Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Meriang


__ADS_3

Jane terus menggerutu tanpa henti.


Setelah membuatkan kopi untuk Joe, ia kembali melangkah menuju ruangan Joe sambil mengangkat nampan. Namun, sesaat langkah kakinya terhenti ketika ia memperhatikan Irsan di bilik meja kerjanya. Tanpa ia sadari, Irsan yang awalnya sibuk dengan komputernya, tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan menatap Jane sambil melempar senyum, hal itu berhasil membuat hati Jane cenat cenut, berdebar tak menentu. "O my God," batin Jane, tetapi sesudahnya, ia kembali fokus, lalu melanjutkan langkah kakinya dengan hati-hati.


Tanpa mengetuk pintu, ia masuk ke ruangan sang Bos, Jonathan. Saat itu, Jonathan sedang berbincang dengan Alvin, asistennya. Jane merasa harus bersikap profesional kali ini. "Permisi Pak," serunya kepada Joe, sesaat Joe melirik kearahnya. "Ini kopinya." Jane menaruh cangkir kopi yang sudah di buatnya di atas meja Joe. Joe mengangguk dan berucap, "terimakasih, Jenifer." Jane mengangguk, kembali meraih nampan.


Joe masih berfokus dengan Alvin, sesekali mereka saling melempar canda di tengah obrolan yang formal. Joe lalu mengangkat cangkir kopi tersebut, kemudian mulai menyeruputnya secara perlahan. Namun, tiba-tiba saja, ia langsung menyemburkan kembali kopi yang baru masuk kedalam mulutnya, dan semburan itu tepat mengenai wajah Alvin. "Apaan nih?!" Joe merasa aneh dengan rasa kopinya, lantas ia kembali menatap Jane yang masih berdiri. "Kamu tambahkan apa kedalam kopi ini?" tanya Joe dengan lantang.


Jane balik menatap heran sambil mengerutkan kening, lalu ia menjawab, "cuma di tambahin gula putih."


"Masa?" Joe geram dan tak percaya dengan keterangan Jane, ia merasa jika Jane sengaja ingin menjahilinya.


"Ya, emangnya kenapa?" Jane tak terima di tuduh sembarangan.


Joe menyodorkan cangkir tersebut kepada Jane.


"Ini, silahkan kamu coba sendiri!" titahnya menantang.


Sedangkan Alvin sibuk mengelap semburan kopi di wajah dan pakaiannya.


"Vin, kenapa kamu tidak membersihkan ke toilet?" tanya Joe, Alvin sebenarnya tengah menahan dongkol pada saat itu.


"Iya Pak, cuma saya tidak enak menghindari obrolan penting Bapak," kata Alvin sambil menunduk dan menggelengkan kepala atas kejadian ini.


Sementara, Jane tampak cengengesan membuat Joe kembali murka.


"Heh, cepat minum!" titahnya, Jane mengangguk patuh, lalu ia mulai meminum kopi tersebut tepat di hadapan Joe.


Baru juga sedikit masuk ke dalam mulutnya, ia memberi reaksi serupa dengan Joe. Namun, kali ini Jane menyemburkan kopi ke wajah Joe.


"Aish!" pekik Joe menahan emosi, gigi-giginya mengatup sempurna dengan rahang yang tegas.


"Jenifer!!!" bentaknya, Jane hanya terdiam sambil mengusap mulutnya seraya merasakan mual akibat rasa kopi buatannya yang aneh.


"Hmm, awas kamu!" batin Joe, rasa ingin membalas perbuatan Jane tanpa pengampunan. Tetapi, ia merasa belum saatnya, sehingga dengan terpaksa ia harus menahan amarah.


***


Sementara di lain tempat...


Saat itu Zico tengah merasakan meriang di sekujur tubuhnya, ia menyusup di balik selimut tebal.


Tak lama setelah itu, ia mendengar suara bel, lantas ia berteriak memanggil asisten rumah tangganya, Marni. "Teh Marni...!" teriaknya dengan lantang. Marni segera menyahuti, "ya, Tuan." "Tolong tamunya suruh masuk!" perintah Zico pada Marni, dan wanita itu mengangguk patuh.

__ADS_1


Marni melangkah ke ruang utama dengan cepat dan membukakan pintu. Saat pintu terbuka, dia terkejut ketika dia melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri di depannya.


"Selamat siang," sapa gadis tersebut dengan ramah, senyumnya mempesona.


Marni tersentak oleh kedatangan tak terduga ini, dan dia bertanya dengan heran, "Siang, siapa ya?"


Gadis itu segera mengulurkan lengannya kepada Marni dengan sopan, "Saya Zea, saya yang akan memeriksa kondisi Kak Zico," paparnya dengan penuh semangat, mencoba meredakan kebingungan Marni.


"Oh," kata Marni, kini mengenali tamunya. "Kak Zico ada?" Zea tampaknya menunggu dengan penuh antusiasme untuk melihat kondisi Zico.


Marni tersenyum dan menjawab, "Ada, ada. Silahkan masuk!" Ia memberi jalan kepada Zea, dan gadis itu dengan cepat melangkah ke dalam rumah.


Zea perlahan mendaratkan bokongnya di atas sofa yang nyaman, mengamati sekeliling ruangan dengan rasa ingin tahu. Sedangkan Marni bergegas menuju pintu kamar Zico, berharap untuk membangunkan majikannya.


