
Jane terus tersenyum dengan bahagia, meskipun hubungan mereka harus dijaga dengan rapi dan disembunyikan, terutama dari orangtua Irsan yang mungkin akan menentang hubungan mereka.
"Aku yakin, suatu saat Mas Irsan akan mengungkap hubungan ini," batin Jane, penuh harapan terhadap masa depan bersama Irsan. Ia yakin bahwa suatu hari nanti, hubungan keduanya akan di publikasikan.
Mereka memutuskan untuk pulang sebelum magrib, mengingat Bu Hani, ibu Irsan, yang sangat protektif terhadap putranya.
Irsan memanggil Jane dengan nama sayang, membuat hati Jane semakin berbunga-bunga.
Di sepanjang jalan menuju tempat parkir, ia tidak bisa melepaskan pelukan dari lengan Irsan, merasa beruntung memiliki seorang kekasih seperti Irsan.
"Mas," panggil Jane dengan penuh cinta, dan Irsan dengan penuh perhatian merespons.
"Ya?" tanya Irsan dengan lembut.
"Aku benar-benar tak percaya kita bisa jadian," ungkap Jane, masih terpana oleh kebahagiaan ini.
"Ya, aku juga merasa begitu. Semua ini seperti mimpi." Irsan mencubit pipinya sendiri untuk memastikan jika ini nyata. "Ternyata ini adalah kenyataan. Aku benar-benar memiliki bidadari seindah kamu, Jane," puji Irsan, dan itu membuat kedua pipi Jane merona merah.
Jane bergelayut manja di lengan Irsan, merasa bahagia dalam pelukannya. Dengan suara lembut, Jane berkata, "Mas, aku harap kamu setia padaku." Irsan membalas dengan penuh perasaan, "Insya Allah, semoga kita berjodoh."
Mereka terus berjalan bersama, hingga terdengar suara adzan dari masjid terdekat. "Sayang, aku harus pergi shalat dulu," pamit Irsan dengan sopan.
Jane mengangguk, memahami pentingnya menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim, meskipun mereka berbeda agama.
Jane menunggu di luar masjid sambil membaca novel online untuk melepas waktu.
Namun, saat ia tengah asyik membaca cerita favoritnya, panggilan telepon masuk mengganggu.
Ia tampak kesal dan bingung saat Joe mencoba menghubunginya.
Jane membiarkan telepon berdering tanpa menjawabnya, yakin bahwa Joe pasti ingin membahas sesuatu yang bukan urusan pekerjaan.
Di sisi lain, Joe tampak gundah gulana karena Jane tidak menjawab panggilannya.
Jane tersentak kaget ketika Irsan dengan iseng mencoba mengagetkannya. "Duar...!" Jane tersenyum dan berusaha memukul lembut bahunya. "Astaga, Mas, bikin aku jantungan saja!"
Setelah mengakhiri bacaannya, Jane memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas."Sudah selesai?" tanya Jane, dan Irsan mengangguk.
"Ya, pulang sekarang yuk!" Irsan menuntun lengan Jane untuk bangkit, lalu melanjutkan langkah mereka menuju parkiran yang tak jauh dari area masjid.
Jane duduk di jok belakang, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Irsan dengan sangat erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan gedung apartemen tempat tinggal Jane.
"Mas, mau mampir dulu?" tawar Jane, Irsan tersenyum sambil menautkan tali helm yang baru saja di kembalikan oleh Jane.
"Ehm... Gak deh, bahaya," jawab Irsan menjaga jarak, ia tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan ketika berduaan bersama Jane di tempat yang sepi, karena ia sangat menghargai Jane.
"Mampir lah, sebentar aja!" paksa Jane sambil merengek manja.
"Hmm... " Irsan berpikir sejenak. "Ya sudah, aku antar kamu sampai depan pintu unit saja ya?" tawarnya, Jane memutar kedua matanya dengan wajah yang menekuk karena Irsan enggan memenuhi permintaanya. "Oke deh," kata Jane menyanggupi.
