
Mereka terjebak dalam gairah yang semakin memanas.
Jane, dalam hati ingin menolak dan memberontak tetapi hasrat mampu mengalahkan semuanya.
Ciuman yang di berikan oleh Joe semakin bertambah gila, hingga jemarinya mencapai punggung Jane. Sementara, lengan lainnya berhasil mendarat dengan sempurna di permukaan paha Jane yang begitu halus.
"Jangan sentuh aku Joe!" tolak Jane, tetapi Joe seakan tak mendengar.
Selain di anugrahi fisik yang sempurna, Jane sebagai wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya, ia pandai merawat tubuhnya, ia tak pernah ragu mengeluarkan budget yang sangat besar hanya untuk treatment dan perawatan dari atas kepala hingga ujung kaki.
Maka wajar jika banyak pria yang mendambakan dirinya. Namun, tak satu pun Jane memilih mereka, dan kini hatinya berlabuh pada Irsan meski Joe menginginkannya juga.
Joe berusaha melorotkan tali dress yang masih melekat di tubuh Jane, sementara kedua bibir mereka masih menyatu hingga terdengar suara decakan yang begitu panas memenuhi ruangan tersebut.
Joe mundur beberapa langkah mencapai ambang pintu sambil melakukan gerakan yang semakin liar di mulut Jane, sampai akhirnya, Joe berusaha menutup pintu ruangan tersebut agar aktifitasnya tak sampai di lihat oleh Fendy dan juga Deni.
Joe semakin menguasai tubuh Jane sambil mengelus pahanya dan menyentuh sesuatu diatasnya yang terasa hangat dan sedikit basah, hal itu membuat Jane sedikit mengeluarkan suara erangan halus yang begitu manja.
"Rupanya kamu sudah tak tahan," bisik Joe dengan seringai jahatnya. Sementara Jane menatap Joe dengan sayu, hasrat dalam diri berhasil menutup akal sehatnya.
"Joe, tolong jangan lakukan!" Jane menggelengkan kepala, saat itu Joe membaringkan tubuh Jane di atas lantai dapur, sementara jemari nakalnya terus menyusup ke dalam kain segitiga pengaman milik Jane.
Jane merintih geli saat merasakan sentuhan jemari Joe menggelitik dan bergerak bebas di area tersebut. "Setan! Berani sekali dia!" batin Jane, ingin rasanya ia menolak tetapi pergerakan jemari Joe berhasil membuat Jane terbang.
"Sudah basah loh," bisik Joe, Jane memicingkan kedua matanya kesal. "Joe, hentikan!" rengek Jane dengan suara manja dan sedikit lenguhan indah membuat Joe semakin tak tahan.
"Punyamu memang masih sempit, Jane," bisiknya lagi sambil membuat gerakan maju mundur di inti Jane yang semakin bertambah becek.
"Arg, Ya Tuhan!" gumam Jane yang campur aduk diantara perasaan kesal dan nikmat.
"Joe!" Jane berseru dengan suara kencang. Namun, Joe seakan tuli ia terus melancarkan aksinya dan kembali membungkam mulut Jane yang begitu nikmat.
"Emmh..." Jane berusaha berteriak, tetapi terbekam oleh mulut Joe, dan kedua tangannya kini mengeksplore dua gunung kembar milik Jane sambil memainkan puncaknya membuat tubuh Jane menggelinjang kesana kemari.
"Jane, sepertinya kamu pandai bergoyang, bagaimana kalau kamu bergoyang diatas tubuhku?" pinta Joe tanpa berperasaan, Jane yang geram langsung terdiam sambil mengempalkan kelima jemarinya, lalu menatap Joe dengan amarah yang berkobar seakan kalimat yang terucap dari mulut Joe seperti pelecehan.
"Kurang ajar!" gumam Jane, tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya sambil terisak.
Joe mengangkat wajahnya memperhatikan wajah Jane yang seakan menolak perlakuannya.
__ADS_1
"Jane, kamu nangis?" Joe menghentikan perbuatannya lalu merapihkan pakaian Jane.
Gadis itu bangkit dari berbaringnya kemudian terduduk sambil memeluk lutut, ia seakan telah ternoda oleh jari jemari Joe yang begitu liar dan nakal.
"Kurang ajar kamu, Joe!" Jane terisak dengan intensitas suara yang semakin kencang, Joe menatapnya dengan perasaan bersalah.
"Jane, aku minta maaf." Joe mendekati Jane kemudian mencoba menggenggam tangan gadis tersebut, dengan cepat, Jane menghempaskannya kasar.
"Tidak usah sentuh-sentuh aku, dasar pria mesum!" bentak Jane, sepertinya ia mengalami terauma kepada Joe.
"Well." Joe bangkit dari posisinya, sementara kedua matanya masih mengamati Jane yang tengah menangis kencang.
"Aku bukan perempuan yang seperti kamu kira!" kata Jane berusaha menjelaskan siapa ia yang sebenarnya. "Memang aku sering mabuk-mabukan, sering keluar malam, tapi aku masih bisa menjaga harga diriku, aku tak membiarkan pria manapun berani menjamahku, tapi kamu... Kamu dengan berani melakukan itu kepadaku, dasar berengsek!" umpat Jane. Sementara Joe yang menyesal langsung mengusap wajah dan rambutnya dengan frustasi.
"Jane, sekali lagi aku minta maaf!" Joe terbawa emosi, ia berbicara dengan suara yang tinggi.
Tiba-tiba, ponsel Jane kembali bergetar, ia sempat mengabaikan panggilan tersebut.
