
Hallo teman teman, jangan lupa like and komen ya tak lupa berikan vote seikhlasnya.
Hari ini author bolos sekolah hehe😅
Buat kalian yang tidak suka membaca skip aja yah, jangan beri rating buruk author suka sedih, jadinya malas buat up😊
...----------------...
"Brakkk"
Celin menghempaskan pintu kamarnya dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Dia sangat kesal dengan keadaan yang menimpanya saat ini, di tambah dia harus menikah besok. Celin tertawa hambar seakan takdir mempermainkan dirinya.
"Dasar tuan muda kejam, mau seenaknya saja. Apa dia itu tidak mempunyai hati, memang benar titisan iblis dan sialnya sebentar lagi aku akan menjadi istrinya, ah tidak bagaimana nasib ku kedepannya" guman Celin meringis.
"Huh" dengusnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang tidak terlalu lebar. Dia menatap langit langit kamar, "Takdir macam apa ini tuhan? kapan kebahagian itu akan datang" batinnya merasa lelah.
"Dan hahaha, besok aku harus menikah. Yang benar saja, aku pernah bermimpi untuk menikah sekali seumur hidup dengan orang yang ku cintai. Tetapi lelaki kejam itu menghancurkan semuanya, masa depanku direnggut di tambah aku terjebak di tempat ini, dan sekarang dia ingin mempermainkan pernikahan" .
Monolog Celin mendesah pelan, entah apa yang akan terjadi besok, Celin harap waktu jangan cepat berlalu. Dia merasakan semua ini bagaikan mimpi, mimpi buruk yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Dengar ya Celin, kau harus bisa melawan orang yang menindasmu" ucapnya meyakinkan diri sendiri, karena dia sudah cukup muak menjadi terlalu lemah.
Celin mengacak acak rambutnya kesal "Arghh aku prustasi tuhan, prustasi tingkat tinggi tingkat dewa stadium akhir" pekik Celin.
"Tok tok tok"
"Non ada apa" panggil bi Jum meninggikan suaranya dia merasa cemas karena Celin berteriak.
"Tidak apa apa bi" jawab Celin setengah berteriak.
"Keluar dulu non, nona di panggil tuan untuk makan malam"
"Hais aku sampai lupa belum mengisi perut sedikitpun" decaknya sembari memegangi perut karena cacing telah berdisko minta di isi.
"Iya bi aku akan segera turun" jawabnya setengah berteriak sembari beranjak, dia menginjakkan kaki kelantai lalu berjalan menghampiri pintu. Di saat dia keluar bi Jum sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan, dia melihat Zein duduk sembari memainkan ponsel di tangannya. Terlihat berbagai jenis makanan telah terhidang dan tertata rapi di atas meja, beberapa pelayan berdiri berbaris rapi tak jauh dari sana.
Celin berhenti sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya dia berjalan dengan santai melewati meja makan, Celin ingin mencari makan dibelakang dimana biasanya para pelayan makan di sana.
"Ekhem"
"Mau kemana kau" panggil suara bariton milik Zein, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mendengar itu Celin menghentikan langkahnya, lalu berbalik semabari mengerutkan dahinya.
"Saya?" tunjuk Celin kepada dirinya sendiri, menatap tuan muda itu. Zein menaikan kepalanya menatap Celin, lalu meletakan ponsel ke atas meja, menatap perempuan itu setengah tajam.
"Kemari" perintahnya datar.
Celin memutar bola matanya malas, mendengus kesal dia berjalan menghampiri pria itu. "Ada apa?"
"Layani aku" ucapnya dengan pandangan lurus ke depan, mengeluarkan aura berkharisma. Celin mencebik lalu dia mengedarkan pandangannya menatap pelayan yang berdiri di sana, termasuk Lira dia memandang Celin sinis terlihat di wajahnya menatap Celin tak suka, Celin menarik sedikit sudut bibirnya.
"Cepat" bentak Zein.