"Tuan...!" teriak Marni dengan nada khawatir saat dia memanggil Zico.


Zico merasa tubuhnya sangat berat, dan setiap kata yang terucap terdengar seperti gema di dalam kepalanya. "Ya," sahut Zico dengan malas, seringkali giginya bergemeretak akibat rasa meriang yang tak tertahankan.


Marni memberitahukan kabar baik. "Di luar ada Zea."


Mendengar nama 'Zea', Zico tiba-tiba membelalakan kedua matanya. Meskipun dia tengah meriang, namun kehadiran Zea adalah salah satu hal yang telah dinantikannya sejak tadi.


Dengan langkah yang sedikit tertatih, Zico berhasil bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman. Ia berusaha untuk menyingkirkan ketidak nyamanan yang mengganggunya dan segera menghampiri Marni, yang telah berdiri di ambang pintu kamar.


Marni memberi tahu pada Zea dengan ramah, "Non, Tuan ada di dalam, silahkan lihat ke dalam!"


Zea tersenyum dan mengangguk sebagai tanda pengertian. Ia dengan hati gembira bangkit dari sofa tempat dia duduk, dan dengan langkah hati-hati, dia mengikuti Marni dari belakang, menuju pintu kamar Zico.


"Silahkan, Non," kata Marni dengan ramah ketika mereka tiba di depan pintu kamar Zico.


Zea mengangguk dan mengucapkan, "Terima kasih, Bik."


"Sama-sama, Non," balas Marni dengan senyum.


Zea segera membuka pintu kamar dengan hati-hati, lalu melangkah menuju tempat tidur di mana Zico terbaring, tampak meriang.


"Kak Zico," panggil Zea dengan nada lembut, dan dengan cepat, Zico membalikan tubuhnya dengan tatapan hangat saat melihat Zea.


Zico tersenyum dan melambaikan tangannya. "Zea, kemari!" titahnya dengan senang hati, dan Zea mendekat lebih dekat ke tempat tidur Zico.


Saat itu, Zea membawa sebuah tas gendong yang berisi beberapa alat medis dan obat-obatan. Dengan hati-hati, dia mulai mengeluarkan alat-alat tersebut untuk memeriksa kondisi Zico yang sedang meriang.


Zea dengan cepat mengecek suhu tubuh Zico menggunakan punggung tangannya yang lembut.

__ADS_1


"Kak, badan Kakak panas, pantas saja Kakak meriang," ujar Zea dengan keprihatinan dalam suaranya.


Zico mengangguk, dan dalam hatinya, dia berbisik dengan senyum, "Iya, aku memang meriang, alias merindukan kasih sayang."


Zico tak henti-hentinya memandangi paras cantik yang dimiliki Zea. Senyumnya semakin melebar saat Zea mengeluarkan alat pengecek suhu tubuh. Gadis itu dengan cekatan memegang alat tersebut dan mengarahkannya ke kening Zico.


Zico merasa hangat oleh sentuhan tangan Zea dan membiarkan Zea melakukan pemeriksaan dengan sabar.


Tak beberapa lama, Zea selesai melakukan pemeriksaan pada Zico dan memberikan obat-obatan yang sesuai. Mereka duduk dalam hening, membiarkan obat-obatan bekerja dalam tubuh Zico.


"Zea," seru Zico, tiba-tiba menggenggam lengan Zea, membuatnya menoleh dan memperhatikan gerakan tangan Zico.


"Ya, Kak," sahut Zea dengan ramah.


"Memangnya kamu sedang tidak tugas?" tanya Zico, karena ia melihat Zea mengenakan pakaian biasa, bukan seragam tugasnya.


"Kebetulan aku sedang libur, Kak," jawab Zea dengan senyum. "Praktik Kerja Lapangan berlangsung selama tiga bulan, dan ini adalah hari liburku. Aku memutuskan untuk berkunjung kemari sesuai permintaan Kakak dan memeriksa kondisi Kakak."


Zico memberanikan merangkul pundak Zea lalu mengusapnya secara perlahan.


Tubuh mereka semakin dekat, Zea bisa merasakan suhu tubuh Zico yang sedang tinggi.


"Kak, sebaiknya Kaka beristirahat saja!" titah Zea tanpa melepaskan dekapan tangan Zico yang membuatnya nyaman.


Zico menggelengkan kepala, dan berkata, "enggak, masa ada tamu cantik dianggurin," rayunya kepada Zea.


Zico terus mengobral kalimat-kalimat rayuan kepada Zea, hingga terbesit ide nakal dalam pikiran Zico, terlebih ia membutuhkan pelampiasan pasca kehilangan Tiara.


Zea tak bisa menepis pesona ketampanan Zico, ia semakin terhanyut dalam rayuan dan buaiannya.


Zico perlahan membaringkan tubuh Zea, dan berhasil mendapatkan kecupan manis di bibirnya, tampaknya tak ada perlawanan dari Zea saat itu.


Zico semakin bernafsu padanya, ia mencari celah sambil memainkan lidahnya menyusup dalam mulut Zea.


Sementara, kedua jemarinya berhasil mendarat di kedua gunung kembar Zea yang masih ranum.


Sesaat, Zea tersadar, ia berusaha menghentikan aksi Zico yang sudah berlebihan.


"Kak Zico, hentikan!"


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2