Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 24


__ADS_3

Hallo guys, terimakasih telah bertahan membaca sampai di bab ini. Dukung terus author ya, masih penulis abal abalan ini ceritanya belum terlalu bagus.


Jangan lupa like dan komen ya ga papa walau cuma titik hehe


Dah Se You, Selamat membaca😀


...****************...


Zein telah sampai di sebuah bar ternama di kota tersebut tiga puluh menit yang lalu, dimana tempat itu menjadi langganan para artis papan atas dan para pengusaha terkenal, banyak yang mendatangi tempat hiburan malam tersebut. Bisa di katakan Zein juga merupakan salah satu pelanggan VVIP tetap di bar itu.


Zein duduk dengan kedua sisi di apit oleh dua orang wanita se*i, berpakaian minim dan terbuka. Dia menyesap perlahan bir yang harganya sangat fantastis, dan tak lupa kedua wanita tersebut bergelayut manja. Siapa yang bisa menolak bersama Zein, seorang pengusaha terkenal yang memiliki bisnis di mana mana.


"Puas kan aku" lirihnya datar sembari memejamkan mata.


"Ah iya tentu saja honey" jawab wanita yang berada di samping kiri, dia mengelus paha dan dada Zein dengan seringaian nakal. Dan begitu juga dengan wanita yang di sampingnya lagi mengelus leher Zein di iringi dengan ******* kecil keluar dari bibirnya.


Zein sama sekali tidak merasa puas dan terangsang sedikitpun, di saat salah satu wanita tersebut ingin mencium bibirnya dia langsung mendorong wanita itu dengan kuat sehingga terpental ke lantai.


Zein seketika merasa jijik, dia sama sekali tidak merasakan gairah sedikitpun.


"Keluar" bentak Zein nyalang.


Namun keduanya sama sekali tidak beranjak karena belum mendapat kepuasan sama sekali, "Ta-tapi tuan...


"Saya bilang keluar atau lidah mu ku potong" ancamnya menatap tajam.


"Silahkan keluar nona jika masih sayang nyawa" cetus William mempersilahkan mereka berdua keluar dari ruangan itu. Keduanya langsung bergegas keluar, merasa ketakutan melihat wajah Zein yang sangat menyeramkan.


Zein merasa sangat kesal sehingga dia malam ini meminum dengan brutal. "Tambahkan lagi" racaunya mengadahkan gelas kosong minta di isi.


"Sudah lah Lex kau sudah mabuk"


"Hahaha aku mabuk, mana mungkin" ujar Zein menggelengkan kepalanya terlihat jelas matanya telah memerah.


"Beri kan minumannya Wili" cetus Zein setengah sadar lalu seketika ambruk karena terlalu banyak minum.


"Ck dasar menyusahkan" umpatnya seraya menghela nafas pelan William terpaksa membawa sahabatnya itu pulang ke rumah.


"Ck ternyata kau berat sekali" ujar William mendorong tubuh Zein sedikit kasar ke dalam mobil. Setelah itu dia mengemudi membelah jalanan ibu kota yang masih ramai di tengah malam seperti ini.


*


Di sisi lain Celin membuka matanya perlahan, hal pertama kali yang dia lihat adalah langit langit kamar. Dia mengedarkan pandangannya, melihat kamar yang tak asing baginya. Ia menghela nafas pelan mencoba untuk duduk namun tubuhnya masih sangat lemah. Celin melihat tangannya terpasang selang infus.


Perlahan dia duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, Celin memegangi kepalanya yang terasa pusing, ia menggelengkan kepalanya berharap rasa pusing itu menghilang.


Sejenak dia terdiam mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sontak Celin langsung memejamkan matanya mengingat setiap penyiksaan yang dia dapatkan. Lelah itulah yang dia rasakan saat ini, ingin sekali dia mengadu mengeluarkan semua keluh kesahnya. Namun apa lah daya dia sama sekali tidak mempunyai rumah untuk pulang.


Sosok ayah? entahlah dia juga tidak tau dimana keberadaan lelaki itu, dia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah. Yang dia rasakan hanyalah rasa benci semata, bagaimana bisa seorang ayah menelantarkan anak kandungnya sendiri, sungguh prilaku yang tidak manusiawi.


Terlalu lama merenung Celin kembali tertidur pulas, dengan posisinya masih duduk bersandar.


William baru saja sampai di depan istana megah milik Zein yang terletak di tengah tengah hutan itu.


"Tolong bantu saya" ucap William kepada salah satu pengawal yang berjaga. Pengawal itu langsung menghampiri dan membantu membopong tubuh tuannya yang telah mabuk berat, masih tercium bau alkohol yang menyeruak.


