
Jane berdecak kesal saat mendengar ucapan Joe yang seolah memuji dirinya sendiri. "Ganteng itu di akui, bukan mengakui," celetuknya secara spontan seolah kata tersebut mengalir begitu saja dari mulutnya. Joe yang semula percaya diri, kini menatap murka pada Jane.
Jane menyadari arti tatapan pria itu, ia langsung membuka kedua matanya lebar-lebar sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Apa yang kamu katakan, hah?!" Joe mendekatkan wajahnya kearah Jane, membuat gadis itu tegang dan mengigit bibir bawahnya.
"Hehe." Jane terkekeh, Joe menatap Jane dengan setengah mata yang seakan tertutup.
Ia tak tahan dengan bentuk bibir Jane yang begitu seksi dan menggoda seolah memanggil untuk meraskan betapa manis rasa bibirnya.
Jane reflek mencapit kedua tepi bibir Joe dengan kasar dan gemas. "Mau ngapain, kamu?!" Jane yang berani melakukannya, membuat Joe berteriak. Namun, suara teriakannya terganggu, dan segera melepas cengkraman jemari nakal Jane.
"Jane, kamu sudah berani melontarkan kata-kata kasar dan bertingkah kurang ajar padaku!" Joe merasakan sakit di kedua tepi tepi bibirnya ulah perbuatan gadis tersebut, lalu ia kembali memakinya.
"Aku ini atasanmu!" ungkapnya kembali seakan masih belum cukup untuk menyakinkan Jane akan posisinya di perusahaan tersebut.
"Iya, aku tahu!" jawab Jane dengan ekspresi datar.
Joe masih menggosok-gosok bibirnya sendiri, karena sensasi nyerinya masih belum mereda, ia berusaha menahan amarah terhadap perbuatan Jane.
"Lalu, kenapa kamu berani bertingkah seperti ini kepadaku?" tanya Joe yang masih di selimuti emosi.
"Ya salah sendiri, kenapa kamu begitu? Kita ini kan baru mengenal!" Jawab Jane dengan lugas, ia kembali duduk, lalu mengempalkan kelima jemarinya dengan gigi yang mengatup rapat.
Perbuatan Joe membuat Jane kesulitan berkonsentrasi ketika tengah menatap layar monitor di depannya.
"Maaf!" Ucap Joe yang mengakui kesalahannya karena sudah terlalu berani pada Jane.
Tiba-tiba suasana hening di antara keduanya. Joe dan Jane melanjutkan tugas masing-masing. Jane membuka dokumen tugas yang diberikan Joe, kemudian mengerjakannya.
Sesaat, Jane merasakan pening di kepalanya, karena baru juga awal menjadi sekretaris sudah dihadapkan dengan tugas yang diperintahkan oleh Joe. “Lah, seharusnya kan, ini bukan termasuk tugas-tugasku,” batin Jane saat memeriksa berkas dokumen yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaannya.
Tiba-tiba, Jane melihat ponselnya menyala dan bergetar diatas meja.
Diam-diam ia mengintip notifikasi di layar beranda. Jane terbelalak saat membaca satu pesan chat dari Irsan. Joe yang sedikit memperhatikan Jane, ia langsung menggebrak meja di hadapannya, membuat Jane tersentak. "Eh, buju!" latah Jane, Joe membuka kedua matanya lebar-lebar. "Jangan sentuh-sentuh handphone, ini masih jam kerja!" bentaknya dengan tegas. Jane mendesis kesal. ia merasa kalau Joe terlalu berlebihan, padahal ia hanya mengintip layar ponselnya sebentar.
Jane mengangguk, walau bagaimana pun ia harus mematuhi perintah dan larangan Joe saat di perusahaan.
"Iya, Pak, saya minta maaf," ucapnya yang seolah tak ikhlas.
__ADS_1
"Hadeuh, belum juga sempat baca pesan dari Irsan, udah di amuk duluan sama Bos sontoloyo satu ini," batin Jane menahan dongkol dalam hatinya.
...
Beberapa jam kemudian.
