
Prangggggg..
Lalista menggebrak semua benda yang ada di atas meja riasnya, sehingga berhamburan kelantai.
"Arghhhhhh, sialan" pekik Lalista mengacak acak rambutnya.
"Ada apa ini Lalista" bentak nyonya Maria menatap tajam putri semata wayangnya itu.
"Aku kesal ma, Zein menolakku dia juga mengusirku dari perusahaan sehingga membuatku malu" kata Lalista kesal lalu melempar botol parfum ke lantai.
"Cukup Lalista" bentak nyonya Maria.
"Jika kau tetap begini yang ada semua barang kamu hancurkan, itu semua tak dapat mengubah apa pun. Kau harus bisa menggoda pria itu" cetus nyonya Maria dengan nada kesal.
Lalista diam tak menjawab, dadanya naik turun dengan nafas memburu karena emosi, dia sangat kesal mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Dengar Lalista di acara pernikahan kolega bisnisnya Zein kau harus bisa memanfaatkan waktu itu untuk mendekati Zein, kau mengerti" tegas nyonya Maria menatap anaknya tajam. Lalista diam mengangguk kecil, dia juga sedikit jengkel dengan ibunya yang mengatur hidupnya.
Seketika mereka terdiam mendengar deringan dari ponsel Lalista menaikan alisnya lalu menatap nyonya Maria.
"Siapa?"
"Tante Veny!" ketus Lalista.
"Cepat di angkat"
Lalista memutar bola matanya lalu menarik tombol hijau.
"Hallo tante" kata Lalista mengubah nada suaranya menjadi pelan dan lembut.
"Kamu baik baik saja kan sayang? maafin Zein yang telah memperlakukan kamu dengan kasar"
Lalista tersenyum masam " Eh iya tante gak apa apa kok, Lalista baik baik saja" ucapnya sedikit muak.
"Syukurlah kalau kamu baik baik saja, sekali lagi tante minta maaf ya nanti tante akan marahin Zein"
__ADS_1
Ck bisa bisanya cuma minta maaf batin Lalista kesal.
"Ah tidak apa apa tante, tak usah marahin Zein Lalista baik baik aja" ucapnya pelan namun tak bisa meredam kekesalannya itu. Tak lama sambungan telpon terputus. Lalista semakin meradang dia melemparkan ponselnya kelantai.
"Arghhh, wanita tua sialan" pekik Lalista.
Nyonya Maria juga ikut kesal, dia beranjak meninggalkan kamar Lalista. Tak habis pikir dengan kelakuan putrinya itu yang tak bisa menahan emosi sedikit pun.
*
Di sisi lain Celin yang baru terbangun dari tidurnya. Dia bangkit lalu menyandarkan punggungnya. Dia melamun memikirkan semua yang terjadi di dalam hidupnya, tak ada penyesalan yang harus di sesali Celin berusaha menerima semuanya dengan lapang dada.
Hidup harus tetap berlanjut, dia juga tak ingin berlarut larut dalam penyesalan. Celin menghela nafas mencoba untuk menerima semua takdir walaupun dia rasa tak mampu, namun Celin yakin tuhan tak akan memberi hambanya ujian di luar batas kemampuan.
Di situ lah Celin yakin, skenario tuhan adalah yang terbaik dia hanya bisa tabah dan sabar menghadapinya, mengingat sebuah pepatah bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian. Entah kapan kebahagiaan itu datang, Celin hanya bisa menunggu waktu itu tiba.
Celin menarik nafas, dia harus bisa menghadapi semuanya dia juga berjanji tak akan menjadi lemah seperti sebelumnya dia akan berusaha melawan dengan siapa pun yang menjadi lawannya.
Setelah merenungkan semuanya, Celin bangkit dia ingin mandi karena tubuhnya telah lengket. Celin mengguyur kepalanya, sembari memikirkan hal apa yang akan dia lakukan selanjutnya hidup harus tetap berjalan, Celin tak ingin lagi merasakan yang namanya sakit dia juga ingin merasa bahagia.
Setelah selesai mandi, dia merasakan tubuhnya kembali fress namun masih terlihat pucat di wajahnya. Setelah berpakaian Celin keluar dari kamarnya, namun kali ini dia tak menggunakan pakaian pelayan, entahlah Celin rasanya muak. Untuk apa menjalankan hukuman untuk kesalahan yang tak pernah dia lakukan.
