
Malam itu, Brian merengek ingin tidur di temani Jane, tetapi Joe melarangnya. "Onkel, please, onkel, please!" kata Brian dengan suara cadelnya. Joe mencubit manja kedua pipi ponakannya itu. "Onkel bilang tidak, ya tidak!" larang Joe.
Jane menyergah ucapannya. "Kenapa gak boleh?" tanya Jane.
"Dia itu genit, kalau sampai dia raba-raba kamu bisa bahaya!" ucap Joe dengan tegas, membuat Jane tertawa geli. "Eh, Pak Ijo, Brian itu masih kecil, jangan samakan pola pikir Brian sama pola pikir kamu!" Jane menekan dada Joe dengan jari telunjuknya.
"Enggak! Pokoknya nggak! Aku tidak akan izinkan dia tidur di kamarmu!" Joe terus melarangnya. Lalu, ia mencoba menghubungi Rosa, adiknya. Ia berbicara panjang lebar di telepon supaya Rosa membawa Brian pulang.
"Pokoknya kamu bawa dia, bikin aku pusing, tahu gak?!" Joe berbicara penuh ketegasan, membuat Brian menangis karena ia tak ingin pulang. Jane memangku tubuh Brian dan mencoba untuk menenangkannya.
"Cup, cup, cup, jangan nangis," kata Jane dengan penuh kelembutan.
“Aku ingin di sini sama Kakak cantik,” tangis Brian, Jane terus menggendongnya sambil menyeka air mata Brian dengan tisyu.
"Joe, kamu itu gimana sih?" Jane menatap Joe dengan amarah karena menyebabkan Brian menangis kencang.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Joe yang tidak merasa melakukan kesalahan.
"Kamu kok kasar sama Brian? Gak ada jiwa kebapak'an sama sekali," ujar Jane sambil terus menenangkan Brian yang masih menangis.
"Hahaha... Emang aku belum jadi Bapak-bapak kok, aku masih muda," balas Joe dengan gurauan membuat Jane bertambah geram karena dia berbicara serius.
"Susah ya, ngomong sama orang yang berjiwa sempurna seperti kamu!" Jane membawa Brian ke ruangan lain supaya menenangkan tangisnya.
Joe langsung mengikuti langkahnya karena ia tak ingin Brian sampai menggoda Jane meski Brian masih kecil. "Jane, turunkan Brian!" perintah Joe, dan Jane langsung mendelik kearahnya, sementara Brian semakin kencang memeluk bahu Jane sambil menjulurkan lidah kearah Joe sebagai tanda ledekan. Joe membelalakan kedua matanya kearah Brian, namun Brian malah tertawa seolah puas membuat sang paman marah.
Brian dengan berani mengecup pipi Jane saat tengah di gendongnya. "Muah." Jane tersenyum, dan Joe semakin kesal ulah bocah tersebut.
Tak lama kemudian, Rosa tiba untuk menjemput Brian.
"Rosa, kamu itu kebiasaan ya menitipkan Brian tanpa konfirmasi dariku terlebih dulu!" Tutur Joe dengan nada tinggi kepada sang adik.
"Maaf, tadi aku ada acara di luar," jawab Rosa dengan wajah datar, sebenarnya ia enggan untuk menjemput Brian. Tadinya ia ingin Brian tidur bersama Joe, hanya saja Joe berbeda kali ini.
"Memangnya kenapa sih? Biasa juga Brian minep disini, Kakak gak protes!" tanya Rosa, disaat yang bersamaan Brian hadir bersama Jane, membuat Rosa memicingkan kedua matanya mengamati sosok wanita yang ada di kediaman Kakaknya.
"Oh, jadi sekarang Kakak menyimpan seorang perempuan di sini? Pantas saja!" Rosa menjadi geram. Joe berupaya menjelaskan dan meminta Rosa untuk tutup mulut kepada kedua orangtua mereka, dengan berbagai perdebatan akhirnya mereka sama-sama setuju.
Tanpa berkenalan terlebih dulu dengan Jane, Rosa langsung pergi begitu saja membawa serta putranya.
__ADS_1
Karena Rosa tak setuju jika Joe menjalin hubungan dengan sembarang wanita, Rosa sudah mempersiapkan wanita terbaik untuk Kakaknya.
Jane merasa tak dianggap dan tak dihargai oleh Rosa, tetapi ia tak terlalu ambil pusing.
Joe merangkul pundak Jane dan melangkah menuju tempat tidur.
"Jane, kita tidur bareng yuk!" ajaknya, Jane membulatkan kedua matanya tanda tak menyetujui usul Joe. Dengan cepat ia menampar wajah Joe.
"Alah, bilang saja kamu mau macam-macam sama aku!" Jane emosi, sementara Joe masih menahan rasa sakit di pipinya akibat tamparan Jane yang terlalu keras.
"Gak macam-macam kok, satu macam saja cukup membuatku puas." Joe menatap Jane penuh rayu, dan Jane langsung berlari ke arah kamar lalu menguncinya.
