Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 22


__ADS_3

Pagi Hari


Zein telah rapi dengan stelan jasnya bersiap untuk pergi ke kantor. Dia telah duduk di meja makan, dengan hati yang berbunga bunga Lira ingin melayani tuannya. Namun belum sempat Lira memasukan makanan ke dalam piring, Zein melarangnya.


"Panggil pelayan itu kemari, suruh dia melayaniku"


"Pe-pelayan yang mana tuan? kenapa tidak aku saja melayani anda"


"Apa kau tidak dengar" perintah Zein sembari menatap Lira tajam.


Lira langsung gelagapan, dan tidak berani berkata kata lagi.


"Hey apa kau tuli hah, panggil Celin kemari cepat" bentak Zein.


Lira merasa kesal mendengar nama Celin yang di sebut, dia langsung memasang wajah masam. Bi Jum langsung memerintahkan Celin untuk melayani sang majikan.


"Non Celin"


Celin baru selesai mencuci piring langsung menatap bi Jum, "Eh iya kenapa bi"


"Kamu di panggil sama tuan"


"Hah aku?"


"Iya mari nona" ujar bi Jum seraya mempersilahkan Celin untuk melangkah duluan. Celin langsung mengangguk dan melangkahkan kakinya duluan.


"Apa yang aku lakukan? apa aku membuat kesalahan lagi. Hah semoga saja dia tidak memberikan hukuman" batin Celin.


Sesampainya di meja makan, Celin berdiri di samping Alex


dengan perasaan was was. "A-ada apa tuan? " tanya Celin gugup, dia menatap pelayan yang telah berjejer rapi di dekat meja makan terutama dia melihat Lira yang menatap dirinya tajam.


"Layani aku" ucapnya datar tanpa ekspresi.


Celin tercengang, mengerjapkan matanya beberapa kali. "Maksud ruan" tanyanya ragu. Zein berdecak seraya menatap sinis. "Apa kau sudah tuli hah" bentak Zein emosi.


"Ah iya" Celin segera melangkah dan meraih satu piring yang berlapis emas berada di hadapannya. Lalu segera mengisi satu centong nasi.


"Isi yang banyak"


Celin mengkerut "Cih pantesan tenaganya tidak habis habis makannya banyak" batinnya sembari menatap Zein dengan ekor matanya.


"Cepat" bentak Alex.


Celin mengangguk cepat, dan memasukan semua jenis lauk pauk sehingga piring tersebut penuh ke atas. Zein menyunggingkan bibirnya.


"Duduk" suruhnya dengan suara yang mendadak lembut.


Celin yang sama sekali tidak tahu apa apa langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang tidak jauh dati Zein.


"Makan"


Celin kembali mengerutkan dahinya.


"Makan" ucap Zein kembali meninggikan suaranya.


"Cih apa apaan ini, kenapa tuan menyuruh upik abu itu makan. seharusnya aku yang duduk di dekatnya" batin Lira menatap Celin tidak suka.


Celin mengerjap. "Hah benarkah makanan ini untukku? ah kebetulan aku sangat lapar" batin Celin merasa senang sembari mengelus perutnya. Lalu menatap Zein "Tuan-


"Makan atau aku suapin" cetus Zein dingin.


Celin langsung cengesan


"tidak ada yang lucu"


Celin mencebuk tanpa rasa malu dia langsung menyantap


makanan tersebut karena kebetulan dia sangat lapar. Dia hanya memakan setengah lalu meraih air minum yang ada di hadapannya.


Celin hanya tersenyum malu malu menatap mereka semua yang berdiri di tambah melihat Lira yang merasa kesal.


"Habiskan" titah Zein menatapnya acuh.


"Apa" pekik Celin kencang membuat mereka semua riflek menutup telinga, tetapi tidak dengan pria yang berada di dekatnya dia tetap enteng dengan sikapnya yang dingin.


Celin menelan ludah kasar menatap piring yang berada di hadapannya masih banyak sisah makanan, bagaimana tidak dia sendiri yang mengisinya sehingga penuh menggunung, awalnya dia ingin memberi sedikit pelajaran kepada iblis kejam itu, namun malah dia sendiri yang kena batunya.


