Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Makan malam romantis


__ADS_3

Zico begitu asyik saat berbincang dengan Zea seolah hilang semua penat dan permasalahan hidupnya. “Zea, kamu sudah makan?” tanya Zico sebagai bentuk perhatian kecil terhadap Zea.


"Hmmm... Kalau udah kenapa? Kalau belum juga kenapa?" Zea menimpalinya dengan candaan agar suasana tak terlalu tegang, pikirnya.


"Kalau sudah ya bagus, kalau belum ya makan lah, sayang," titah Zico dan membuat Zea tak henti-hentinya mengembangkan senyum ketika mendengar kalimat 'sayang' terucap dari mulut Zico saat itu. "Jawab jujur ​​atau bohong?" tanya Zea, dan Zico terkekeh.


"Jawab jujur ​​lah sayang, masa bohong," timpal Zico membuat hati Zea berbunga-bunga. “Jujur, aku belum makan,” jawab Zea membuat Zico menjadi sangat khawatir, dengan berbagai kata-kata ia membujuk Zea untuk segera makan. “Ya udah, tunggu aku kesana, kita makan malam bareng,” ajaknya, dan itulah yang diinginkan oleh Zea. Zico masuk ke dalam rumah, lalu meraih kunci mobil. Sebelum pergi, ia bersolek terlebih dahulu karena ingin tampil berkesan di hadapan Zea meski luka di hatinya masih belum pulih.


Begitu juga dengan Zea yang berada di rumahnya. Ia mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan di dalam lemarinya. Lalu ia berdandan secantik mungkin. Saat ia keluar dari dalam kamar, ia mendapat beberapa pertanyaan dari kedua orangtuanya.


“Zea, kamu mau kemana?” tanya sang Ibu saat melihat putrinya sudah tampil cantik meski hanya mengenakan jeans, t-shirt yang dipadukan dengan hoodie. "Aku mau makan malam di luar, Ma," jawab Zea tanpa ragu.


"Sama siapa?" sang Ayah ikut bertanya. “Sama teman, Pah,” jawab Zea dengan senyuman kepada kedua orangtuanya saat itu. Dengan berbagai upaya Zea meyakinkan keduanya agar jangan terlalu khawatir, karena ia pergi dengan orang yang baik.


 Tak butuh waktu lama, Zico sudah sampai tepat di depan rumah Zea. Ia segera menghubunginya, lalu gadis itu mendekati. “Kak Zico,” panggil Zea sambil berlari kecil kearah mobil Zico, dan ia membuka kaca jendela mobilnya kemudian balik menyapa Zea.


"Zea, ayo!" ajaknya, Zea tersenyum sambil menatap ketampanan Zico yang begitu memukau.


"Kak Zico, keluar dulu!" titah Zea, Zico mengangguk, lalu ia keluar dari dalam mobilnya.


"Ada apa Zea?" tanya Zico, dan Zea meminta dia untuk menemui kedua orang tua Zea karena harus meminta izin. Awalnya Zico ragu.


Namun, Zea terus memaksa sampai ia menyeret Zico dengan paksaan. "Iya Zea, aku nanti bicara kepada Mama dan Papamu kalau kita mau pergi makan di luar sebentar."


 Hingga akhirnya, Zico bertemu dengan kedua orang tua Zea yang membuat dirinya grogi. Berbagai pertanyaan terlontar, dan Zico menjawabnya dengan terbata, karena pikirnya ini terlalu cepat. Kedua Orangtua Zea mengira jika putrinya ada hubungan khusus dengan Zico, padahal ini baru langkah awal Zico mendekati Zea.


 Situasi ini menimbulkan ketegangan dan kebingungan dalam percakapan mereka.


"Kami titip Zea ya, sesudah makan langsung kembali kemari," kata Pak Heru berpesan kepada Zico.


“Iya Om, saya pastikan Zea kembali secepatnya setalah makan malam,” balas Zico sambil menunduk hormat kepada kedua orang tua Zea.


“Kalau begitu kami pamit dulu.” Zico berjabatan tangan dengan keduanya, sementara Zea mencium punggung tangan Pak Heru dan Bu Yusti sebagai tanda hormat kepada kedua orangtuanya. “Hati-hati,” pesan Bu Yusti kepada keduanya.


"Iya Tante." Zico memeluk bahu Zea menuju mobil.

__ADS_1


Sepanjang jalan mereka asyik bercengkrama sambil bercanda riang gembira, di dalam mobil di penuhi oleh gelak tawa antara Zico dan Zea.


Sampai mereka tiba di salah satu restoran seafood, lalu keduanya turun secara bersamaan. Zico tak lepas merangkul bahu Zea, membuat gadis itu merasa sangat spesial dalam suasana yang begitu romantis bersama Zico.


Keduanya di persilahkan masuk, lalu duduk di meja yang sudah disediakan. Mereka duduk berhadap-hadapan saling memandang satu sama lain.


“Zea, kamu mau makan apa?” tawar Zico sambil menampilkan buku menu kepada Zea, sesaat Zea membaca dan memilih.


"Hmm... Apa ya?" Zea mencari-cari menu yang ia inginkan. "Kepiting asam manis pedas saja deh, sepertinya enak." Zea memilih menu tersebut, lalu memandang Zico.


"Kalau Kakak mau makan apa?" tawar Zea. "Kalau aku ikan kerapu bakar plus sambal matah," jawab Zico dengan mantap.


