
Pada saat Cloe dan Joan makan bersama, tiba-tiba ponsel Joan berdering. Satu panggilan telepon dari, Ola. Joan sengaja lost speaker panggilan telepon dari Ola, supaya Cloe juga bisa mendengarnya.
📱" Ada apa, Ola?"
📱" Kak, kok sampai sekarang belum ditransfer uang ya? padahal aku sama sekali tidak mempunyai uang sepeserpun, aku tidak bohong loh kak. Kata Mamah suruh minta sama, Kak Joan."
📱" Iya ini mau ditransfer nggak usah bawel."
📱" Sudah matikan teleponnya, kakak mau transfer uangnya sekarang!"
Joan terlebih dulu mematikan panggilan telepon dari Ola.
"Sayang, tolong transfer ke nomor rekening Ola sejumlah lima ratus ribu," perintah Joan.
Saat itu juga Cloe mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Ola, sesuai dengan perintah Joan. Tanpa iya lupa menunjukkan bukti transferannya tersebut.
"Terima kasih ya, sayangku."
Cloe hanya tersenyum kecut mendengar ucapan suaminya tersebut. Di dalam hatinya dia masih saja menggerutu.
"Dari tadi ngomong transfer lima ratus ribu, susah amat pakai buat masalah dulu!" batinnya kesal.
Esok harinya, Cloe dan Joan sudah mulai bekerja kembali. Baru satu hari Ola di beri uang oleh Joan. Tetapi sore harinya, ia menelpon Joan, sepulang Joan dan Cloe pulang bekerja.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel milik Joan.
📱"Ada apa lagi, Ola?"
📱" Ka Joan, laptop aku rusak. Beliin laptop."
📱" Pakai laptop kakak saja ya?"
__ADS_1
📱" Nggak mau, laptop kakak laptop jadul dan juga layarnya kecil. Aku mdu laptop yang model baru yang layarnya lebar. Please belikan ya, ka?"
📱"Memang berapa harga laptop tersebut?"
📱"Lima juta, ka."
Sejenak Joan terdiam, ia pun berdiskusi dengan Cloe.
"Sayang, kamu dengar bukan? saat ini Ola sedang butuh laptop, harganya Lina juta rupiah. Tolong transfer sekarang juga ke nomor rekening Ola."
Sebenarnya Cloe tidak setuju, karena uang lima juta itu tidak lah dikit melainkan banyak. Tetapi jika ia membantah pasti akan terjadi lagi permasalahan.
Setelah mentransfer sejumlah uang sebanyak lima juta rupiah ke nomor rekening milik, Ola. Cloe hanya diam saja, ia murung memikirkan masa depan bersama Joan.
"Jika seperti ini terus, lantas bagaimana dengan masa depan rumah tanggaku ini? entah mamahnya papahnya ataupun Ola semuanya selalu saja meminta uang, untuk ini dan untuk itu. Katanya papahnya bekerja, mamahnya mempunyai usaha sendiri. Tetapi mereka selalu saja meminta uang pada Joan. Lantas bagaimana kedepannya, rumah tanggaku dengan Joan? jika uang hasil kerja keras Joan selalu digunakan untuk keperluan adik dan orang tuanya?"
Terus saja di dalam hati Cloe penuh dengan pertentangan. Ia terus khawatir memikirkan masa depannya bersama dengan Joan. Pada awalnya ia memilih Joan untuk menjadi suaminya, karena ia memandang Joan itu sudah mapan. Mempunyai rumah sendiri dan seorang manajer yang berpenghasilan besar. Ternyata pemikirannya selama ini salah, justru Joan dijadikan sebagai tulang punggung keluarganya, sedangkan baru awal menikah saja ia harus mencukupi segala kebutuhannya dengan cara ia bekerja sendiri di tempat kerja Joan sebagai SPG.
Joan merasa heran melihat istrinya terus saja murung, tak ada senyuman sama sekali. Hingga ia pun menanyakan tentang apa yang sedang dipikirkan oleh, Cloe.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Perutku sudah mendingan kok, aku hanya lelah ingin istirahat saja, ka."