Sesampainya di lantai tempat kamar pribadi Zein berada, William langsung meminta pengawal tersebut pergi.


"Ahh" lirih Zein terbangun dia menggeleng gelengkan kepalanya rasa pusing menyerangnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku" bentak Zein melepaskan dirinya dari William.


"Ck kau itu mabuk jadi diam lah" kesal William kembali memegangi tubuh Zein, namun lelaki itu tak ingin di tolong.


"Terserah dasar keras kepala" cetusnya lalu meninggalkan Zein yang berjalan sempoyongan, dia juga merasa sangat kelelahan ingin segera beristirahat.


"Mabuk, hahaha aku tak pernah mabuk" racau Zein mengacak rambutnya, sembari berjalan sempoyongan dia memasuki kamarnya.


"Brakk"


Dia menutup pintu dengan kasar


Dengan kesadaran yang masih belum penuh Zein menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Beberapa menit kemudian dia mengangkat kepalanya melihat Celin yang berada di kamarnya masih dengan pandangan buram. Dalam pengelihatannya terlihat lah Amora.


"Mora, Amora itu kamu kan" lirihnya menganggap Celin adalah sang mantan kekasih.


"Kenapa kau bisa berada di dalam kamar ku hah" ujar Zein seraya berusaha bangkit dengan pandangan yang masih berkunang kunang. Setelah berusaha bangkit dia menarik kasar tubuh Celin yang di matanya adalah Amora.


"Kenapa kau mengkhianati hah" bentaknya.


"Hahaha, apa aku kurang tampan atau kurang uang sehingga kau selingkuh dari ku sayang" lirih nya tertawa.


Celin yang terganggu tidurnya seketika langsung terbangun, dia terlonjak kaget melihat Zein berada di atasnya. Riflek dia mendorong tubuh lelaki itu cukup kuat sehingga terjerembab ke belakang, beruntung masih di atas ranjang.


Zein tersulut emosi, dia bangkit lagi dengan sempoyongan.


"Plakkk"


"Arghh" pekik Celin memegangi pipinya yang terasa panas, di tampar keras oleh Zein.


"Kau..


Zein melepaskan ciumannya sejenak karena kehabisan oksigen, nafas keduanya memburu. Zein kembali menyerang Celin dengan kasar.


"Hmmmmm mmmmzz" setitik cairan bening lolos dari pelupuk mata gadis itu, merasakan hatinya sakit di perlakukan dengan kasar.


Setelah selesai bermain di area mulut, Zein mendorong tubuh Celin kasar sehingga terhempas di atas ranjang hal itu juga membuat selang infus terlepas.


"Sssttt" desisnya.


Karena nafsu yang mengusai dirinya Zein merobek pakaian yang di kenakan Celin, lalu membuangnya ke sembarang arah. Celin sangat terkejut dia berusaha mendorong tubuh kekar itu.


"Lepaskan aku, lepas" pekiknya histeris namun apalah daya tubuhnya yang masih belum sepenuhnya pulih, tak bisa melakukan perlawanan apapun.


"Diam sayang" lirih Zein, lalu menciumi leher Celin meninggalkan tanda cinta di sana, tak lepas dari situ dia menciumi setiap inci tubuh Celin, dia terus memberontak namun kedua tangannya di cekal kuat oleh lelaki itu.


Zein melepas bra berwana hitam itu, terlihatlah dua buah melon yang berukuran lumayan besar dan padat, dia langsung melahapnya menghisapnya dengan kuat.


"Hiks hiks" Air mata Celin terus berjatuhan sedari tadi, melakukan perlawanan pun percuma dia hanya bisa pasrah sembari menahan rasa perih di hatinya, karena menjadi pelampiasan seksual.


"Kau mempunyai tubuh yang bagus sayang, aku suka sekali" desahnya.


Zein menarik sisa benang yang tersisa di tubuh Celin, sehingga polos tanpa sehelai benang. Zein kembali mel*mat bibir ranum itu, tangan kekarnya meraba raba paha mulus itu dia juga memasukan jari tengahnya ke dalam ****** Celin lalu memompanya.


Bak aliran listrik menyengat, Celin terasa kena sentrum karena Zein. Dia menghisap ****** Celin dengan kuat sehingga gadis itu meracau tubuhnya menggeliat.


"tu-tuan aku...


Zein menghisapnya lebih kuat sehingga Celin merasakan sesuatu yang akan membuat nya meledak di bawah sana.

