Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Kelakuan Joe dan Jane


__ADS_3

Joe mengusap pipinya yang perih akibat terkena tamparan Jane. "Shh," desis Joe, kemudian ia membelalak dengan tatapan intimindasi.


"Kamu sudah berani nenamparku!" bentaknya, lantas ia mendorong pundak Jane sebagai pembalasan, hingga punggung Jane terbentur dinding.


"Aw!" pekik Jane menahan rasa sakit di tulang belakangnya, Joe terus mendekat, lalu menahan tubuh Jane dengan satu tangan yang menempel ke permukaan dinding, ia berupaya mengunci pergerakan gadis tersebut.


"Berani kamu, hah?!" Joe mendekatkan wajahnya dengan wajah Jane, hingga hidung mereka saling bersentuhan, kedua bibir mereka hampir menyatu tinggal beberapa inchi.


Joe terus mendekatkan tepi bibirnya. Namun, dengan gerak cepat, Jane langsung memalingkan wajahnya kearah samping. Sehingga, Joe yang tak sempat mengontrol tubuhnya sendiri, harus menahan rasa ngilu di bibirnya akibat menghantam tembok, hal itu berhasil membuat Jane terkekeh geli.


"Aduh!" keluh Joe sambil mengusap tepi bibirnya karena terbentur, membuatnya harus merasakan sensasi ngilu yang luar biasa.


"Hahah, rasain, emang enak ciuman sama tembok!" ledek Jane yamg seakan puas melihat penderitaan Joe saat itu. "makannya jangan mesum jadi orang!" lanjutnya penuh ketegasan, Joe mendengus kesal.


Akhirnya ia menyerah sambil menarik lengan Jane menuju tempat pembaringan.


"Mau ngapain?" tanya Jane dengan tangan yang gemetar, ia takut jika Joe melakukan sesuatu yang tak semestinya.


Joe mengarahkan jari telunjuk ke arah belakang punggungnya sendiri seraya memerintah, "kerokin punggung aku!"


Jane terperangah dengan mulut yang menganga lebar. "hah? apa gak salah? Masa nyuruh aku buat kerokin?" cecar Jane dengan pertanyaan, karena perintah Joe bukan bagian dari tugas yang seharusnya.


"Perintah adalah tugas! paham?!" ucapan Joe seakan tak ingin di bantah, lantas Jane mengangguk dengan penuh keterpaksaan.


Ia meraih logam dan minyak angin untuk mengerok punggung Joe, karena Joe merasa tak enak badan sehabis pulang dari Bandung.


Jane melakukannya dengan kasar membuat Joe berteriak kencang. "Aww, pelan dong!"


Jane yang kesal tampak menggerutu di belakang Joe saat itu. "apes, apes, mimpi apa aku semalam? kenapa harus bertemu dengan mahkluk ini lagi sih?"


"Hmm, lumayan nih perempuan, bisa aku manfaatin," batin Joe dengan seringai lebar sambil menikmati kerukan di punggungnya.


"Merah tidak?" tanya Joe.


"Iya!" jawab Jane, sementara lengannya masih berselancar di punggung Joe dengan logam yang di genggamnya.


Seusainya, Joe langsung membalikan tubuh, lalu rebahan di atas tempat tidur, sehingga otot-otot kekar di lengan dan perutnya terlihat dengan jelas dan nyata.


Sedangkan, Jane langsung membetulkan lengan kemeja yang sejak tadi terlinting usai mengerok punggung Joe.


"Belum selesai!" kata Joe, ucapannya kembali membuat tensi darah Jane naik.


Jane mengangkat wajahnya, lalu bertanya, "apa lagi?"


Kali ini, Joe memintanya untuk memijat bagian dada, Jane dengan malas memutar kedua mata karena merasa keberatan dengan permintaan aneh sang atasan.


"Cepat, perintah adalah tugas!" titahnya dengan tegas, dan Jane mengangguk secara perlahan.

__ADS_1


Ia membubuhi dada Joe dengan minyak angin yang membuat hidung dan kedua matanya perih dan pedas.


"Udah kaya aki-aki saja!" gumam Jane dengan suara yang pelan hampir tak terdengar. Namun, indra pendengaran Joe mampu menangkap kata-katanya.


"Apa kamu bilang? Aki-aki?" Joe yang tak terima dengan ledekan Jane langsung bangkit dari berbaringnya, lalu menatap buas wajah Jane yang terlihat kikuk.