"Ahh ini mah menyiksaku" lirihnya pelan, enggan melihat makanan tersebut. "Sial kalau tau begini kenapa tidak aku isis sedikit tadi" batin Celin.


"Cepat"


Celin menghela nafas lalu kembali memakan makanan tersebut dengan terpaksa. "Sudah tuan, perutku tidak kuat menampungnya lagi"


"Haha rasakan tu, emang enak" batin Lira tertawa puas.

__ADS_1


Zein tidak menggubris dia terus menatap ke arah ponselnya. Celin mencebik merasa mual melihat sisa makanan yang masih banyak di hadapannya. Bagaimana dia bisa menghabiskan itu semua, bisa bisanya perutnya pecah.


"Cepat" perintah Zein menatap tajam.


Dengan malas Celin kembali memakan makanan itu sampai habis, sehingga dia menyandarkan tubuhnya sembari mengelus perutnya buncit terasa akan meledak. Zein tersenyum smirk setelah memberi Celin pelajaran, dia langsung beranjak akan meninggalkan meja makan tanpa berniat untuk sarapan.


Sebelum pergi dia melihat Celin yang kesusahan untuk bergerak. "Berikan dia cangkul untuk menanam bunga mawar di halaman belakang, sebelum aku kembali dia sudah harus selesai" perintah Zein menarik sudut bibirnya.


Celin menatap Zein kesal "Argh gila apa apaan ini, awas kau" batin Celin menatap tajam punggung pria itu.


Setelah kepergian Zein, Celin langsung mengerjakan pekerjaannya dia tidak di bolehkan istirahat walaupun semenit saja. Di tambah dengan perutnya yang masih terasa penuh, Celin sungguh merasa sempit.


"Nona harus menyelesaikannya dalam waktu setengah hari" ucap salah satu pengawal yang di perintahkan Zein, untuk mengawasi dirinya.


Celin menunduk lesu "yang benar saja, lahan ini sangat luas bagaimana bisa menyelesaikannya setengah hari" gumamnya tak yakin. Astaga, Celin meregangkan badannya lalu melihat kedua pria berbadan besar yang berdiri mengawasinya.


"Ck, bajingan itu benar benar ingin menyiksaku"


Menghela nafas berat, Celin mulai mencangkul sambil menggerutu. "lihat saja setelah ini aku akan membalasnya"


*


"fyuhh"


Celin tersenyum tipis sembari menyeka keringat. Menatap bangga melihat pekerjaannya yang telah selesai.


"Hahaha ternyata aku bisa juga mencangkul" ujarnya tersenyum girang sembari menepuk nepuk tangannya karena ada tanah yang menempel.


Tenggoronkannya terasa kering Celin berbalik ingin masuk kedalam mansion mengambil air untuk menghilangkan dahaganya. Namun di halang oleh kedua pengawal tersebut.


"Nona mau kemana?"


"Ish awas minggir"


"Nona tidak boleh kemana mana sebelum menyelesaikan pekerjaan" ujar salah satu pria dengan datar.


"What apaa apaan ini, jangan mentang mentang kalian di suruh iblis kejam itu" teriaknya emosi. Celin membulatkan matanya saat menyebut 'iblis kejam'.


"Ala mak mati aku" batin Celin.


"Minggir kalian" cetus Celin dengan nada tertahan.


Namun mereka sama sekali tidak menggubris, terus menghalangi Celin sembari memerintahkannya dengan tegas untuk kembali melanjutkan pekerjaan.


Tanpa di ketahui, CCTV yang menangkap kelakuan Celin tersambung di ponsel milik Zein. Dia tersenyum tipis "Lihat saja seribu hukuman menanti mu saat ini"


"Ada apa Lex?" tanya William.


Zein menggeleng lalu kembali menatap berkas berkas yang ada di hadapannya. "kau masih bisa tersenyum namun detik berikutnya kau pasti akan menangis tersedu sedu" gumamnya tersenyum devil.


William kembali mendengar gumaman sahabat sekaligus atasannya itu, lalu menatap Zein aneh. "Jangan kepo Will, sudah pergi sana" ketus Zein seraya memberikan berkas yang telah ia tanda tangani.


"Dasar aneh" umpat William langsung beranjak pergi membawa berkas itu.


"Jangan mengumpat ku William" ujar Zein setengah berteriak.


