Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Jane Maafkan aku!


__ADS_3

Seusai mandi dan mengenakan pakaian kerja, Jane merapihkan kembali beberapa pakaian ke dalam kopernya setelah sempat menata semuanya di dalam lemari. Ia merasa harus mencari tempat tinggal sendiri.


Jane menggenggam gagang koper dan melangkah keluar dari dalam kamar dan berjalan melalui pintu ruang makan yang terbuka. Padahal, Joe sudah menyiapkan hidangan sarapan pagi untuknya, tetapi Jane berpura-pura tak menengok.


Joe berupaya memanggil gadis itu, "Jane..."


Namun, Jane tak ingin mendengar seruannya karena hatinya masih dongkol terhadap Joe. Lantas, Joe bergerak mengikuti langkahnya, lalu menggenggam lengan Jane untuk menahannya pergi.


"Jane, Please!" Joe menunjukkan penyesalan di hadapan Jane. Dengan cepat, Jane menarik lengannya kembali sambil memutar kedua matanya ke arah Joe.


"Sudah, cukup Joe! Aku benar-benar muak kepadamu!" Jane kembali mendorong kopernya menuju pintu luar, membuat Joe mengusap wajah dan rambut dengan nada frustasi sambil menendang daun pintu karena emosi.


Jane memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, Joe kembali mengejarnya.


"Jane, kamu mau tinggal di mana, memangnya?" tanya Joe. Jane langsung menutup bagasi dengan gerakan kasar, lalu menoleh malas ke arah Joe di sampingnya.


"Ke mana pun, yang jelas lebih aman daripada aku harus tinggal bersamamu!" jawabnya tegas.


Joe berlutut dan meraih kedua lengan Jane dengan rasa penyesalan atas tindakannya yang sudah berani kurang ajar.


"Jane, maafkan perbuatanku, dan tetaplah tinggal di sini. Aku janji, aku tak akan begitu lagi. Yang tadi hanya khilaf," ungkapnya. Jane tak akan mudah percaya begitu saja atas perkataan Joe terhadapnya.


Jane tak menggubris ucapan Joe, ia langsung naik ke dalam mobilnya lalu mengencangkan sabuk pengaman. Sementara itu, Joe menggedor kaca jendela mobil Jane dengan keras memintanya untuk tetap tinggal.


"Jane..." teriaknya. Namun, gadis itu tak ingin mendengar dan menanggapi, lalu ia segera melaju menuju ke perusahaan.


Joe lalu mengejar Jane dengan mobilnya, ia segera memacu mobilnya untuk menyusul Jane, berusaha menemui jalan untuk mengatakan maaf dan mendamaikan situasi.


Jane mengemudikan kendaraannya sambil menangis, air matanya mengisi ruang mobil saat dia mempertimbangkan perbuatan Joe. Meski merasa terluka, dia tetap bertekad untuk bersikap profesional sebagai sekretaris pribadi Joe di tempat kerja.


Ketika Jane tiba di perusahaan, dia memarkir mobilnya, lalu keluar sambil menyeka sisa-sisa air matanya. Langkah kakinya terasa lemas saat dia berjalan menyusuri koridor perusahaan.


Tiba-tiba, dia bertemu dengan Irsan, yang segera menyapa. "Jane, kenapa kamu menangis? Apa ada masalah? Jangan ragu untuk bercerita." Irsan mengungkapkan perhatiannya, tetapi Jane menggeleng, tidak ingin membuka permasalahan pribadinya dengan Joe di depan Irsan dan menghindari penilaian yang salah.


"Tidak apa-apa, Mas. Tadi kakiku tersandung, jadinya aku nangis deh," ujar Jane sambil berusaha tersenyum.


Mereka berdua mengambil tempat untuk berbicara sebentar, memanfaatkan waktu sebelum jam kerja dimulai. Sambil berjalan bersama Irsan, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Joe di tepi koridor.


Joe memicingkan mata dan menatap tajam Irsan, sebagai ekspresi persaingan yang jelas terlihat. Jane menghindari kontak mata dan memutar wajahnya, enggan melihat Joe.

