Gadis Milik Tuan Muda Kejam

Gadis Milik Tuan Muda Kejam
BAB 34


__ADS_3

Maaf ya atas telatnya author up, lagi sibuk di dunia nyata harap maklum ya.


Terimakasih atas dukungan kalian semuanya.


Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak kalian oky.


...----------------...


Zein keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di lilitkan ke pinggang, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dia memicing melihat pakaian yang telah di siapkan istrinya di atas ranjang.


"Seleranya bagus juga" gumam Zein.


Celin telah selesai menata makanan di atas meja dengan rapi di bantu oleh pelayan, dia menyeka sedikit keringat di dahinya. Awalnya Celin telah di wanti wanti oleh para pelayan agar tidak masuk ke dapur, namun Celin tetaplah Celin dia tidak ingin di larang larang oleh siapapun.


Lira yang berdiri tak jauh di sana menatap Celin sinis "enak ya jadi jalangnya tuan muda" celetuk Lira membuat para pelayan yang mendengarnya menatap wanita itu tajam, mereka tak habis pikir dengan Lira yang sangat suka mencari masalah.


Celin berbalik menatap Lira dingin, dengan gaya angkuhnya dia berjalan menghampiri Lira "Oh iya kah? ingat saya yang menjadi nyonya di sini. Harap kau menjaga sopan santun atau tidak akanku tendang sampai antartika sana" ujar Celin dengan tenang, menatap Lira sinis.


Pelayan yang lain mendengar itu seketika menerbitkan senyumannya, mereka sangat senang melihat istri tuannya tak selemah yang mereka kira.


Lira mendelik menatap Celin sengit sungguh dia sangat membenci perempuan yang ada di hadapannya ini. Lira mengangkat tangannya ingin menampar Celin, namun di urungkan melihat sang tuan rumah menuruni tangga.


Lira tersenyum miring "Cih lihat saja tuan Zein akan bertekuk lutut kepadaku, dan membuang sampah seperti kamu" ucapnya berbisik penuh penekanan, lalu berlalu menghampiri meja makan.


Celin tersenyum mengejek, dia menggelengkan kepala melihat pelayan yang memiliki percaya diri tingkat tinggi itu, memang patut di beri apresiasi. Celin tak habis pikir masih ada orang yang urat malunya sudah putus, tak ingin pusing memikirkan hal tak berguna Celin melangkahkan kakinya, kembali ke dapur untuk menemui bi Jum.


Di sisi lain Lira yang melihat Zein telah duduk di meja makan dengan perasaan senang ingin melayani Zein, Lira berjalan menghampiri tuannya itu penuh percaya diri tak ada rasa takut sedikitpun didalam dirinya.


Beberapa pelayan yang telah berbaris rapi tak jauh dari meja makan, beberapa dari mereka menggeram kesal melihat tingkah Lira yang selalu saja mencari masalah yang akan merugikan dirinya sendiri.


"Memalukan, tamatlah riwayatmu Lira" gumam salah satu pelayan menatap Lira tak suka.

__ADS_1


"Izinkan saya melayani anda tuan" kata Lira mengembangkan senyumannya, sembari mengambil piring.


Zein yang masih fokus menatap iPAd di tangannya, sontak Zein mendongak seraya mengerutkan dahi melihat seseorang yang ingin melayaninya, sedetik kemudian dia melayangkan tatapan tajam.


"Berhenti" bentak Zein nyaring, membuat Lira yang baru saja mencentong nasi terkejut.


"Siapa kau" ujar Zein menggeram dia mengeraskan rahangnya seraya menatap tajam pelayan yang berada di hadapannya.


"Sa-saya....


"Pergi kau, berani sekali pelayan rendahan sepertimu menghampiriku!" bentaknya kasar. Seketika tubuh Lira tegang dia memejamkan matanya erat, ketakutan membalut dirinya membuat tubuhnya bergemetar hebat.


"Apa kau tuli" hardiknya lagi membuat air mata Lira menetes deras, seketika suaranya tercekat. Sungguh Lira tak bisa berkutik sedikitpun dia sangat ketakutan melihat wajah Zein yang mengerikan.


"Pengawal, seret wanita murahan ini" panggil Zein kencang, pengawal yang berada tak jauh dari sana segera melaksanakan perintah.