__ADS_1
Irsan dengan penuh perhatian mengantar Jane menuju unitnya, Jane lalu meraih key card dari dalam tasnya, dan membuka pintu.
"Mas, kemari!" Jane dengan manja menarik lengan Irsan, dan Irsan enggan.
Ia berusaha menahan pergerakan tubuhnya sambil berpegang erat pada sudut pintu.
Namun, tampaknya tenaga Jane lumayan kuat hingga Irsan terseret masuk ke dalam ruangan tersebut, lalu Jane menutup pintu.
Dengan cepat, Jane memberikan pelukan di tubuh Irsan. Reflek, lelaki itu mendorong tubuh Jane sedikit menjauh, ia berucap, "astagfirullah." Jane mendengus kesal atas penolakan nya.
"Sayang, kita tidak boleh seperti ini," tolak Irsan mencoba menasihati kekasihnya yang tengah merajuk.
"Memangnya kenapa? Kan cuma peluk." tanya Jane yang tak paham dengan aturan agama yang di anut oleh Irsan.
"Ya, itu namanya berlebihan sayang, kalau sudah peluk pasti ingin yang lebih lagi," papar Irsan, Jane akhinya mengangguk mencoba memahami dan menghargai kekasihnya.
***
Lain halnya dengan apa yang di rasakan oleh Joe. Ketertarikannya terhadap Jane kian merasuk ke dalam jiwa.
Jane berhasil membuat Joe jatuh cinta, dan semakin gila karena Joe tak mampu menggapai hatinya.
"Aku harus bisa mendapatkan mu, Jane." betapa besar ambisi Joe saat ini.
Zico, sahabat Joe masih berada di kediamannya, karena harus mengurus pekerjaan di Jakarta selama 3 hari, itu artinya ia tak bisa bertemu dengan Zea, kekasihnya, sehingga ia hanya bisa menghubunginya lewat panggilan video.
Seusai berbicara dengan Zea, Zico memfokuskan pandangannya pada Joe yang sedang melamun di tepi balkon sambil menyesap sebatang rokok dengan raut wajah putus asa.
"Susah, susah!" pekik Joe dengan suara frustasi, hal itu membuat Zico terkekeh. "Apanya yang susah?" Zico duduk di sebelah Joe sambil menggenggam gitar dan siap untuk memainkannya.
Ketika ia mulai memetik senar, dengan cepat Joe berteriak melarang, "berisik!" Zico tak melanjutkan, dan menaruh kembali alat musik tersebut di sebelahnya.
"Joe, kamu musti cerita kalau ada masalah!" Zico menepuk punggung Joe pelan, Joe terdiam sesaat, sebenarnya ia malu jika berbicara kepada Zico meski ia adalah sahabatnya sejak lama.
"Pasti tentang cewe?" Zico menebak, Joe masih saja terdiam dan berusaha memulai pembicaraan. "I... Iya," jawabnya dengan ragu membuat Zico tertawa terbahak.
"Pasti soal Jane, kan?" tanya Zico, Joe malu mengakuinya, kedua pipinya langsung memerah. "Idih, ngaku aja deh!" Zico menyenggol lengan Joe dengan sikunya.
"Ya, iya. Jane... aku beneran suka banget sama dia, Zic. Tapi, aku bingung gimana caranya deketin dia," Joe mengakui dengan raut wajah cemas. Ia merasa lega setelah mengungkapkan permasalahan hatinya kepada Zico.
Zico menyadari, jika Joe memang sulit membuka hati, dan selama ini ia tak pernah menggandeng seorang wanita. Baginya Jane merupakan wanita yang sangat beruntung karena ia sangat diinginkan oleh Joe.
"Ya kejar terus sampai dapat!" Zico berupaya menyemangati sahabatnya, Joe menghirup napas frustasi sambil mengacak belakang rambutnya.
"Susah! Dia itu benar-benar gak peka meskipun aku sudah menciumnya," ungkap Joe, Zico membuka mulutnya heran mendengar pengakuan sahabatnya ini.