__ADS_1


"Arghhhh" pekiknya sembari meremas kuat rambut Zein.


Setelah puas di atas Zein melepaskan seluruh pakaiannya lalu membuangnya ke sembarang arah, karena sudah tidak tahan lagi adik kecilnya meronta ronta untuk memasuki lubang surgawinya.


"Tahan sayang, aku akan membuat mu melayang ke langit ketujuh, kau akan mendesah nikmat" lirihnya sembari mengarahkan si Joni ke goa nya.


"Arghhhhhh" pekik Celin kencang.


Zein berhenti sejenak, karena sangat sulit memasuki nya, lalu dia mendorongnya dengan kuat.


"Blessss" darah segar keperawanan Celin langsung keluar.


"Arghhhh Sakitttttt" Celin menangis dia mencengkram bahu Zein dengan kuat sehingga bahu itu terluka akibat kukunya yang tajam.


Setelah menerobos masuk Zein merasakan kenikmatan, miliknya terjepit dan terasa berkedut kedut. "Ahh" desahnya


Lalu memompa pinggul nya dengan perlahan semakin lama dia mempercepat temponya. Celin terus terisak merasa sangat kesakitan.


"Hikss sakit" rintih Celin, Zein membungkamnya dengan ciuman.


Beberapa menit kemudian, keduanya mendesah nikmat keringat telah berjatuhan dari keduanya, malam yang dingin terasa panas, gairah yang tak tertahan Zein terus memompa pinggulnya dengan kencang merasakan kenikmatan yang tiada tara.


"Kamu nikmat sekali Amora, " desahnya sembari menyebutkan nama sang mantan.


Celin yang awalnya telah menikmatinya, seketika air matanya luruh kembali hatinya berdenyut mendengar lelaki itu menyebutkan nama orang lain di saat mencumbunya.


Zein mengerang nikmat memasukan benihnya ke dalam rahim Celin. Tak berhenti di situ dia terus melakukan nya selama 2 jam, setelah itu ambruk di samping gadis itu, ah tidak gadis lagi karena dia telah merenggutnya. Celin telah lama tertidur sedari tadi, karena kondisi tubuhnya memang kurang fit sehingga tubuhnya sangat lelah.


Malam ini adalah malam yang tak akan terlupakan bagis Celin, entah awal kehancurannya atau menuju kebahagiaan.


*


Keesokan harinya Celin terbangun lebih dulu, dia membuka mata perlahan. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah wajah tampan Zein yang sedang memeluk dirinya. Tubuh mereka sama sama lah polos di bawah selimut.


Seketika Celin mengingat kejadian tadi malam, air matanya kembali jatuh tanpa di minta.


"Hancur, semuanya telah hancur, mahkota yang telah aku jaga selama bertahun tahun dengan mudahnya di renggut oleh iblis sepertimu, aku manusia kotor hina" gumamnya menangis tanpa suara.


"Aku membenci mu, sangat membencimu" pekiknya di dalam hati.


Menyesali semuanya sudah tak ada artinya lagi semuanya sudah menjadi bubur. Celin melepaskan tangan Zein dari pinggangnya. Ingin bergerak pun susah tubuhnya terasa remuk. Di tambah area pahanya terasa sangat perih. Celin bersusah payah untuk bangkit.


Brukhhh...


"Arghhhhh" pekiknya terjatuh dari ranjang, dengan posisi terlungkup.


"Hiks hiks sakittt" tangisnya merasa miris.


Zein langsung terbangun mendengar teriakan Celin, dia memegang kepalanya yang masih terasa berat dan pusing. Setelah nyawanya terkumpul dia merasa terkejut karena tak memakai sehelai benangpun.


Dia mengedarkan pandangannya, seketika Zein terdiam seribu bahasa melihat noda merah yang tertempel di seprai putih itu. Dia melihat pakaian yang berserakan kemana mana, di tambah tubuh polos Celin tergeletak di lantai.


"Apa yang telah terjadi semalam" Zein mengacak acak rambutnya.


"Hiks hiks" Celin masih berusaha bangkit namun usahanya sia sia. Masih bingung dengan yang terjadi semalam, Zein sama sekali tidak mengingatnya sedikit pun. Dia segera bangkit menghampiri Celin, menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar mandi masih dengan tubuh yang sama sama polos.


"Lepas, lepas kan aku, ibliss kejamm, lepaskan aku tidak sudi di sentuh oleh mu" pekik Celin meronta ronta emosinya meluap luap memukuli dada Zein.


Zein terus terdiam tanpa memperdulikan umpatan Celin.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2