
Tak terasa kini pernikahan Cloe tinggal satu bulan lagi. Dan Cloe juga sedang ada di kampung.
"Mah-pah, maaf ya. Aku nggak bisa kasih uang karena kebetulan gajiku lima juta habis untuk beli ponsel baru. Ponselku jatuh dan depannya retak, walaupun sebenarnya masih bisa di pakai, tetapi aku sudah tak suka. Ini bisa di paje oleh mamah atau papah."
Cloe memberikan ponsel dirinya kepada Papah Oscar. Karena dirinya telah memiliki ponsel baru yang lebih bagus.
"Cloe, kami sama sekali tidak mengharapkan diberi uang olehmu. Jika mendengar kamu kondisinya sehat dan ceria itu sudah cukup bagi kami," ucap Papah Oscar.
"Tapi aku nggak tega, Pah. Karena aku tahu papah sama Mamah telah mengajukan pinjaman ke bank untuk prosesi pernikahanku kelak. Padahal aku sudah berniat di dalam hati jika aku bekerja setiap bulannya akan memberikan jatah pada Mamah supaya mamah tidak begitu terbebani oleh hutang. Sekali lagi aku minta maaf ya, pah-mah."
Terbesit rasa sedih di wajah Cloe, karena tidak bisa menepati janjinya kepada orang tuanya. Dimana ia telah berjanji di dalam hatinya sendiri, jika ia telah bekerja setiap bulannya akan memberikan jatah kepada mamahnya.
"Sudahlah, Cloe. Tak usah berpikiran yang bukan-bukan, sebaiknya kamu fokus saja dalam bekerja dan fokus menjaga kesehatanmu karena satu bulan lagi kamu akan menikah. Bukannya untuk sementara waktu kamu berhenti bekerja dulu karena sebulan lagi kamu akan menikah?" saran Mamah Elizabeth.
"Nggak bisa begitu lah, mah. Nanti yang ada aku bisa dipecat. Aku masih akan tetap bekerja kok. Aku pulang hanya untuk membagi undangan saja dan ingin membereskan pembayaran uang tarub," ucap Cloe.
"Lantas kamu pulang ke rumahnya kapan, dua minggu sebelumnya atau satu minggu sebelumnya?" tanya Papah Oscar.
"Aku pulang ke sini lagi menjelang hari pernikahan. Pernikahan akan dilangsungkan tanggal dia puluh delapan dan dua puluh sembilan. Aku pulang kemari berarti tanggal dua puluh tujuh sore dari sana sampai ke sini dua puluh tujuh malam," ucap Cloe.
"Apa kamu nggak capek mendadak seperti itu?" tanya Papah Oscar.
"Mau bagaimana lagi, pah? ini sudah peraturan dari tempat kerja. Jika aku tidak menuruti atau mematuhinya aku bisa dipecat. Zaman sekarang susah cari pekerjaan yang gajinya lumayan besar, Pah. Sayang kan jika aku dipecat," ucap Cloe.
__ADS_1
"Ya sudah kalau seperti itu yang penting ingat kondisi tubuhmu. Selalu sehat, makan yang teratur dan jangan seperti yang sudah-sudah," nasehat Papah Oscar.
Cloe hanya mengiyakan saja, di dalam hatinya sangat sedih karena belum bisa memberikan jatah bulanan untuk membantu mengangsur hutang bank orang tuanya.
Dia sudah mulai sadar akan kesalahannya pada saat dulu. Di kala dirinya hidup jauh dari orang tua. Melakukan semuanya seorang diri, itu tidak mudah. Apa lagi jika kondisi badan sedang tidak sehat dan tetap harus memasak demi pengiritan.
Pagi menjelang...
Cloe lekas bangun dan ia lekas sarapan karena ia akan pergi untuk membagikan undangan kepada teman-temannya. Cloe sengaja melakukan ini seorang diri, karena tidak ada satu teman pun yang bisa di mintai tolong.
Hingga ia harus bersusah membagi undangan dari temen semasa SLTP, SLTA, dan juga teman kuliah.