Joe dengan penuh perhatian mengambilkan benda pipih Jane dari atas meja makan, lalu memberikan kepada pemiliknya.
"Nih, 'Oma' memanggilmu." Joe menyodorkan ponsel kepada Jane, Jane menerimanya dengan jemari yang gemetar.
Ia terbelalak saat membaca layar ponselnya karena sang Oma memanggilnya untuk video call.
Rasa sesak dan sesal yang semula mendera batinnya kini tergantikan dengan rasa bahagia saat menjawab panggilan orang terkasihnya, yakni sang Oma.
"Oma," sapa Jane, ia berusaha menutupi tangisnya ketika berbicara dengannya.
"Jane, kamu tinggal dimana?" tanya Sang Oma, ia ingin tahu tentang Jane yang sudah berada di Jakarta.
Jane lantas menjelaskannya kepada Oma, lalu memperlihatkan isi ruangan tersebut.
"Nah, aku tinggal disini, Oma." Jane menyalakan kamera belakang dan meminta Joe untuk sedikit menjauh karena ia tak ingin Oma khawatir jika mengetahui dirinya tinggal bersama seorang pria.
Oma Widya tersenyum mendengar penjelasan dari Jane, muncul kelegaan dalam hatinya.
"Jane, kamu jaga diri disana ya, sayang," kata Oma dengan penuh perhatian kepada Cucu kesayangannya, Jane.
"Iya, Oma juga jaga diri baik-baik selama aku tidak ada disana. Mungkin sebulan sekali aku akan pulang ke Bandung untuk mengunjungi Oma," balas Jane. Setelah puas mengobrol, panggilan pun berakhir dan suasana kembali hening. Namun, Joe masih berada bersamanya di ruangan itu.
__ADS_1
"Yang tadi itu Nenekmu?" tanya Joe yang begitu penasaran, dan Jane menganggukan kepala. "Iya," jawabnya singkat tanpa ekspresi.
"Lalu, Ayah dan Ibumu?" Joe kembali melempar pertanyaan, sesaat Jane kembali melamun ketika mengingat kehidupan kedua orangtuanya yang sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing, tak terasa air matanya kembali jatuh.
"Loh, kok kamu malah nangis? Memangnya aku salah sudah bertanya begitu?" Joe tergerak hatinya, ia kali ini khawatir terhadap suasana hati Jane, lantas ia berjongkok dan menghampirinya lagi dengan penuh kehati-hatian.
"Jane, kamu kenapa?" tanya Joe, Jane menggeleng, dan tiba-tiba ia kembali terisak dengan suara yang semakin kencang saat mengingat kedua orangtuanya yang pergi meninggalkan Jane disaat dirinya masih sangat membutuhkan sosok mereka berdua.
"Aku tidak punya Ayah dan Ibu!" isak Jane penuh sesak dan emosi yang menghantam batinnya.
"Memangnya mereka sudah meninggal? Kalau iya, aku minta maaf, aku tidak tahu kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu, Jane." Joe begitu sangat menyesal, Jane menggelengkan kepalanya mengisyaratkan jika perkiraan Joe salah besar.
"Lantas?" Joe mengerutkan kening akan isyarat jawaban yang di berikan oleh Jane saat itu.
"Kedua orangtuaku sudah lama bercerai," jawab Jane dengan suara yang terdengar parau.
"Oh." Joe menanggapi dengan anggukan, kemudian ia kembali menyalakan sebatang rokok untuk memecah ketegangan yang terjadi.
Joe tetap berada di samping Jane berusaha memberinya ketenangan dan kenyamanan.
"Aku mengerti perasaanmu, Jane." Joe meletakan telapak tangan di bahu Jane lalu menepuknya pelan. Namun, hal itu tak berhasil menghentikan tangisan Jane, ia semakin bertambah emosi dengan air mata yang terus berurai.
"Aku benci mereka!" gerutu Jane dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Jane, kamu tidak boleh membenci kedua orangtuamu, walau bagaimana pun mereka terhadapmu, kamu harus selalu menghormati mereka!" ucap Joe dengan tegas seraya menasihati. Namun, Jane langsung meliriknya dengan amarah.
"Tidak usah menasihatiku! Kamu ini tahu apa tentang aku? Kamu baru mengenal aku, tanpa kamu ketahui bagaimana rasanya jadi aku!" Jane membelalak tajam dengan ucapan penuh ketegasan, dan amarah yang semakin meluap-luap.
"Jane!" seru Joe berusaha membuat Jane untuk tetap tenang. Namun, tampaknya Jane masih dikuasai oleh emosi. Lantas, Joe langsung membawa Jane kedalam pelukan hangatnya.
"Jane, tenangkan dirimu!" Joe mengusap lembut punggung Jane, dan gadis itu mengencangkan pelukannya seakan merindukan kasih sayang dari kedua orangtuanya yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
"Aku benci mereka berdua, Joe!" Jane yang masih dikuasai amarah ia memukul punggung Joe sangat kencang.
"Ayo Jane, pukul!" titah Joe, ia tahu bahwa Jane membutuhkan pelampiasan untuk meluapkan emosi dalam dirinya.
Setelah puas, tubuhnya melemah, dan Joe melepaskan dekapannya, lalu menghapus sisa air mata Jane di kedua pipinya.
"Udah ya, kamu harus tenang, jangan terbawa emosi, tidak baik untuk kesehatan mentalmu, Jane." Joe tak menyangka, di balik image nakal Jane, ternyata ia memendam duka yang mendalam.
__ADS_1
...
Bersambung...