"Ck sabar" kata Celin menatap Zein kesal, dia mendengus lalu membalik piring mulai mengisi nasi dan lauk pauk kedalam piring tersebut. Setelah selesai dia meletakan piring yang telah terisi di meja hadapan Zein.
"Sudah tuan" ucap Celin setengah iklhas, lalu dia berbalik badan ingin meninggalkan meja makan.
"Kau tuli?"
Tak ingin berdebat, Celin menarik kursi yang tak jauh dari Zein.
"Makan" perintahnya sembari menyodorkan piring yang telah di isi dengan Celin tadi. Celin mengerutkan dahinya, "buat aku? kau ingin mengerjaiku lagi ya?" dengus Celin.
"Aku tidak mau" bantahnya. Zein menggelap menatap Celin, dia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak, Zein juga sedikit heran sejak kapan wanita itu berani membantah dirinya.
"Cepat makan atau, kau mau di suapi"
Celin melebarkan matanya, dan juga para pelayan yang ada di sana sebenarnya sungguh tidak percaya melihat Celin duduk satu meja dengan tuannya, padahal derajat Celin sama dengan mereka yang notabenya sebagai pelayan, termasuk Lira dia mengepalkan kedua tangannya tak terima.
Dengan kesal Celin mengambil piring itu, lalu menatap Zein sengit.
__ADS_1
"Makan" ujarnya kembali memainkan ponsel.
Celin menghela nafas kasar, lalu mulai menyendokkan makanan memasukannya kedalam mulut. Zein melirik melihat Celin yang telah menyantap makanan tersebut sedikit rakus, dia menggelengkan kepalanya.
Bi Jum tersenyum melihat pemandangan itu dari kejauhan, "Semoga kamu bisa merubah semuanya nak, cairkan lah gunung es itu. Semenjak kau datang ke sini tuan Zein sering pulang ke rumah" batin bi Jum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
*
Jam 2 dini hari
Zein membangunkan William meminta sahabatnya itu untuk menemuinya di ruang kerja.
Dengan langkah gontai William masuk kedalam ruang kerja Zein, terlihat sekali wajahnya sangat mengantuk beberapa kali William menguap. Bagaimana tidak dia yang lagi berada di alam mimpi, di ganggu oleh pemuda di hadapannya itu.
"Nasib jadi bawahan ya begini, selalu di repotkan" gumam William.
Mengacak rambutnya, William menghempaskan tubuhnya di atas sofa, melihat Zein yang mondar mandir duduk berdiri terus mondar mandir lagi, sangat jelas di wajah pria itu terlihat prustasi.
"Kenapa lo? kesambet dedemit lo" dengus William kesal dia masih mengantuk.
"Arghhh" Zein mengacak acak rambutnya lalu duduk di samping William.
"Gila Wil, gila gila gila gue udah gak waras"
"Gue tau, tidak usah di jelaskan lagi" celetuknya enteng. Dan beginilah mereka jika hanya berinteraksi berdua, bebas dalam berucap layaknya sahabat dan saudara. Jika dalam pekerjaan keduanya akan bersikap layaknya atasan dan bawahan.
"William! gue serius, gue barusan melakukan hal gila Goblok" kata Zein dengan nada tinggi, wajahnya sangat kusut. Dengan perasaan tak menentu Zein melempar bantal sofa, ke wajah William. Namun sigap pria itu menangkapnya.
"Ck, apa?"
Zein menghembus nafas kasar mendongak ke atas. "Gue baru saja merawanin seorang perempuan Will"
"Apaaa" pekik William.
"Haha, apa kau bercanda Zein" ujar William mendelik tak percaya, bagaimana bisa Zein melakukan hal itu, dia sangat mengenal Zein sahabatnya itu memang di kenal seorang cassanova namun tak pernah sampai melakukan hal lebih seperti itu.
__ADS_1
"Aku tak bercanda" kata Zein datar, membuat William mendesah kasar.
_To Be Continued_