Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Intrik


__ADS_3

Pagi harinya, Jane bangun dengan semangat yang menyala. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan chat kepada Irsan sebelum memulai aktivitasnya.


[Selamat pagi, Mas Irsan 😘]


Itulah isi pesan yang dikirim Jane pada Irsan, penuh harapan bahwa lelaki itu akan merasakan getaran di hatinya juga.


Jane membuka selimutnya, bersiap-siap untuk mandi, dan kemudian harus segera berangkat ke perusahaan.


"Aduh, males banget deh, harus ketemu si tokek belang!" gumamnya dengan nada kesal yang di tunjukan terhadap Jonathan.


 Meskipun begitu, ia tahu betul bahwa di tempat kerja, ia harus bersikap profesional. Ia sudah menandatangani kontrak yang mengikatnya selama beberapa tahun ke depan, dan jika berani melanggarnya berarti harus siap berurusan dengan hukum.


Jane merasa bingung di antara perasaan semangat untuk bertemu Irsan dan rasa malas ketika harus berhadapan dengan Jonathan, terlebih lagi jika mereka harus berada dalam satu ruangan.


Jane bergegas menuju kamar mandi dan dengan cepat melepas seluruh pakaiannya.


Ia menyalakan shower dan dengan efisien menggosok tubuhnya memakai sabun, tidak ingin berlama-lama karena sudah bangun terlambat pagi ini.


Setelah berpakaian, ia menyiapkan sarapan seorang diri. Namun, seketika teringat wajah sang Oma di Bandung. Khawatir dan merindukan Oma, Jane langsung menghubungi Oma melalui panggilan video.


"Pagi, Oma, Jane kangen banget sama Oma," ucap Jane dengan tulus, dan Oma tersenyum di balik layar ponselnya.


"Oma juga kangen, sayang," balas Oma. Mereka berdua saling bertukar pembicaraan selama beberapa menit sambil Jane menikmati sarapan paginya.


Sehabis berbicara dengan sang Oma, Jane menutup panggilan video dan segera menyandang tasnya.


Ia keluar dari unit apartemen dan menuju ke basement tempat ia memarkirkan mobilnya.


Mobilnya melaju di jalan raya ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan bermotor.


Jane terjebak dalam kemacetan, dan wajahnya mulai tampak cemas. Beberapa kali, ia melirik jam tangannya.


"Aduh, tinggal 10 menit lagi!" keluh Jane dengan jemari yang terasa dingin dan gemetar saat memegang kemudi mobil.


"Kalau telat, aku bisa kena masalah!" sambungnya lagi dengan ketegangan yang semakin memuncak.


Jane menghembuskan napas beratnya dan dengan terpaksa menghubungi Jonathan untuk memberi tahu bahwa ia terjebak dalam kemacetan.


Joe dengan antusias mengangkat panggilan dari Jane dan tersenyum dengan wajah tampannya yang memenuhi layar ponsel Jane.


"Ada apa, cinta?" tanya Jonathan dengan nada penuh rayuan dan canda. Jane menggelengkan kepala dengan jengah mendengar sebutan itu.


"Pak, saya terjebak macet, saya mungkin akan terlambat masuk kantor," ujar Jane sambil menyalakan kamera belakang ponselnya untuk memperlihatkan situasi jalanan ibu kota yang sangat padat.


Joe mengangguk dengan pengertian, dan berbeda dari sikapnya terhadap karyawan lain, ia menjawab, "Tidak masalah."


Jane merasa lega setelah memberitahu Joe tentang situasinya. Akhirnya, ia bisa melanjutkan perjalanan setelah kemacetan yang cukup parah. Namun, ia sudah terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan.

__ADS_1


Ketika Jane tiba di kantor, ia mendapatkan tatapan sinis dari beberapa karyawan lainnya. Mereka tidak berani terlambat, bahkan hanya beberapa menit, sementara Jane adalah seorang karyawan baru.


