Gadis Manja Yang Di Paksa Mandiri

Gadis Manja Yang Di Paksa Mandiri
Obrolan Orang Tua Cloe


__ADS_3

Sore harinya Cloe dan Joan berpamitan kepada orang tua untuk segera kembali ke kota C.


"Pah-mah, kami pamit untuk kembali ke kota c. Mohon doanya selalu supaya rumah tangga kami rukun, bahagia selalu, dimurahkan rezeki dan segala kebaikan yang lainnya."


"Iya, Pah-mah. Kami minta maaf jika telah merepotkan kalian. Aku pribadi akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi."


Demikian sepasang suami istri yang masih muda ini berpamitan pada orang tua Cloe, dan juga pada kedua kakaknya. Tanpa lupa orang tuanya mengajak untuk berdoa bersama terlebih dahulu sebelum Cloe dan Joan benar-benar pergi dari rumah tersebut. Baru setelah itu mereka benar-benar pergi dengan memesan grab menuju ke stasiun kereta api.


Sesampainya di stasiun kereta api kebetulan mereka tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk kedatangan kereta api yang akan mereka tumpangi. Hanya beberapa menit saja kereta api tersebut telah datang. Cloe dan Joan segera masuk ke dalam kereta api tersebut duduk di nomor kursi yang telah dipesan sebelumnya.


Selama dalam perjalanan, di dalam kereta api mereka tidak mengatakan apapun. Keduanya hanya saling diam bahkan keduanya sama-sama memejamkan mata. Hingga tak terasa sampai juga di stasiun kereta api di kota C. Keduanya langsung turun dari kereta api dan memesan grab kembali untuk menuju ke kontrakan.


Sementara di rumah, Papah Oscar sedang bercengkrama dengan Mamah Elizabeth.


"Cloe sifatnya sangat keras, suaminya juga keras. Padahal dulu pada saat masa pacaran, aku sudah menasehati Cloe berulangkali untuk memikirkan kembali tentang niatnya menikah dengan Joan."


"Dari awal pacaran saja sudah banyak sekali permasalahan di dalem hubungan mereka. Tetapi Cloe nyerang saja tetap memilih untuk menikah."


"Semoga saja, Joan bisa berubah ya, mah. Supaya dia tidak memikirkan adik dan orang tuanya terus."


Mendengar keluh kesah yang sedang dilontarkan oleh Papah Oscar, mamah Elizabeth pun hanya menanggapi sepatah kata saja, karena pada dasarnya ia adalah seorang wanita yang tidak banyak kata dan pendiam.


"Sebenarnya Cloe saja, pah. Yang gampang sekali marah, tapi sih gimana ya? intinya ya kita berdoa sajalah, supaya rumah tangga mereka selamanya langgeng. Keduanya bisa selalu menghadapi permasalahan secara bersama-sama tanpa ada pertentangan satu sama lain," ucap Mamah Elizabeth.

__ADS_1


"Memang sifat Cloe sangat keras kepala, jika ia sudah menginginkan sesuatu hal yang harus segera di milikinya, ia tidak ingin menunggu waktu lama seperti halnya hubungannya dengan Joan ."


"Apapun yang diinginkannya harus segera dipenuhi, kadang aku juga merasa khawatir dan cemas karena Cloe selama ini biasa hidup serta ada tanpa bekerja keras. Bagaimana jika dia berada di kota C tersebut pastinya ia akan kaget. Dan semoga saja ia bisa beradaptasi dengan baik."


Mendengar kecemasan yang teramat sangat pada diri suaminya, Mamah Elisabeth pun memberikan suatu penghiburan.


"Nggak usah terlalu cemas seperti itu, pah. Positif thinking saja. Memang pada awalnya Cloe tinggal di kota C dia sering mengeluh sering menangis pada saat telepon kemari. Tetapi lambat laun dia tidak mengeluh lagi kok, pah. Jadi percaya saja jika Cloe bisa menghadapi situasi dan kondisi yang ada di kota C."


"Satu hal lagi yang membuatku selalu mencemaskannya, mah."


Mamag Elizabeth memicingkan alisnya," apa itu, pah?"


