
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar, sontak membuat aktivitas panas Jane dan Joe terhenti.
Jane dengan cepat mengatur posisi, ia berdiri tegak di sebelah Joe sebelum lelaki itu berteriak, "masuk!" dan seseorang menggerakan pegangan pintu.
Tak di sangka, ternyata itu adalah Irsan, Jane tertunduk sambil merapihkan poni rambut yang sedikit berantakan karena aktifitas bersama Joe. “Pak…” Irsan tersenyum dan menunduk dengan hormat, serta file laporan penjualan yang ia genggam di tangan. "Taruh di atas meja!"
Perintah Joe, dan ia kembali duduk di kursi kebesarannya.
Sementara Jane diam-diam mencuri pandang pada Irsan, begitu juga dengan Irsan yang berpura-pura cuek terhadap Jane di hadapan Joe.
Namun, tatapan matanya tidak bisa berbohong.
Joe memeriksa hasil laporan penjualan dengan penuh wibawa di kursi kebesarannya, sementara Irsan masih menunggu di sebrang meja sampai selesai melakukan pengecekan.
Joe menyalin beberapa tulisan di komputernya, lalu menyerahkan kembali file tersebut kepada Irsan.
“Saya izin, Pak,” pamit Irsan yang pada saat itu sekalian akan pulang.
Jane menghela napas, sebetulnya ia pun ingin segera pulang.
Namun, waktunya sudah tinggal setengah jam lagi. Lalu ia berpura-pura meminta izin untuk ke toilet, padahal ia ingin mengirim pesan terhadap Irsan.
Beberapa menit kemudian...
Joe, khawatir karena Jane terlalu lama di dalam toilet, ia mulai menggedor pelan pintu sambil berteriak, "Jane, apa kamu baik-baik saja?"
Jane, yang sebenarnya tengah serius bertukar pesan dengan Irsan, terkejut oleh ketukan dan teriakan Joe dari luar.
Ponselnya terjatuh ke bawah lantai, hingga menimbulkan suara, membuatnya dengan latah berkata, "Eh buju."
Lalu gadis itu berjongkok untuk meraih ponselnya yang jatuh.
Sambil berusaha meredakan keterkejutan, Jane menjawab Joe dengan cepat, "Ya, Pak, sebentar!"
Joe tampak tidak puas dengan jawaban singkat Jane, sehingga dia kembali berseru dan mengetuk pintu toilet, membuat Jane kesal.
Akhirnya, gadis itu membuka pintu toilet dengan kasar, lalu menatap Joe dengan tatapan tajam dan mengangkat kedua tangannya untuk mendorong bahu Joe.
Jane tak ingin Joe berulah lagi, terlebih ia masih merasakan sentuhan dan cumbuan yang diberikan Joe sebelumnya, yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Jane berhasil meminta izin untuk pulang, dan Joe akhirnya mengabulkan permintaannya. Sebelum Jane meninggalkan ruangan, Joe memberikan pesan, "Ya sudah, kamu pulang, hati-hati."
Jane tersenyum tipis dalam kelegaan hatinya, dan dia mengucapkan, "Terimakasih, Pak."
Namun, ketika Jane hendak pergi, Joe tiba-tiba memanggilnya kembali, membuat Jane agak kesal. ia berbalik dan bertanya dengan nada malas, "Apa lagi?"
__ADS_1
Joe melambai-lambai dengan lembut, dan setelah Jane kembali, Joe tanpa rasa canggung mendekatkan pipinya ke arah bibir Jane.
Jane tahu apa yang Joe maksudkan, dan dia meresponsnya dengan mendorong pipi Joe kasar, lalu berkomentar, "Ih, apaan sih!" dengan emosi, membuat Joe terkekeh.
"Gak usah munafik seperti itu, tadi juga kan, kamu menikmati saat bibir ketemu bibir." Joe kembali memancing.
mendengar kalimat itu, Jane menjadi salah tingkah, karena tak dapat di pungkiri, ia memang menikmatinya juga, terlebih aroma napas Joe yang wangi paper mint membuatnya betah menempelkan bibirnya berlama-lama.
Jane segera keluar dari ruangan dengan ketidakpuasan, sambil mengumpat dan memanggil Joe dengan julukan, "Dasar Bos otak konslet!"
Jane kembali ke unit apartemennya untuk bersiap-siap, karena ia dan Irsan sudah janjian untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota Jakarta sore ini.
Jane berdandan dengan sebaik mungkin, berharap bisa tampil memukau di depan pria pujaanya.
Setelah kembali bertukar pesan, Jane menunggu dengan cemas kedatangan Irsan yang akan menjemputnya.
Debar jantungnya semakin tak terkendali. "Duh, jadi deg-degan gini ya," batin Jane, terlalu gugup bahkan sampai mondar-mandir menunggu balasan pesan dari Irsan.
Akhirnya, Irsan tiba dan langsung menelpon Jane untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai.
"Ya, Mas, tunggu sebentar, aku ke bawah sekarang!" kata Jane dengan penuh antusiasme, lalu segera keluar dari apartemennya dan turun menggunakan lift.
Di luar, Irsan sudah menunggu dengan sabar. Jane berlari menghampiri Irsan sambil tersenyum lebar.
"Ayo, jalan sekarang!" ajak Irsan dengan siap, lalu memberikan helm untuk Jane.
