"Mas, ini kamarnya semoga betah ya!" ucap ibu kos


"Iya bu, terimakasih!" ucap Ramdan.


Marno membantu Ramdan membawa barang-barang Ramdan. Barang-barang yang dimiliki berikut kasur lantai lemari rak dan beberapa gantungan baju untuk menjemur.


"Hayo No, mangan sek!" ucap Ramdan


"Yo.." jawab Marno.


Sejenak mereka melepas penat, Ramdan membeli dua bungkus nasi padang dan membeli 2 teh botol kemasan jumbo, kemudian makan bersama didalam kamar kos berukuran 2x3 itu.


"Suwun No, ngampurane wis ngerepoti sampean!" ucap Ramdan.


"Selow aja bro, aku yo seneng bisa bantu, semoga lancar kerjaan nya yo Dan!" Marno pamit saat hari sudah sore untuk kembali ke rumah kosnya,


"Setelah ini, aku akan menabung, menyelesaikan janjiku, dengan Ami!" ucap Ramdan dengan senyum dan merasakan bahagia walau jauh dr rumahnya, namun kini Ramdan merasa tidak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2