"Le-lepaskan aku" pekik Lira dengan bibir bergetar.


"Enyalah" geram Zein dingin.


Zein tak berkutik, dia menjentikan jarinya. Kedua pengawal tersebut langsung menyeret Lira ketempat biasanya, Lira terus meronta ronta seraya meraung dengan tangisan histeris. Pelayan seangkatannya hanya bisa terdiam, ada rasa bahagia dan ada rasa iba yang ada di mata mereka, melihat keadaan salah satu pelayan tersebut.


Mereka tak bisa membayangkan hukuman apa yang akan di berikan oleh Zein, sejatinya pemandangan itu bukanlah hal umum lagi bagi mereka. Karena telah banyak yang sengaja memasuki kandang singa membuatnya terbangun dan menerkam mangsanya.


Celin yang mendengar segala bentakan suaminya terlihat santai dia sama sekali tak peduli sedikitpun.


"Bibi ini enak sekali" kata Celin antusias memakan brownies strawberry buatan bi Jum.


"Benarkah, apa kamu suka?" ucap bi Jum lembut dia sangat senang melihat Celin tersenyum seperti sedia kala. Semoga kau selalu bahagia nak batin bi Jum tersenyum tulus.


"Iya ini kue terenak yang pernah Celin makan bi" ucapnya dengan mulut yang penuh dengan makanan membuat bi Jum terkekeh pelan.

__ADS_1


"Pelan pelan pelan non makannya, nanti tersedak"


Celin hanya mengangguk menikmati makanannya dengan santai, tak peduli dengan keributan yang ada di meja makan.


"Celin kemari kau" panggil Zein dengan suara menggelegar. Mendengar namanya di panggil Celin sontak tersedak makanan, dengan sigap bi Jum memberikan segelas air minum. Celin langsung meraih gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas.


Setelah meletakan gelas itu, dia menghembus nafas kasar "Dasar pria menyebalkan" gerutunya.


"Celin" panggil Zein lagi masih dengan nada tinggi. Membuat Celin mendelik kesal.


"Haisss, ingin sekali ku lempari dia dengan granat dasar tuan muda kejam" ujar Celin menggeram kesal.


"Bi aku ke sana dulu, bisa bisanya dia nanti mencabut nyawaku" ucap Celin bergidik sendiri sembari beranjak meninggalkan dapur. Bibi Jum hanya bisa terkekeh lalu tersenyum melihat istri majikannya itu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Emosi Zein sudah berada di ambang puncak, apalagi dia sama sekali tak melihat batang hidung perempuan yang belum lama menjadi istrinya itu.


"Ada apa sih teriak teriak, berisik" ujar Celin menggeram kesal berjalan menghampiri meja makan. Zein menatap tajam perempuan yang telah berstatus istrinya itu. Namun Celin tak merasa takut sedikitpun, mungkin itu dulu namun sekarang dia sama sekali tak gentar.


Zein masih terdiam dingin, namun dia msih melayangkan tatapan tajam lurus ke depan. Celin menghentakkan kakinya kesal dia juga menatap suaminya tak kalah tajam.


"Layani aku"


Celin mendengus memutar bola matanya malas mau tak mau dia harus melayani pria yang telah menjadi suaminya itu bahkan Celin merasa enggan menganggap Zein sebagai suaminya, walaupun pria itu terlihat sangat sempurna. Namun bagi Celin sangat minim adab.


Celin langsung membalikkan piring, lalu mengisi piring tersebut dengan nasi dan lauk pauk yang ada di atas meja. Setelah selesai dia langsung meletakkan piring yang telah terisi di hadapan Zein.


Celin masih berdiri di samping Zein, sembari menggerutu kesal tanpa suara, perasaan dongkol menyelimuti hatinya.


"Cepat dimakan, jika hanya di pandang tidak membuat perutmu kenyang" celetuk Celin mencebik.


Selang beberapa detik, Zein mulai menyendokkan makanannya. Di saat itu juga Celin langsung teringat sesuatu, dia langsung berlari dan menaiki tangga dengan tergesa gesa pemandangan itu tak luput dari mata Zein, dia terdiam namun juga merasa penasaran.

__ADS_1


__ADS_2