Seluruh karyawan membubarkan diri, begitu juga dengan Jane yang merasa harus menutup aktifitas pekerjaanya.
Jane mematikan layar monitor, lalu berkemas dan rapih-rapih, ia tak sabar untuk menemui Irsan saat bubaran, pikirnya.
Sementara, Joe masih sibuk dengan tugas-tugasnya di ruangan tersebut.
"Jane, kamu mau kemana?" tanya Joe saat Jane mengenakan tasnya dan beranjak keluar dari area meja kerja.
Jane langsung menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh kearah Joe.
"Ya mau balik lah, ya kali aku minep disini sama kamu, dih ogah, bisa-bisa balik udah gak rapet lagi!" cibir Jane. Mendengar hal itu, Joe terkekeh sinis sambil menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Emangnya kamu masih rapat?" tanya Joe dengan tatapan penuh rayu dan menggoda.
"Ya, iya lah, kamu pikir aku ini perempuan apaan," balas Jane membenarkan ucapannya sendiri, Joe sesaat menghentikan aktifitasnya, ia merasa tertarik dengan pembahasan kali ini.
Jane berdiri di hadapan Joe, ia siap menjawab ucapan dan pertanyaanya.
"Gak ada hubungannya! Biar begitu, aku masih bisa menjaga diri sendiri! Meski aku memiliki image nakal dari luar, bukan berarti aku murahan!" bentak Jane dengan tegas. Namun, Joe seolah tak percaya begitu saja.
"Hmm, masa?" tanyanya dengan nada mencibir.
"Masih gak percaya?" tantang Jane, Joe mengangguk.
"Ya jelas lah, apapun perlu pembuktian!" pinta Joe, Jane siap memukul wajah Joe menggunakan tasnya, lalu ia menunjuk.
"Jaga ya ucapanmu, Bos mesum!" Jane mengamati Joe dengan tegas dan serius.
Jane mulai melangkah menuju ambang pintu, dengan cepat, Joe berteriak mengulangi pertanyaan yang sama. “Jane, kamu mau kemana?” Jane berpaling dengan malas. "Kamu ini budek ya? Aku mau balik lah!" jawabnya ketus. “Loh, kamu itu kan belum mendapat tempat tinggal,” kata Joe. “Lagian, aku sudah memintamu untuk ikut bersamaku,” lanjutnya lagi, Jane mendengar sambil melipat kedua tangannya di atas dada. "Tapi, takut tinggal sama kamu!" tolak Jane, dan Joe tertawa melihat wajahnya yang kesal.
Joe terus memaksa Jane untuk ikut bersamanya seusai Joe menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa lagi. Sehingga Jane kembali duduk, kali ini Jane duduk di atas sofa, sambil memeriksa ponsel. Ia kembali membaca pesan singkat dari Irsan. Mereka mengirim ngobrol sesaat.
"Joe," panggil Jane. Joe mengangkat wajahnya untuk merespons seruan dari Jane. "Apa?" tanya Joe. "Aku keluar sebentar," izinnya, Joe mengangguk tanda meng iya kan. "Ya sudah, tapi taruh dulu tas mu!" perintahnya, ia seakan takut jika Jane kabur tanpa menunggunya terlebih dahulu.
__ADS_1
Jane tampak tak sabar untuk menemui Irsan, ia keluar dari ruangan dengan langkah yang tergesa-gesa. Saat itu Irsan baru mengisi absen ke luar, ia menunggu Jane karena sudah janji lewat pesan. “Mas Irsan.”Jane melambaikan tangan kearah pria tampan itu, Irsan melihat Jane berjalan mendekatinya di tengah hilir mudik orang-orang. “Jane,” balas Irsan dengan antusias menyambut Jane. “Loh, kamu belum pulang?” tanya Irsan, Jane menganggukan kepala.
"Hmm, memangnya di kasih lembur sama Pak Jonathan?" tanyanya kembali, Jane berpura-pura meng iya kan, karena ia tak mungkin mengungkapkan kepada Irsan jika dirinya akan pulang bersama Joe ke kediamannya.