Gadis itu bersusah payah mengulum senyum di hadapan Joe sambil menahan tawa.


"Enak saja kamu mengataiku Aki-aki! aku ini baru 29 tahun!" ucap Joe dengan tegas, Jane tertunduk karena ia malas untuk berdebat dengannya.


Joe meraih pergelangan tangan Jane, hingga tubuh Jane terjatuh menimpanya.


Jane merasakan otot-otot di perut Joe menempel dengan tubuhnya. Sementara, Joe merasakan dua gunung kembar Jane merekat dengan dadanya, sungguh posisi nyaman bagi Joe, tetapi, tidak bagi Jane.


Jane berusaha keras untuk bangkit. Namun, tenaganya kalah dari Joe.


Kedua mata mereka saling bertemu nyaris tak mampu berkedip selama beberapa detik, Jane bisa merasakan hembusan napas Joe, begitupun sebaliknya.


Joe sudah tak sabar untuk merasakan sentuhan bibir Jane. Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering, hal itu berhasil membuyarkan aktifitas keduanya.


"Aish!" Joe mengusap wajahnya kesal, lalu ia menyambar benda pipih yang ia taruh diatas nakas.


Joe harus mengangkat panggilan dari sahabatnya, Zico. Ia menggeser layar ponselnya keatas untuk menjawab. "Halo, Zic, ada apa?" tanya Joe yang dalam posisi duduk bersandar di tempat tidur kantor. "Joe, sorry ya, aku baru kasih tahu sekarang, kalau aku hari ini tidak masuk kantor. Sumpah demi apapun, badanku meriang gara-gara insiden kemarin!" Papar Zico memberitahu kondisinya yang semakin parah, karena merasakan reaksi meriang akibat luka di siku, dahi, dan juga lututnya.


Joe mengangguk, ia pun sama-sama merasakan, hanya saja ia tak separah Zico. "Oke, kamu istirahat saja," titah Joe."kamu sudah menghubungi Dokter?" tanyanya dengan khawatir, dan Zico terkekeh seperti salah tingkah. "Udah, aku panggil Dokter Zea, aku suruh dia datang kerumah, hehehe," jawab Zico, dan Joe langsung memakinya dengan nada gurauan. "Eh, kunyuk! Kamu itu cuma modus doang panggil dia kerumah! Lagian, Zea itu bukan Dokter, dia hanya siswi praktek! Awas kalau sampai kamu apa-apain!" Joe berusaha memperingatkan Zico.


Zico dan mantan tunangannya, Tiara, mereka sudah melakukan hal diluar pernikahan. Maka dari itu, Joe tak ingin Zico mencari pelampiasan kepada sembarang perempuan, terutama kepada Zea yang terlihat masih polos.


Zico terdengar tertawa lepas di seberang telepon. "Iya, iya, aku tau, Joe. Tapi kan, siapa yang bisa menolak perawatan dari seorang siswi praktek yang cantik seperti Zea?" Zico menjawab dengan nada ceria.


Joe hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar ucapan temannya. "Baiklah, baiklah, hati-hati ya, Zic, kalau sampai kamu macam-macam sama anak gadis orang, kau akan tahu sendiri akibatnya," ancam Joe serius. "Jangan lupa beristirahat dengan baik, dan pastikan untuk mengikuti saran dari Zea, meskipun dia hanya siswi praktek." sambungnya.


Tak lama setelah itu panggilanpun berakhir, Joe kembali menaruh ponselnya diatas nakas.


Sedangkan Jane terlihat tengah mengoceh tanpa menimbulkan suara dengan gerak mulut yang cepat, ia tak sadar jika Joe sedang memperhatikannya.


"Sok, sok nasihatin temannya, dianya sendiri mesum begitu!" gerutu Jane.


"Heh!" Joe berupaya menyadarkan Jane yang tengah sibuk dengan ocehannya, lalu Jane menoleh.


Tampaknya kali ini Jane mulai jengah berada di kamar pribadi Joe, ia lantas menekuk wajahnya sambil memukul-mukuli permukaan tempat tidur.


"Kamu kenapa?" tanya Joe yang saat itu kembali merapihkan pakaiannya.


"Aku ingin keluar dari sini Bambang!" rengek Jane, Joe yang sedang membetulkan kancing kemeja langsung membelalak mendengar Jane memanggilnya dengan nama 'Bambang.'


