
Joe dan Jane keluar dari gedung kantor menuju basement, kemudian naik kedalam mobil mereka masing-masing. Joe perlahan membuka sedikit kaca mobilnya lalu kembali menegaskan, "kau ikuti aku!" Jane mengangguk tanpa eskpresi, kemudian melaju mengikuti mobil Joe. Terkadang Joe harus berhenti ketika menatap spion. "kemana dia?" batin Joe, ia tak ingin sampai Jane kehilangan jejaknya. Lantas ia segera mengubungi Jane. "Hei, kamu dimana? Aku bilang tadi suruh ikutin aku!" Joe berbicara dengan nada tinggi saat di telepon. Sementara Jane terhenti ketika lampu merah, membuatnya kembali emosi karena Joe sudah membentaknya. "Ya sabar dong! Gimana aku bisa jalan kalau lampu sedang merah?" Jane menghembuskan napas beratnya. Joe terus menunggu sampai Jane tiba. Tak berselang lama, Jane berhasil menyusulnya, kemudian ia meberitahu Joe. "aku sudah ada di belakangmu! Makannya jangan ngebut-ngebut!" "Iya, ah, bawel!" jawab Joe yang kembali memacu mobilnya.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kawasan perumahan elit yang di pinggirnya terhampar pantai dengan lautan biru yang sangat indah.
Mobil mereka melewati jalur tersebut, sampai tiba di sebuah hunian mewah dan megah, mobil Joe berbelok menuju ke sana, begitu juga dengan Jane yang mengikutinya.
Jane menghentikan laju mobilnya, pandangannya mengelilingi sekitar saat mereka melintasi daerah tersebut melalui kaca jendela mobil.
Joe keluar terlebih dulu, lalu menginstruksikan Jane untuk menepikan mobilnya. Jane mengeluarkan barang-barang yang dibutuhkannya dari dalam bagasi. Ia mengambil koper dan tas kecilnya. "Kamu tinggal bersama siapa di sini?" tanya Jane, kedua matanya terus memandang sekitar. "Aku tinggal bersama 2 orang ART dan semuanya laki-laki," jawab Joe, Jane terperangah.
"Hah, tinggal di mansion sebesar ini hanya ada kamu dan 2 orang ART?" Jane seakan tak percaya. Namun, Joe kembali mengangguk meyakinkannya. "Ya," jawabnya singkat. "Lalu, kemana kedua orangtuamu?" Joe tampaknya malas mendapat rentetan pertanyaan dari Jane. "Kedua orangtuaku tinggal di tempat yang berbeda." Joe melipat kedua tangan di atas dada sambil memandangi Jane yang masih mengedarkan pandangannya. "Udah nanya-nya?" tanya Joe, Jane mengangguk meski masih ada beberapa pertanyaan penting yang ingin diajukan. Joe menuntun lengan Jane saat mengajaknya memasuki mansion mewah itu. Tiba-tiba, Jane menghempaskan genggaman Joe sebagai tanda penolakan. "Tidak usah pegang-pengang!" bentaknya ketus, Joe berdecak kesal atas penolakan Jane, padahal tak ada wanita yang sok jual mahal padanya selama ini. Justru mereka dengan suka rela menawarkan diri untuk bisa dekat dengan Joe. Namun, tampaknya tidak dengan Jane.
Jane mendapat sambutan hangat dari asisten di mansion Joe, membuat Jane terkesan dengan keramahan dan kebaikan mereka.
Fendy dan Deni ditugaskan untuk menyiapkan kamar khusus. "Silahkan Non," kata Fendy dengan seulas senyuman. Jane membuka pintu kamar mewah tersebut, kemudian meletakkan koper dan barang-barang lainnya di dalam sana.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan dengan penuh kenyamanan. Memang, ia selalu dimanjakan dengan fasilitas mewah oleh Oma Widya di rumah mereka, tetapi di tempat Joe, semuanya terasa jauh lebih mewah berkali-kali lipat. Saat ia asyik merebahkan tubuh sambil membayangkan semua ini menjadi miliknya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Joe. Pria itu masuk tanpa mengetuk pintu, membuat kedua mata Jane membelalak. "Apa?!" tanya Jane yang masih merebahkan tubuhnya tanpa beranjak. Joe tersenyum kemudian bertanya, "Apakah kamu merasa nyaman berada di sini, Jane?" tanya Joe, dan Jane menjawabnya dengan anggukan. "Ya, tentu saja. Bahkan ini lebih dari sekadar nyaman," jawab Jane dengan penuh ketenangan setelah seharian sibuk di kantor.
Tiba-tiba, kedua mata Joe fokus pada paha Jane yang berwarna putih dan mulus tersingkap rok kerjanya, sementara Jane tanpa sadar memejamkan kedua matanya karena rasa kantuk yang begitu menyiksa.
Joe ******* tepi bibirnya seperti binatang buas yang hendak menikmati mangsa buruannya.
"Astaga, Jane, kamu berhasil membuat adik kecilku bangkit," batin Joe, ia merasa miliknya sudah berdiri dan meminta keluar dari tempat persembunyiannya ketika menyaksikan pemandangan indah di depan matanya.
Jane menggeliat lalu kembali membuka kedua mata, ia melihat Joe masih berdiri sambil menatap aneh padanya.
Dengan cepat, Joe mengarahkan pandangannya ke sudut lain.
"Kenapa kamu masih diam disitu?" tanya Jane sambil menyisir rambut panjangnya menggunakan jari.
"Ehm... ini mau keluar kok," jawab Joe sedikit gugup, Jane mengarahkan fokusnya kearah adik kecil Joe yang sudah berdiri di balik celananya.
