
Saat tiba waktunya untuk pulang, Jane merapihkan seluruh peralatan kerjanya di atas meja, mematikan layar komputer, dan memeriksa apakah ada tugas tambahan.
Joe, yang masih terlihat serius, terus memandang Jane dengan tatapan seperti tidak ingin melepaskannya pergi.
"Pak Jonathan," serunya, dan Joe mengangguk sebagai tanggapan.
"Saya akan pulang sekarang, mungkin ada tugas tambahan?" tanya Jane, sementara Joe tampak tidak begitu fokus. Tatapannya kosong sambil terus memandanginya.
"Helow," seru Jane sambil menyadarkan Joe dari lamunannya.
"Oh, iya, Jane," Joe sedikit terperanjat dan menggaruk tengkuknya, merasa tidak nyaman karena kebingungannya.
"Saya permisi," pamit Jane, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu.
Ia berjalan bersama beberapa karyawan lain menuju mesin finger print sebelum pulang.
Di area itu, Jane bertemu kembali dengan Irsan yang baru saja menyelesaikan proses finger printnya. Jane menyusul.
"Jadi gimana?" tanya Irsan seraya mengatur langkahnya agar sejajar dengan Jane. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Ya, jadi dong," jawab Jane saat mereka merencanakan untuk mencari apartemen.
"Tapi bagaimana dengan kendaraan kita? Mungkin lebih baik jika aku pulang dulu ke rumah karena sulit jika kita membawa kendaraan sendiri-sendiri," ujar Irsan memberi solusi agar tak repot, dan Jane menyetujuinya. Dengan berani, Jane menggandeng tangan Irsan, sementara Joe diam-diam mengawasi kegiatannya dari jauh.
"Beruntung banget si Irsan!" gumam Joe dengan perasaan emosi. Namun, dia sadar bahwa ini adalah urusan pribadi dan dia harus menjaga etika profesional di tempat kerja.
"Mas, rumahmu jauh tidak dari sini?" tanya Jane sambil terus menggandeng lengan Irsan. Irsan, tampaknya, tak keberatan sama sekali, dan suasana di antara mereka terasa nyaman.
"Lumayan sih," jawab Irsan sambil melempar senyuman hangat kepada Jane, yang membuatnya semakin terpesona.
Mereka akhirnya tiba di basement. Jane menuju ke tempat parkir mobil, sementara Irsan pergi ke arah lain untuk mengambil motornya.
Jane duduk di dalam mobil dan menunggu Irsan. Tidak butuh waktu lama bagi Irsan untuk kembali dengan motornya. Dia berhenti sebentar di depan Jane dan membuka sedikit visor helmnya.
"Ayo, Jane, ikuti aku!" ujar Irsan. Jane mengangguk dan segera memacu mobilnya untuk mengikuti Irsan.
"Mas, jangan terlalu ngebut ya!" teriak Jane memberikan peringatan, dan Irsan melaju perlahan untuk memastikan Jane tetap berada di belakangnya.
Mereka berkendara menyusuri jalanan kota yang padat dengan lalu lintas, dan cuaca yang sangat panas karena kemarau yang panjang.
Jane merasa tenggorokannya kering, lalu mengambil sebotol minuman isotonik yang ada di sisinya. Dalam sekejap, ia meminum air tersebut untuk meredakan dahaganya.
Dengan fokus mengemudi, ia memandangi punggung Irsan yang berada tepat di depannya saat ia mengendarai sepeda motor.
"Dari belakang saja, sudah terlihat begitu mempesona," gumam Jane sambil memuji dengan senyuman. Di dalam hatinya, ia membayangkan jika bisa menjalin hubungan dengan Irsan.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Irsan menepi di sebuah perumahan yang sederhana. Jane memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah tersebut, lalu membuka sabuk pengaman dan keluar dari pintu mobil.
Irsan merangkul pundak Jane dan mengajaknya mendekati pintu rumah. Dia mengetuk dengan lembut. "Assalamualaikum," sapa Irsan. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya yang mengenakan hijab membuka pintu. Irsan dengan hormat mencium punggung tangan wanita tersebut, dan Jane melakukan hal yang sama kepada wanita yang kemungkinan adalah ibu Irsan.
