
Pagi menjelang, Cloe pun kembali ke rantau untuk bekerja kembali. Tetapi sesampainya di rantau dia dibuat kesal oleh calon suaminya.
"Mas, kenapa sih kamu memakai uang untuk membeli ponsel Ola, tidak menanyakan dulu kepadaku? sedangkan aku harus membeli ponsel dengan uangku sendiri, padahal aku lihat ponsel Ola masih bisa dipakai tidak seperti ponselku yang sudah rusak karena jatuh. Kamu kok nggak bersikap adil seperti ini? padahal sebentar lagi kita akan menikah dan membutuhkan banyak dana."
Cloe sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, karena melihat sikap calon suaminya yang selalu saja mengutamakan keluarganya daripada dirinya.
"Loh.. kok kamu malah marah seperti ini sih? lagi pula Ola itu kan adik kandungku sendiri, sedangkan aku anak sulung. Masa iya aku harus bersikap kejam kepada adikku sendiri?"
"Aku tidak bisa bersikap egois, bagaimanapun Ola itu adikku, ia belum bekerja. Apa salahnya ia meminta sesuatu dariku?"
Cloe semakin kesal mendengar alasan yang dilontarkan oleh calon suaminya," Iya aku tahu dia adikmu dan kamu adalah anak sulung, tetapi apakah kamu ingat janjimu padaku? katanya segala kebutuhanku akan kamu berikan, mana tanggung jawabmu dan mana janji yang telah kamu ucapkan itu? semuanya kamu ingkar tidak ada satupun yang kamu tepati?"
"Di saat aku butuh ponsel baru, apa kamu peduli padaku? apa kamu membelikan untukku? aku harus bersusah payah bekerja sendiri. Katanya uang hasil kerjaku untuk di tabung!"
Joan sama sekali tidak merespon apa yang barusan di katakan oleh Cloe. Dua diam saja, hingga membuat Cloe semakin emosi," mas, aku sedang bicara padamu. Kenapa kamu malah diam saja?"
"Kita ini sebulan lagi akan menikah loh. Jika sebentar-sebentar keluargamu minta uang dalam jumlah yang banyak. Lantas bagaimana dengan masa depan kita?"
"Masa iya hanya dalam satu bulan saja, kamu mengeluarkan uang begitu banyak. Dari papahmu minta membeli Televisi baru, mamahmu minta beli mesin cuci, dan sekarang Ola beli ponsel."
Joan kembali lagi Tek berkata apapun, dia malah berlalu pergi dari kontrakan Cloe.
"Aku nggak menyangka belum juga kita sah menjadi suami istri, sudah banyak sekali permasalahan seperti ini. Aku nggak mungkin membatalkan semuanya karena undangan sudah di bagikan."
"Tetapi bagaimana jika kita sudah bersama, apakah aku bisa bersikap sabar terus ya?"
Cloe terus saja menggerutu di dalam hatinya, memikirkan tentang masa depannya bersama dengan Joan.
__ADS_1
Kadang dia ingin menyerah saja, tetapi itu tidak mungkin. Ia sudah berkorban, dengan merantau demi calon suaminya.
Cloe hanya bisa memendam rasa kecewanya pada Joan.
"Aku harus berusaha tegar dan bersifat dewasa. Tidak semua yang aku alami harus aku ceritakan kepada orang rumah, terutama pada papa. aku tidak ingin menjadi beban pikiran papa apalagi ia punya riwayat penyakit sesak napas dan hipertensi."
"Aku akan berusaha untuk bersikap seperti mamahku, menerima dengan lapang dada segala kekurangan pasangannya. Semoga saja aku bisa seperti itu dan merubah segala tabiatku yang buruk yang sangat keras kepala."
Demikian keinginan yang ada di dalam hati Cloe. Dia berniat bersungguh-sungguh ingin merubah dirinya menjadi lebih baik lagi. Ingin menjadi seorang wanita yang tegar, kuat dan benar-benar bisa berpijak pada kaki sendiri.
