
"Aduh, mampus aku!" batin Jane, ia berupaya untuk tak menatap wajah Joe, meski Joe terlihat sangat tampan dan mempesona. Namun, Jane sedikitpun tak tertarik, ia merasa ketegangan yang luar biasa mendapat tatapan elang dari Joe.
"Apa kamu masih ingat, kesalahan yang telah kamu perbuat kepadaku saat malam itu?!" tanya Joe, dengan intensitas suara yang memenuhi sekitar ruangan tersebut, saking kerasnya, suara Joe sampai menggema.
Jane memutar kedua matanya malas mendapat pertanyaan tersebut, ia sudah skeptis bahwa Joe tidak akan mempekerjakan Jane sebagai Sekretarisnya mengingat kesalahan yang di perbuat oleh Jane tempo hari yang mungkin tak akan pernah termaafkan.
"Iya, aku ingat!" jawab Jane seakan pasrah apapun yang akan menjadi keputusan Jonathan.
Jonathan tersenyum mendapat jawaban ketus yang keluar dari mulut Jane.
"Rasanya ingin aku gigit tuh bibir," batin Jonathan, fokusnya pada bibir Jane yang mungil, seksi, dan sedikit bervolume.
Jane bergeming, ia tak mampu berkata-kata lagi.
Sedangkan Joe terus menatapnya dengan intens memperhatikan penampilan Jane dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, terkadang memandangnya secara random.
Ia terpaku pada dua gundukan padat dan berisi di balik pakaian formal putih hitam yang di kenakan Jane.
"Ukurannya lumayan juga," batin Joe dengan seringai lebar.
"Udah?" celetuk Jane ketika hening selama beberapa detik, perkataanya berhasil membuyarkan lamunan kotor Joe pada saat itu.
"Oke!" Joe mengangguk, kemudian melipat kedua tangannya di atas dada. Namun, fokusnya masih kepada Jane yang masih berdiri dengan canggung.
"Jadi, bagaimana keputusannya? Aku di suruh balik lagi ke Bandung, begitu?" Jane sudah pesimis dari awal.
"Loh, kok balik lagi?" Joe mengerutkan kening atas pertanyaan Jane.
"Aku tak mungkin kan jadi Sekretarismu." Jane membuang muka, dengan cepat Joe meraih dagu Jane dan kembali menyoroti kedua matanya.
"Perasaan, aku tidak bilang begitu," kata Joe dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. Dengan cepat, Jane menghempaskan tangan Joe.
"Ish!" Jane menjaga jarak dari Joe.
Joe sesaat teringat akan ucapan Zico, ternyata takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Jane.
"Hmmm..." Joe menghembuskan napas beratnya, ia masih tak habis pikir, merasa pertemuan ini seperti mimpi.
Bahkan ia teringat akan adegan nakal dalam mimpinya bersama Jane, hal itu membuat Joe merencanakan sesuatu kepada Jane sebagai upaya pembalasan karena kelakuan Jane yang sudah kurang ajar terhadapnya.
"Kamu akan tetap bekerja disini sebagai Sekretasiku, jadi, lupakan masalah yang kemarin." Joe kembali duduk di meja kebesarannya, kemudian mulai membicarakan tentang apa saja tugas yang musti di kerjakan oleh Jane.
Jane melangkah, dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja kerja Joe.
Joe menyerahkan beberapa tugas penting dan memberikan arahan-arahan kepada Jane dalam pertemuan pertama mereka. Jane membuka laptop di depan Joe, siap untuk mencatat semua informasi yang diberikan.
Saat Joe berbicara, Jane mengambil catatan dengan teliti. Dia mencatat detail tugas, tenggat waktu, prioritas, dan informasi penting lainnya. Jane berusaha untuk memastikan bahwa tidak ada detail yang terlewatkan.
Saat Jane tengah mengetik, Joe terus memperhatikannya. Namun Jane tak menyadari hal itu, ia terlihat cuek dan fokus dengan ucapan Joe.
__ADS_1
"Cantik juga," batin Joe memuji.
"Sudah," kata Jane saat usai mengetik semua tugas yang di berikan Joe untuknya.
Joe yang tengah fokus memperhatikan kedua gunung kembar Jane langsung tersadarkan.
"Oh, ya sudah." Joe kembali menegakan posisi duduknya.
Fokusnya kembali buyar dengan pikiran kotor yang bergelayut dalam kepalanya.
"Berapa ukuran dadamu...eh, sorry, maksudku berapa usiamu?" tanya Joe meralat ucapannya, membuat kedua mata Jane terbelalak tajam dengan amarah.
"Apa maksudmu menanyakan ukuran dadaku?!" Jane naik pitam dan langsung memukul meja dengan kasar.
