
Jane beranjak sambil merapikan pakaiannya yang sedikit terkoyak akibat tindakan Joe. Di sisi lain, Joe merasa sangat bersalah dan terpukul oleh perbuatannya terhadap Jane karena terlalu berani menjamahnya.
"Joe, mungkin lebih baik aku mencari kontrakan sendiri," kata Jane dengan wajah penuh kekecewaan terhadap Joe.
Joe menggeleng, berusaha meminta Jane untuk tetap tinggal, dan berharap bahwa Jane akan menerima permintaan maafnya.
"Jane, tolong, kamu tidak boleh tinggal sendirian di Jakarta. Ini sangat berisiko, terutama untuk seorang wanita cantik sepertimu," Joe mengungkapkan kekhawatiran besar terhadapnya, meskipun ia baru saja mengenal Jane.
Jane menengadah, menatap wajah Joe dengan sinis dan ia berbisik dalam hati, "justru kamu yang berbahaya, Joe!"
"Jane." Joe meletakan kedua telapak tangan di kedua bahu Jane sambil menatap kedua matanya dengan intens, semakin lama membuat Joe semakin terperangkap dalam pesona yang dimiliki oleh Jane.
"Aku sebenarnya tak rela kalau sampai kamu di incar pria lain, Jane," batin Joe sambil menyelipkan rambut Jane ke belakang telinganya.
"Sudahlah Joe, aku cape!" Jane melangkah, kemudian membuka daun pintu ruangan tersebut.
Tiba-tiba seorang bocah laki-laki berteriak, "Ongkel...!" Jane mendongak kebawah mengamati pergerakan bocah laki-laki tersebut.
Joe segera memberikan pelukan hangat sambil mengangkat tubuhnya. “Eh, jagoannya ongkel, kamu datang sama siapa kesini?” tanya Joe sambil mengecup manja kedua pipi bocah berusia 4 tahun itu dengan gemas. “Aku datang sama Mama,” jawabnya dengan suara cadel.
"Oh, terus dia kemana?" tanya Joe sambil membawanya ke ruangan lain. "Mama pergi lagi, katanya sedang ada urusan diluar, makannya aku di bawa kesini," jawab bocah bernama Brian. Mendengar jawaban Brian membuat Joe murka, pasalnya adiknya sering kali menitipkan anak kepada Joe tanpa permisi, tidak peduli jika Joe sedang di pusingkan oleh tugas-tugasnya, karena dengan adanya Brian membuat pekerjaanya menjadi terhambat.
"Kebiasaan si Rosa ini!" umpatnya kesal terhadap Rosa, sang Adik. Karena Rosa merupakan single parent setelah bercerai dengan suami yang tidak bertanggung jawab.
Jane merasa tertarik untuk bermain dengan Brian. Brian mengamati Jane dari kejauhan dan bertanya pada Joe, "Oncle, itu siapa?" tanya Brian dengan ekspresi polosnya sambil mengamati Jane.
"Oh, hehe, dia... Teman oncle," jawab Joe, khawatir Brian akan memberitahu kedua orangtuanya tentang Jane.
Joe memanggil Brian, dan bocah tampan itu mendekat. "Apa?" tanya Brian.
"Brian, kamu bisa pegang janji?" Joe tersenyum padanya, dan Brian mengangguk dengan antusias.
"Mau janji apa?" tanya Brian dengan serius.
"Brian, jangan bilang pada Oma dan Opa bahwa oncle membawa teman perempuan ke sini, ya. Kamu harus bisa menjaga rahasia," kata Joe dengan tegas, dan Brian mengangguk dengan penuh kepolosan.
Joe mengaitkan jari kelingkingnya dengan Brian, dan bocah itu dengan cepat mengikuti gerakan tersebut. "Anak pintar," kata Joe sambil mengusap lembut pucuk rambut Brian.
__ADS_1
Jane tersenyum melihat keakraban antara Joe dan ponakannya, Brian. "Kakak..." panggil Brian sambil melambaikan tangannya ke arah Jane.
"Jane, mari kemari!" Joe memanggil Jane untuk bergabung bersama mereka.
Jane melangkah dan duduk di sisi Joe sambil menarik dress mininya agar menutup pahanya yang sedikit terbuka. "Hai anak ganteng, siapa namamu?" tanya Jane sambil mengulurkan lengannya, dan Brian tersenyum sambil menyambut uluran tangan Jane.
"Namaku Brian Imanuel," jawabnya sambil mengeja, suara cadel Brian terdengar menggemaskan, dan Jane tersenyum mendengarnya. "Wah, nama yang bagus, Brian," puji Jane.
"Nama Kakak cantik, siapa?" tanya Brian, menunjukkan kepekaannya terhadap kecantikan Jane.
"Hehe, nama saya Jennifer Jane, panggil saja Kakak Jane," jawab Jane dengan senyum, dan Brian meresponsnya dengan mengedipkan satu matanya genit.
"Eh, Brian, jangan begitu kalau lihat perempuan cantik!" protes Joe, tidak ingin Brian menggodanya.
Jane tertawa, merasa senang dengan tingkah Brian yang lucu dan tak terduga.
"Kakak cantik..." seru Brian dengan polos, dan Jane meresponsnya dengan senyum.
