Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
Tersiksa


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam Zein dan Celin akhirnya sampai di istana mewah milik Zein, yah lebih tepatnya terletak di tengah tengah hutan. Entah apa lah alasannya sehingga dia membangun istana megah di tengah tengah hutan yang sangat jauh dari permukiman.


"Mulai sekarang kau akan menjadi pelayan ku,


pelayan tanpa di gaji sepeserpun selama 1 tahun!. Dan ingat kau jangan macam-macam apa lagi mencoba untuk kabur dari rumah ku, atau kaki mu akan ku potong!" ancamnya dengan dingin di iringi tatapan tajam yang menusuk.


"Ta..tapi tuan saya masih punya kontrak kerja dengan......


"No negoisasi saya tidak mau tau, atau kau akan saya coblos kan ke dalam penjara". Ujar Zein dengan dingin.


"Saya mohon tuan ampuni saya, saya berjanji mengganti semua kerugian nya, saya mohon tuan ampuni lah sa..."


"Diam"


Bentaknya menatap gadis itu dengan sorot mata yang tajam. Celin terkejut mendengar teriakkan menggelegar di dalam ruangan itu, sontak dia langsung terdiam dan menundukkan kepalanya, ia merasa sangat ketakutan apa lagi melihat sorot matanya yang setajam mata pisau.


"Jika kau bicara satu kata lagi mulut kau akan ku jahit dengan rapat" ucap Zein dengan bibir sedikit terangkat.


"Bi Jum"


"Iya ada apa tuan" Ucap nya menghampiri majikannya lalu menundukkan kepala dengan kedua tangan bertaut di belakang.


"Antar kan pelayan ini keruangan yang khusus untuknya" ucap Zein dengan wajah datar.


"Siap Tuan, mari nona saya antar kan." ucap bi Jum

__ADS_1


Celin mengangguk patuh, ia berjalan mengikuti bibi Jum dengan kepala yang masih tertunduk. Bi Jum menghantarkan Celin ke ruangan paling pojok.


"Ini kamarnya non, kalo begitu saya pergi dulu untuk melanjutkan pekerjaan"


"Baiklah terimakasih bi" ucap Celin lesu sambil tersenyum.


Bi jum hanya mengangguk kan kepala, lalu ia segera berlalu pergi meninggalkan Celin yang masih terpaku disana.


Dia terdiam sejenak menatap pintu kamar itu, ia pikir ucapan pria itu benar adanya bahwa ia di hantarkan ke kamar khusus, namun saat Celin membuka pintu itu, alangkah terkejutnya dia melihat bahwa itu bukanlah kamar melainkan sebuah gudang yang sangat berantakan penuh dengan debu.


Celin terdiam tak percaya, bagaimana dia bisa tidur di dalam gudang tersebut.


*


Melihat majikannya datang, para pengawal yang bertugas untuk menjaga kediam Zein mereka telah berbaris dengan rapi bak komando pemimpin upacara. "Kalian semua dengarkan saya, ingat ini baik baik jangan biarkan gadis yang saya bawa tadi keluar dari lingkungan ini selangkah pun. Jika dia berani keluar kalian boleh membawanya kembali secara paksa, meskipun itu menyakiti dirinya.


Para pengawal yang mendengar ancaman itu mereka menatap Zein bergidik seraya meneguk saliva dengan kasar. Dan berkata serempak, "Baik tuan muda!!"


Zein lalu membubarkan mereka semua dengan menjentikkan jarinya, mereka bubar kembali ke posisi masing masing, ada yang berjaga di depan, samping, belakang dan juga di dalam.


Setelah itu, Zein langsung melangkahkan kakinya naik ke atas, menemui gadis yang telah ia pungut tadi, untuk tanggung jawab karena merusak mobil miliknya. Entah apa alasan sehingga Zein membawa gadis itu pulang ke rumah yang dia duga masih sangat muda, padahal dia tidak kekurangan apa pun, dia pun mampu membeli mobil lagi dengan harga yang wow.