"Sikap adik dan orang tuanya itu, apakah Cloe bisa menghadapinya, itu yang selalu aku cemaskan, mah."


"Seharusnya orang tua Joan itu sadar diri, jika sekarang ini Joan telah rumah tangga. Jangan terus mengganggu ekonomi anaknya itu. Padahal kita sebagai orang tua tidak pernah yang meminta-minta kepada anak-anak kita, untuk memberikan macam-macam, untuk memberi uang."


"Pada saat pertunangan dilangsungkan, orang tuanya mengatakan panjang lebar tentang kekayaan mereka, memiliki rumah mewah, mobil mewah, Joan memiliki sebuah perumahan. Tetapi setelah pernikahan orang tuanya masih saja menganggu ekonomi anaknya."


"Katanya suami istri memiliki usaha masing-masing, untuk apa mereka selalu meminta-minta kepada Joan? lantas di mana uang hasil usaha mereka berdua?"


"Ternyata mereka itu tidak kaya tetapi sok kaya saja, pada dasarnya mereka tidak punya apa-apa."


Mamah Elizabeth hanya diam saja mendengar seluruh ucapan yang dikatakan oleh suaminya. Ia tidak bisa berkomentar lagi, karena begitu banyak yang dikatakan oleh Papah Oscar, sehingga ia bingung harus berkomentar dari perkataan yang mana terlebih dahulu. Ia pun memutuskan untuk diam menjadi pendengar setia saja. Selama suaminya terus saja berbicara tanpa ada spasi tanpa ada capenya.

__ADS_1


Setelah merasa lelah sendiri dalam berbicara, Papah Oskar memutuskan untuk tidur, karena sehari-harinya tidak ada aktivitas apapun, waktunya hanya digunakan sepanjang hari di rumah saja.


Berbeda dengan Mamah Elizabeth, ia segera bangkit dari duduknya menuju ke dapur untuk memulai membuat adonan naga sari dan arem-arem.


"Mah, aku pikir mamah libur nggak jualan," tegur Caroline.


"Libur, lantas siapa yang akan memberi uang untuk angsur bank. Sementara papahmu lama nian menganggur. Belum juga mendapatkan pekerjaan, sudah berbulan-bulan lamanya," ucap Mamahn Elizabeth.


"Nek, mau bikin naga sali ya?" si kecil Grace yang belum faseh mengatakan huruf R ikut saja bicara. Amsk Caroline yang baru berumur tiga setengah tahun.


"Ya, Grace."


"Glace, mau bantuin nenek ya?" pintanya berlari menghampiri Mamah Elizabeth.


"Eeh.. jangan ngerecokin nenek! ayo tidur, sudah waktunya tidur siang."


Caroline segera menghampiri Grace dan menuntunya menuju ke kamar.


Grace tripical anak yang penurut, ia pun segera menuruti kemauan Caroline untuk segera tidur siang. Hanya beberapa menit saja Grace telah tertidur nyenyak.


Caroline tidak menyia-nyiakan waktu tersebut, Iya segera meraih ponselnya dan menulis kata demi kata untuk lanjutan novel on line yang ia tulis di beberapa aplikasi novel berbayar di ponsel.


Karena ia tidak bisa mengandalkan suaminya yang tidak bertanggung jawab kepada dirinya dan anaknya ya harus berjuang sendiri mencari nafkah seperti halnya yang dilakukan oleh Mamah Elizabeth. Karena papah Oscar jarang sekali bekerja.

__ADS_1


Suami dari Caroline memang bekerja di luar kota, tetapi dia jarang mengirimkan uang untuk kebutuhan Caroline dan anaknya. Selalu saja beralasan ini dan itu hingga terpaksa Caroline harus berjuang sendiri. apalagi sebentar lagi anaknya akan masuk sekolah.


Ibu dan anak, sama-sama harus berjuang sendiri untuk bisa mendapatkan uang. Tetapi semangat juang Mamah Elizabeth dan Caroline pantas di acungi jempol dan pantas mendapatkan pujian. Karena mereka pejuang tangguh dan tak pernah menyerah.


__ADS_2