Jane bergegas menuju ruangannya dan membuka pintu dengan keringat bercucuran dan napas tersengal. Kehadirannya menarik perhatian Jonathan, yang saat itu sedang sibuk di depan layar komputernya.


"Maaf, Pak," ucap Jane dengan nada hormat, dan Joe tersenyum manis padanya.


"Keringatan saja dia terlihat seksi," pikir Joe dalam hati, sambil fokus menatap dahi Jane yang dipenuhi keringat.


"Silakan duduk sayang... Eh maksud saya Jane," Joe meralat ucapan sambil tersenyum, meskipun Jane bisa merasakan nada panggilannya yang sebelumnya tidak disengaja.


Jane dengan hati-hati menurunkan diri ke kursi kantornya, meletakkan tasnya di samping, dan memberi dirinya sedikit waktu untuk bernapas dan merileks. Dengan lembut, ia mengeluarkan cermin dari dalam tasnya dan mulai menyeka keringat di dahi dan hidungnya.


Sambil memeriksa refleksi wajah, Jane mengaplikasikan dempul dan menyempurnakan lipstiknya. Wajahnya bersinar, dan Joe tak bisa mengalihkan pandangan saat melihat pesona kecantikan Jane.


"Andai aku jadi pacarnya, mungkin aku akan bahagia setiap hari," batin Joe, menghela nafas dalam-dalam. Meskipun Jane meliriknya sesaat, ia tetap tersenyum untuk menjaga etika meski risih dengan perhatian yang berlebihan dari Joe.


Joe bertanya, "Jane, apakah kamu sudah sarapan?" Jane mengangguk dan menjawab, "Sudah, Pak."


Joe memberikan tawaran, "Kalau belum, biar petugas yang membuatkan." Jane dengan sopan menolak tawaran tersebut. "Saya sudah sarapan, Pak, terima kasih."


Jane kemudian menyalakan komputer dan membuka laptopnya, memulai rutinitas kerja yang meminta perhatian dan fokus penuh.


Meski pagi ini terasa begitu sibuk, ia bertekad untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.


Jane terkejut saat melihat pintu terbuka dan Brian tiba-tiba berlari ceria mendekatinya, lantas ia langsung menyambutnya dengan hangat.


Diikuti oleh seorang wanita paruh baya dengan gaya modis dan kacamata yang menjadikannya terlihat sangat elegan, wanita ini adalah ibu dari Joe.


Ketika Joe memperkenalkan Ibunya, Jane segera menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.


"Selamat pagi, Bu," sapa Jane dengan sopan. Namun, Bu Carol hanya memberikan tatapan sinis yang langsung membuat suasana hati Jane menjadi tegang dan gugup.


"Wah, sekretaris baru?" tanya Bu Carol kepada Joe, dan Joe mengkonfirmasi bahwa Jane adalah sekretaris barunya dengan bangga.


Bu Carol mengangguk, tetapi tetap menyimpan tatapan tak mengenakan kepada Jane, membuat gadis itu merasa canggung.


Sementara itu, Brian terus bermain-main dan merengek-rengek naik ke lahunan Jane.


Ia berani meminta untuk bermain game di laptop Jane. Joe dengan cepat mengingatkannya.


"Brian...!" panggil Joe dengan nada marah, tetapi bocah itu hanya tertawa senang, merasa bebas bertingkah di dekat pamannya.


"Ma, tolong bawa Brian keluar, dia bikin pusing," perintah Joe kepada Bu Carol, yang segera memangku Brian menjauhi meja Jane.


"Enggak mau! Aku ingin tetap di sini bersama Kakak cantik," rengek Brian dengan manja.


Namun, Bu Carol mengambil alih, mencoba meyakinkan cucunya. "Brian, jangan mengganggu. Ayo kita keluar dari sini. Nanti Oma akan membeli makanan kesukaanmu, bagaimana?" tawarnya, dan Brian mengangguk dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


Jane hanya bisa melihat dengan simpati saat Brian dan Bu Carol pergi dari ruangan, meninggalkannya bersama Joe.