Walaupun di dalam hatinya sangatlah susah dan benar-benar butuh perjuangan ekstra untuk merubah tabiatnya yang sangat keras kepala.
Esok harinya Cloe melakukan aktivitasnya seperti biasa. Walaupun dia belum berumah tangga dengan Joan tetapi setiap pagi ia harus memasak, karena Joan menginginkan dirinya memasak untuk setiap harinya membawa bekal untuknya dengan alasan untuk pengiritan.
"Belum apa-apa aku harus direpotkan seperti ini. Jam lima pagi aku harus sudah bangun untuk memulai memasak nasi, memasak lauk pauk dan juga mencuci pakaian. Bahkan aku belum se rumah dengan Joan tapi aku sudah menyetrika pakaiannya."
"Tetapi aku lelah juga, jika pada saat aku mengajaknya berbicara malah yang ada selalu perdebatan dan perdebatan, pertengkaran yang tidak ada ujungnya."
"Kadangkala aku berpikir, seseorang yang umurnya lebih tua dariku belum tentu sifatnya dewasa malah kadang seperti anak kecil saja."
"Kok aku dari tadi menggerutu seperti ini ya? nanti yang ada masakanku rasanya tidak karuan."
Cloe melanjutkan aktivitas memasak tanpa menggerutu kembali, ia begitu seriusnya walaupun sebenarnya ia enggan. Karena ia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu selama dirinya berada di rumah.
Jangankan untuk memegang pisau, meracik bumbu-bumbu dapur atau mencuci pakaiannya sendiri pun ia tidak pernah. Selama berada di rumah, ia juga tidak pernah bangun pagi selalu bangun jam sebelas siang atau jam dua belas siang.
"Dulu aku selalu membayangkan segala urusan rumah dilakukan oleh asisten rumah tangga. Aku hanya bekerja sebagai wanita karir, tetapi impianku tidak sesuai dengan apa yang aku dapatkan saat ini."
__ADS_1
"Seharusnya Joan menghargai segala pengorbananku, dengan sedikit mendengarkan apa yang aku sarankan demi masa depan rumah tangga kita berdua."
"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kedepannya nanti jika rumah tanggaku bersama Joan. Jika dia selalu saja mengutamakan kebutuhan keluarganya."
"Bukannya aku iri, cemburu atau bagaimana ya ngomongnya? tetapi masa iya setiap kebutuhan orang tuanya, adiknya, selalu saja ia yang memenuhinya. Sedangkan kebutuhanku di sini bukannya dia yang mencukupi, tetapi aku harus bekerja sendiri. Ini sama saja bohong."
Kembali lagi Cloe menggerutu dan menggerutu, karena tidak ada yang bisa diajak berbicara hingga ia pun ngomong sendiri tak ada juntrungannya. Sambil memasak dan mencuci pakaian yang kebetulan di kontrakannya sudah ada mesin cuci.
Beberapa menit kemudian....
Suara deru motor berhenti di depan kontrakan Cloe, dimana Joan telah datang untuk mengajak Cloe berangkat kerja.
"Sayang, kamu sudah siap atau belum?"
"Sudah, Ka Joan."
"Untuk bekal makan siang aku bagaimana? oh ya, aku ikut sarapan donk, tolong ambilkan tapi nggak usah terlalu banyak ya. Kebetulan aku di kontrakan belum makan."
Joan juga tinggal di sebuah kontrakan tetapi letaknya berbeda rada jauh dari kontrakan Cloe. Mereka tidak tinggal satu kontrakan, karena belum menikah.
Walaupun sudah resmi bertunangan, tetapi mereka masih bisa jaga diri hingga tidak seenaknya tinggal satu rumah dan melakukan hal yang tidak di inginkan.
Cloe melayani Joan mengambilkan makanan dengan porsi yang sedang sesuai dengan pernikahan Joan.
"Hem, enak juga ya masakan calon istri."
Joan menyantap sarapannya dengan begitu lahapnya, hingga habis tak bersisa sama sekali.
__ADS_1