Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 25


__ADS_3

"Hiks hiks"


Celin menangis terisak di dalam bathub, tubuhnya bergetar hebat merasakan sakit tak berdarah. Dia menggosok gosok tubuhnya dengan kuat karena merasa jijik dengan dirinya sendiri, kehormatannya yang telah ia jaga selama bertahun tahun dengan mudahnya direnggut oleh seorang Zein.


"Aku kotor, hiks hiks tubuhku kotor" isaknya pilu.


Siapapun yang melihat keadaannya saat ini pasti akan merasa iba. Entah bagaimana nasib Celin kedepannya, rasanya dia ingin mati saja. Selama dua jam dia menangis di dalam kamar mandi sehingga matanya sembab, dia keluar dengan menggunakan kimono milik Zein.


Dia berjalan pelan, namun baru beberapa langkah dia berhenti melihat ranjang di mana tempat kesuciannya terenggut. Seketika matanya kembali berkaca kaca, tubuhnya melemah rasa perih dan sesak menjadi campur aduk, begitupun dengan selangkangannya yang masih sakit membuatnya sulit berjalan.


"Brukhh"


Celin bersimpuh di lantai, kembali menangisi nasibnya. Rencana apa yang engkau siapkan untuk hamba tuhan, hamba sudah tidak kuat menjalaninya. Batinnya, air matanya kembali luruh seakan tiada henti. Celin memukul dadanya sesak, ada sakit dan benci yang ada di hatinya.


"Aku membencimu, sangat membencimu" pekiknya di dalam hati.


Bi Jum yang di perintahkan Zein untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar, dia terkejut melihat Celin yang bersimpuh di lantai dengan tubuh bergetar di iringi dengan tangisan yang memilukan. Dia langsung meletakan nampan ke atas meja, lalu menghampiri Celin perasaan cemas menyelimuti hatinya.


"Non, kenapa duduk di lantai" ucapnya ikut duduk, Celin mendongak menatap bi Jum, dia langsung memeluk wanita tua itu.


"Bi-bi, hiks hiks" isaknya. Bi Jum langsung mendekap erat tubuh Celin sembari mengelus punggungnya. Dia ikut merasakan sesak di dadanya mendengar tangisan pilu Celin, dia tidak tau apa yang telah terjadi dengan Celin.


"Sudah non, jangan nangis lagi bibi ikutan sedih" ucapnya.


"Sa-sakit bi hiks hiks"


"Di mana sakitnya non" ucap bi Jum, melepas pelukannya menatap Celin iba, dia menghapus air mata Celin yang telah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Celin menggelengkan kepalanya "bi aku ingin keluar dari sini, aku nggak mau di neraka ini" ucapnya menatap bi Jum, berharap bisa keluar dari tempat yang menyeramkan ini.

__ADS_1


Bi Jum hanya bisa terdiam, dia tidak tau harus berucap apa. Baginya mustahil bisa keluar dari tempat ini, mengingat mansion milik Zein berada di tengah tengah hutan, dan penjagaannya sangat ketat, pengawal berada di setiap sudut sangat tipis kemungkinan untuk bisa keluar dari sana kalau bukan Zein sendiri yang mengizinkan.


Setelah tiga puluh menit, bi Jum akhirnya bisa menenangkan Celin, terlihat wajah itu sangat pucat dan mata sembab yang kemerahan akibat terlalu lama menangis dan juga Celin masih demam.


"Makan dulu non" bujuk bi Jum namun Celin, masih terdiam tak bergeming sedikit pun dengan pandangan kosong. Dia sama sekali tak bergairah dan berputus asa.


"Bi aku mau ke kamarku" lirihnya pelan, berada di kamar lelaki yang telah merenggut mahkota berharganya membuat Celin merasakan mimpi buruk menghantuinya. Bi Jum menghela nafas mengiyakan permintaan Celin, dia menuntunnya menuju ke kamar.


Bi Jum sedikit heran melihat cara jalannya Celin sedikit pincang namun dia memilih diam. Sesampainya di kamar bi Jum kembali membujuk Celin untuk mengisi perutnya.


"Aku kenyang bi" ucapnya pelan.


"Kenyang apanya non, non Celin belum mengisi perut sedari kemarin" desah bi Jum.


"Ayo non makan dulu, sesuap aja demi bibi" Celin menoleh kearah bi Jum, menatap wajah yang telah berkerutan itu akhirnya dia membuka mulutnya. Bi Jum menghela nafas lega dengan senang hati bi Jum menyuapkan bubur ke dalam mulut Celin.


Bi Jum menutup pintu perlahan, dia merasa sedih dengan keadaan Celin yang seperti ini, "Apa yang telah terjadi padamu nak, bibi harap semuanya baik baik saja" batinnya lalu pergi membawa nampan kedapur.


Di sisi lain Zein yang merasa prustasi dengan kejadian tadi pagi, dia langsung meninggalkan Celin begitu saja. Saat ini dia berada di kantor sedang mengadakan meeting bulanan, namun dia sama sekali tidak memperhatikan pikirannya melayang mengingat ingat kejadian semalam, beberapa kali William menegur atasannya itu.


"Bagaimana tuan" panggil William, Zein sama sekali tak menggubris sedikit pun.


"Tuan" panggilnya.


"Tuan Zein" panggil William sedikit geram sembari menepuk bahu Zein.


"Ah iya, sampai mana kita tadi" ujar Zein, William menghembus nafas kasar beberapa karyawan dan petinggi perusahaan saling berpandangan, baru kali ini mereka melihat atasannya tidak pokus.

__ADS_1


Zein mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak "hari ini cukup sampai disini, semuanya bubar" tegasnya lalu langsung pergi meninggalkan rapat di ikuti William dari belakang.


Sesampainya di ruangan CEO, Zein menghempaskan badannya di kursi kebesaran miliknya.


"Anda kenapa tuan?"


Zein menghela nafas kasar, mengingat kejadian semalam di mana dia telah mengambil kesucian Celin. Ya bagaimana tidak dia memang di juluki seorang CASANOVA, namun Zein tidak sembarangan melakukannya, dia selama ini hanya sebatas berciuman dan selebihnya kecuali memasuki lobang buana, hal itu lah yang sering membuat wanita bayarannya kesal karena tidak mendapatkan kepuasan sama sekali.


"Aku telah melakukan kesalahan besar" ujarnya prustasi sembari mengacak acak rambutnya. William mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


"Maksud nya tuan?"


Zein memilih diam, belum siap menceritakannya kepada asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Tok tok tok"


Perhatian mereka teralihkan ke arah pintu.


"Masuk" perintah Zein tegas.


"Ceklek"


"Lapor tuan, ada seorang wanita memaksa untuk masuk" ucap sekertaris Zein sembari menunduk.


"Awas minggir kau" ucap seorang wanita mendorong Reni sekertaris Zein.


"Sayaangggg......

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2