"Eowh!" pekik Jane, ia menyadari jika Joe seperti itu karena memperhatikan pahanya yang terbuka.
Jane beranjak, lalu menarik roknya kembali ke bawah, kemudian ia mendorong Joe membawanya keluar dari dalam kamar.
"Eh, sabar dong!" Joe berusaha menahan tubuhnya sendiri ketika Jane mendorongnya dengan kasar.
__ADS_1
"Eugh, dasar mesum!" Jane terus mendorongnya, hingga Joe keluar, kemudian Jane mengunci pintunya dari dalam.
"Bahaya!" gumam Jane risih dengan keadaan seperti ini, ia merasa harus melindungi diri dari Joe yang bisa saja suatu-waktu hilang kendali.
Sedangkan diluar sana, Joe tampak gelisah untuk meredakan gejolak hasratnya yang semakin naik.
"Ah, sialan!" Joe masuk kedalam kamarnya, kemudian ia melakukannya seorang diri.
Jane membongkar isi kopernya, mencari-cari pakaian yang akan diganti. Namun, sayangnya, ia hanya menemukan pakaian-pakaian minim yang ia bawa.
"Duh, ini masalah," gumam Jane, bingung karena ia tidak ingin Joe melihatnya mengenakan pakaian tersebut.
Tetapi tak ada pilihan lain lagi, terpaksa ia mengenakan salah satunya setelah membersihkan tubuh.
Saat tengah asyik membalas chat dari Irsan usai mandi, Jane merasakan lapar yang tak tertahankan.
Ia melangkah keluar kamar, seketika tercium aroma masakan dari arah dapur membuat rasa laparnya kian menjadi-jadi.
Jane berjalan mendekati sumber bau masakan lezat itu.
"Joe," serunya, pria itu dengan cepat menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.
Kedua matanya langsung membola dengan sempurna ketika mengetahui Jane berdiri di ambang pintu.
Ia terlihat sangat cantik dan menggoda di balik dress mini bermotif bunga-bunga yang di kenakannya.
Joe terkesima sambil menelan salivanya dengan susah payah, apa lagi saat melihat bukit kembar Jane yang lumayan besar dan menantang.
"Jane," sapanya, sementara kedua lengannya sibuk dengan masakan.
Jane salah tingkah saat di tatap terus-terusan oleh Joe, lantas untuk menghilangkan kegugupannya. Ia menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal.
"Aku sedang memasak untukmu," kata Joe, Jane mengangguk, ia sudah tak sabar untuk mengisi perutnya.
"Memangnya kamu masak apa?" tanya Jane.
"Sup ikan salmon, dan sayur brokoli, aku harap kamu akan suka masakanku." Joe memperlihatkan hasil masakannya yang masih berada di dalam panci kecil dan juga wajan.
__ADS_1
"Kelihatannya enak tuh," batin Jane sambil menjilat tepi bibirnya sendiri dan ingin segera mencicipi masakan Joe.
Jane menyeret kursi, lalu duduk berhadapan dengan meja makan, fokusnya tertuju pada Joe yang masih sibuk dengan hidangannya.
Tak beberapa lama, Joe menyelesaikan hasil masakannya. Ia menuangkan sup ikan ke dalam mangkuk, ditambah dengan sayur brokoli dan pelengkap lainnya.
"Silakan dicoba!" Joe menyajikan makanan dengan hati-hati.
Jane sudah tidak sabar. Ia mengambil sendok yang ada di dekatnya dan mulai menikmati kuah panasnya dengan hati senang.
"Bagaimana menurutmu, Jane?" Joe bertanya, menantikan pendapatnya.
"Enak banget, Pak Joe!" Jane memuji dengan nada antusias, sambil terus menyantap makanannya.
"Kenapa kamu tidak ikut makan, Joe?" tanya Jane, melihat Joe hanya menghisap rokoknya yang masih menyala.
"Kamu saja yang makan duluan, aku masih terlalu kenyang," Joe menjawab sambil terus memerhatikan Jane.
Jane kembali menyambar ponselnya saat mendapatkan pemberitahuan pesan dari Irsan. Ekspresi senang terpancar di wajahnya dan ia terlihat seperti terjebak dalam pesan tersebut.
Joe mulai kesal dan memerintahkan Jane untuk meletakkan ponselnya. Namun, Jane menolak, dan Joe merampas ponsel tersebut, tanpa disadari membaca isi percakapan antara Jane dan Irsan.
"Kembalikan ponselku, Joe!" Jane mencoba merebutnya, tetapi Joe terlalu fokus pada pesan yang ia baca. Jane merasa terganggu karena Joe membuka pesan pribadinya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Jane yang kesal beranjak berusaha merebut ponselnya kembali dari genggaman tangan Joe.
"Joe, kembalikan!" Jane berupaya merampas dengan susah payah. Namun, ia terjatuh, dengan cepat Joe meraih tubuhnya, dan tanpa sengaja kedua bibir mereka saling menempel.
Joe semakin terhanyut dalam suasana yang tak di sengaja itu, ia mengigit lembut tepi bibir Jane, tampaknya Jane sedikit terbawa suasana, dan ia membuka sedikit celah di bibirnya.
Joe menjulurkan lidahnya kemudian masuk kedalam celah mulut Jane dan menjejal permukaannya sambil meliuk-liukkan lidahnya saat bertemu dengan lidah Jane.
"Ah, ini nikmat sekali," batin Joe saat mendapat ciuman pertama Jane.
...
Bersambung...
__ADS_1