Saat itu juga Cloe membereskan semua makanannya, dan ia pun lekas berbaring di kamar. Tetapi matanya tak juga bisa terpejam. Pikirannya terus saja tertuju pada masa depan yang belum jelas.
"Ya Tuhan, buatkanlah hatiku tenang dan tidak memikirkan masa depan yang belum pasti. Aku percaya kan semuanya kepadamu ya, Tuhan."
"Semoga saja apa yang aku khawatirkan tidak akan pernah terjadi di dalam R
rumah tanggaku supaya masa depanku cerah bersama suamiku."
"Tanamkanlah kepada diriku untuk selalu berpikir positif. Supaya aku tidak selalu cemas."
Cloe matanya terpejam tetapi di dalam hatinya, dia sedang berdoa supaya dirinya tenang dan bisa menghadapi hari-hari kedepannya nanti. Dia berharap adik dan orang tua suaminya tidak terus-menerus mengganggu keuangan suaminya. Supaya ada masa depan yang cerah untuk rumah tangganya.
__ADS_1
Sementara Joan terus saja merasa penasaran melihat sikap murung istrinya. Tetapi ia juga tidak ingin menanyakannya kembali, ia hanya menggerutu di dalam hatinya.
"Aku rasa istriku sedang memikirkan sesuatu, dia tidak sedang baik-baik saja. Tetapi kenapa ia tidak mengatakan kepadaku? apakah yang membuatnya terlihat sedih seperti itu ya?" batinnya terus saja curiga pada sikap Cloe.
********
Pagi harinya, Cloe tidak juga bangun seperti biasanya. Dia masih saja di tempat tidur. Tiba-tiba Joan merasakan tubuh Cloe menggigil. Joan langsung meraba kening, Cloe.
"Sayang, sepertinya kamu sakit. Sebaiknya kita lekas ke dokter ya."
Cloe tak bersuara, ia hanya mengangguk pelan menandakan bahwa ia setuju untuk segera ke dokter.
Saat itu juga Joan menggendong tubuh Cloe. Dengan terlebih dahulu Joan memesan taxi on line.
Tak berapa lama, Cloe dan Joan telah sampai di sebuah klinik pengobatan. Cloe segera di periksa.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" tanya Joan khawatir
"Saat ini istri anda, penyakit maaghnya telah akut. Jadi jangan pernah sampai terlambat makan, dan jauhi makanan yang bisa mengakibatkan sakit maagh nya kambuh," ucap sang dokter.
Saat itu juga Dokter memberikan resep untuk segera ditebus di bagian farmasi yang ada di klinik tersebut. Bahkan dokter menyarankan supaya Cloe tidak terlalu cape.
Setelah selesai pemeriksaan Joan menuntun Cloe untuk segera pulang dengan mengendarai taxi on line. Dalam perjalanan pulang, Cloe sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia terus saja memejamkan matanya karena merasakan kepalanya yang sangat sakit sekali.
"Kasihan sekali istriku, ternyata sikap diamnya dari semalam karena ia sedang tidak sehat," batin Joan seraya sesekali mengusap surai hitam Cloe.
Sesampainya di rumah kontrakan, Joan menyiapkan obat yang harus segera diminum oleh, Cloe. Joan pun membuat minuman teh manis hangat untuk, Cloe.
" Sayang, minum obatnya dulu. Setelah itu istirahatlah. Untuk hari ini kamu tidak perlu bekerja dan aku juga akan meminta izin tidak masuk kerja untuk menjagamu selama kamu sakit," pinta Joan.
Cloe segera minum obat yang diberikan oleh Joan, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di pembaringan.
Dari semalam hingga pagi ini, Cloe tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam, pikirannya entah sedang memikirkan apa.
__ADS_1
Joan merasa iba melihat Cloe yang tergolek lemah tak berdaya. Ia menyelimutinya dan memijit kakinya. Tetap saja Cloe hanya diam, dan ia lekas memejamkan matanya.