Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 28


__ADS_3

"Akhh"


Zein menghempaskan tubuh Celin ke atas ranjang. Celin menatap pria itu sengit dia bangkit ingin keluar dari kamar tersebut. Namun Zein kembali mendorong Celin membuat tubuh itu sedikit melambung di ranjang empuk miliknya.


Zein menatap Celin tajam sembari memegang kedua pergelangan tangan Celin. Dia tidak suka di bentak, apa lagi oleh seorang pelayan. Selama ini orang orang yang banyak takut dan segan kepadanya. Namun kali ini dia di bantah oleh seorang perempuan dan sialnya pelayannya sendiri.


"Lepaskan aku sialan, aku ingin keluar" bentak Celin menatap Zein sengit. Zein menyalurkan emosinya menyerang Celin dengan mencium bibir ranum itu dengan brutal dan kasar.


"Mmmmmmppzz" Celin memukul mukul dada Zein.


Zein memegang tengkuk leher Celin, melu***nya dengan kasar penuh gairah. Celin terus meronta berusaha untuk melepas ciuman tersebut. Di rasa Celin kehabisan oksigen dia melepas ciuman.


Celin menghirup nafas banyak banyak, nafas keduanya terengah engah. Dia menatap pria di hadapannya tajam


"Kau..mmmmpzz


Zein kembali mencium bibir Celin menghentikan ucapan gadis itu, ah tidak bukan gadis tapi telah menjadi wanita. Zein menggigit bibir bawah Celin agar membuka mulutnya.


Riflek Celin membuka mulutnya karena merasakan sakit di bibir bawahnya karena berdarah,


Zein memasukan lidahnya bermain main di dalamnya, dapat Zein rasakan darah dari bibir Celin. Celin menggeleng gelengkan kepalanya tak di pungkiri ada gejolak aneh di dalam dirinya, pikirannya menolak namun tubuhnya menerima.


Zein langsung melepaskan ciumannya dengan dada naik turun, ada tubuhnya seketika menjadi panas ada hasrat yang meronta ronta minta di salurkan. Celin mengusap bibirnya kasar, menatap tajam, dadanya juga ikut naik turun marah benci menjadi satu.


Tanpa berkata kata Celin berlalu pergi ingin keluar. Namun sayangnya pintu terkunci, "buka pintunya aku ingin keluar" ucapnya ketus.


Zein menetralkan nafasnya, lalu berjalan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya tersebut. Sedangkan Celin berusaha membuka pintu dengan kesal dia menendang pintu tersebut.


"Brakkk"


"Arghhhhh sakit" ringisnya memegangi kakinya. Zein menyunggingkan bibirnya melihat kelakuan konyol Celin.


"Huh, buka pintu nya" geram Celin.


"Menikahlah denganku" ucap Zein santai, Celin melebarkan matanya seakan keluar dari tempatnya, terkejut dengan ucapan pria itu.


"Hahaa tak usah bercanda, cepat buka pintunya bangs*t" ujar Celin mendengus kesal.


"Aku tak bercanda" kata Zein datar


"Aku tak mau menikah denganmu"


"Kau harus mau, banyak wanita yang ingin menjadi istirku"


"Hey kau pikir kau siapa hah, ngajak nikah seenak jidat mu ya udah nikah sana dengan orang lain" Celin bersedekap dada dengan muka masam, mendengar perkataan konyol dari mulut pria itu.


Menikah yang benar saja, itu bukan lah sebuah mainan. Celin sama sekali tak terpikir untuk menikah dan sekali di ajak nikah oleh pria macam Zein! ah tentu saja Celin akan menolak keras.


Zein berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam sakunya, dia akan membuat Celin menikah dengannya apapun yang terjadi.


#Flashback


Zein yang telah selesai menemui klien nya, dua langsung menuju ke kediaman utama untuk menemui sang mama, kalau bukan karena itu Zein sungguh malas berkunjung ke sana.

__ADS_1


Sesampainya di sana bukannya mendapat sambutan hangat Zein malah dapat kemarahan dari mama Veny.


"Alex kamu apa apaan, menyakiti Lalista seperti itu hah. Apa mama pernah mengajarkan kamu menyakiti perempuan? dan kau telah membuat calon istrimu menangis" sergas mama Veni menatap anaknya tajam.


Zein memutar bola matanya malas, lalu menghembus nafas kasar, "Ma sudah berapa kali aku bilang, aku tak ingin di jodoh kan, dan aku tak akan menikahi wanita itu" tegasnya.


"Zein, mau sampai kapan kamu terus begini. Mau sampai bujang lapuk hah, apa kau tidak normal sehingga tidak mau menikah, oh tuhan" kata mama Veny memijit pelipisnya.


"Besok aku akan menikah" ucap Zein enteng.


"Apaa" pekik mama Veny membulatkan matanya, begitu juga dengan William dia juga merasa terkejut dengan ucapan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Ck konyol" batin William jengah.


"Jangan bercanda Alex, pernikahan bukanlah mainan" bentak mama Veny tak percaya.


"Aku serius" ucapnya datar tanpa ekspresi sedikitpun. Mama Veny mendengus jengah, dadanya naik turun marah dengan anaknya yang selalu menghindari pernikahan. Dan sekarang dia berucap akan menikah besok padahal dia tak pernah mengenalkan wanita di hadapannya.