Jane merebahkan tubuhnya setelah mengganti pakaian tidur yang sangat seksi, ia berupaya untuk tak keluar dari dalam kamar karena akan sangat berbahaya, pikirnya.
Namun, bayang-bayang saat di dapur terus bergelayut dalam ingatan, ia susah berkonsentrasi terkadang ia masih merasakan sensasi ketika jemari Joe masuk ke dalam miliknya.
Jane mengigit bibir bawahnya ketika membayangkan semua itu. "Ah, sial, kenapa terus kepikiran?" Jane berusaha menepis semuanya, ia berusaha untuk segera tidur.
Sama seperti yang dialami oleh Joe di kamar sebelah, ia terus membayangkan Jane dalam lamunan kotornya, sehingga adik kecilnya berdiri berkali-kali.
"Jane, kamu ini sudah membuatku gila," batin Joe sambil tersenyum ketika ia hendak tertidur. "ingin rasanya aku membobol benteng pertahanmu malam ini," sambungnya sambil terus berimajinasi liar bersama Jane.
...
Jane membuka selimutnya, lalu bergegas menuju kamar mandi. Ia bersenandung sambil melepas seluruh pakaian sebelum melakukan ritual bersih-bersih di dalam sana.
Ia menikmati setiap tetesan air yang keluar dari atas shower mengguyur seluruh tubuhnya yang di penuhi oleh busa sabun.
Belum juga selesai, tiba-tiba airnya berhenti keluar membuat Jane kelabakan seorang diri.
"Loh, kok airnya mati sih?" Jane panik, ia mencoba menekan on off secara terus menerus berharap airnya akan kembali menyala. Namun, hasilnya nihil. Sementara, ia masih belum tuntas.
Ia langsung meraih handuk yang terpajang di dinding, lalu melilitkan ke tubuhnya.
Kemudian, Jane mencoba menghubungi Joe lewat telpon seraya memberi tahu jikalau air nya tidak menyala.
Dengan terpaksa, Jane membiarkan Joe masuk ke dalam untuk memeriksa air di dalam kamar mandi.
"Duh, cepetan Joe, mataku perih kena shampo!" Jane mengusap-ngusap matanya, Joe dengan penuh kepedulian mengucurkan sisa air untuk membasuh mata Jane yang iritasi.
__ADS_1
Sesaat tatapannya mengarah ke area lain yang membuat Joe harus menelan saliva dengan susah payah.
"Joe cepat!" rengek Jane.
"Iya, iya, sabar dong, ini aku lagi coba betulin," kata Joe sambil berjibaku.
Tak lama kemudian air kembali menyala dan membasahi sebagian tubuh Joe yang masih mengenakan kimono tidurnya.
"Yeay!" Jane bersorak, dan secara reflek ia membuka lilitan handuknya, ia lupa jika disitu masih ada Joe.
Joe langsung terbelalak melihat pemandangan indah di hadapannya, bongkahan kedua bokong yang begitu aduhai serta pinggang yang sangat ramping dengan lekukan yang dapat membangkitkan hasrat ke-laki-lakiannya.
Jane yang sadar langsung memakaikan handuknya kembali, tetapi terlambat, Joe sudah tak bisa menahannya terlalu lama.
"Joe, sana pergi!" usir Jane berusaha mendorong tubuh Joe, tetapi Joe enggan beranjak, terlebih dorongan Jane tak mampu menahan tenaga Joe.
Joe langsung memeluk Jane dari belakang membuat Jane langsung memberontak sambil memukul dan menendang Joe sekuat tenaga.
"Joe apa yang akan kamu lakukan?" teriak Jane berusaha melepaskan Joe, dan lelaki itu mencoba membuka lilitan handuk Jane, ia seakan kehilangan kewarasannya kali ini.
"Joe jangan!" larang Jane berusaha mempertahankan kehormatannya, sampai akhirnya Jane memukul milik Joe karena ia tak tahu harus bagaimana untuk melawan tindakan Joe yang terlalu berlebihan.
"Aww!" rintih Joe, dan Jane langsung berkaca pinggang.
"Kalau kamu seperti ini lagi, aku semakin yakin untuk mencari kontrakan!" ancam Jane, dan Joe menggeleng.
"Jangan!" cegah Joe. Namun, Jane bertekad untuk segera mencari tempat tinggal yang pasti akan membuat dirinya merasa jauh lebih aman.
"Jane, aku minta maaf," kata Joe, gadis itu berusaha mengeluarkan Joe dari dalam kamar mandi.
"Dasar, bos mesum tak tahu diri!" umpat Jane dengan emosi sambil memukuli dada Joe sekuat tenaga.
Jane segera mempercepat ritual mandinya sambi sesekali menangis atas perlakuan Joe yang tak patut.
"Dia pikir aku ini perempuan murahan?" Jane tak bisa berhenti mengeluarkan air matanya, seketika ia teringat kepada sang Oma yang mewanti-wanti dirinya untuk bisa jaga diri terutama menjaga kehormatan.
...
Bersambung...
__ADS_1