Lalu Zico memanggil seorang pelayan, kemudian ia mencatat pesanan keduanya. "Tunggu sebentar ya," ucap pelayan tersebut.


Zea dan Zico mengangguk secara serentak, sementara Zico tak henti-hentinya menatap wajah Zea yang tampak manis.


Di lain kesempatan, Zico menggenggam lengan Zea di atas meja, dan gadis itu menunduk tak berkuasa menahan rasa malu di hadapan pria tampan seperti Zico.


"Zea," seru Zico memberanikan diri setelah beberapa menit mereka hanya saling pandang dan senyum, Zea lalu mengangkat wajahnya secara perlahan untuk memberi respon.


Zea menggelengkan kepala sebagai jawaban, membuat Zico kembali tersenyum tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


"Serius?" Zico bertanya sekali lagi kepada Zea, dan di tanggapi dengan anggukan singkat.


"Ehm... " Zico mencoba berbicara serius. Namun, aktifitasnya terputus ketika seorang pramusaji menghidangkan makanan yang mereka pesan di atas meja.


"Maaf ya sudah menunggu lama," ucap sang pelayan wanita tersebut sambil menata hidangan di atas meja, lalu membungkuk hormat. "silahkan," lanjutnya.


Keduanya langsung menyantap makanan mereka masing-masing sampai habis, Lalu Zico kembali menatap Zea yang tengah menyeruput air minumnya.


Zico kembali menggenggam lengan Zea, lalu memberanikan diri mengungkap perasaanya. “Zea,” panggil Zico, Zea menengadah memandang Zico dengan posisi duduk lebih tegak dari sebelumnya. "Zea, sebenarnya aku suka sama kamu," ungkap Zico sambil mengelus punggung tangan Zea yang semula hangat kini berubah menjadi dingin karena perasaan grogi.


Jantung Zea berdebar kencang saat ia menunggu kata-kata penting dari Zico. "Zea, maukah kamu jadi pacarku?" tawar Zico dengan tatapan tulus yang membuat hati Zea terasa meleleh.


Gadis itu terdiam sesaat, membuat Zico cemas, tetapi kemudian Zea tersenyum manis. "Hmmm...," ucap Zea sambil menjeda dengan penuh misteri. Zico merasa hatinya berdebar semakin cepat.

__ADS_1


"Bagaimana, Zea?" Zico memohon dengan penuh harap, dan Zea akhirnya mengangguk dengan senyum penuh kebahagiaan, menerima cinta Zico.


Lelaki itu bangkit dari kursinya dan berjingkrak riang di hadapan para pengunjung restoran, mengumumkan kebahagiaan cintanya yang baru. "Yes, yes, yes! Yuhu!" teriak Zico dengan ekspresi penuh kegembiraan, mengisi malam mereka dengan kebahagiaan yang memenuhi hati keduanya.


Zea melirik ke sekelilingnya dengan pipi yang memerah, lalu dia berbisik kepada Zico, "Kak, sudah cukup, malu tahu dilihat orang!"


Zico hanya tertawa ringan setelah menyadari bahwa mereka sudah cukup membuat keributan. Ia lalu membungkuk rendah kepada semua orang dengan rasa hormat, "Maaf, maaf, maaf..."


Para pengunjung restoran hanya tersenyum dan bahkan bertepuk tangan sambil memberikan ucapan apresiasi kepada pasangan itu, "Selamat ya!"


Zico dan Zea berdiri sejajar, juga membungkuk sebagai tanda terimakasih kepada para tamu yang telah memberikan dukungan mereka. "Terima kasih," ucap keduanya secara bersamaan, dengan senyum yang tak bisa mereka sembunyikan.


Ketika Zico hendak membayar tagihan, pemilik restoran memberikan makanan gratis kepada mereka sebagai bentuk partisipasi dalam perayaan kisah cinta mereka yang baru dimulai.


Zea tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan Zico yang begitu singkat akan berujung pada hubungan kekasih. Semua kenangan itu membuatnya melupakan insiden ketika Tiara, mantan kekasih Zico, tiba-tiba muncul dan melabraknya.


Saat mereka kembali dalam perjalanan pulang, Zico menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tanpa curiga, ia mengangkat telepon dan menyapa dengan sopan, "Halo." Namun, saat suara marah seorang perempuan terdengar di seberang sana, Zico segera menyadari bahwa itu adalah Tiara.


Tiara berteriak emosi, "Zico, kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu, aku sedang mengandung anakmu!" Suaranya begitu keras sehingga Zico bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak.


"Cukup, Tiara. Kita bisa bicarakan nanti, oke?" kata Zico sambil melirik ke arah Zea, yang terlihat menahan rasa cemburu.


Setelah menutup panggilan dari Tiara, Zico meraih lengan Zea. Zea membalas dengan menarik lengan itu kembali.


"Zea..." panggil Zico, dan dia melirik Zea dengan rasa bersalah.


"Kamu masih punya hubungan dengan mantanmu?" tanya Zea dengan tegas dan langsung ke pokok permasalahan.


"Tidak, Zea. Dia memang terlalu dramatis. Padahal, sudah jelas-jelas dia yang bersalah, dia yang selingkuh," jelas Zico, sesekali menatap Zea saat mengemudi dengan fokus.


"Apapun alasannya, aku tidak mau tahu. Kamu harus selesaikan masalahmu dulu," ucap Zea dengan tegas, dan suasana di dalam mobil menjadi hening.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2