"Dan aku akan segera mengenalkan wanitaku di hadapanmu"


Mama Veny terdiam, tak menganggap serius perkataan putranya itu.


"Ayo William kita pulang" ajaknya lalu berlalu meninggalkan rumah megah tersebut.


"Saya pulang dulu nyonya" ucap William sopan.


"William, sudah berapa kali ku bilang panggil aku mama bukan nyonya" kata mama Veny meninggikan suaranya, dia merasa marah karena sahabat putranya itu terus memanggilnya nyonya. Padahal William dan Zein tumbuh bersama dalam satu atap, dialah yang ikut serta membesarkan keduanya hingga dewasa. Dia juga telah menganggap William sebagai anaknya sendiri William dan Zein tak ada bedanya di matanya.


William mengembangkan senyum tipis, ada sesak dan hangat di hatinya di perlakukan bak anak sendiri oleh mama Veny.


"Kau anakku bukan orang lain William" lirih mama Veny.


William segera menghampiri mama Veny, memeluk wanita paruh baya itu.


"Hiks hiks"


"Kau putraku William, bukan orang lain" isaknya di dalam dekapan William. Zein melihat itu dari kejauhan, dia juga merasa sangat senang melihat interaksi keduanya, mamanya sangatlah mulia dan rendah hati.


"Iya mama" kata William membendung air mata di pelupuknya, sedari kecil dia juga mendapatkan kasih sayang yang sama dari mama Veny.


Mama Veny melepas pelukannya. "Awas kau memanggilku nyonya lagi" ucap mama Veny merajuk.


"Baiklah tidak akan nyonya" ucap William sembari menghapus jejak air mata di pipi cantik itu.


"Plakk"


"Sakit ma" ringis William mengelus bahunya.


"Sekali lagi, sapu melayang" ucapnya menatap tajam. William tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya.


"Iya mama ku tersayang, sudah aku mau pulang nanti putramu yang satu itu akan mengamuk" ujar William dengan nada yang di buat buat. Mama Veny tersenyum sembari memegang kedua bahu William.


"Kau sudah besar nak, cepat cepatlah menikah jangan seperti Alex"

__ADS_1


William meneguk salivanya kasar mendengar kata kata yang sangat di hindarinya itu. Boro boro menikah pacaran saja tak pernah. William menghela nafas kasar "Iya ma, pasti" ucapnya namun tak yakin dengan dirinya sendiri.


"Baik ma aku pulang dulu" ucapnya lalu mengecup puncak kepala mama Veny, segera berlari sebelum mendapat pertanyaan yang sulit di jawabnya.


"Hati hati di jalan" pekik mama Veny dari kejauhan, lalu di angguki oleh William. Itu lah perbedaan William dan Zein, William orangnya cenderung hangat sedangkan Zein suka berlaku seenaknya.


Mama Veny menghela nafas pelan, "Lihatlah Raisa putra mu sudah besar" lirih nya setetes cairan bening kembali dari peluk matanya, ada rahasia yang mungkin belum di ketahui oleh William.


"Sudah sayang sayangannya" sindir Zein, namun William hanya menyengir tanpa menjawab.


"Kau serius akan menikah besok?" tanya William memecah keheningan. Zein mengangguk namun juga tak yakin


"Dengan siapa?" tanya William tak habis pikir dengan pria di sampingnya itu.


"Tunggu saja besok" ucapnya datar. William menggeleng kepala


#Flashback


"Aku tak akan menikah denganmu" geram Celin.


"Sekarang kau pilih, ingin tetap terjebak di sini selamanya atau menikah denganku"


"Itu bukan pilihan bangsat" ucapnya geram.


"Apa pun sampai kapan pun aku tak mau menikah denganmu, aku ingin keluar dari neraka ini" lanjutnya menatap pria itu tajam.


Zein terdiam, Celin sungguh keras kepala. "Kita akan nikah kontrak selama 1 tahun, dan setelah itu kau akan mendapatkan kebebasan"


Celin membulatkan matanya tak percaya "Hey bajingan, pernikahan bukanlah mainan" bentaknya emosi sembari menunjuk wajah Zein. Zein menangkap tangan Celin menggenggamnya erat.


"Ck lepaskan, aku tak mau" bantah Celin bersi keras.


"Sekarang kau pilih, atau sahabatmu.....


Celin kembali melebarkan matanya, sangat kesal dengan segala ancaman itu. "Jika aku menikah dengannya, apa aku akan semakin tersiksa? ah tidak tidak aku tidak mau. Tapi...ah aku akan meminta syarat" batin Celin


"Baiklah aku akan menikah denganmu, tapi dengan satu syarat!"


"Apa" tanya Zein serius.


"Izin kan aku keluar, aku ingin kembali bekerja"


Zein terdiam, setelah menimbang nimbang tak salahnya menyetujui syarat tersebut lagian Celin bekerja di anak cabang perusahaannya.


Menghela nafasnya "Baiklah setuju"


"Oke deal" sinis Celin sembari mengulurkan tangan tanda kesepakatan. Zein mengerutkan dahinya lalu menerima uluran tangan tersebut.


"Deal" ucapnya, setelah tangan terlepas Celin masih menatap Zein masam.


"Baiklah sekarang buka pintunya"


"Hm besok kita akan menikah"

__ADS_1


"Apaaaaaa"


_To Be Continued_


__ADS_2