
Dalam dunia marketing ada yang namanya perluasan wilayah yang disebut perluasan territory, kali ini Ami dan Diyan memperluas jalan nya ke arah Barat lapangan Banteng, Gedung bertingkat berjejer beraneka warna pada kaca di dindingnya, menjadi tujuan mereka,
"Mi, kita pisah disini ya? aku mau ke gedung sana" ucap Diyan sambil menunjuk Gedung yang akan dituju.
Ami menggangguk kemudian melangkahkan kaki menuju area gedung lain, "Kemarin ka Diyan jalan digedung mana ya?" ucap nya, sebelum masuk ia sempatkan diri istirahat di mesjid, dan memakan bekalnya yang dia beli tadi dijalan.
Dirasa sudah cukup lebih baik, dia kembali merapikan pakaian dan hijabnya, kemudian memakai kembali sepatu dan melangkahkan kaki ke dalam gedung berlantai 3 didepannya, Gedung ini memiliki lantai sedikit,, namun pegawai nya banyak, waktu istirahat mereka habiskan untuk mengobrol. Ami yang polos, tanpa mengetahui ada sepasang mata yang mengikuti nya,
"Maaf Neng mau kemana?" tanya Pak sekuriti yang selalu memperhatikan gerak gerik Ami sedari tadi
"eh, ini mau ke ruangan ini?" kata pak sekuriti
"Mau ketemu pak Suhaemi ya?" kata sekuriti itu lagi
"hmm.. iya pak!" jawab Ami sekenanya, padahal siapa pak Suhaemi saja dia tidak tau.
"Tunggu disini saja ya, pak Suhaemi sedang keluar katanya!" menunjuk ruang tunggu, sambil duduk, Ami hanya memperhatikan jam didinding.
"Kalo hari ini zero, ya sudah, anggap saja aku sedang belajar territory baru!" ucap Ami dalam hati, sambil matanya melihat ke arah pegawai yang terkesan cuek akan kehadirannya.
Tak lama, Pak Suhaemi yang diceritakan pak sekuriti datang,
"Mencari saya mba?" katanya duduk di sofa depan Ami.
"Eh, iya, dengan pak suhaemi ya?" ucap Ami
Obrolan mereka lanjut, hingga pada akhirnya Ami sukses menawari buku yang dia bawa, bahkan Pak Suhaemi membantu nya menawari ke teman-teman, diluar dugaan, ternyata Teman-teman pak Suhaemi sangat antusias dengan buku. hingga Closing beberapa buku pun terjadi.
"Alhamdulillah" ucap Ami dalam hati.
Ami menyodorkan catatan customer di meja, Pak Suhaemi mengisi itu dengan lengkap berikut nomor ponselnya, Pak Suhaemi juga berpesan, jika ada buku baru, silahkan datang kesitu lagi. Ami mengiyakan kemudian pamit.
Perasaan hari itu, dia sangat beruntung, mendapat customer tetap pikirnya.
Ka Diyan sudah menunggu di mesjid dekat gedung yang Ami datangi. Wajahnya kusut.
"Ka Diyan?" panggil Ami
Diyan menoleh ke arah Ami, kemudian bercerita panjang lebar, Ami mendengar dengan seksama.
"Terus buku ini harus aku jual kemana Mi?" kata Diyan frustasi.
"Aku juga bingung ka!" jawab ami sambil menatap miris pada beberapa buku yang dibawa diyan
"Memang ka Diyan gak ngabarin dulu mau ke ruangan nya?" tanya Ami
"Enggak mi.. Aku pikir dia ada terus disana!" jawab Diyan
"Eh tadi pas aku datang, ruangannya kosong bahkan bersih sudah dibongkar, katanya pindah bagian, dan gak tau dibagian apa!" ucap Diyan sedih.
__ADS_1
Resiko bagi marketing yang mengandalkan pesanan itu ya begitu, kalo buku yang sudah dibeli ternyata tidak kunjung laku, malah merugi.
"Ya udh kita tawari ke gedung lainnya aja ka?" ucap Ami berusaha menenangkan.
"Tapi kamu kan sudah selesai mi, buku-buku mu juga sudah terjual semua!"ucap Diyan, melihat isi tas Ami yang hanya tersisa botol minum.
