
Jane bersiap-siap, ia lalu keluar dari dalam kamarnya, kemudian turun untuk menikmati hidangan sarapan.
"Oma..." Jane menyapa Oma Widya dengan seulas senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.
"Jane, kau jadi interview kerja hari ini?" tanya sang Oma saat memperhatikan penampilan cucunya yang begitu rapih dan cantik di balik seragam hitam-putih yang di kenakannya.
"Ya, Oma, doakan aku ya, mudah-mudahan aku lolos," kata Jane penuh semangat dan ceria.
Lantas Mbak Ani turut berkomentar, "Wah, Non Jane terlihat sangat cantik sekali, pasti Non langsung terpilih menjadi kandidat terbaik." Mbak Ani melihat potensi yang ada pada diri Jane.
Jane tersenyum, di balik sikap bar bar-nya, ia masih bisa memperlihatkan sisi manis dan anggun yang membuat orang terkesan.
"Amin, Mbak Ani, doakan aku ya," balas Jane sambil menyantap sandwich tuna yang sudah dibuatkan oleh Mbak Ani untuknya.
Sesudahnya, Jane bangkit dari duduk, kemudian kembali merapihkan seragamnya.
"Semuanya, aku berangkat, ya," pamit Jane, terdengar derap langkah sepatu pantofel yang dikenakannya.
Ia keluar dari dalam rumah, lalu naik kedalam mobil kesayangannya yang terparkir di halaman depan.
Tak lupa, ia menata kembali riasan di wajahnya. Jane meraih cermin kecil berbentuk persegi dari dalam tas, lalu ia arahkan benda tersebut tepat ke wajahnya, dan ia merasa ada sesuatu yang kurang.
Ia kembali membuka tasnya, setelah itu mencari lipstick yang sesuai untuk penampilannya kali ini.
Ia selalu membawa beberapa makeup, terutama lipstick dengan berbagai macam jenis dan warna untuk persiapan.
"Ah, aku pakai yang ini saja deh." Jane mengeluarkan lipstick berwarna nude untuk mempercantik bibir mungilnya.
Sehingga, sebelum melaju, ia mengenakannya terlebih dahulu.
"Sempurna!" gumamnya ketika usai menambah warna di bibirnya.
Ia lalu tancap gas, dan segera meluncur menuju perusahaan.
Degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, karena ini merupakan kali pertama ia akan menjalani wawancara kerja.
Jane menghembuskan napas beratnya, seketika telapak tangannya berubah menjadi dingin.
"Jangan gugup Jane, rileks," gumamnya dalam hati sesekali memejamkan kedua matanya singkat untuk menghilangkan perasaan grogi.
Tiba-tiba, ia harus menghentikan laju mobilnya saat di perempatan, karena lampu merah.
Di tengah rasa gerogi yang menyelimutinya, ia menatap kaca jendela mobil.
Di jalanan terdapat aksi-aksi hiburan dari badut kostum yang tengah bergoyang, mulai dari kostum Doraemon, Boboboy, Naruto dan lain sebagainya.
Di sudut lainnya, ia melihat aksi manusia silver dengan berjalan laiknya robot sambil membawa kotak yang terbuat dari kardus.
Jane membuka sedikit kaca mobilnya, lalu maju perlahan. Ia menyodorkan beberapa uang kepada mereka yang mendekat.
__ADS_1
Tak berhenti sampai disitu, tiba-tiba seorang pria berpakaian wanita menghampirinya, lalu memainkan alat musik yang mirip kecapi. Namun, ia sandang di bahunya mengenakan tali.
Wanita setengah pria itu mulai bernyanyi dengan suara yang sengau sambil berdendang. "Kewer, kewer, kewer, ambyar...." begitulah lirik yang ia nyanyikan, lagu yang ia buat dan kreasikan sendiri untuk mencari sesuap nasi.
Aksinya membuat Jane tertawa. Ia mendengarkan lagu tersebut sampai akhir, sesudahnya, barulah ia menyodorkan uang kepada wanita setengah pria tersebut, membuatnya teramat kegirangan dan bersyukur atas kebaikan Jane.
Setelah lampu lalu lintas sudah berubah hijau, Jane kembali melanjutkan perjalanannya membelah kota Bandung yang mulai padat pada hari senin pagi.