"Apa adik ganteng?" tanya Jane dengan ramah, membuat Brian tersenyum manis.
"Brian...!" seru Joe, seakan tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut bocah seusia Brian.
"Kamu itu, kecil-kecil sudah genit!" Joe mencoba memarahi Brian, tapi bocah itu malah tertawa geli.
Brian menggenggam tangan Jane, lalu mengelusnya sambil ngedipkan satu matanya. “Kakak cantik,” panggil Brian, Joe langsung mengeluarkan napas beratnya. "Bryan!!!" teriak Joe, Brian semakin nekat mendekati Jane.
"Kamu itu masih kecil!" cegah Joe terhadap aksi Brian yang terlalu berani. “Memangnya kenapa?” tanya Brian membuat ekspresi meledek sambil menjulurkan lidah.
"Sana pergi main ke taman belakang!" titahnya, dan Brian menaik turunkan pundaknya dengan cepat. "Tidak mau, aku mau disini saja sama Kakak cantik." Brian menggenggam lengan Jane dengan erat lalu mengelusnya.
"Astaga, kelakuan bocah zaman now!" Joe menggelengkan kepala karena tak habis pikir terhadap kelakuan Brian.
Jane mengusap lembut kepala Brian. "Brian, bagaimana kalau kita belajar bersama, kamu setuju?" ajak Jane dengan senyuman lembut. Awalnya, Brian menggeleng, tetapi Jane terus membujuknya dan mengajaknya belajar.
"Ya sudah deh, aku mau belajar kalau diajari sama kakak cantik," kata Brian dengan senyuman manis, kembali bergelayut pada Jane.
Joe membawakan beberapa buku untuk Brian, dan dia senang melihat kedekatan Jane dengan ponakannya.
__ADS_1
"Bubu, Didi, BUDI. Nana, Nini, NANI," Jane membantu Brian dengan pelafalan kata-kata, dan Brian mengikutinya dengan antusias.
Joe tersenyum melihatnya, senang dengan cara Jane membantu Brian belajar, dan dia terpesona oleh kecantikan Jane yang begitu menggoda.
Semua ini membuat suasana semakin hangat dan akrab di antara mereka bertiga.
***
Sementara itu di tempat yang berbeda..
Zico tengah berjongkok di depan kobaran api, genggamannya terisi oleh beberapa foto prewedding yang menampilkan dirinya bersama Tiara.
Dengan penuh amarah dan kekecewaan yang mendalam, Zico sobek lembar demi lembar foto tersebut.
Dengan gerakan tajam, ia melemparkan potongan-potongan foto ke dalam kobaran api, yang segera melahap potret mereka hingga yang tersisa hanya abu. Wajah Zico mencerminkan rasa kebencian yang mendalam terhadap Tiara.
Pernikahan yang selama ini mereka rencanakan dan impikan kini pupus, meninggalkan perasaan pahit dan kesakitan yang mendalam. Zico merasakan semua harapannya hilang begitu saja.
Zico berdiri dari posisinya, menghirup napas panjang sambil menengadah ke langit malam yang tanpa bintang, seolah mencerminkan suasana hatinya yang gelap. Dalam keheningan malam itu, ia mengeluarkan napas berat, merasa kecewa, marah, dan terluka.
Semua rencana yang telah dibuat dan masa depan yang mereka impikan sekarang hanya tinggal kenangan yang sudah hancur berkeping-keping.
Walaupun Zico mulai merasakan ketertarikan terhadap Zea, rasa cintanya terhadap Tiara masih bersemanyam di dalam hatinya.
Setelah menjalani hubungan asmara yang berlangsung selama bertahun-tahun, tidak mudah untuk memadamkan perasaan tersebut, bahkan ketika ada orang lain yang jauh lebih baik sekalipun.
Zico merasa perlu untuk terus maju dan melanjutkan hidupnya. Ia tahu bahwa larut dalam kenangan dan kehancuran hati akan menyakitkannya lebih dalam. Ia mengambil tekad kuat untuk menjalani proses "move on" yang kadang-kadang sulit.
Ia ingin menghapus kenangan manis yang selama ini dia bagikan bersama Tiara agar bisa membuka jalan bagi sesuatu yang baru dan lebih baik di masa depan. Meskipun tidak mudah. Namun, tekadnya untuk bangkit kembali dan mencari kebahagiaan baru semakin menguat setiap harinya.
Zico memutuskan untuk menghubungi Zea dan berbagi perasaannya yang sedang gundah. Zea dengan senang hati menerima panggilan dari Zico, terlihat berbinar-binar di kedua mata indahnya, seolah-olah perasaannya terhadap Zico telah tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di Ciwidey.
Mereka berbincang dengan hangat, dan Zico merasa bahwa pembicaraan dengan Zea bisa mengalihkan perhatiannya dari kenangan Tiara.
Zea yang penuh tawa dan ceria berhasil membuat bayang-bayang Tiara semakin pudar dalam ingatan Zico. Zea menghadirkan kesejukan baru dalam hidupnya, dan pertemuan ini membuatnya semakin yakin bahwa ada kemungkinan untuk membuka babak baru dalam hidup Zico.
Bersambung...
__ADS_1