"Hadeh...cape juga ya memnmbsgi undang seorang diri tanpa ada yang membantu. Dari pagi hingga sore, tapi tetap saja belum selesai dalam membagi undangannya."
Cloe mulai berkeluh kesah karena undangan yang di tangan masih banyak tetapi waktu secepat sekali berlalu tak terasa sudah menjelang sore saja.
Setelah sore hari, Cloe membersihkan badannya. Dia sudah hampir menyerah karena merasa lelah. Ia pun merebahkan tubuhnya di pembaringan.
"Hem.. sebenarnya memang lebih praktis menikah sederhana asal sah di mata agama dan negara ya. Nggak ribet dan nggak perlu makan waktu juga makan biaya. Tapi semua sudah terjadi, dan sudah di persiapkan," gerutu Cloe.
Setelah beberapa menit istirahat di pembaringan, Cloe pun segera bangkit badan melanjutkan pekerjaannya untuk membagikan undangannya.
Tetapi pada saat baru keluar dari pelataran rumah, di saat dirinya sudah nangkring di atas motor, tiba-tiba hujan lebat.
__ADS_1
"Haduh, malah hujan deras sekali. Memang sih ada jas hujan, tapi malas rasanya jika tetap pergi sementara hujan besarnya minta ampun."
Akhirnya Cloe mengurungkan dirinya untuk pergi membagikan undangan. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu sambil menunggu berharap hujan reda.
Namun cuaca tetap tidak berubah, hujan pun tidak lantas reda, malah semakin deras saja. Hingga pada akhirnya Cloe memutuskan untuk tidak melanjutkan membagi undangannya. Rasa kecewa mendera di dalam diri Cloe, karena esok pagi ia sudah harus kembali lagi ke perantauan untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah tidak ada lagi waktu dan kesempatan untuk melanjutkan membagi undangannya tersebut.
"Sia-sia sudah undangannya aku buat ini, karena pada akhirnya tidak bisa aku bagikan kepada teman-temanku semuanya, hanya beberapa sebagian saja yang telah berhasil aku bagikan."
"Percuma aku memesan banyak undangan, tetapi tidak semuanya berhasil aku bagikan kepada teman-temanku. Gara-gara cuaca yang mendukung."
Cloe meletakkan undangan di almari. Dia pun memutuskan untuk segera tidur. Karena besok pagi, ia sudah harus kembali ke luar kota.
"Jika Joan tidak memaksa aku untuk bekerja pasti tidak akan seperti ini. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan jika aku bersedia bekerja bersamanya, menunggu pernikahan telah usai. Tetapi Joan terus saja memaksaku. Jika tidak aku turuti yang ada dia marah padaku."
"Entah kenapa aku benar-benar takut kehilangan dirinya. Padahal dia itu sangat keras sifatnya melebihi sifatku. Jika dulu aku dekat dengan pria yang berwatak keras, pasti aku sudah mundur terlebih dulu."
"Tali tidak dengan Joan, padahal kami kerap kali bertengkar karena sifat kamu yang sama-sama keras dan tak ada yang mau mengalah."
Terus saja Cloe bergumam sendiri sembari berbaring mendengarkan gemericik air hujan yang begitu keras.
Tak terasa lambat laun, matanya mulai terpejam dan Cloe pada akhirnya tidur nyenyak, hingga pagi menjelang ia pun terbangun dan langsung sarapan, karena ia tak ingin terlambat pulang sampai ke rantau.
"Kamu bener mau kembali bekerja? nggak menunggu hingga proses pernikahan selesai terlebih dahulu?" tanya Mamah Elizabeth.
__ADS_1
"Nggak, mah. Sudah berapa kali mamah tanya tentang hal ini. Eh sekarang tanya lagi," rajuk Cloe.
"Iya maaf, mamah pikir bisa di rubah rencananya. Mamah kan nggak tega melihatmu bolak-balik dari rumah bke rantau," ucap Mamah Elizabeth.