
Klik akun Author untuk kelanjutannya ya kkđđđđ
Villa Clisten
"Aaarrrrhhhgggg" teriakan Seorang gadis yang bergema di dalam ruangan bawah tanah itu
"Tolong Pa, jangan menyiksa ku lagi. aku tidak bersalah, Pa." tangisan gadis itu yang di siksa oleh ayah kandungnya sendiri
Gadis itu bernama Flower, usia 24 tahun. yang selama ini mendapatkan perlakukan keras dari ayah kandungnya sendiri, di saat Flower berusia 14 tahun ibunya meninggal karena kebakaran, setelah tidak lama kemudian ayahnya, Mark Clisten. menikahi janda yang memiliki seorang putri bernama Fannie, setelah mereka masuk ke keluarga Clisten perlakuan Mark terhadap putri kandungnya semakin keras karena hasutan istri ke duanya itu, dari usia 14 tahun Flower harus bekerja membersihkan rumah yang besar dan luas serta tanpa di perbolehkan di bantu oleh pembantu lainnya, Flower sering di hukum oleh ayahnya sendiri dan dari kecil dirinya hanya tidur di kamar gelap di ruang bawah tanah itu, bahkan makanan yang di berikan hanyalah sisa-sisa makanan dari mereka, Flower tidak di izinkan makan bersama keluarga di ruangan makan, hanya bisa makan di ruangan gelap yang hanya mengunakan lampu 5 watt dan tidak memiliki selimut atau apa pun, selama ini dirinya hanya tidur tanpa beralas apa pun di lantai semen yang dingin itu.
"Tolong Pa. jangan memukul ku lagi" pinta Flower yang menangis kesakitan pada tubuhnya karena di pukul oleh Mark dengan mengunakan rotan
Syiuk....syiuk....syiuk....syiuk...syiuk..
Pukulan demi pukulan di lakukan oleh Mark yang bagaikan kerasukan setan
"Aaaaargghhh" jeritan Flower yang tergeletak di lantai sambil menerima pukulan dari ayahnya tanpa berhenti
Aksi itu di saksikan oleh istri ke dua Mark dan Fannie anak tirinya, dengan menatap senyum melihat gadis itu di siksa habis-habisan sehingga bagian tubuhnya mengeluarkan darah yang menembus baju yang di kenakannya
"Tidak berguna. berani sekali kau melawan Fannie, kenapa kau tidak mati saja bersama ibu mu di saat kebakaran itu..ha" bentak Mark yang sambil memukulnya tanpa berhenti
Syiuk...syiuk..
"Pa, tolong jangan pukul aku lagi, aku adalah putri mu" tangisan Flower yang sakitnya menusuk hati dan jantung
__ADS_1
"Lalu kenapa jika kau adalah putri ku? aku menyesal punya anak seperti mu, hanya tahu menangis kenapa di saat kau masih kecil aku tidak membuang mu saja ke tong sampah, lebih baik aku berikan makan ke anjing liar di luar sana dari pada kau yang tidak berguna ini" bentak Mark sambil menendang perut Flower hingga berkali-kali
Bruk...bruk...
"Suami ku sudahlah, Fannie berbaik hati tidak akan membuat perhitungan dengannya, dari pada memukulnya hanya membuat mu kelelahan, begini saja jangan beri dia makan selama tiga hari, berikan saja jatah makannya kepada anjing liar di luar sana, anggap saja kita buat amal untuk anjing liar sana" ujar Mona dengan sengaja
"Baiklah, benar kata mu, bagus berikan makan saja anjing liar di luar sana, dari pada berikan pada anak sampah macam ni" ketus Mark dengan kejam
"Flower, kau dengar baik-baik walau kau adalah putri ku bukan berarti kau bisa hidup mewah, kau harus bekerja dengan benar, untuk apa aku punya anak seperti mu jika kau tidak bekerja, bibi mu ini sangat baik pada mu masih memberi mu makan, jika aku pasti sudah ku buang kau ke tong sampah" ketus Mark yang tanpa memikirkan perasaan putrinya itu
Sesaat kemudian mereka pun meninggalkan ruangan itu
Tinggallah Flower si gadis malang yang tepar di lantai dingin itu dengan kesakitan dan gemetaran di seluruh tubuh, rasa sakit di hatinya sudah tidak bisa di bayangkan lagi, mendapatkan caci maki dari kecil hingga dewasa, tangisan pecah di sepanjang malam itu hanya bisa menatapi nasib tragis yang dia alami selama 10 tahun ini.
