
Hallo teman teman, selamat membaca ya jangan lupa tinggalin jejak buat penyemangat author, like komen kalau perlu vote seikhlasnya aja ya😀🤗.
...----------------...
Keesokan harinya, Celin terbangun dia merasa risih dengan sesuatu yang mengusik di wajahnya, dengan mata beratnya dia perlahan membuka matanya mengedip beberapa kali.
"Hacimm"
Celin menggosok hidungnya merasakan debu yang masuk kedalam hidungnya, sontak dia membulatkan matanya dengan apa yang terjadi. Yang benar saja Celin baru terbangun dia dikejutkan saat melihat kaca lebar di depan matanya, penampilan dirinya yang telah mengenakan kebaya putih, dan wajahnya telah di poles sekian rupa.
Celin tercengang tak percaya, bagaimana dia bisa seperti ini seingatnya dia bisa memejamkan matanya jam 4 subuh. Sekarang jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, senyenyak itu kah dia sehingga tak terusik sedikitpun.
Para MUA tersenyum manis melihat Celin "Anda sangat cantik nona" pujinya, namun Celin sama sekali tak bergeming sedikitpun pikirannya masih melayang kemana mana mencerna semuanya.
"Sudah selesai?" panggil suara bariton, sehingga mereka semua melirik kearah sumber suara. Kedua petugas yang di perintahkan untuk memoles Celin, menunduk patuh.
"Sudah selesai tuan!" ucapnya patuh, lalu mulai mengemasi barang barangnya satu persatu, memasukannya kedalam tas.
Zein mematung melihat penampilan Celin, matanya tak berkedip sedikitpun bak melihat bidadari dari surga, memang ia akui Celin memanglah sangat cantik alami tanpa polesan sedikitpun, namun penampilannya kali ini membuat kadar kecantikannya bertambah berkali lipat.
"Ekhem, matanya di kedip ya tuan" ucap MUA tertawa renyah lalu pamit undur diri. Zein gelagapan salah tingkah, dia dengan cepat mengatur ekspresinya. Sedangkan Celin tak tau harus berbuat apa, seketika jantungnya berdetak dengan kencang, dilanda rasa gugup Celin tak berucap sedikitpun.
"Sudah selesai, mau sampai kapan kau di situ?" ujar Zein dingin, lalu menghampiri Celin. Celin sama sekali tak menjawab dia masih terdiam menundukkan kepalanya sembari mencerna semua ini.
__ADS_1
"Ck, cepat kita tak punya banyak waktu" desis Zein, menarik tangan Celin. Sontak ia terkejut namun tak bisa berbuat apa apa langsung mengikuti langkah Zein tanpa banyak protes. Dia mengernyitkan dahinya melihat pemandangan saat dia keluar, ternyata itu adalah hotel. Celin bertanya tanya, sejak kapan dia berada di sini?.
"Hey kenapa aku bisa ada disini?" tanya Celin kesal sembari melepaskan tangannya kasar.
"Kau menculikku?" ucapnya lagi dengan nada meninggi.
Zein menghentikan langkahnya, lalu menatap Celin datar. "Berisik" ketus nya lalu menarik pergelangan tangan Celin.
Celin ingin protes namun dia meredam emosinya penuh dengan kekesalan, karena Zein menyeretnya dengan langkah lebar.
Celin menatap pergelangan tangannya yang di tarik oleh pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu. Setelah masuk kedalam mobil Celin masih belum mengeluarkan satu patah kata, membuat Zein sedikit heran dengan wanita di sampingnya itu yang biasanya membuat telinganya memanas.
"Khem" ucapnya memecahkan keheningan.
Celin seketika melirik kearah Zein, lalu menghela nafas kasar "kita mau kemana?" tanyanya.
"A-apa KUA?" batin Celin resah dia masih belum mencerna semuanya dan tak bisa berfikir dengan jernih.