Jane berbincang saat bersama lelaki itu, sambil mengantarnya sampai tempat parkir. “Ya sudah ya, aku pulang duluan, Jane," pamit Irsan sambil mengenakan helmnya, Jane mengangguk dan tersenyum ramah.“Hati-hati ya Mas, kalau sudah sampai kabari aku,” balas Jane, memancarkan tatapan yang begitu hangat terhadap Irsan. "Ya, pasti." Irsan mengangguk saat sudah berada di atas motor gedenya dan mulai melaju. Jane merasakan kelegaan dan hati yang berbunga-bunga saat mengenal Irsan. Ia kembali menuju ruangan kantor dengan suasana riang gembira, dan tak henti-hentinya mengembangkan senyuman.
Saat kembali, Joe mencuri-curi pandang memperhatikan mimik wajah Jane. "Ehem," Joe bersuara, dan Jane memutar kedua matanya jengah. "Apaan sih?" tanya Jane sinis. "Ngapain dari tadi aku perhatiin, senyam senyum, senyam senyum? otakmu itu sudah gak waras ya?" Joe mengajukan pertanyaan dengan nada cibiran. "Lah, kepo!" jawab Jane, ia merasa risih, karena Joe terlalu ingin mengetahui urusan pribadinya.
Jane tak lepas dari ponselnya, ia berharap Irsan segera mengirim pesan singkat selepas ia sampai di rumahnya. Lagi dan lagi, Joe terus memperhatikan tingkah laku Jane. "Dasar cewe aneh!" cibir Joe saat mengamati raut wajah Jane yang penuh dengan harapan besar terhadap seseorang.
Tak beberapa lama, Joe merapihkan pekerjaanya. Lalu bangkit, kemudian mengajak Jane keluar dari ruangan mereka. "Ayo, Jane!"
Jane mengangguk, ia mengekor langkah kaki Joe dari belakang. "Kamu datang ke sini bawa kendaraan?" tanya Joe, dan Jane mengangguk cepat. "Iya," jawabnya. "Ya sudah, kamu ikutin mobil aku, pokoknya ikutin aja!" perintahnya dengan tegas seakan tak ingin di langgar. "Ya!" Jane menjawab singkat, ia malas mengobrol dengan Joe.
Joe memelankan langkah kakinya mencoba menyeimbangkan dengan gerakan Jane, sehingga mereka berjalan beriringan menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Joe masuk terlebih dulu, dan diikuti oleh Jane sehingga Jane berdiri tepat di depan Joe.
Joe memperhatikan bentuk tubuh Jane yang lumayan tinggi dan ramping, serta sedikit berisi di bagian bokongnya, membuatnya semakin menarik dan enak di pandang.
Seketika, pikiran Joe kembali kotor saat membayangkan jika ia bisa bergulat dengan Jane diatas tempat tidur.
Tak beberapa lama, pintu lift terbuka.
Jane melangkah terlebih dulu ke depan pintu. Namun, tiba-tiba saja salah satu hels-nya menancap di sela-sela pintu lift, membuat Jane kesulitan menyeimbangkan posisi tubuhnya.
Ia hampir terjungkal ke belakang. Dengan sigap, Joe langsung meraih tubuh Jane dengan posisi satu tangan yang melingkar di pinggangnya yang sangat ramping, dan satunya lagi menggenggam jemarinya yang begitu lembut.
Jane sesaat menatap kedua mata Joe, dengan cepat, Jane kembali bangkit sambil berusaha melepas hels yang menancap.
Joe merasakan getaran di hatinya. Namun, ia berupaya menepis itu semua, karena ia berpikir, ia baru saja mengenal Jane, dan belum mengetahui semua tentang dirinya.
Sementara, Jane tak ada perasaan apapun terhadap Joe, bahkan dari awal pertemuan yang tak diinginkan hingga mereka di pertemukan kembali oleh takdir.
Jane, justru ia sangat tertarik terhadap Irsan, dan ada hasrat ingin mengenalnya lebih jauh, meski semua itu akan mustahil mengingat Irsan dan dirinya berbeda keyakinan.
...
Bersambung...
__ADS_1