Di malam itu Flower berusaha untuk duduk dan bersandar di tembok yang kasar itu sambil menahan rasa sakit dan gemetaran di seluruh tubuhnya, matanya yang sudah bengkak karena tangisan selama berjam-jam, akibat mendapat pukulan selama 10 tahun membuat luka di tubuh Flower meninggalkan bekas
"Ma, bawalah aku pergi aku tidak mau hidup lagi, aku sangat tersiksa di sini, Fannie selalu mencari masalah dengan ku, melempar baju kotor nya ke wajah ku dan menyuruh ku mencucinya, dan dia sengaja berserakkan seisi kamarnya agar aku yang mengemasnya, aku mendapat penghinaan dari mereka selama 10 tahun ini, papa juga sudah berubah menjadi iblis jika Fannie menghina ku aku yang di salahkan dan kemudian Mona sengaja menjadi batu api agar aku di pukul. Ma, aku tidak tahan aku sangat takut sama papa, apakah aku sangat membencikan sehingga papa memukul ku terus, aku tidak mendapatkan makanan layak selama ini, papa memberi sisa makanan pada ku dan melemparnya ke lantai, aku yang kelaparan hanya bisa mengutip butiran nasi dan memakannya, kenapa dulu aku tidak menyusuli mu saja, Ma" batin Flower dengan merasa sakit pada hatinya
Villa Robertson
DOR.....DOR....DOR.....DOR....DOR....
Bunyi tembakan yang di lakukan oleh seorang pria yang tidak lain adalah Bos Gangster, Charles Robertson.
4 tembakan yang di lepaskan membunuh seorang pria yang adalah seorang pengkhianat di kumpulannya
__ADS_1
"Bos, dia sudah mati" ujar Cole yang adalah tangan kanannya
"Buang jasadnya" perintah Charles sambil lap pistol dengan mengunakan sapu tangannya
"Siap Bos" jawab Cole dengan menurut
Charles adalah seorang Bos Gangster yang di takuti oleh orang banyak di London, dia di kenal kejam dan tidak akan melepaskan sesiapa pun yang berani mencari masalah dengannya, sikap angkuh dan selalu berhasil mengalahkan para lawannya membuat anggota sesama kumpulannya merasa iri dan selalu ingin mencari masalah dengannya.
Charles sendiri dari kumpulan Gangster yang bernama Red Lion yang di besarkan oleh ayah angkatnya yang bernama Brad Robertson yang adalah bos dari kumpulan tersebut
Selain Charles, Brad juga memiliki anak angkat lainnya yang bernama Farlos, Farlos dan Charles memiliki hubungan buruk dari kecil hingga dewasa
Farlos di kenal suka mabukan, serakah dan suka bermain wanita setiap malam dan selalu saja menentang Charles karena sikap irinya
Sementara Charles di kenal dengan sifat arogannya dan tidak suka keramaian
"Harry, apa kau belum menemukannya?" tanya Charles yang duduk kembali ke kursi besarnya
"Bos, maaf." ucap Harry dengan merasa bersalah
"Carikan dia sampai dapat, aku yakin gadis itu masih di London" perintah Charles yang melihat selembar foto gadis yang di cari selama ini
"Siap Bos" jawab Harry dengan hormat
"Flower Clisten, jangan biarkan aku melihat mu jika tidak aku akan menyiksa mu seumur hidup" batin Charles dengan menatap tajam ke arah foto itu
__ADS_1