
Kembali lagi mereka akur seperti yang sudah-sudah. Seperti tidak ada permasalahan sama sekali. Bahkan pada saat pulangpun mereka bercanda ria.
"Sayang, kita makan di luar yuk?" ajak Joan.
Hal ini membuat Cloe sangat senang sekali. Ia pun langsung bersemangat," asik makan di luar nih, tapi bagaimana masakanku yang di rumah Kak?"
"Bukannya masakannya tinggal sedikit? ya gampang saja lah, untuk nanti malam kalau kita makan. Kamu tahu kan, sejak aku menikah denganmu hampir setiap tengah malam pasti aku merasa kelaparan," ucap Joan terkekeh seraya fokus mengemudikan motornya.
"Ya sudah deh, nanti sesampainya aku di rumah langsung aku hangatkan lagi sayur dan lauknya. Untung ada kulkas ya, ka. Hingga makanan tidak terbusng dengan sia-sia," ucap Cloe seraya memeluk pinggang Joan begitu eratnya.
Sepanjangan perjalanan, mereka berdua mendendangkan sebuah lagu kesukaan mereka. Kadang kala mereka tertawa bahagia.
"Romancenya, seperti kita masih pacaran ya, sayang?" ucap Joan terkekeh.
"Benar sekali, Kak. Berasa seperti belum menikah saja," ucap Cloe terkekeh.
"Ya Tuhan, semoga saja rumah tanggaku langgeng untuk selamanya dan hanya maut yang memisahkan kita berdua. Semoga kami selalu tertawa ceria bersama seperti ini."
"Aku tahu Tuhan, di dalam rumah tangga tidak ada yang mulus, pasti ada saja permasalahan yang kerap kali terjadi."
"Tetapi aku minta kepada Engkau ya Tuhan, supaya kami selalu bisa menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan di dalam rumah tangga. Dan aku harapkan Tuhan selalu menyertai rumah tangga kami supaya kami selalu saling setia satu sama lain."
"Intinya doa yang terbaik untuk rumah tangga kami berdua. Dan doa yang terbaik pula untuk keluargaku dan keluarga suamiku."
Terus saja di dalam hati Cloe berdoa, sembari memeluk erat suaminya. Saat ini keduanya sedang merasakan kebahagiaan yang tiada taranya.
Tak berselang lama, sampailah mereka di sebuah cafe anak muda yang sangat gaul dan terkenal di wilayah tersebut. Bahkan Cloe sempat kagum melihat banyaknya anak muda yang menyambangi cafe tersebut.
"Kak Joan, kita akan makan di sini? pastinya makanan di sini mahal-mahal dong, Kak. Kalau dipikir sayang juga uangnya. Apa nggak sebaiknya kita makan di tempat lain saja kak?" saran Cloe.
"Kamu jangan salah, di sini tempatnya memang seperti ini terlihat mewah. Tetapi harganya terjangkau, lihat saja buktinya banyak anak muda yang nongkrong di sini, karena sesuai dengan isi kantong mereka."
__ADS_1
Joan menuntun Cloe masuk ke cafe tersebut. Mereka layaknya sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
Joan mengajak Cloe duduk di sebuah tempat yang strategis.
Cloe sempat terbelalak, terperangah, pada saat melihat daftar harga yang ada di daftar menu yang tergeletak di meja.
"Astaga.. apa yang Kak Joan katakan memang benar ya? harganya standar dengan kantong anak muda," ucap Cloe terkekeh.
"Makanya itu, cafe ini selalu ramai dikunjungi oleh muda-mudi. Sudah tempatnya bersih, pelayanannya cepat, pelayanan juga ramah, desain tempatnya itu terlihat mewah," ucap Joan.
Segera sepasang suami istri ini memilih menu yang mereka inginkan, mereka juga memilih minuman yang mereka inginkan pula. Beberapa detik saja pesanan mereka sudah tersaji di meja.
Dengan sangat antusias dan lahapnya mereka makan makanan yang telah tersaji di meja.