__ADS_1


Jane dengan berani menggenggam tangan Irsan. Namun, dengan cepat Joe melontarkan larangan. "Jangan berdekat dekatan saat di kantor!" tegasnya.


Jane segera melepaskan genggamannya dari tangan Irsan, dan Irsan dengan sopan mengangguk patuh kepada Joe, menunjukkan penghormatannya kepada pimpinan di perusahaan tersebut.


"Ya, Pak. Saya minta maaf," ucap Irsan dengan suara lembut dan hormat. Jane, di sisi lain, hanya menggelengkan kepala sambil menghembuskan napas berat dan berjalan dengan nada geram menuju ruang kerjanya yang menyatu dengan ruang pribadi Joe.


Joe mengikuti langkah kaki Jane, hingga akhirnya mereka kembali bertemu di ruangan tersebut.


Seketika hening, tak ada percakapan, yang terdengar hanyalah deru napas masing-masing dan juga monitor yang baru saja dinyalakan. Jane menghempaskan bokongnya di atas kursi dengan ekspresi cuek terhadap kehadiran Joe yang terus menatapnya dengan penuh sesal.


"Jane," seru Joe, kalimat itu terucap berulang-ulang. Namun, tampaknya Jane tak jua meresponnya hingga telinganya panas.


"Kalau tidak ada hubungannya dengan pekerjaan tidak usah panggil-panggil!" ucap Jane dengan penuh ketegasan, Joe mengatur suaranya, lalu kembali berbicara.


"Apa saja jadwal hari ini?" tanya Joe, kali ini yang berhubungan dengan pekerjaan, sehingga Jane merespon dengan cepat. Ia membuka buku, lalu memeriksa jadwal.


"Hari ini jadwal perancangan produk terbaru. Tim pengembangan telah menunggu Anda untuk rapat pukul 10 pagi," jelaskan Jane, tetapi ia tetap menjaga jarak dingin antara dirinya dan Joe.


Joe mencatat jadwal itu dalam otaknya, tetapi ketegangan masih ada di antara mereka. Namun, mereka terus bekerja secara profesional untuk menyelesaikan tugas masing-masing, meskipun suasana ruangan dipenuhi dengan ketidaknyamanan yang tak terucapkan.


Joe melangkah dan duduk di kursi kebesarannya, lalu membuka file tugasnya yang belum selesai. Kini mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sampai tiba pukul 10 kurang beberapa menit keduanya beranjak untuk menemui Tim pengembangan di ruangan meeting.


Sampai akhirnya mereka tiba di ruang meeting, disana Joe menugaskan Alvin, Irsan, dan beberapa Tim yang terlibat dalam proyek tersebut. Jane saling melayangkan tatapan hangat dengan Irsan menyiratkan ketertarikan di antara keduanya.


Selama pertemuan, mereka bekerja dengan efisien untuk membahas perancangan produk terbaru. Jane memberikan pandangan yang cerdas dan terorganisir, sementara Joe memimpin rapat dengan sikap kepemimpinan yang kuat meskipun tetap merasakan tegangnya hubungan di antara dirinya dan Jane.


Pada akhir rapat, Jane mengumpulkan berbagai catatan dan perincian yang dibahas dalam pertemuan tersebut, menunjukkan profesionalisme dan dedikasinya pada pekerjaan. Masing-masing anggota tim meninggalkan ruang rapat, namun Jane dan Irsan masih bertukar beberapa kata, membahas detail tertentu terkait perancangan produk.


Joe, yang melihat interaksi ini, semakin merasa tidak nyaman, meskipun dia mencoba menyembunyikan perasaannya di balik wajah yang serius.


Hingga pukul 11 lebih beberapa menit, Irsan dan Jane kembali ke ruangan masing-masing. Begitu juga dengan Joe, ia kembali untuk melanjutkan tugas yang belum selesai. Sampai istirahat tiba, Jane berdiri, lalu meminta izin. "Pak Joe, saya mau makan dulu."