Suasana di kantor kembali hening, hanya suara ketukan jari di atas keyboard yang mengisi ruangan, hingga tiba waktu istirahat. Jane beranjak dari mejanya, dan Joe juga mengikutinya.


Joe segera mengajak Irsan pergi makan di luar, menjelaskan bahwa ada masalah serius yang harus dibahas.


Jane heran melihat kedekatan mereka berdua, padahal ia berharap bisa makan bersama dengan Irsan di kantin seperti biasa.


Saat Joe dan Irsan keluar dari gedung perusahaan, Jane mendapat pesan singkat dari Irsan yang memberitahunya bahwa ia akan pergi bersama Joe untuk membahas masalah serius.


Jane langsung merasa khawatir dan membalas pesan singkat itu, memperingatkan Irsan agar waspada terhadap Joe.


Di restoran mewah berbintang, Joe dan Irsan memesan hidangan makan siang istimewa. Setelah makan, Joe mulai membahas sesuatu yang tidak terduga.


"Irsan, apa kamu sedang dekat dengan Jane?" tanya Joe dengan serius, membuat Irsan yang sedang minum terkejut hingga tersedak.


"Iya, kami memang dekat, tetapi hanya sebagai teman," jawab Irsan dengan canggung dan heran karena pertanyaan Joe yang tidak sesuai dengan situasi. Ia mengira mereka akan membahas pekerjaan.


Joe kemudian memberikan peringatan serius, "Kamu harus hati-hati. Jane bukan perempuan yang baik. Dia sering mabuk-mabukan, suka keluyuran malam, dan banyak hal lainnya. Kamu harus berhati-hati!"


Irsan menjadi bingung dan merasa tidak yakin dengan pernyataan Joe. Ia tidak bisa langsung mempercayai kata-katanya yang terkesan aneh dan memprovokasi.


Joe terus saja menciptakan cerita-cerita negatif tentang Jane, berharap agar Irsan menjauh dari Jane.


Ia berbicara tentang perilaku buruk yang ia "tahu" dari Jane, meskipun sebenarnya banyak dari ceritanya itu hanya rekaan semata.


Irsan, dengan sikap yang hormat, hanya mendengarkan apa yang Joe katakan tanpa membenarkannya. Ia tahu bahwa Joe mungkin memiliki motif terselubung dalam mengatakan semua ini.


Sementara itu, Jane yang sedang di kantin menjadi tidak ada selera makan, dan pikirannya hanya terpaku pada Irsan seorang.


Sedang, Irsan mulai yakin bahwa Joe mungkin memiliki perasaan khusus terhadap Jane, dan dia tidak akan langsung percaya begitu saja pada semua yang Joe katakan.


Batin Irsan berkata, "kamu pikir, aku akan percaya?"


Sesaat, Irsan memperhatikan gerakan bibir Joe yang seakan puas telah menjelek-jelekan citra Jane di hadapannya.


Sampai akhirnya, mereka berdua kembali ke perusahaan tidak lama setelah itu, dan Irsan harus memainkan peran seolah-olah tidak ramah terhadap Jane, sesuatu yang membuatnya merasa sangat sulit untuk di lakukan.


Suasana menjadi tegang dan penuh dengan intrik di kantor, antara Jane, Irsan, dan Joe terjebak dalam permainan yang rumit antara perasaan dan intrik bisnis.


"Aku harap, rencanaku kali ini berhasil, dan Irsan jadi ilfeel terhadap Jane," batin Joe dengan seringai yang mengembang di sudut bibirnya.


Jane yang sudah kembali, ia tampak memperhatikan raut wajah Joe yang terkesan menyimpan sebuah rahasia. "Ada yang gak beres nih pasti!"


Dan pada akhirnya, mereka melanjutkan kembali pekerjaan seusai waktu istirahat habis.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2