
Tak terasa esok menjelang, kondisi Cloe sudah baikan.
"Aku nggak boleh lemah, aku harus kuat. Aku nggak boleh bersikap manja seperti pada saat aku belum mempunyai seorang suami. Jika aku terus saja manja, dan tak bisa berubah. Lantas bagaimana jika aku punya anak?"
Cloe pun segera bangkit dari ranjang, ia segera ke dapur untuk memasak. Sembari mencuci pakaian di dalam mesin cuci dan juga menanak nasi di majikom.
"Aku harus melakukan berbagai pekerjaan hanya dalam satu waktu. Supaya lekas selesai dan juga tidak menyita waktu seperti biasanya. Aku benar-benar harus berlatih seperti, mamah dan Kakak Perempuanku yang mampu mengatur waktu mereka dalam sekali waktu."
Dengan penuh semangat Cloe melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan keceriaan, ia ingin mencontoh ibu dan kakaknya yang selalu bisa menghadapi permasalahan di dalam rumah tangga mereka.
Sementara Joan terjaga dari tidurnya, ia meraba tempat tidur di sampingnya dan mengerjapkan matanya," dimana Cloe? astaga.. sepertinya ia sedang berada di dapur. Apakah kondisinya sudah membaik hingga dia mulai aktifitas?"
Saat itu juga Joan bangkit dari ranjang, ia pun menghampiri istrinya yang sedang sibuk memasak. Ia memeluk Clie dari arah belakang," Sayang, apakah kamu sudah membaik? jika belum, sebaiknya nggak usah aktifitas dulu. Biar kira makan beli di warung, baju kita laundry saja."
"Aku sudah sehat kok, ka. Kamu nggak usah khawatirkan aku ya? sebentar lagi seluruh pekerjaan juga selesai. Pengiritan, Kak. Jika kita terus-menerus membeli masakan di warung, juga pakaian di laundry, akan menambah pengeluaran kita, Kak."
"Ya sudah terserah kamu saja, yang penting harus bisa menjaga kesehatan jangan sampai kamu sakit lagi. Aku nggak tega melihatnya, apalagi saat ini kamu jauh dari keluargamu."
Johan pun kembali ke kamarnya, ia melanjutkan mimpi indahnya. Sementara Cloe melanjutkan memasaknya.
"Aku baru menyadari menjadi seorang wanita itu tidaklah mudah, harus melakukan segala pekerjaan rumah tangga seorang diri dan pekerjaan itu tidak pernah ada habisnya."
"Maafkan aku ya mah, dulu selalu kasar sama mamah. Jika aku bangun belum ada sarapan pasti aku akan marah-marah."
"Padahal mamah sangat capek, di samping Mamah harus ngurus kebutuhan rumah, mamah juga harus berdagang. Dimana setiap tengah malam harus bangun untuk mengantarkan dagangan tersebut."
"Kadang aku juga tidak pernah menghargai pengorbanan mamah yang telah susah payah memasak, tetapi aku tidak cocok dengan masakan mamah. Aku selalu mengumpat dan mengumpat."
__ADS_1
Cloe terus saja menggerutu di dalam hatinya, tak terasa rasa air mata meleleh. Jika mengingat betapa jahatnya dirinya kepada Mamah. Apa yang lakukan oleh mamah tidak pernah benar di mata, Cloe. Selalu saja salah, tetapi ia tidak pernah meminta maaf sama sekali.
"Betapa besar dosaku padamu selama ini, kini aku sadar jika kodrat wanita sangatlah berat, mah."
Satu jam berlalu, seluruh pekerjaan rumah tangga semuanya selesai. Cloe pun sudah mandi, ia sudah bersiap-siap dengan memakai seragam kerjanya. Ia segera membangunkan Joan.
"Pagi, sayang. Maafkan aku ya, tadi aku nggak membantu pekerjaanmu, tetapi malah tidur lagi. Entah kenapa mata ini merasa mengantuk sekali," ucap Joan.
"Nggak apa-apa, ka. Lagi pula sudah menjadi tugas seorang istri melakukan semua tugas rumah tangga," ucap Cloe mencoba tersenyum seraya menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Joan.