Joe menoleh, kemudian mengangguk, "Ya, silakan, Jenifer," balasnya dengan profesional sesuai permintaan Jane. Jane berjalan keluar dari ruangan, dia sudah berjanji dengan Irsan untuk melanjutkan obrolan yang sempat tertunda, dan mereka bertemu di kantin sambil memesan makan siang.


"Mas, punya rekomendasi kontrakan atau apartemen barangkali?" tanya Jane, seketika Irsan terdiam mencoba mengingat sesuai informasi yang pernah dia terima.


"Kamu cari apartemen atau perumahan?" Irsan balik bertanya.


"Apa saja deh, yang penting aman dan nyaman," jawab Jane, dia tak peduli dengan kedua pilihan itu.

__ADS_1


"Kalau menurutku sih, mending apartemen, karena lebih terjamin keamanan dan pelayanannya, terlebih kamu sebagai pekerja, biasanya tak punya waktu untuk mengurus rumah, benar kan?" Irsan menatap Jane dengan serius, dan Jane mengangguk mengisyaratkan persetujuan terhadap usul Irsan saat itu.


Mereka berdua tampak ceria sambil makan dan berbincang. Sementara, di ujung sana, diam-diam Joe mengintip kebersamaan mereka, sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundak Joe dari belakang.


"Pak Joe," seru Gabriel, Joe dengan cepat menoleh. "Eh, kamu, bikin kaget saja!" Joe mengelus dada karena tersentak.


"Bapak ngapain di sini?" tanya Gabriel heran, dan Joe merasa tak senang karena Gabriel sudah mencampuri urusannya.


"Apapun yang saya lakukan, tak ada hubungannya denganmu! Saya ini berkuasa! Jadi, saya bebas mau berada dimana pun. Pergilah!" Joe mengusir Gabriel dengan kasar dan tak senang dengan kehadiran Gabriel yang secara tiba-tiba.


Beberapa karyawan lain mulai saling berbisik dan lirik-lirik tentang tingkah aneh atasan mereka.


"Ngapain sih dia diam di sana?" tanya Ririn kepada rekannya Santi.


"Entah," jawab Santi yang juga bingung. "Aku perhatiin dari tadi, Pak Joe terus memperhatikan sekretaris barunya itu," lanjut Santi, dan Ririn semakin penasaran dengan situasi saat itu.


"Mentang-mentang cantik, jadi diawasi terus deh," cetus Ririn, dan Santi langsung menepuk pundaknya. "Hush! Kalau terdengar oleh Pak Joe, bisa berabe!" cegah Santi, kemudian mereka berdua pergi dari tempat itu.


Aktivitas Joe menjadi sorotan beberapa mata karyawan yang melihatnya. Namun, Joe tampaknya tak peduli dengan semua itu, ia terus memantau Jane, dan perasaan geramnya terhadap Irsan semakin memuncak pada saat itu.


Seperti yang di lakukan kemarin, setelah makan, Jane hendak mengantar Irsan ke mushola, dan sepanjang jalan mereka berbicara dengan canda dan tawa yang membuat hati Joe semakin memanas.


"Nanti pulangnya barengan ya," pinta Irsan, dan Jane mengangguk karena Irsan berencana mengantarnya mencari apartemen.


Joe mencoba menguping percakapan mereka, tetapi tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Akhirnya, ia menyerah dan memutuskan untuk kembali ke ruangannya sambil menunggu Jane.


Tak lama kemudian, Jane kembali dengan senyuman manis yang terus memancar, menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira.


Joe ingin sekali menegurnya, tetapi dia khawatir itu hanya akan membuat Jane semakin membencinya.


Dengan pura-pura, Joe mencoba mencari topik yang berhubungan dengan pekerjaan agar bisa berbicara dengan Jane.


"Jane, apa kamu masih ingat semua yang dibicarakan oleh Mr. Huang saat kita rapat tadi?" tanya Joe untuk memecah keheningan. Jane menoleh padanya dan mengangguk.


"Tentu saja, saya ingat semuanya dengan baik. Bahkan saya mencatatnya," jawab Jane, dan obrolan mengenai pekerjaan pun terus berlanjut. Joe berharap bisa memperbaiki hubungan mereka meskipun hatinya masih penuh dengan penyesalan.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2