"Bagaimana rasanya, sayang?" tanya Joan.
"Hem..nikmat sekali, Kak. Walaupun harganya standar, tetapi rasanya tidak kalah seperti masakan mewah yang ada di restoran berbintang lima," ucap Cloe seraya terus saja melahap makanannya keenakan.
"Sayang, bagaimana tadi makanannya? kamu kenyang nggak?" tanya Joan.
"Kenyang banget, Kak. Malah masih terasa rasa kenyalnya sampai saat ini. Oh iya, gara-gara Kakak ngomong tentang makanan aku jadi ingat sayurnya belum aku hangatkan."
Cloe segera bangkit dari rebahannya tetapi ditahan oleh Joan," nanti saja sayang, aku sedang ingin bersantai bersamamu."
Cloe pun menuruti kemauan suaminya. Tetapi Joan mulai nakal, tangannya meraba dua benda kenyal yang ada di dada Cloe. Hingga membuat suatu sensasi yang luar bisa pada diri, Cloe. Apa lagi mereka tergolong masih pengantin baru.
"Sayang, main yuk? apalagi cuacanya sangat mendukung. Hujan lebat seperti ini." Rayu Joan seraya satu tangannya menyusup ke dalam kain penutup dua benda kenyal milik Cloe.
"Main alasan sih? petak umpet apa?" goda Cloe.
"Bukanlah, sayang. Kita main kuda-kudaan, tetapi aku ingin yang menjadi kudanya. Kamu yang menjadi jokinya."
__ADS_1
Joan beringas sekali dia mulai mencium bibir Cloe. Cloe pun membalasnya. Bibir mereka saling bertaut, lidah mereka saling bersilat. Keduanya saling bertukar saliva satu sama lain.
Permainan semakin memanas, perlahan tapi pasti keduanya melepaskan sehelai demi sehelai benang yang ada di tubuh mereka. Hingga tak terasa tidak ada sehelai benang pun di tubuh mereka berdua.
Sore menjelang Maghrib terjadilah pergulatan hebat di antara keduanya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Dan keduanya kelelahan hingga pada akhirnya tertidur pulas hanya dengan mengenakan selimut.
Cloe terbangun pada saat azan Isa menggema. Ia pun lekas memunguti pakaiannya, dan segera membersihkan diri kembali. Setelah itu Cloe menghangatkan nasi dan sayur serta lauknya.
Jos. terbangun pada saat mencium bau wangi masakan yang sedang di hangatkan oleh Cloe. Dia pun lekas mengenakan semua pakaiannya, dan bangkit dari ranjangnya menuju ke dapur.
"Hem... wanginya sampai ke kamar sayang. Mengundang selera makanku datang. Sudah bolehkah aku santap?"
Joan lekas menjatuhkan pantatnya di kursi yang ada di dapur seraya menaik turunkan alisnya.
"Silahkan, bos. Semua sudah tersaji dan siap di santap kok."
Cloe menyendokkan makanan tersebut ke piring dan menghidangkannya untuk Joan.
"Loh, kok cuma satu piring? mana untukmu, sayang?" Joan celingukan piring lagi.
"Aku masih kenyang, ka. Kakak saja yang makan dech. Perutku sudah tidak muat."
Hingga pada akhirnya Joan yang menghabiskan makanan tersebut. Dan ia pun merasakan kekenyangan.
"Lihatlah, sayang. Perutku seperti badut, gede seperti ini. Lama-lama aku bisa seperti orang hamil dech."
"Sejak kamu di sini, aku makan teratur bahkan makanku banyak sekali. Maafkan aku ya, sayang. Karena masakanmu selalu enak."
"Aku sempat berpikir kamu itu nggak bisa masak karena kamu kan anak manja. Hehehe... ternyata pemikiranku selama ini salah."
Cloe mengerucutkan bibirnya," ist jahat banget kok! tapi memang aku akui nggak pernah berkutat di dapur, ka. Aku belajar memasak bebet bulan setelah kenal dengan kakak."
__ADS_1