Mereka meluncur bersama ke suatu kawasan yang indah, nyaman, dan ramai.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di lokasi tersebut.
Irsan dengan penuh perhatian bertanya, "Jane, kamu lapar?" Jane ragu menjawab karena merasa malu, tetapi Irsan dengan hangat mengajaknya ke area street food di dekat sana.
Di sana tersedia berbagai jenis makanan, baik lokal maupun internasional. Jane memilih untuk menikmati sate sembari menyaksikan suasana pemandangan di sore yang cerah.
Mereka berbincang dengan serius, awalnya membahas pekerjaan sebagai percakapan pembuka. "Mas, sudah berapa lama bekerja di perusahaan itu?" tanya Jane, mencoba memecah keheningan.
Irsan menjawab, "Ehm... sudah sekitar 3 tahun."
Tema obrolan akhirnya bergeser ke Joe. "Eh, Mas, tadi dia bilang apa saja sih?" tanya Jane, mengerutkan keningnya, penasaran.
Irsan menjelaskan ucapan Joe, yang membuat Jane semakin bertambah geram. "Ish, benar-benar kurang ajar ya dia. Asal Mas tahu, dia juga merendahkan Mas dan aku!" Jane terlihat sangat marah atas komentar-komentar Joe.
Namun, Irsan merespon dengan tawa. "Oh, begitu?" kata Irsan.
"Iya, dia bilang kalau Mas playboy..." Jane terus mengeluarkan kekesalannya.
__ADS_1
Irsan tiba-tiba memegang tangan Jane dengan lembut. "Sepertinya Pak Jonathan suka padamu, Jane. Dia juga tidak suka dengan kedekatan kita," ungkap Irsan, membuat Jane menatapnya dengan kebingungan.
"Hmm... Tapi aku tidak tertarik padanya," balas Jane dengan tegas, menegaskan bahwa hatinya bukan untuk Joe.
"Mengapa kamu tidak tertarik balik padanya? Padahal menurutku, dia sempurna," ujar Irsan dengan penuh keyakinan terhadap gadis yang ada di hadapannya.
Jane menatap kedua mata Irsan dengan harapan yang jelas terpancar dari sorot kedua matanya. "Ya, tapi kesempurnaan bukanlah tolak ukur," kata Jane, berharap Irsan dapat merasakan getar di hatinya.
Jane mengembangkan kebahagiaan di hatinya. Dalam batinnya, ia berharap bahwa Irsan akan mengungkapkan perasaannya.
Senyuman di bibir Irsan dan tatapannya yang penuh kagum membuatnya semakin terpukau.
"Ya Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu," gumam Jane sambil terus menatap wajah Irsan yang begitu memikat.
Irsan pun tak bisa menghindari pandangannya yang terus terfokus pada kedua mata Jane. "Dia adalah wanita ideal yang selama ini kucari..." pikirnya.
Namun, Irsan terdiam sesaat, teringat larangan ibunya tentang menjalin hubungan dengan wanita yang berbeda keyakinan. Ini membuatnya ragu.
"Hmmm..." Irsan menghela napas. Walaupun ada halangan berupa perbedaan keyakinan, ia tak bisa lagi menyimpan perasaannya. Dengan penuh keberanian, ia mengungkapkan, "Jane, aku suka padamu."
Ucapan tulus itu mengalir begitu saja, dan Jane merasa begitu bahagia mendengarnya.
Keduanya memandang satu sama lain dengan tatapan bahagia. Mulut Jane terbuka lebar, dan ia memegang tangan Irsan dengan erat, tak percaya bahwa saat ini mereka akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini mereka simpan.
"Mas Irsan, serius?" tanya Jane dengan antusias, mencari konfirmasi dari Irsan yang dengan penuh semangat menjawabnya dengan anggukan.
"Mas, aku juga suka padamu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu, sumpah!" ungkap Jane tanpa bisa lagi menahan gejolak cinta yang begitu kuat sejak pertama kali mereka bertemu.
Irsan tersenyum lebar, dan dengan penuh keyakinan, ia bertanya, "Jadi, kita pacaran, ya?"
"Iya, Mas," jawab Jane tanpa ragu sedikit pun. Ia tampak begitu bahagia, dan dengan erat, ia memeluk lengan Irsan. Sekarang, mereka resmi berpacaran, dan kisah cinta mereka pun dimulai.
Irsan yang seketika berubah ekspresi membuat Jane merasa khawatir dan bertanya, "Mas Irsan, ada apa?"
Irsan, awalnya ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi dia berpikir ini adalah saat yang tepat.
"Jane, mungkin lebih baik kalau kita menyembunyikan hubungan ini terlebih dulu," pintanya dengan nada lembut, membuat Jane merasa kecewa.
"Kenapa harus begitu sih, Mas?" tanya Jane dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Membuat Irsan tak enak ketika harus mengungkapkan ini.
"Ada beberapa masalah yang cukup sensitif yang perlu kita diskusikan," jelas Irsan. Jane mengangguk, mencoba memahami situasinya.
"Tapi, kita bisa mengatasinya, kan?" tanya Jane dengan serius, mencoba menawarkan solusi.
Irsan mengangguk dengan perasaan campur aduk, mencoba merenungkan masa depan hubungan mereka yang sekarang penuh dengan ketidakpastian karena suatu perbedaan.
__ADS_1
...
Bersambung...