"Itu kantor urusan agama atau kantor urusan ajal?" ucapnya dalam hati, sembari meremas rok kebayanya, merasa resah menyelimuti hatinya tak percaya dengan pernikahan yang ada di depan mata, Celin tertawa miris dengan takdir yang mempermainkan dirinya, siap tidak siap mampu tak mampu Celin harus menghadapinya apapun yang akan terjadi.
Sesampainya di KUA entah mengapa Celin merasa waktu cepat sekali berlalu, dia meneteskan air matanya di mana kata SAH keluar dari mulut saksi di sana. Di mana pernikahan yang sama sekali tak ia harapkan sebelumnya, tanpa dilandasi dengan kata cinta.
Celin menundukkan kepalanya dalam "Lihat lah ma, putrimu sudah menikah sekarang" batinnya sesak, apa lagi menikah tanpa didekati oleh keluarganya, walaupun dia masih memiliki sosok ayah, haha entah kemanakah sosok yang seharusnya menjadi tempatnya untuk berlindung, Celin sama sekali tak tau.
__ADS_1
"Ekhem" dehem Zein nyaring, sehingga membuat Celin mengangkat kepalanya. Pasalnya penghulu sedari tadi meminta Celin untuk mencium tangan suaminya, namun Celin masih sibuk melamun.
"Nah, sekarang cium tangan suaminya" tutur pak penghulu. Celin mengedipkan matanya, lalu mencium punggung tangan Zein beberapa detik, begitu juga dengan lelaki itu dia mencium kening Celin sekilas.
Celin terdiam tiba tiba merasa canggung, setelah selesai bertukar cincin dan menandatangi surat surat dan buku nikah mereka mendapat patuah dan sedikit nasehat dari pak penghulu. Celin sebenarnya sedikit heran, sebelumnya Zein mengatakan mereka nikah kontrak selama satu tahun, namun kenapa lelaki itu membuat buku nikah seakan akan nikah sungguhan.
*
Sepulangnya Celin menghempaskan tubuhnya di atar ranjang di kamarnya " Aaaa ini mimpi kan" pekik Celin sembari menepuk kedua pipinya.
"Arghh tapi ini sakit" ringisnya
"Haiss yang benar saja, aku sekarang menjadi seorang istri? haha apa apaan ini kenapa harus pria itu, menyebalkan huhu" ujarnya kesal sembari membenamkan wajahnya di atas bantal, entah apalah perasaannya saat ini, sedih marah kecewa menjadi satu.
Celin mendesah pelan "entah apa yang akan terjadi dengan pernikahan konyol ini, apa aku akan semakin tersiksa? ah tidak tidak"
"Apa pun itu, ingat lah iblis kejam aku akan mengikuti permainanmu, jangan harap kau bisa menindasku lagi" ucapnya penuh penekanan, seakan ingin menghabisi Zein.
Celin menyeka air matanya yang lolos dengan kasar, lalu bangkit dengan kesal menuju kamar mandi, dia ingin mandi merasa gerah apa lagi kebaya itu masih melekat di tubuhnya, hal itu juga yang membuat para pelayan menatap Celin heran karena memakai pakaian bak pengantin, sewaktu Celin memasuki mansion beberapa saat lalu.
Kecuali bi Jum yang memang sudah mengetahui hal itu jadi dia tak heran, karena bibi lah yang membantu Zein membawa Celin dalam keadaan tidur tadi pagi, bibi melebarkan senyumnya dari kejauhan.
Begitu juga dengan Lira dia terus mencibir Celin melemparkan kata kata pedas, namun Celin tak ambil pusing, dia terus melangkah masuk tubuhnya lelah apalagi batinnya tersiksa.
__ADS_1
Sedangkan pria yang telah berstatus menjadi suaminya itu entah pergi kemana, Celin sama sekali tak tau lagian juga dia tidak mau tau. Sepulang dari KUA Celin diantarkan oleh William, setelah itu asisten suaminya itu langsung pergi.
_To Be Contined_