
Celin menghela nafas kasar, dengan berat hati dia terpaksa tidur di lantai tanpa bantal dan selimut padahal di dalam kamar itu suhu AC sangat dingin karena.
Dia membaringkan tubuhnya di lantai agak jauh dari ranjang tuan kejam itu, Celin meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. hawa dingin menusuk kulitnya hingga sampai ke tulang, seketika tubuhnya menggigil karena dia sama sekali tidak terbiasa tidur dengan adanya AC maupun kipas, matanya telah berembun, setitik cairan bening lolos dari pelupuk matanya.
Celin segera menghapus air mata itu dengan kasar, dan dia berusaha tegar. Aish air mata sialan kenapa harus jatuh sih, hiks hiks malang banget hidup gue!. Tuhan ujian apa lagi yang engkau berikan kepada hamba mu ini, aku hanya meminta kepadamu kuatkan lah hati hamba dalam menghadapi semua cobaan ini!.
Celin meringkuk kedinginan sambil menguatkan dirinya sendiri, air matanya telah berjatuhan deras sejak tadi. Dia menghapus air matanya dengan kasar. Ah tak perlu cengeng Celin kau harus bisa lepas dari makhluk arogan itu, bisa bisa nya dia menghukum padahal dirinya sendiri yang salah. Argh kenapa sih aku harus bertemu dengan iblis tak mempunyai hati itu? . Batin nya kesal
Kamu harus bisa Celin jangan cengeng sudah puas selama ini selalu tertindas! kali ini harus bisa melawan. Lupakan Celin yang dulu sekarang kenalin Celin yang sekarang. Celin bergumam menguatkan dirinya dengan raut muka menyeringai menahan kebencian tanpa di sadari air matanya kembali lolos. Karena merasa lelah fisik dan batin Celin tertidur dengan posisi tubuh meringkuk dan menggigil.
Dan entah sejak kapan dia terlelap, mungkin karena merasakan lelah terus menangis, walaupun hawa dingin menyerang dirinya. Sedangkan Zein tertidur pulas dengan nyaman di ranjang mewahnya tanpa beban sedikit pun.
__ADS_1
Ke esokan harinya .
Byurr...
"Akh hujan!" pekik Celin sontak terbangun karena terkejut. Tubuhnya telah basah kuyup dan ia menyilang kan tangan nya di dada karena menggigil kedinginan karena Zein menyiramnya dengan air dingin.
"Wah enak sekali kau tidur pulas di sini ha!". Bentak Zein mencengkeram rambut Celin dengan kuat sehingga sang empu meringis kesakitan.
"Ahh lepas-kan sa-kit ku mohon tu-an!". ujar Celin terbata bata namun Zein semakin mencengkram rambutnya dengan sangat kuat lalu melepaskan nya dengan kasar.
"Argh"... Celin berteriak sambil memegang pipinya karena di tampar dengan kuat sehingga tubuhnya terhuyung kebelakang. Pipi mulusnya telah memerah terlihat jelas bekas jari jari di pipi gadis itu dan bibirnya pecah mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Dengar kau perempuan sialan, saya tidak suka di bantah!" teriak Zein lantang menatap tajam menyiratkan kebencian.
Mendengar itu Celin mendelik, karena merasa fisik nya sangat lah sakit ia menundukkan kepala meredam amarahnya karena kembali di tindas, lalu Celin menatap Zein dengan sorot mata kebencian. Dia sangat membenci lelaki itu, karsna selalu menyakiti dirinya dengan alasan yang sangat sepele.
Ah sakit, sialan kalo begini terus bisa mati konyol gue, tuhan tolong hamba mu ini! Wajahnya sangat mengerikan dasar iblis jadi jadian awas kau.
"Hah berani beraninya kau menatap ku sepeti itu!!" geram Zein menunjuk wajah pembantunya dengan tajam, dia kembali mendekati Celin dan mencekik leher perempuan itu. "Akh le-pas-kan?" ringis Celin menatap Zein dengan tajam nafasnya telah terenga engah karena di cekik Zein.
Argh awas kau bajingan kecil. batinnya lalu zein melepaskan tangannya dari leher Celin karena ia rasa nafasnya akan habis. Zein tidak mau membunuh perempuan itu. Ia pikir akan membunuhnya dengan secara halus. Dia menarik sudut bibirnya, karena mendapatkan mainan yang menyenangkan menurutnya.
Celin terengah engah jika lelaki kejam itu terlambat melepaskan cekikan nya maka nyawa nya benar benar akan melayang. Celin menghirup nafas dalam dalam sambil memegang lehernya karena masih merasakan sakit sehingga meninggalkan bekas kebiruan.
__ADS_1
Setelah puas menyiksa, Zein menarik sudut bibirnya merasa puas lalu meninggalkan gadis itu.
_To Be Continued_