
Seperti itulah hari-hari Cloe di rantau. Setiap hari ia harus bangun pagi dan juga memasak terlebih dahulu. Pulang kerja juga sangat sore jam lima.
"Setiap hari aku lelah sekali, bangun pagi dan pulang sangat sore. Setelah pulang tak lantas langsung istirahat melainkan menyelesaikan tugas laporan penjualan barang. Hingga menjelang pukul sepuluh baru kelar dan baru bisa istirahat."
"Hem, semua tidak sesuai dengan ekspektasi. Tidak sesuai dengan apa yang ku harapkan dan impian. Tapi sudahlah, mau bagaimana lagi. Mungkin semua ini sudah menjadi takdir hidupku."
Selagi Cloe sedang mengerjakan laporan penjualan barang. Joan pun berpamitan pulang ke kontrakannya," sayang, aku kembali ke kontrakan ya?'
"Ka, ajarin aku dulu dong. Ini ada yang tidak aku pahami sama sekali," rengek Cloe, akan tetapi tidak di hiraukan oleh Joan.
"Maaf, sayang. Aku sudah mengantuk sekali, nggak mungkin kan nantinya aku tidur di sini? lagi pula jika kamu terus saja minta di bantu aku, kapan akan bisanya? sudah ya aku pulang."
__ADS_1
Joan benar-benar tak peduli dengan Cloe yang sedang kesusahan. Ia pun geram sekali, tetapi ia mencoba menahan amarahnya. Sementara Joan sudah melarikan motornya menuju ke kontrakannya.
Tanpa sepengetahuan Cloe, ternyata Joan pulang ke rumah orang tuanya. Dan ia mengajak Ola pergi ke mall. Joan lupa jika dirinya tidak mengatakan hal itu pada cloe. Tetapi dia malah pasang story WhatsApp sedang bersama dengan Ola.
Tak sengaja Cloe melihatnya, ia pun marah pada, Joan. Ia lekas mengirim chat pesan ke nomor ponsel Joan.
[Di minta tolong untuk menjelaskan materi laporan yang aku kurang paham, beralasan mengantuk ingin tidur. Ternyata malah pulang ke rumah. Ke mall pula dengan Ola. Apakah itu hal yang benar? Membelikan tas dan sendal pula, padahal baru beberapa hari kamu membelikan ponsel.]
Tak berapa lama, Joan membaca chat pesan dari Cloe . Akan tetapi dia sama sekali tidak membalasnya sama sekali. Hal ini membuat Cloe sangat kesal.
Rasa kecewa yang mendalam saat ini dirasakan oleh Cloe, tetapi ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena dia sudah terlanjur bertunangan dengan Joan. Dan satu bulan lagi mereka akan menikah. Jika tiba-tiba Cloe membatalkan semuanya itu tidaklah mungkin. Dia tidak ingin mendapatkan hinaan dan cacian dari orang-orang. Hingga terpaksa ia harus menahan rasa sakit hatinya dengan sikap dan perilaku Joan yang semaunya sendiri. Selalu mementingkan adik dan orang tuanya, bahkan kerap kali ia tidak mempedulikan, Cloe.
__ADS_1
Hari-hari dilalui oleh Cloe dengan keluh kesah, tidak berani menceritakan semuanya pada orang tuanya lagi. Karena tidak ingin membuat beban bagi kedua orang tuanya. Dia hanya bisa menangis sendiri di rumah kontrakan.
Tak terasa hari pernikahan telah tiba. Joan dan Cloe saat ini sedang bersiap-siap untuk segera pulang ke rumah Cloe.
Di rumah Cloe juga sudah mulai sibuk dengan segala macam persiapan pernikahan. Cloe dan Joan menuju ke rumah Cloe dengan transportasi kereta api. Tiga jam perjalanan, barulah sampai di rumah Cloe.
Mereka langsung istirahat karena merasa cape. Kondisi rumah Cloe sudah banyak orang yang membantu di dapur dan segala macam pekerjaan.
Hari Jumat Cloe telah sampai di rumah tepatnya sore hari. Dan Jumat malamnya dia ke gereja bersama dengan Joan untuk mengadakan gladi bersih. Karena beberapa waktu lalu telah mengikuti katekisasi pra nikah.
Sabtu mulai ramai dengan tamu undangan, sedangkan Minggu jam sepuluh siang, Cloe dan Joan ke gereja untuk acara pemberkatan pernikahan. Acara begitu lancar tidak ada gangguan apapun.
__ADS_1
Bahkan hingga selesai di Minggu malam, semuanya lancar. Orang tua Cloe merasa bersyukur karena acara tidak ada halangan apa pun, dari awal hingga akhir.
Hari senin pagi, Cloe dan Joan pergi ke kantor Pencatatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan secara negara. Bersama Octava dan Clara sebagai saksi mereka berdua.