"Bambang, Bambang! Namaku Joe, Jonathan Tanadi, bukan Bambang, dasar Romlah!" Joe balas meledek Jane.

__ADS_1


"Romlah, Romlah, enak saja! Namaku Jane, nama lengkapku Jenifer Jane, ngerti ora?!" Jane tak ingin kalah berdebat dengan Joe.


Joe malah tertawa lepas melihat ekspresi kekesalan yang terpancar dari raut wajah Jane sambil terus meledek Jane dengan nama 'Romlah.'


"Romlah, Romlaaah, Romlah, Romlaaah," ledek Joe sambil menggoyang-goyangkan lengannya seperti seorang penari tradisional, hal itu berhasil membuat Jane semakin kesal dan murka.


Jane meraih bantal, kemudian ia jejal ke wajah Joe.


"Berisik!" teriak Jane.


Joe semakin menjadi-jadi, ia merasa nikmat bisa menertawakan kekesalan Jane.


"Namaku Jane, bukan Romlah!!!" teriak Jane kembali dengan emosi.


"Suut!" Joe meletakan jemari di ujung bibirnya, mengisyaratkan Jane untuk diam.


"Iya Jane, sorry," ucapnya. "Jane, kau masih gadis atau sudah Janda?" sambungnya meledek sambil bersenandung, membuat Jane semakin murka terhadap Joe.


"Cukup ya! kamu itu sudah bikin aku darah tinggi!" bentak Jane, Joe seakan memiliki hiburan baru dengan kehadiran Jane di dekatnya.


Sesudah Joe merapihkan pakaiannya, mereka berdua keluar dari dalam kamar.


"Jane, bikinin aku kopi!" titahnya, membuat Jane kembali memutar kedua matanya jengah, karena itu sama sekali bukan tugasnya.


Jane bergegas keluar dari ruangan Joe, lalu melangkah menuju pantry. Awalnya ia tersesat karena baru pertama kalinya ada di perusahaan tersebut. "Bang, Pantry sebelah mana, ya?" tanya Jane bingung. "Sebelah kiri, Bu," jawab Erwin seorang Office Boy. Jane kembali berjalan sesuai arahan Erwin. Pada akhirnya ia menemukan ruangan tersebut.


Ia berusaha meraih cangkir yang tersimpan dalam rak tepat di atas kepalanya. Benda itu hampir saja terjatuh mengenai kepala Jane. Namun, dengan sigap, seorang pria bertubuh tinggi berhasil menahannya. Sementara, Jane memejamkan kedua mata dengan posisi kedua tangan melindungi kepalanya dari kemungkinan bahaya yang akan terjadi.


Perlahan, ia membuka kedua matanya kembali ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di dekatnya.


Reflek, kedua manik indahnya langsung membola dengan sempurna. "Wah, gantengnya," gumam Jane ketika menatap wajah Irsan, salah satu karyawan Jonathan. Irsan memang memiliki fisik sempurna dan berwajah tampan dengan halis tebal dan kedua mata yang bulat, serta hidung mancung yang menggoda.


Jane tak bisa berhenti menatap kesempurnaan yang ada pada diri Irsan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Irsan, dan Jane menggeleng sambil tersenyum. "Ti...tidak," jawabnya. "Ya sudah, saya permisi," pamit Irsan yang saat itu baru saja meneguk air minumannya.


Jane terpesona sambil menatap punggung Irsan saat lelaki itu berlalu.


"Udah ganteng, kalem, baik, beda jauh sama si tokek kurapan yang pecicilan itu!" cibiran Jane yang tertuju pada Jonathan.


Jane tahu, ia dan Irsan jelas-jelas berbeda suku, dan mungkin keyakinan mereka juga berbeda. Tapi, entah mengapa, Jane ada ketertarikan pada pandangan pertama terhadap Irsan.


Kini ia kembali tersadar setelah terdiam beberapa saat mengingat peristiwa barusan.


"Oh iya, aku kan harus membuatkan kopi buat si tokek kurap!" gumamnya kesal. Bahkan, Jane melakukannya seakan tak ikhlas.


"Ngapain ada OB atau OG, kalau dia suruh aku?" gerutunya, sampai-sampai ia salah memasukan sesuatu kedalam kopi tersebut. Ia menambahkan serbuk michin yang dikira gula pasir.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2