"Tetapi seharusnya aku membantumu biar kamu nggak terlalu cape. Seperti anjuran dari dokter, supaya kamu tak terlalu cape,' ucap Joan berbasa-basi.
"Kamu juga ikut bekerja, yang seharusnya itu adalah tugas seorang suami. Aku minta maaf ya, sayang."
Lagi-lagi Cloe hanya tersenyum," sudahlah, Kak. Nggak usah membahas hal itu, sekarang sebaiknya kakak sarapan lalu mandi karena sudah siang, nanti kita terlambat sampai di toko."
Beberapa menit kemudian Joan melakukan ritual mandi paginya, sementara Cloe membereskan bekas sarapannya. Mencuci piring dan ia segera bermake up.
********
Beberapa menit persiapan...
Keduanya segera berangkat ke toko elektronik. Dimana Joan sebagai manajer pemasaran sementara Cloe sebagai SPG.
"Aku kepikiran mamah dan merasa kasihan padanya. Karena aku tak pernah mengirimkan uang selama aku bekerja."
"Padahal orang tuaku meminjam uang dalam jumlah yang besar untuk pernikahanku waktu itu. Setelah menikah bukannya aku membantu mereka malah seperti ini."
__ADS_1
"Kapan aku bisa mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening mamah ya? kasihan Mamah setiap bulannya harus terbebani dengan mengangsur hutang bank bukan hanya satu tetapi dua cicilan."
Pada awal sebelum menikah, dia sudah mengatakan bahwa akan membantu mengangsur cicilan bulanan hutang orang tuanya. Jika setiap bulan ia mendapatkan gaji. Tetapi setelah beberapa bulan ia bekerja, tidak pernah mengirim sepeserpun kepada mamahnya.
Dia tidak bisa bersikap tegas, sementara suaminya bisa memberikan uang kepada keluarganya. Ia tidak bisa memberikan seperpun kepada orang tuanya sendiri.
"Sebenarnya jika Kak Joan bersikap adil, pasti aku bisa sedikit membantu meringankan beban ekonomi orang tuaku. Tetapi dia terlalu egois, jika dia memberi untuk orang tua dan adiknya, aku tidak boleh marah. Tetapi jika aku ingin mengirim kepada mamahku dia pasti marah," gerutu Cloe.
" Ponselku rusak, aku membeli sendiri. Sementara ponsel Ola rusak, Ka Joan yang membelinya. Kak Joan pintar beralasan, jika Ola belum bekerja, ia masih kuliah masih menjadi tanggung jawab orang tua dan dirinya, sedangkan aku sudah bekerja mempunyai penghasilan sendiri."
"Entah mau bagaimana, Ya Tuhan. Tolong tunjukkan cara bagiku untuk bisa sedikit meringankan beban orang tuaku dengan setiap bulannya memberikan jatah untuk mengangsur hutang bank mereka."
"Aku selalu saja memikirkan kondisi keuangan orang tuaku, karena aku sangat tahu jika papahku jarang bekerja. hanya Mama yang menjadi tulang punggung untuk saat ini."
*********
Sore menjelang kebetulan, Cloe mendapatkan gajinya. Ia pun berinisiatif untuk sedikit, mengurangi beban ekonomi orang tuanya. dengan cara ia mentransfer uang dengan nominal lima ratus ribu ke nomor rekening Mamah Elizabeth tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada, Joan.
Setelah itu, ia pun mengirimkan pesan pada nomor ponsel Clara.
[Ka Clara, tolong sampaikan kepada mamah ya. Jika aku baru saja mentransfer lima ratus ribu ke nomor rekeningnya. Mohon maaf nggak bisa memberikan dalam jumlah yang banyak. Terima kasih ya, ka.]
Drt drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke nomor ponsel Clara. Ia pun segera membacanya dan tak lupa segera membalas chat pesan dari Cloe.
[Ok, nanti aku sampaikan ke mamah.]
__ADS_1
Saat itu juga Clara melangkah ke rumah Mamah Elizabeth, untuk memberi tahu pesan dari Cloe.