
Mamah Elizabeth memicingkan alisnya pada saat melihat Clara terburu-buru ke arahnya yang sedang duduk di teras halaman," ada apa, Clara?
"Tahu saja, aku ada perlu sama mamah? begini, mah. Baru saja Cloe kirim pesan kalsu dia transfer uang ke nomor rekening Mamah. Dan aku di minta untuk menyampaikan pesan ini," ucap Clara.
"Ohh ya, terima kasih ya. Sebenarnya Mamah nggak minta loh, sudah mendengar kabar di sana Cloe dan Joan akur saja itu sudah membuat mamah senang. Mamah kalau anak-anak ngasih uang malah membuat mamah nelangsa," ucap Mamah Elizabeth dengan mata berkaca-kaca.
" Jangan seperti itu, mah. Namanya anak pasti punya keinginan untuk memberi kepada orang tuanya, terutama kepada seorang ibu. Seharusnya mamah senang bukannya malah nelangsa," ucap Clara heran.
"Iya mamah nelangsa, karena sudah bisa bekerja dan berusaha mandiri saja mamah sudah senang. Bukannya selama Ini Cloe itu sangat manja. Tetapi tiba-tiba dia harus merantau dan bahkan hidup bersama suaminya di rantau tersebut itu adalah hal yang sungguh luar biasa bagi, mamah. Pencapaian ya g sungguh tidak terduga," ucap Mamah Elizabeth.
"Iya, juga sih mah. Tapi ya sudah terima saja, mah. Anggap saja itu rezeki dari Tuhan untuk mamah," ucap Clara.
Sejenak Clara bercengkrama dengan mamah Elizabeth. Hingga beberapa menit kemudian Clara pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
"Mah, aku pulang ya? belum buat adonan untuk nagasari sama arem-arem bukan?" tanya Clara untuk memastikan.
"Belum, masih lama. Nanti kalau sudah jadi adonannya pasti Mamah meminta tolong Caroline untuk memberi tahu lewat chat pesan," ucap Mama Elizabet.
Clara mengiyakan, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya. Sementara Mamah Elizabeth masuk ke dalam rumah untuk mulai mengurus dagangannya. Untuk mulai berjuang membuat adonan nagasari dan arem-arem.
Sementara di rantau, Cloe merasa sangat senang karena sudah bisa memberikan sedikit uang dari hasil kerjanya untuk Mamahnya.
"Puji Tuhan, lega rasanya bisa memberikan sedikit rezeki dari uang gajiku untuk Mamah," gerutunya tanpa sadar hingga terdengar oleh Joan.
__ADS_1
"Apa, kamu diam-diam transfer ke mamhmmuy tanpa memberi tahuku terlebih dahulu?" tanya Joan dengan wajah kesal.
"Maafkan aku, ka. Aku nggak tega saja sama mamah, tahu sendirilah. Kondisi keuangan orang tuaku seperti apa? mamah kan sempat hutang bank untuk pernikahan kita. Karena uang yang kamu berikan itu nggak cukup."
"Sementara sebelum hutang bank, mamah juga punya tanggungan hutang bank yang lain. Kondisi yang cari nafkah kan cuma mamah saja. Secara papah jarang kerja karena jarang ada proyek bangunan."
Mendengar penjelasan dari Cloe tak lantas membuat Joan mengerti, dia malah semakin marah," kok gitu sih,m hutang orang tua ya tanggung jawab orang tua untuk mengangsurnya, bukan tanggung jawabmu!"
Cloe ikut tersulut api amarah," loh kok kakak begitu sama orang tuaku? lagi pula aku kirim uang cuma lima ratus ribu. Ini pun baru pernah loh, sejak beberapa bulan aku bekerja di sini."
"Lagi pula pake gajiku bukan gaji kamu, ka. Mendingan aku, orang tuaku nggak pernah meminta transferan. Beda sama orang tuamu, yang selalu saja tiap bulan meminta transferan."
"Sebentar Papahmu, lalu mamahmu, terus adikmu. Apa aku pernah protes atau marah? lagi pula anggota keluargamu jika minta uang nggak kira-kira sampai berjuta-juta."