Tak butuh waktu lama, ia sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Ketika dia tiba di perusahaan, Jane memarkir mobilnya dengan hati-hati dan memeriksa dirinya sekali lagi di kaca spion. Ia ingin memastikan penampilannya tetap sempurna sebelum memasuki gedung kantor.
Jane melangkah ke dalam perusahaan dengan langkah mantap. Seorang resepsionis menyambutnya, dan ia memberikan nama serta tujuannya untuk wawancara. Resepsionis tersebut dengan ramah memberikan petunjuk, lantas ia berkata, "tunggu sebentar ya, Bu, saya harus menghubungi Divisi HRD."
Jane mengangguk, lalu ia duduk di atas sofa yang tersedia di lobi.
Jane duduk di lobi dengan perasaan gugup yang semakin mendalam ketika melihat sembilan kandidat lainnya. Mereka semua tampak serius dan berkumpul dalam keheningan yang tegang, masing-masing dalam persaingan untuk menjadi Sekretaris Pribadi Jonathan alias Joe.
Tidak lama setelah Jane dan calon-calon lainnya berkumpul di lobi perusahaan, muncullah Timothi, sang Kepala Divisi HRD. Dengan penuh wibawa, dia menghadapi semua kandidat secara langsung, menambahkan sedikit tensi dalam ruangan.
"Kalian yang mau diwawancara sekarang ya?" tanya Timothi dengan tegas, dan semua calon menjawab dengan serentak, "Ya, Pak."
Timothi kemudian memandu mereka untuk naik ke lantai 2, tempat wawancara akan berlangsung. Di sana, calon-calon itu akan ditemui oleh Timothi dan Amel, sang asisten HRD.
Setelah sampai di lantai 2, mereka dipanggil satu per satu untuk wawancara di ruangan Timothi. Amel yang membantu dalam proses tersebut, memanggil calon pertama dengan tegas, "Alea Rismaya."
Alea bangkit dari tempat duduknya dengan langkah mantap, lalu ia berjalan menuju pintu ruangan Timothi. Di balik pintu tersebut, ia siap untuk menghadapi pertanyaan dan penilaian yang akan menentukan nasibnya di perusahaan tersebut.
"Permisi," ucapnya dengan suara lirih saat memasuki ruangan. Timothi menyambutnya dengan senyuman dan mempersilahkannya untuk duduk. Jane mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya masih berdebar.
Wawancara berlangsung dengan baik. Timothi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Namun, Jane mampu menjawabnya tanpa melakukan kesalahan yang signifikan. Ia memberikan jawaban yang meyakinkan dan memperlihatkan pengetahuan serta keterampilan yang dimilikinya.
Selanjutnya, Timothi memberikan instruksi pada Jane untuk berdiri tegak. Ia diminta untuk memperkenalkan diri menggunakan tiga bahasa sesuai persyaratan perusahaan, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
Jane bangkit dengan percaya diri, dan dengan lancar, dia memperkenalkan diri dalam ketiga bahasa tersebut. Ia memberikan informasi singkat mengenai latar belakang, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya, menunjukkan kemampuan multibahasa yang impresif.
Setelah presentasi diri selesai, Jane kembali duduk dengan harapan bahwa penampilannya yang baik akan meninggalkan kesan positif pada panel wawancara.
Setelah proses wawancara selesai, para calon Sekretaris Pribadi Jonathan diminta untuk menunggu keputusan terberat. Mereka duduk dalam ketegangan, berharap bahwa usaha mereka akan membuahkan hasil positif.
Sementara itu, di dalam ruangan, Timothi dan Amel sedang berunding untuk menentukan siapa yang layak menjadi Sekretaris Jonathan. Mereka memiliki pandangan yang berbeda, dan diskusi ini menjadi penting untuk memutuskan siapa yang akan mendapatkan peran itu.
Amel memulai dengan memberikan pendapatnya, "Saya sih cocok dengan Alea, dia kelihatannya pintar dan punya inisiatif yang bagus." Amel menilai keterampilan dan keunikan yang dimiliki oleh Alea, dan dia yakin bahwa Alea adalah kandidat yang tepat.
Namun, Timothi berpendapat sebaliknya, "Kalau menurut saya, sepertinya Jenifer Jane lebih pintar, terutama bahasa Mandarin yang dia kuasai sangat fasih. Bukankah itu yang dibutuhkan Pak Jonathan?" Timothi lebih memperhatikan kemampuan Jane dalam bahasa Mandarin, yang merupakan kualifikasi khusus yang dibutuhkan dalam peran tersebut.