"Siapa ini?" tanya ibu Irsan yang bernama Ibu Hani.
"Saya teman Mas Irsan, Bu," Jane memperkenalkan diri dengan sopan.
Tidak lama setelah itu, seorang pria paruh baya muncul di belakang Bu Hani dan memberi salam selamat datang kepada Jane.
"Ayo, silahkan masuk!" kata Pak Rustam, yang merupakan ayah dari Irsan, kepada Jane.
Jane duduk di sofa, dan Bu Hani dengan ramah membuat minuman untuk tamunya. Jane menjelajahi pandangannya ke sekitar ruangan. Ada banyak kaligrafi, foto keluarga, dan juga foto Irsan saat wisuda. Terlihat jelas bahwa Irsan dan keluarganya adalah orang yang religius dan fanatik.
Jane sangat menghargai perbedaan keyakinan di antara Irsan dan dirinya. Bu Hani kembali dengan minuman dan makanan ringan untuk Jane.
"Maaf, tidak ada apa-apa," kata Bu Hani saat meletakkan beberapa kue kering dan minuman di atas meja.
"Duh, tidak apa-apa Bu, Pak, tak perlu repot-repot, saya jadi tidak enak," balas Jane.
"Ah, tidak apa, Nak. Ayo, silahkan minum dan cicipi kue keringnya. Ini buatan Umi Irsan," kata Pak Rustam. Jane mengangguk dan mengangkat cangkirnya untuk menghargai kedua orangtua Irsan.
Jane mencicipi kue buatan Bu Hani. "Rasanya enak sekali," puji Jane. Bu Hani adalah seorang penjual kue yang selalu menerima pesanan setiap hari. Suasana di rumah Irsan terasa hangat dan penuh dengan kebaikan.
Kedua orangtua Irsan mengajak Jane berbincang dan bertanya mengenai latar belakang Jane. Sementara Irsan berada di kamar mandi untuk membersihkan diri setelah pulang dari kantor.
Jane menjawab dengan jujur, dan seketika ekspresi Bu Hani langsung berubah. Namun, berbeda dengan Pak Rustam yang tetap bersikap tenang.
Bu Hani khawatir. Dia tidak ingin anaknya menjalin asmara dengan wanita yang memiliki keyakinan berbeda. Suasana di ruangan itu menjadi lebih tegang dari sebelumnya, dan Jane merasa canggung dalam situasi tersebut.
Tak lama kemudian, Irsan kembali, kali ini ia tampil lebih segar dan tampan dibalik pakaian santai yang dikenakannya. Jane mengangkat wajahnya, terpaku oleh pesona yang tersirat dalam diri Irsan.
"Tampan sekali," gumam Jane memuji secara diam-diam dalam hati.
Irsan memanggil Jane, dan gadis itu merespon dengan senyuman, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Jalan sekarang yuk!" ajak Irsan, dan Jane mengangguk dengan senang hati.
Mereka pun berpamitan kepada Pak Rustam dan Bu Hani, sementara Jane sudah memberitahu mereka bahwa Irsan akan membantu mencari tempat tinggal selama di Jakarta.
"Hati-hati ya," pesan Pak Rustam kepada keduanya.
"Kami berangkat, Assalamu'alaikum," ucap Irsan, diikuti dengan jawaban, "Walaikum Salam," dari Pak Rustam dan Bu Hani.
Setelah pergi, Bu Hani segera membujuk suaminya untuk berbicara mengenai Jane. Dia sangat tidak setuju dengan kedekatan Irsan dan wanita tersebut.
"Sudah jelas, Jane itu berbeda dengan kita!" ujar Bu Hani dengan nada khawatir. Pak Rustam berusaha memahami dan mengatakan, "Tidak masalah, toh mereka hanya berteman. Kita harus saling menghargai perbedaan, sayang."