"Padahal kamu mengatakan jika papahmu dan mamahmu punya usaha. Tetapi mana hasil usaha mereka?"
"Mereka itu orang tua dan adikku. Aku sudah terbiasa memberi pada mereka, apa lagi aku ini anak tunggal," ucap Joan membela diri.
"Aku juga sama, mamah itu orang tuaku. Dia yang melahirkan aku. Justru selama hidup aku nggak pernah memberi sama mamah. Makannya sekarang aku ingin memberi, lagi pula aku hanya memberi lima ratus ribu saja. Kenapa di permasalahkan sih?" protes Cloe.
"Kamu anak bungsu itu nggak wajib memberi sama orang tua, jadi nggak apa-apa jika kamu nggak memberi. Ingatlah jika kebutuhan kita itu banyak, Cloe. Tolonglah kamu bisa mengerti aku sedikit saja!" ucap Joan.
"Astaga, Ka Joan! kurang mengerti apa aku selama hidup denganmu? pada saat masa berpacaran kamu selalu berjanji macam-macam. Tetapi mana buktinya, nol!"
__ADS_1
"Apa kamu pernah mengerti aku? di saat rumah kontrakan nggak ada kulkas, kamu nggak mau mengeluarkan uang untuk membeli. Di saat ponsel aku rusak juga apa kamu membelikan ponsel untukku? nggak kan, aku beli dari uang kerjaku!"
"Kamu selalu menomor satukan orang tua dan adikmu. Tetapi menomor duakan istrimu sendiri! segala kebutuhan istri nggak pernah kamu hiraukan!"
"Kepada sih, ka! kakak begitu egois dan mau menang sendiri? kenapa hanya pintar berjanji saja? kenapa semua janji kamu ingkari?"
"Dan kenapa juga kamu mengajari aku untuk durhaka pada orang tuaku? astagaa....ya Tuhan! aku nggak menyangka akan seperti ini hidup berumah tangga denganmu!"
"Baru satu Minggu sudah sering makan hati! entah kedepannya seperti apa? entah aku mampu atau tidak menghadapi dirimu yang luar biasa egoisnya!"
Setelah mengeluarkan semua keluh kesah dan rasa kecewanya terhadap Joan, Cloe terdiam. Tiba-tiba air matanya tercurah begitu saja. Ia sama sekali tidak menyangka jika sifat Joan ternyata sangat buruk. Hanya manis di awal saja, selebihnya sangat menyakitkan.
"Ternyata lain di bibir lain di hati, apakah memang semua lelaki sifatnya seperti ini ya? seperti halnya yang saat ini sedang dirasakan oleh, Ka Caroline. Aku pikir suaminya sangat pendiam dan bertanggung jawab, tetapi ternyata malah sangat menyakitkan."
"Kak Caroline, harus berjuang sendiri mencari uang demi menghidupi dirinya dan anaknya. Walaupun kondisinya dirinya sedang susah tetapi ia masih memperhatikan mamah."
"Dia masih bisa memberikan jatah bulanan kepada Mamah. Maka dari itu, aku merasa malu kepadanya sementara gajiku lebih besar dari gaji kakakku tetapi aku baru kali ini bisa memberikan jatah terhadap Mamah, itu semua pun nggak seberapa."
Terus saja Cloe menggerutu di dalam hatinya, seraya terus air matanya mengalir tiada hentinya.
Hingga pada akhirnya Joan pun merasa iba, ia menghampiri Cloe mencoba membujuknya untuk tidak sedih.
"Sayang, aku minta maaf ya atas perlakuanku tadi. Aku janji tidak akan melarangmu untuk memberikan jatah bulanan kepada Mamahmu."
__ADS_1
"Seberapapun uang yang kamu berikan, aku tidak akan mempermasalahkannya. Sekali lagi aku minta maaf, dan aku mohon berhentilah menangis."
Joan menghapus air mata Cloe dengan kedua tangannya. Ia pun memeluk erat tubuh istrinya. Tetapi Cloe tak merespon, ia hanya diam saja.