William tak menggubris hanya menggeleng.


*


Dalam perjalanan pulang Zein menghela nafas, menyandarkan punggungnya di kursi. "Entah aku akan bisa lupa, atau kamu akan semakin membuatku sengsara" batinnya rapuh.


Zein menunduk, matanya telah berkaca kaca merasa sesak. "Tuan kita sudah sampai"


Zein mengangguk lalu mengusap wajahnya kasar, dia keluar menggunakan kaca mata hitam karena matanya telah memerah.


"Jika aku tidak terlambat mungkin kamu masih bersamaku" gumamnya mengeratkan tangannya di pembatas jalan tersebut. "Kalian harus menanggung semuanya HARUS"


ucapnya dengan nada tertekan menahan emosi, seketika raut mukanya berubah seram.


Zein kembali masuk kedalam mobil dengan nafas memburu. "Pulang" ucapnya dingin. William mengangguk langsung menjalankan mobil.


*


"CELIN" Teriak Zein kencang, memasuki mansion.


"Dimana gadis itu" tanyanya kepada salah satu pelayan yang berpapasan dengannya. "Di halaman belakang tuan" ucapnya sembari menunduk takut melakukan kesalahan sehingga berakhir fatal.


Mendengar itu Zein langsung pergi ke halaman belakang menghampiri gadis yang di carinya. Sesampainya di halaman belakang dia menaikan sudut bibirnya melihat Celin yang sibuk mencangkul sembari menanam bunga yang ia perintahkan, terlihat sekali gadis itu kelelahan namun Zein tidak memperdulikan hal itu.


"Hukuman ini terlalu ringan untuknya" batinnya.


"Kamu ikut saya" panggil nya kepada Celin.


"Kemana tuan?" tanyanya bingung padahal pekerjaannya belum selesai.

__ADS_1


Zein berdecih sinis "Saya tidak suka mengulang kata kata kembali"


Terlihat Celin sangat kelelahan, dan juga staminanya terkuras habis tanpa di kasih minum sedikitpun. Celin mengangguk pelan dengan pandangan yang mengabur.


"Ck" Zein mendelik, hendak berbalik


"Brukh"


Karena sangat kelelahan Celin pingsan, Riflek Zein langsung menghampirinya "hey kau kenapa" menepuk pipi gadis itu pelan.


Zein tersadar lalu melepaskan tubuh nya kasar, membiarkan nya tergeletak di tanah. Tanpa perduli sedikit pun dia malah masuk ke dalam Mansion dengan santai, sebelum nya dia sudah memperingatkan kepada pelayan lainnya tidak ada yang boleh membantu Celin sama sekali.


Termasuk bi Jum, dia yang mendengar Celin pingsan merasa sangat cemas, namun mendengar larangan dari tuannya, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa apa.


"Buat kan saya kopi dan juga bawa beberapa cemilan untuk saya" ucapnya lalu berlalu menuju ke kamar. Zein bersedekap dada sembari memperhatikan tubuh Celin yang terbaring di atas tanah, apa lagi cuaca seakan akan mendukung turun hujan yang sangat lebat.


Setelah kedatangan kopi, Zein dengan santai menyeruputnya sembari tersenyum memperhatikan gadis itu bak seperti menonton hal yang menarik.


"Dengarkan aku" teriak Zein lantang sehingga menghentikan aktifitas mereka semua. Mereka semua berbaris dengan kepala menunduk, merasa takut apa lagi melihat ekspresi tuannya yang tak bersahabat.


"Jika ada di antara kalian yang membantu nya, akan saya pastikan pekerjaan kalian taruhannya, dan tidak akan ada yang akan menerima kalian di manapun" ucap nya datar.


Mendengar itu mereka semua meringis ngeri. "Camkan itu jika tidak kalian akan tau akibatnya"


Mereka semua mengangguk tanda mengerti, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya masing masing. Zein berlalu langsung kembali ke kamar masih dengan secangkir kopi di tangannya. Tidak peduli dengan keadaan Celin yang terbaring di bawah guyuran hujan. Entah apa salah gadis itu sehingga Zein meluapkan emosinya kepada Celin.