__ADS_1
Namun, Bu Hani masih merasa cemas, dan Pak Rustam berusaha menjelaskan lebih lanjut agar istrinya tidak terlalu khawatir tentang kedekatan antara Irsan dan Jane.
Saat itu, Jane membiarkan Irsan memegang kemudi sementara dia duduk di sebelahnya. Mereka sudah tahu tujuan perjalanan mereka, karena Jane telah menemukan unit apartemen yang sesuai melalui aplikasi dan sudah membayar uang muka.
Selama perjalanan, suasana terasa hangat dan ceria.
Jane terus menunjukkan minatnya kepada Irsan, dan lambat laun, Irsan mulai merasa nyaman. Namun, hubungan mereka masih sebatas persahabatan.
Jane dan Irsan memiliki selisih usia 3 tahun, dan Irsan, sebagai yang lebih tua, membawa kedewasaan yang membuat Jane merasa nyaman berada di dekatnya.
Berbeda dengan Joe, meskipun selisih usia Joe dan Jane sangat jauh, Jane justru tidak merasa aman berada di dekatnya. Joe seakan tidak menghormati perempuan, yang membuat Jane merasa terluka dan trauma. Meski Joe memiliki wajah tampan, fisik sempurna, dan kekayaan berlimpah, itu tidak cukup untuk menaklukan hati Jane.
Jane tertarik kepada pria yang tahu bagaimana menghormati seorang perempuan, dan dia sudah menemukan sifat itu dalam diri Irsan.
Tak lama setelah itu, mereka tiba di tempat tujuan. Irsan dengan sigap membantu Jane mengeluarkan koper dan barang-barang lainnya dari bagasi.
"Mas, berat loh," kata Jane ketika Irsan mengangkat koper tersebut.
"Ringan gini kok," balas Irsan sambil tersenyum. Mereka berjalan bersama menuju lobi dan berbicara dengan seorang resepsionis untuk mengurus kebutuhan mereka.
Akhirnya, Jane dan Irsan tiba di salah satu unit apartemen. Meskipun sederhana, unit tersebut nyaman dengan peralatan modern yang lengkap. Irsan membantu Jane mengatur barang-barangnya.
Sementara itu, Jane memasak di dapur dan aroma yang tercium sangat menggugah selera. Irsan penasaran dengan menu yang Jane masak.
"Kamu masak apa, Jane?" tanya Irsan ketika Jane sedang menumis sayuran.
"Aku sedang masak capcay," jawab Jane sambil terus sibuk di dapur, berharap Irsan akan menyukai hasil masakannya. Jane bersenandung sambil memasak, terkadang memeriksa ponselnya.
Tiba-tiba, dia mendapat panggilan dari Joe. Khawatir jika itu terkait pekerjaan, dia mengangkat dan menyapanya dengan hormat, "Ya, halo Pak Jonathan?"
"Jane, kamu tinggal di mana?" Joe bertanya dengan khawatir.
"Mau saya tinggal di mana bukan urusan Anda!" jawab Jane dengan nada sinis, lalu memutuskan obrolan itu sepihak karena tidak ada kaitannya dengan pekerjaan dan dia tidak ingin berbicara lebih lama dengan Joe.
Irsan terkejut melihat reaksi Jane saat itu dan bertanya, "Loh, kok kamu jawabnya begitu sih?"
Jane memandang Irsan dan tersenyum, "Hehe, soalnya tadi ada sedikit masalah kecil, maaf ya," ucap Jane sambil merasa tidak enak karena reaksi tadi.
Irsan menggeleng dan mendekati Jane yang sedang memasak. "Jane, dia itu atasan kita, orang-orang tidak berani membentaknya," kata Irsan, mencoba menjelaskan situasi Joe. Jane langsung memutar matanya malas.
"Mas, gimana kalau kita bahas yang lain saja, setuju?" Jane menyarankan perubahan topik, jelas menunjukkan bahwa dia tidak ingin membicarakan Joe.
Irsan mengangguk. "Oke, baiklah," jawabnya, dan mereka mulai berbicara tentang hobi masing-masing.
...
__ADS_1
Bersambung...