"Bagaimana suka kamar nya?" ucap Zein sambil bersedekap dada di ambang pintu. "Tapi tuan ini bukan kamar melainkan gu.."


"Ho jadi kau tidak suka iya" bentaknya. Zein menjambak rambut Celin dengan kuat. "Akh sa kit tuan ku mohon lepas kan" rintihnya, kepalanya sangat terasa sakit.

__ADS_1


"Dasar cengeng,"


Zein melepaskan jambakkan nya dengan kasar lalu ia mencengkram rahang Celin dengan kuat. "Dengar! saya tidak suka di bantah, jika kau melakukan sedikit kesalahan kau akan ku hukum, mengerti" ujarnya melepaskan cengkraman nya membuat kepala Celin terhuyung kesamping.


"Me mengerti tuan" ucap Celin yang masih terisak karena masih merasakan sakit. Zein yang sangat kesal, lalu ia segera meninggalkan gadis bodoh itu menuju ke ruang kerjanya, tanpa peduli dengan Celin yang menangis, baginya wanita sangatlah merepotkan.


"Apa kesalahan ku, Ya tuhan aku ingin pergi dari sini" batin Celin terus menangis terisak sesekali meringis merasakan sakit di kepala dan rahangnya.


Celin terduduk di lantai, dia menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Lalu terisak merasa sakit sangatlah sakit dia harus terjebak bersama pria yang tidak di kenalnya, apa lagi pria itu terus menyakiti dirinya secara fisik.


Bagaimana tidak, hidupnya tak berjalan dengan baik dan sekarang dia harus terjebak di sini. Celin sangat prustasi, dia tidak tau kedepannya akan sanggup atau tidak menghadapi semuanya.


Di rasanya sudah puas menangis Celin menghapus jejak air matanya dengan kasar menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Yang harus dia lakukan saat ini hanyalah bersabar dan semangat.


"Aku yakin bisa melalui semua ini" gumamnya penuh percaya diri. Menghela nafas pelan dia bangkit dan menatap ke sekeliling gudang yang lumayanlah luas menurut nya bahkan luasnya melebihi kamar kosnya, lalu ia melihat sapu di pojokan sana mengambilnya. Lalu bergegas ia membersihkan kan ruangan itu yang banyak sekali debunya, agar dia bisa tidur malam ini.


Celin membersihkan kan gudang itu dengan penuh kesabaran. Setelah setengah bersih, dia melihat ada Ranjang busa yang masih layak di pakai dan sebuah lemari pakaian yang berukuran sederhana di dalam gudang itu.


Lalu ia segera menggeser ranjang tersebut ke pojokan dinding, dan membersihkan nya sampai bersih, setelah itu melipat kotak kardus yang ada di sana, setelah dilipat dia berencana untuk membuangnya keluar nanti.


Akhirnya selama dua jam ia selesai membersihkan gudang itu, yang sebenarnya ia rasa itu memang sebuah kamar tapi di jadikan gudang, karena sudah lengkap dengan kamar mandi walaupun masih kotor. Dia masih sibuk membersihkan tempat ini, supaya bisa tidur dengan nyaman tanpa adanya debu.


Celin bisa merasakan bahwa dia sama sekali tidak bisa keluar dari sini, karena semenjak dia masuk, ia melihat banyak nya penjaga di halaman rumah dan di setiap sudut. Sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk kabur. Celin menghela nafas, lalu terduduk di dekat ranjang berukuran single. Dia menyeka keringat karena telah merasakan lelah.


Celin tersenyum tipis melihat ruangan itu yang telah lumayan bersih dan tertata rapi, dan dia bersyukur ada ranjang di sana walaupun tak besar dan empuk, namun bagi Celin itu lebih dari cukup.

__ADS_1


"Lumayan lah yang penting bisa tidur nyaman di sini" gumamnya dengan pandangan lesu.


_To Be Continued_


__ADS_2