"Ya udh gapapa, aku bantu ka Diyan!" kata Ami
Dan itu membuat Diyan merasa beruntung jalan bareng Ami hari itu.
*
Dilain tempat.
Ramdan menatap ponselnya ketika pesan singkat masuk.
Nomor tak dikenal
"Lagi ngapain?"
"ini nomor siapa ya?" ucap Ramdan sendiri, kemudian mencoba menelpon, tapi tidak ada jawaban. sampai panggilan ketika masih tidak ada jawaban, akhirnya dia memutuskan untuk tidak menghiraukan lagi.
Hasan sudah berada diteras rumah orangtua Ramdan.
"Wehh.. bujang, pagi-pagi ngapel!" kata Ramdan
"Iyaa mau ngapel rumahmu!" jawab ya cengengesan.
"Jalan yuk, main kerumah temenku!" kata Hasan "Ke desa P" ucapnya lagi
"Pake apa?" tanya Ramdan lagi, berfikir kalo jarak ke desa P itu lumayan.
"tuuuhh.." tunjuk hasan ke arah motor Honda karisma yang terparkir.
"Aku gak ada duit buat isi bensin San!" ucap Ramdan
"Gampang!" ayo!" ucapnya lagi.
Mereka menelusuri jalanan yang lumayan jauh, sesampainya di depan rumah bercat hijau, terlihat gadis memakai rok panjang dengan kaos panjang pula sedang menyapu teras rumahnya.
"Assalamu'alakum.." ucap Hasan
Sang gadis menengok ke arah gerbang, dan tersenyum, ia menghampiri dan membuka gerbangnya.
"Hasan kamu disini?" ucap wanita yang bernama Tari
"hehe . gak boleh emangnya??" jawab hasan cengengesan.
"Boleh," ucap Tari sambil melirik Ramdan.
__ADS_1
"oia, kenal kan sama Ramdan, anak pak Jono."kata Hasan merangkul bahu Ramdan
"Kenal lah,! maksudny tumben gitu kamu bawa Ramdan?" ucap Tari
"Dia baru abis kontrak, kalo aku abis resign! kali aja gitu kamu ada lowongan kerja?" kata Hasan
Ramdan yang sedari tadi hanya diam, mendengarkan percakapan Hasan dan Tari.
Kemudian tak lama tari mengajak mereka masuk dan duduk diteras, sedangkan Tari sendiri masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minum dan membawa cemilan.
*
Siang hari, Pesan singkat yang Ami kirim tidak terbalas, namun ada beberapa misscall dari nomor Hasan New.
Ami tersenyum melanjutkan sholat yang pada awalnya ingin dia kerjakan.
Diyan menatap Ami, dia menunggu mukena yang dipakai bergantian dengan Ami, karna situasi mesjid memang Ramai, usai sholat Ami dan Diyan kembali berjalan menelusuri gedung - gedung disana, menjajakan buku yang dibawa Diyan, sampai pukul 4 sore ketika semua pegawai siap pulang, mereka juga kembali menuju stasiun kereta,
"Terimakasih ya mi!" ucap Diyan
Kini tasnya ringan, tersisa satu buku saja yang tidak terjual, "Pulang mampir baso yuk mi! Aku traktir?"
Ami hanya mengangguk.
kemudian mereka menaiki kembali kereta api menuju kota D.
*
bersambung
#epilog
"Kenapa pesanku tidak dibalas?" tanya Ami dalam hati
Namun dia melihat panggilan tak terjawab sebanyak. 3x dan ia segera mengirim pesan lagi.
"Maaf lagi kerja, ntar telpon lagi malam aja ya!" Pesan terkirim
Ramdan yang melihat pesan disana sedikit mengeryit. pasalnya dia tidak tau itu nomor siapa!
Kemudian dia hanya membalas "Ok"
sambil menyunggingkan senyumnya yang tipis, karena kini dia sedang berada dirumah Tari, dan menonton perdebatan antar dua orang dihadapannya.
Ramdan memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong kemudian dia menyeruput minuman dingin yang disajikan Tari untuk dirinya dan Hasan, setelah itu kembali melamun.
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia novel ringanku, semoga cerita yang aku sajikan cocok dengan kalian yaa..
Jangan lupa tinggalkan like dan komen
__ADS_1
Akan lebih bersemangat ketika kalian juga meninggalkam Vote untuk novelku ini..
Happy reading😘