Di sisi lain, bi Jum merasa sedih melihat Celin yang terbaring di bawah hujan, ingin sekali dia mendekap dan menolongnya, namun dia sama sekali tidak bisa membantah, setetes air nata jatuh dari pelupuk mata yang berkerut tan itu. Merasa iba hatinya sangat sakit melihat Celin yang telah di anggapnya sebagai anak sendiri.


Sedangkan Lira merasa sangat puas "Haha rasain tuh, mampus kau gadis sombong, dimana sikap angkuh mu itu hihi ternyata calon suami ku yang sudah lebih dulu membalaskan dendam ku kepadamu, maka nikmatilah hukuman mu itu" batin Lira merasa puas.


Setelah puas memandangi Celin, Zein menyibukkan dirinya menatap laptop.


Jedeerrrr


Kilatan petir menyambar, rintik hujan semakin deras dari yang sebelumnya. Zein bangkit menatap Celin yang sama sekali tidak terusik sedikitpun,


Mengusap wajahnya kasar "Arghh" Zein langsung berjalan keluar untuk menolong gadis itu, jika di diamkan lama lama mungkin tubuhnya akan membeku kedinginan.


Zein berdecak malas, lalu terpaksa menerobos hujan menggendong tubuh Celin. "Dasar menyusahkan" Zein membaringkannya di atas sofa.


"Pelayan ambilkan air hangat kuku" teriaknya.


"Baik tuan"


Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Zein segera menyiramkan air itu ke wajah Celin. Tak lama dia langsung terbangun. "Hah hah" Celin terbelalak merasa wajahnya panas sekaligus kedinginan.


"Tuan" panggil bi Jun sembari membawakan handuk, namun Zein menolak langsung menyuruh bi Jum kembali ke belakang.


"Ikut aku sekarang" panggil Zein.


"Ta-tapi tuan....


"Apa aku tidak dengar" bentaknya lalu berlalu.


Celin yang masih belum sepenuhnya sadar, dia melirik ke semua orang berusaha untuk bangkit dengan kepala yang sangat berat tubuhnya terlihat sangat menyedihkan.


"Celin" teriak Zein dari lantai atas.


"Ah i-ya sebentar tuan" jawabnya sembari beranjak. Dengan susah payah Celin berjalan menyusuri anak tangga, sesekali dia menggelengkan kepalanya karena terasa sangat berat.


"Ah aku tidak kuat lagi, tenagaku sudah habis" gumamnya meluruh lemas di pertengahan anak tangga.


Zein yang enosinya telah di ubun ubun kembali meneriaki dirinya, namun Celin sama sekali belum tiba di lantai tersebut.


"Sebentar tuan, aku tidak kuat lagi untuk berjalan" ucapnya lemas. Zein tidak menggubris.


"Bangun atau kau akan aku tendang dari sini" ucapnya dingin.


"Tapi tuan tubuh ku sangat lemah aku...


"Aku tidak peduli"


Zein mendelik dan langsung menarik Celin dengan kasar, lalu menyeretnya sampai kedalam kamar miliknya. Zein sama sekali tidak memperdulikan rintihan dari Celin, dia menghempaskan tubuh gadis itu dengan kasar. Sehingga tubuhnya terpental di sisi ranjang.


"Sebelum kau membersihkan kamar ini, kau tidak akan mendapat jatah makan" ucapnya dengan seringaian. Zein melangkah dengan santai meninggalkan kamarnya dan tak lupa menguncinya dari luar.


Celin menghela nafas tidak menyangka kehidupannya berakhir seperti ini, dengan perlahan dia bangkit untuk duduk. Tenaganya benar benar terkuras habis. Dia duduk sembari memeluk kedua lututnya, tidak terasa air matanya menetes.


"ibu hiks hiks" Celin terisak, dia mendongak ke atas sembari menyeka air matanya, dia berusaha melawan rasa sakit lelah fisik batin dan di tambah tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. Celin tersenyum berusaha menguat kan dirinya sendiri.


"Kamu kuat Cel, kamu kuat" ucapnya menyemangati diri sendiri.


Celin mendesis di saat dia berusaha untuk bangkit namun apalah daya tubuh nya kali ini benar benar tak bertenaga sama sekali, tiba tiba tubuhnya kembali terjatuh di lantai. Yang dia butuh kan saat ini adalah istirahat, ya hanya itu.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2