"Wow, seorang putri baru bangun tidur" sinis Lira menatap Celin tak suka, dia juga kesal mendengar desas desus dari pelayan lainnya yang mengatakan bahwa Celin adalah simpanan tuan Zein.
Celin diam dia malas menanggapi Lira, dia langsung berjalan tanpa peduli dengan ucapan wanita itu. Namun dia langsung berhenti ketika Lira mengucapkan sesuatu yang membuatnya langsung naik pitam.
"Enak ya jadi simpanan tuan Zein, cih dasar murahan" kata Lira sembari bersedekap dada dia memandang Celin tak suka, ada rasa cemburu di hatinya melihat Celin yang notabenya hanya seorang pelayan namun di perlakukan khusus oleh Zein, bakan Celin tidur di kamar pria itu.
Celin berusaha mengendalikan emosinya, dadanya naik turun, ingin sekali dia menampar mulut Lira. Namun kali ini dia tak ingin gegabah dalam bertindak. Celin menghembus nafas pelan lalu berbalik badan, sembari bersedekap dada dia berjalan menghampiri Lira.
"Iya dong enak sekali jadi simpanan tuan Zein, dan bahkan kami menghabiskan malam bersama" ucap Celin dengan nada tenang, namun darahnya berdesir ketika mengucapkan itu, tak ada yang salah namun itu semua memanglah kenyataannya.
Lira melebarkan bola matanya tak percaya. "Kau....
"Wow matamu hampir keluar Lira" ucap Celin menutup mulutnya dengan anggun mengejek pelayan itu.
__ADS_1
"Sialan beraninya kau....
"Apa iri bilang bos" sembur Celin mengangkat sudut bibirnya.
Wajah Lira telah memerah, dia yang berusaha menggoda Zein selama ini tidak bisa menarik perhatian pria itu.
"Plaaakkk" Lira menampar wajah Celin kuat sehingga membuat wajahnya terhuyung ke samping. Celin memegangi pipinya yang terasa panas dia menatap Lira tajam.
"Plakkk"
"Beraninya kau menamparku, bang*at" pekik Celin, emosinya meledak ledak dia harus melawan tak ingin lagi menjadi orang yang lemah, cukup selama ini dia di rendahkan dan di perlakukan dengan kasar oleh Zein, namun kali ini Celin tak mau lagi.
"Hentikan" suara bariton dengan nada tinggi, seketika menghentikan perdebatan mereka berdua. Ya itu Zein dia yang sedari tadi mendengar semua perdebatan Celin dan pelayannya, sudut bibirnya sedikit terangkat di sat Celin mengucapkan menghabiskan malam bersama.
Lira terkejut melihat kedatangan Zein dia tiba tiba gemetar merasa kikuk, namun tidak dengan Celin dia sangat kesal melihat wajah pria itu. Zein menghampiri Celin, tak bisa di pungkiri dia merasa kesal melihat Lira menampar Celin di depan matanya.
"Kau tak apa sayang?" kata Zein mengelus pipi Celin yang memerah. Celin naik pitam gejolak amarahnya naik sampai ke ubun ubun melihat pria yang ada di hadapannya sembari memegang pipinya.
Namun Celin berusaha meredam emosinya "pipiku sakit sayang, dia menamparku" kata Celin dengan nada manja. Namun di salam hati dia merutuki dirinya yang berkata seperti itu "Ah sialan" batin Celin kesal.
Zein berbalik menatap Lira tajam, "Cepat pergi dari hadapan ku atau kau ingin di pecat"
"B-baik tuan!" ucap Lira sopan namun dia menatap Celin kesal karena Celin mengejek dirinya. Setelah kepergian Lira, Celin langsung melepaskan tangan Zein kasar.
"Jangan sentuh aku sialan" pekik nya emosi sembari menatap Zein tajam. Zein mengerutkan alisnya melihat keberanian Celin.
"Beraninya kau menaikan suara di hadapanku" ucap Zein menatap tajam.
"Berani emang nya kenapa ha, kau siapa?" bentak Celin, tak ada lagi rasa takut di dalam hatinya, yang ada hanyalah rasa benci semata.
"Kau.... Zein menarik nafasnya kasar, dia mencekal erat tangan Celin menyeretnya kasar menuju ke kamar.
"Lepaskan aku" pekik Celin meronta ronta.
"Bajingan kau, iblis kejam , lepaskan tanganku sialan"
__ADS_1
"Diam"
_To Be Continued_