Gadis Hijab Biru

Gadis Hijab Biru
Hari Tanpa mu


__ADS_3

Satu bulan setelah pertemuannya dengan Ramdan, Ami menjalani hari-hari dengan biasa, bahkan dia sengaja menyimpan ponselnya ketika dirumah, untuk menghindari kebosanan, karna Ramdan seminggu ini akan sibuk, jadi mungkin tidak menghubungi nya.


"Lebih baik aku mengerjakan laporanku.. " kata Ami pada diri sendiri,


Dia membuka buku dan mengambil pulpen kemudian mulai membuat corat coret diatasnya.


Saat sedang serius mengerjakan laporan, Ami mendengar ponselnya bergetar, dia menghentikan sejenak aktifitas menulisnya itu.


Ami membuka laci, "tidak mungkin dari dia" gumamnya, Ami melihat layar ponselnya, "Ya ampuunn.." Ami menjawab ponselnya dengan malas.


Usai menerima telpon dari orang yang sama sekali tidak diharapkan, Ami ingin melanjutkan laporannya, namun beberapa pesan masuk. Hal itu membuat semangat Ami, bahkan dia melompat, berharap itu pesan dari orang yang sedari tadi ditunggu nya.


Raut wajah kecewa meliputi Ami ternyata pesan itu dari Yuli,


Yuli


"Mi, ketemuan di Mall D yuk!"


"Hari ini jam 2 siang ya"


"Aku tunggu di Resto K"


Begitu kira-kira pesan singkat yang dikirim Yuli kepada Ami, "tumben Ka Yuli ngajak aku ketemuan!" gumamnya


"Oke ka!" balasnya singkat pada ponsel yang ia pegang kini.


Setelah merapikan laporan, Ami bersiap-siap untuk menemui Yuli di Mall D,


*


Di Mall D


Ami celingukan mencari keberadaan Yuli, sampai bahu nya ditepuk seseorang.

__ADS_1


"Ya ampuun Ka Yuli ngagetin aja!" kata Ami


"Udah dari tadi ya? yuk kesana!" ajaknya.


"Hmmm . " Ami mengekor dibelakang Yuli yang berjalan duluan, dilihatnya Yuli mengeluarkan ponsel dan melakuka panggilan.


"Ya Hallo, where are you? kata Yuli dalam bahasa inggris.


"oke I See!" katanya lagi


Ami hanya mengeryitkan dahi, bingung!


"Ayo mi, disana ternyata!" kata Yuli menarik tangan Ami untuk mengikuti nya.


"Eiiits.. tunggu ka, sebenarnya kita mau ngapain sih?" kata Ami menahan langkahnya.


"Ntar juga kamu tau!" kata Yuli sambil tersenyum


Dari jauh sudah terlihat, seseorang melambaikan tangan, Ami kembali menegryit, pasalnya orang itu tampak tidak asing, tubuh tinggi dan kekar, berwajah gelap, hidung mancung, yaaa.. dia adalah Mustofa, tapi pertanyaannya kenapa mustofa disini?" terlihat dihadapannya duduk seorang pria tinggi juga namun penampilannya lebih bule, karna diliat dari warna kulit yang cerah


"Ka Yuli tunggu deh, maksudnya apa sih ka?" kata Ami


"Ooh . itu, aku disuruh bawa kamu ketemuan sama Ahsan, aku sebenarnya janjiannya sama Mustofa, nanti kamu coba ngobrol aja ya!" jawab Yuli singkat


Ami hanya diam mengikuti Yuli, dia sama sekali tidak berfikiran buruk. Sesampainya dimeja tempat keduanya menunggu, Ahsan kembali tersenyum melihat kedatangan Ami.


"Hei girl! Come in!" katanya .


Ami membalas senyumnya malas, kemudian duduk disamping Yuli.


"Mi.. kamu disana aja disamping Ahsan!" kata Yuli.


"Apaan sih ka?" kata Ami agak malas .

__ADS_1


Akhirnya Mustofa yang berinisiatif pindah ke kursi sebelah, supaya tidak mengganggu privasi Ahsan pikirnya.


"We can sit at there!" kata Mustofa kepada Yuli sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di pojok.


" Okay!" jawab Yuli sambil berdiri hendak pindah


"Eehh . ka Yuli mau kemana?" kata Ami


"Aku disana ya mi, kamu disini aja, biar ngobrolnya enak!" jawabnya


"iiishhh.. kok gitu!" Ami cemberut


Dilihatnya Yuli sudah duduk berhadapan dengan Mustofa dikursi ujung, kini ia hanya berdua Ahsan, dengan kikuk, Ahsan menggeser kursinya mendekati Ami, gelagat nya sangat membuat risi, bahkan tangan Ahsan terbilang berani untuk bertindak tidak sopan dimuka umum.


"Sorry, !" katanya


"Why?" kata Ami


"Last situation at train station!" ucap Ahsan namun tidak memindahkan tangannya yang melingkar di pinggang Ami


"Ok, No problem, but can you sitting on right here, !" kata Ami.


Sejenak Ahsan menatap Ami, kemudian melepaskan rangkulannya.


Kini keduanya terlihat mengobrol seperti biasa. Hingga sore tiba, Ami memutuskan untuk pulang, namun Ahsan berniat mengantarnya, Ami terlihat bingung, pasalnya dengan kondisi tetangga yang memiliki keingintahuan tinggi (dibaca kepo) membuat Ami malas mengiyakan keinginan Ahsan, Kecewa? iiyaa.. tapi itu lebih baik, daripada jadi bahan gosip emak-emak menurut Ami.


*


Didalam kamar,


Ami kembali melihat ponselnya, "Apa dia benar-benar sibuk?" gumam nyaa.


kemudian dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan merebahkan diri sejenak kemudian Ami terlelap.

__ADS_1


Triiing...


suara pesan masuk pada ponsel Ami.


__ADS_2