Amel merasa kecewa karena Timothi tidak memiliki pendapat yang sama dengannya. Dia merasa bahwa Alea adalah pilihan yang lebih baik, namun, dia merasa sulit untuk mempengaruhi keputusan Timothi.
Timothi dan Amel terus berdiskusi, mencoba mencari titik temu. Akhirnya, Amel mengalah, "Hmm, ya sudah, terserah saja!" Ia menerima bahwa kadang-kadang perbedaan pendapat tidak bisa dihindari, dan keputusan akhir ada pada Timothi.
__ADS_1
Setelah berdiskusi intensif, Timothi dan Amel keluar dari ruangan keputusan untuk menemui para kandidat yang menunggu dengan cemas. Mereka berdiri di depan calon Sekretaris Pribadi Jonathan dengan sikap serius.
Timothi mulai mengatakan, "Kami telah mempertimbangkan dengan matang semua calon yang hadir hari ini, dan kami ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua atas partisipasinya."
Tegang di antara para calon mulai meruncing, dan semuanya menunggu dengan nafas tercekat.
"Namun," lanjut Timothi dengan senyum hangat, "kami hanya bisa memilih satu kandidat, dan orang yang terpilih adalah 'Jenifer Jane'."
Jane tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia sangat bersyukur dan tersenyum bahagia sambil mengucapkan terima kasih kepada Timothi dan Amel. Sementara ia merayakan keberhasilannya, sembilan calon lainnya harus menelan pil pahit atas kegagalan mereka saat itu.
Timothi mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Jane. "Selamat ya, Jenifer," ucapnya dengan tulus.
Amel juga menyapa Jane dengan ramah, "Jenifer, saya ucapkan selamat bergabung di perusahaan kami."
Timothi kembali mengajak Jane ke ruangan pribadinya untuk berbicara serius.
"Jenifer, berhubung kau terpilih menjadi Sekretaris Pak Jonathan, maka hari ini juga kau di tugaskan di Jakarta," kata Timothi, Jane mau tak mau harus mengikuti intruksinya.
Karena untuk masuk ke perusahaan tersebut butuh perjuangan, dan hanya orang yang beruntung.
"Saya akan melaksanakan tugas ini dengan sepenuh hati dan dedikasi," ujar Jane dengan tekad yang kuat.
Timothi tersenyum puas, "Itu dia, Jenifer. Saya harap kau akan memberikan yang terbaik."
"Jadi, hari ini juga saya harus berangkat ke Jakarta untuk mendatangi kantor pusat?" Jane kembali bertanya untuk meyakinkan.
"Ya," jawab Timothi.
Setelah itu, Jane keluar dari gedung kantor, dengan wajah bingung.
Jane mengantongi alamat kantor pusat di Jakarta. "Duh, itu artinya aku harus berkemas dan meminta izin kepada Oma untuk berangkat ke Jakarta?" gumam Jane. Tanpa banyak berpikir, ia kembali menuju ke parkiran lalu mengendarai mobilnya dan hendak kembali ke rumah karena harus mempersiapkan beberapa pakaian yang akan ia bawa untuk tinggal di Jakarta.
Joe, yang merupakan atasan dari calon Sekretaris yang baru saja terpilih, merasa penasaran dan ingin mendapatkan kabar langsung. Ia lantas menghubungi Timothi melalui telepon.
"Halo Timo," sapanya dengan suara tegas saat Timothi menjawab panggilannya.
"Ya Pak," balas Timothi dengan hormat.
Joe langsung ke inti, "Kamu sudah memilihkan Sekretaris untuk saya?"
Timothi mengangguk, meskipun Joe tidak bisa melihatnya. "Sudah Pak, saya rasa pilihan saya ini tepat. Saya juga telah memberitahunya untuk segera berangkat ke Jakarta hari ini."
Joe mendengarkan dengan serius. "Baiklah, terima kasih. Ingat, Timo, jangan sampai membuat saya kecewa dengan pilihanmu!" peringatannya tegas.
Timothi merasa tegang namun percaya pada pilihannya. "Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Pak. Dia adalah kandidat yang sangat berkualitas."
Jane belum tahu, ia akan berhadapan dengan siapa.
Bersiaplah Jane! hahaha....
__ADS_1
....
Bersambung