"Menciumnya? Kok bisa? Kan diantara kalian belum ada hubungan."
Joe memberikan penjelasan, "Iya, itu waktu kejadian di kantor. Mungkin itu salah satunya yang membuat aku semakin penasaran sama dia."
Zico mengangguk mengerti, tetapi ia juga memberi nasehat, "Joe, sabar ya, jangan terlalu terburu-buru, Jane itu perlu waktu untuk mengenalmu lebih dalam. Dan jika memang kalian jodoh, semuanya akan berjalan dengan sendirinya."
__ADS_1
Joe menelan ludah, ia tahu bahwa kesabaran adalah kuncinya, tetapi hatinya tetap tak sabar ingin mendapatkan hati Jane.
Zico memeluk pundaknya lalu berbisik sinis, "mending kamu dukunin dia aja!" ujarnya penuh gurauan.
Dengan cepat Joe langsung memukul kepala Zico.
"Sontoloyo! Hari gini masih percaya begituan?" Joe tertawa terbahak.
"Iya kan, cinta di tolak dukun bertindak!" balas Zico masih dengan gurauan.
"Dih, aku gak mau, mending pakai cara natural!" Joe kembali meraih sebatang rokok dari dalam kotak dan menempelkan di sudut bibirnya sambil mendengar celotehan Zico yang kelewat batas.
***
Pagi yang cerah, di dalam basement perusahaan, tanpa disengaja, Joe menyaksikan Irsan dan Jane tiba bersama-sama. Jane tidak membawa mobilnya, melainkan nebeng di motor Irsan.
Perasaan cemburu yang telah lama terpendam di hati Joe memuncak. Degup jantungnya semakin cepat, dan amarah pun mulai membara.
Meski hatinya terbakar oleh cemburu, Joe mencoba menjaga penampilan profesionalnya di tempat kerja. Dia mendekati Irsan dan Jane yang baru turun dari motor.
"Tumben kalian datang barengan? Jane, kenapa gak bawa mobil?" Joe mencoba menyembunyikan perasaannya dengan berbasa-basi.
Irsan dan Jane saling bertukar pandang dengan senyuman, menciptakan situasi yang semakin memicu cemburu Joe.
"Iya, saya lagi malas bawa mobil, kebetulan Mas Irsan ngajakin berangkat bareng, jadi... Ya udah," jawab Jane dengan santai, meskipun dia tahu Joe terlihat cemburu.
Jane dengan tegas memegang lengan Irsan, berani menunjukkan kepada Joe bahwa mereka tidak akan menyembunyikan hubungan mereka.
Keduanya berjalan melewati Joe, setelah Jane menyampaikan permintaan maaf dan pamitan.
Namun, Joe tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya yang semakin memuncak.
Ia yang tertinggal dan tidak suka dengan kemesraan mereka. Karena itu, Joe mencoba menarik lengan Jane untuk menjauhkannya dari Irsan.
Jane terkejut dan kesal dengan tindakan Joe. "Eh, apaan sih?" protesnya.
Joe, sementara itu, mengingatkan mereka tentang peraturan di perusahaan dengan nada tegas dan lantang. Kejadian itu menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Irsan menunduk hormat dan mengakui kesalahannya. "Maafkan saya, Pak," ucapnya dengan patuh.
Joe menegaskan dengan keras, "Kalau kalian ingin berpacaran, lakukan di luar, bukan di sini!" Teriakannya membuat beberapa orang sekitar menoleh dan memperhatikan situasi tersebut.
Irsan, setelah meminta maaf pada Joe, memilih untuk masuk ke dalam gedung kantor tanpa Jane. Jane harus menghadapi amarah Joe sendirian.
Joe dengan kasar menarik lengan Jane dan memaksa masuk ke dalam ruangan pribadi mereka. Jane terlihat kesakitan saat Joe terlalu kasar mencengkram pergelangan tangannya.
"Pak, sakit tahu!" pekik Jane yang menahan amarah dan ketidaknyamanan akibat perlakuan kasar Joe.
...
Bersambung...
__ADS_1