Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 21


__ADS_3

"A-apa maksud anda tuan?" tanya Arthur dengan tubuh bergemetaran. Zein tersenyum smirk di iringi dengan tatapan tajam lalu berdecak.


Brakkkk...


Zein mendorong meja kerjanya dengan kuat menimbulkan bunyi nyaring, hal itu membuat Arthur sangat terkejut sehingga jantungnya berdetak dua kali lipat lebih kencang.


"Oh ya ? kau berpura pura tidak tau ternyata, hmm" ucap Zein berjalan pelan menghampiri Arthur, dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. Melihat Zein menghampiri dirinya, Arthur menelan ludah kasar seketika ia berkeringat dingin.


"Sa-saya sungguh tidak tau a-apa maksud anda tuan" ucap Arthur dengan terbata bata. "Maling mana ada yang mau ngaku?" ujar Zein menarik sudut bibirnya.


"William!!" panggil Zein memberikan kode kepada asistennya itu. William langsung menganggukan kepala tanda ia mengerti apa yang di maksud oleh Zein.


"Bawa parasit ini ke tahanan bawah tanah!" Ujar zein dengan datar tanpa ekspresi. Mendengar ucapan sang atasan Arthur langsung berlutut di kaki Zein memohon maaf.


"Ampun...ampuni saya tuan, sa-saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi tuan!" Arthur berlutut di kaki Zein sambil memohon dengan tubuh yang bergetar.


"Saya mohon tuan...


Dengan emosi tersulut Zein menendang tubuh Arthur, sehingga membuat lelaki tua itu terpental ke lantai. "Akhhh"


"Setelah kau menggelapkan dana perusahaan, dengan entengnya meminta maaf, apa kau pikir mencari uang itu semudah berkata hah?"


"Singkirkan badebah ini sekarang juga" perintah Zein kepada asistennya. William langsung menyeret Arthur.


"Tidak tidak, saya mohon tuan ampuni saya" pekik Arthur berusaha memberontak dari cekalan William bak orang gila.


"Saya mohon tuann" teriak Arthur.


"Diam" Bentak William emosi dia langsung menarik tubuh bangka tua itu menuju ruangan bawah tanah dimana tempat para tahanan yang membuat masalah dengan Zein.


Setelah kepergian William, Zein membaca beberapa laporan yang menjanggal. "Kurang ajar" cetus Zein prustasi sembari melemparkan berkas yang baru dia baca ke sembarang arah.


"Drrrttt"


"Drrrttt"


"Drrrrtt"


Zein menghela nafas berat melihat sang mama menelpon dirinya di saat yang tidak tepat. "Halo ada apa ma?"


"Alex kamu di mana, cepat pulang ke mansion utama sekarang juga" ucap mama Veny dengan nada ketus. "Tapi ma aku lagi banyak kerjaa...


"Tidak ada tapi tapian Lex, pokok nya mama tidak mau tahu kamu cepat pulang sekarang atau...

__ADS_1


"Iya iya aku pulang biar mama puas" kesal Zein lalu memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Zein mengerang prustasi, lalu beranjak dia harus segera pulang sebelum sang macan betina itu kembali mengamuk, Zein tidak tau apa yang di rencanakan oleh mamanya itu.


Selama berjalan Zein tetap seperti biasanya memasang muka datar nan dingin tak lupa dengan tatapan tajam nya, sehingga membuat setiap karyawan yang di laluinya menundukkan kepala bahkan tak jarang tidak mereka berani menyapa sang atasan.


Kali ini Zein menyetir sendiri karena William menyelesaikan parasit parasit yang besemayam di dalam perusahaan.


*


*


*


Di lain tempat terlihat lah Celin merasa senang melihat bunga nga yang bermekaran di halaman belakang mansion. "Wah indah sekali bunga ini" ucap Celin sembari mengendus aroma bunga mawar putih. "Bagus ya non bunganya" ujar bi Jum yang datang dari belakang sembari membawa air untuk menyiram bunga.


"Iya bi bagus sekali aku suka" kata Celin tersenyum merekah melihat beragam jenis bunga yang tersusun rapi di sana, mulai dari jenis mawar, anggrek, lavender dan masih banyak lagi yang Celin tidak tau apa namanya. "Bunga itu nyonya Veny yang tanam, beliau sangat menyukai bunga" ucap bi Jum memberikan siraman bunga yang terususun rapi di dalam pot.


"Owhh, eh sini bi biar aku aja yang siram"


"Ini silahkan, nyiramnya secukupnya saja ya jangan terlalu banyak" ucap bibi mengingatkan, Celin menganggukkan kepala tanda mengerti. melihat Celin yang akhir akhir ini lebih banyak tersenyum bi Jum ikut merasa bahagia semenjak Celin datang ke mansion ini.


"Ya sudah bibi pergi kedalam dulu ya non"


"iya Bi" kata Celin tersenyum. selang beberapa lama Lira datang mengganggu aktifitas Celin. "Eh kampungan" Cetus Lira sinis. Mendengar itu Celin menyipitkan mata, lalu menghentikan aktifitasnya.


"Ada apa?" tanya Celin malas. "Kamu setrika tu pakaian" perintah Lira seenak jidatnya. "Tidak bisa, itu kan bagian kamu kenapa nyuruh saya" tolak Celin.


"Heh kamu tidak tau ya saya siapa? tidak usah banyak tanya jelas jelas saya calon nyonya di mansion ini" ucap Lira mengibaskan rambutnya. Celin seketika ingin muntah mendengar kalimat yang jelas jelas tidak memungkin kan itu.


"Hueekk" ekspresi Celin mengejek Lira. "Heii pembantu sialan maksud kau apa begitu ha" teriak Lira emosi sehingga wajahnya memerah. "Hey ikan buntal, pembantu kok teriak pembantu sadar diri dong" sinis Celin lalu meninggalkan Lira, karena malas menanggapi orang yang sok itu.


"Arghhh siall, awas kau gadis kampungan jika aku jadi nyonya di rumah ini kau harus bertekuk lutut kepadaku" ujar Lira mengacak acak rambutnya karena emosi.


*


Sesampainya di mansion utama Zein langsung di sambut oleh mama Veny. "Akhirnya kamu pulang juga son" sambut mama Veny tersenyum merekah lalu menggandeng anak semata wayangnya itu masuk kedalam.


Zein menghela nafas dalam karena sudah menduga duga apa yang akan terjadi selanjutnya. "Ma, kenapa sih nyuruh Alex pulang. Mama kan tau Alex itu sangat sibuk," keluhnya.


"Ck sibuk terus kamu cari istrinya kapan, mama itu tidak sabar pengen gendong cucu" kesal mama Veny. Zein hanya terdiam jika dia ikut membahas hal itu, masalah nya akan lebih panjang. Sesampainya di ruang tamu, Zein memijit pangkal hidung karena merasa pusing.


"Oh hallo jeng, ini perkenalkan putra saya. Maaf ya lama soalnya dia orangnya soper sibuk" kata mama Veny merasa girang sembari menuntun Zein duduk. "Oh iya tidak apa apa jeng, siapa juga yang tidak mengenal seorang Zein sang pengusaha hebat, pastilah super sibuk" ucap teman sosialita mama Veny memuji.


"Oh iya Lex, perkenalkan ini nyonya Maria mamanya Lalista desainer terkenal yang viral itu lho dia sangat cantik, berpendidikkan, iya kan jeng" ucap mama Veny antusias. Nyonya Maria mengangguk tersenyum bangga.

__ADS_1


"Oh iya Lalista nya mana jeng?"


"Oh itu, Lalista nya masih dalam perjalanan sebentar lagi juga datang" ucap Nyonya Maria. "Ma sudah lah" ketus Zein beranjak berdiri, dia sudah malas di kenalkan seperti ini membuat dirinya muak. "Tapi Zein" mama Veny ikut berdiri.


"Ma please, Zein sibuk" Zein langsung meninggalkan ruang tamu dengan langkah lebar, muak karena meladani hal seperti ini membuat waktunya terbuang sia sia bagi dirinya waktu adalah uang.


"Alex kamu mau kemana, Lalista sebentar lagi datang lho" pekik mama Veny merasa kesal dengan putranya. Tak menggubris teriakan mama Veny, Zein terus berjalan dengan langkah lebar tak lupa dengan wajah datarnya.


"Huh, maaf ya jeng" ucap mama Veny merasa malu dengan temannya itu. "Ah tidak apa apa jeng, kita bisa atur lagi pertemuannya lain kali" ujar nyonya Maria tersenyum penuh arti.


"Hallo tante" sapa Lalista.


"Eh ini Lalista kan, wah kamu ternyata lebih cantik aslinya dari pada di foto" puji mama Veny antusias.


"Ah tante bisa aja"


"Sini duduk di dekat tante sayang"


Dengan senang hati Lalista berjalan anggun mendekati mama Veni sembari melirik sang mama dengan senyuman penuh arti.


"Tante apa kabar"


"Tante baik kok"


"Iya, jangan lupa untuk jaga kesehatan ya tante"


"Ah iya tentu saja, kamu ini manis sekali" kata mama Veny, merasa senang. "Oh ya Zein nya mana tante?"


"Eh itu, maaf ya sayang Zein kembali ke kantor banyak kerjaan katanya!" ucap mama Veny sembari mengelus tangan Lalista.


Lalista mengangguk tanda mengerti " Ya udah tidak apa apa lah tan, namanya juga seorang pemimpin menguras waktu dan tenaga, pasti kerjaan nya banyak sekali"


Mama Veni kembali tersenyum "Ah kamu ini pengertian sekali, kalo kamu jadi istrinya Alex, tante pasti senang sekali"


"Hmm tante bisa aja, tapi aku kurang merasa percaya diri deh tan, anak tante itu kan tampan dan sukses dalam berbisnis , aku merasa tak pantas untuk bersanding dengannya secara kan masih banyak wanita cantik di luaran sana yang ingin jadi istri Zein" ucap Lalista menatap mama Veny sendu.


"Eh mana ada kamu itu juga cantik lho sayang, tante rasa kamu lebih pantas dari pada wanita yang lainnya, emangnya kamu tidak mau jadi menantu tante nih, sedih lho tante jadinya"


Lalista menatap mamanya yang sedari tadi menyimak. "Aku sih ikut ikut aja lah tante, tapi Zein nya gimana?"


"Ah tidak usah di pikir kan kalian pendekatan saja dulu, oh ya bagaimana jika kamu saja yang mendampingi Alex untuk menghadiri acara pernikahan koleganya"


"Ah tentu saja aku mau tan, tetapi gimana kalau dia menolak" lirih Lalista merasa sedih.

__ADS_1


"Tidak usah di pikirkan biar tante yang urus" ucap mama Veny meyakinkan.


_To Be Continued_


__ADS_2