"Sorry Nona," ucap Joe berupaya menenangkan Jane kembali. "jangan emosi, rileks!" lanjutnya dengan suara rendah.
Kedua mulut Jane mengatup rapat dengan tatapan penuh kebencian kepada Joe.
"Jangan macam-macam ya!" ancam Jane sambil mengarahkan jari telunjuk tepat ke wajah Joe.
"Dasar Bos mesum!" lanjutnya mengejek.
"Apa kamu bilang? Kamu berani mengataiku 'Bos Mesum'?" Joe tak terima. "Kamu tidak tahu kalau kamu sedang berhadapan dengan siapa?" lanjutnya bertanya dengan amarah.
Jane membuang muka, dengan cepat Joe menggebrak meja hingga tubuh Jane terhentak.
"Heh???" Joe memanggilnya, Jane kembali memfokuskan pandanganya kepada Joe.
Apa lagi, ia di tuntut untuk hidup mandiri oleh Tante dan Pamannya, karena ia juga merasa tak enak jika harus terus hidup bergantung kepada sang Oma.
Jane menghirup napas kasarnya dalam-dalam, mencoba menerima situasi dan keadaan.
"Baiklah," batin Jane.
Kebetulan, Joe sedang tidak memiliki jadwal yang padat karena telah mengecek laporan keuangan dan tidak ada pertemuan yang mendesak. Ia duduk santai di ruangannya, kemudian bertanya kepada Jane tentang rencananya.
"Nanti kamu pulang ke mana?" tanya Joe, dengan perhatian terhadap situasi Jane yang baru saja tiba di Jakarta.
Jane merenung sejenak sebelum menjawab, "Aku belum tahu, tapi aku sedang mencari kontrakan yang terdekat."
Joe melempar senyuman licik. "Memangnya kamu tidak memiliki saudara di Jakarta?"
Jane mengangguk, lalu menjawab, "Ada, hanya saja aku tidak ingin merepotkan mereka. Aku ingin hidup mandiri."
Joe puas dengan jawaban Jane dan kemudian memberi tawaran tak terduga. "Bagaimana kalau kamu ikut pulang bersamaku?"
Jane terkejut. "Apa? Kamu mau mengajak aku tinggal di mana?"
"Di tempat tinggalku," jawab Joe dengan lugas. Jane mempertimbangkan tawaran itu, tetapi rasa ragu masih menghantuinya. Tinggal bersama dengan seorang pria yang baru dikenal, bahkan jika pria itu adalah atasannya sendiri, membuat Jane tampak cemas.
__ADS_1
"Bagaimana?" Joe bertanya lagi, mencoba memahami perasaan Jane.
Jane masih berpikir dan tak langsung menjawab. "Kamu ragu?" Joe menyadari keraguan Jane.
Jane akhirnya angkat bicara, "Aku takut..."
Joe segera memberi jaminan, "Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan hal yang tidak semestinya. Kau adalah Sekretarisku, jadi kamu tidak bisa jauh dari aku."
Tawaran Joe menghadirkan dilema bagi Jane, namun ia juga menyadari bahwa memiliki tempat tinggal yang nyaman dan gratis di Jakarta akan sangat membantu.
Jane akhirnya mengangguk pasrah atas tawaran Joe, mengingat posisi tinggi yang dipegangnya di perusahaan tempatnya bekerja. "Baiklah, aku mau," kata Jane, dan Joe tersenyum, merasa berhasil meyakinkan Jane.
"Apa tugas yang harus aku kerjakan selanjutnya?" tanya Jane, dengan tekad untuk segera memulai pekerjaannya. Ia merasa tidak enak jika tidak segera berkontribusi, mengingat dirinya masih sangat baru di lingkungan perusahaan.
Joe, yang selalu berpikir taktis, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memanfaatkan keberadaan Jane.
Joe bangkit dari posisinya. "Ayo ikuti aku!" perintah Joe, Jane turut bangkit, lalu mengekor di belakang lelaki itu.
Joe membuka handle pintu yang terletak di sudut ruangan pribadinya, lalu ia melambaikan tangan kearah Jane.
"Sini!" ajaknya, Jane terdiam sesaat mengintip dari luar celah pintu yang sedikit terbuka.
Ia melihat sebuah ruangan seperti kamar, lengkap dengan tempat tidur king size dan juga interior serta peralatan mewah lainnya yang tersedia di dalam sana.
"Astaga, mau ngapain?" tanya Jane dengan ekspresi bingung bercampur ragu dan cemas.
"Udah, ayo!" Joe menarik lengan Jane, kini keduanya berada di ruangan tersebut.
Joe dengan malas merebahkan tubuhnya diatas pembaringan, lalu kembali melambaikan tangannya kearah Jane yang masih berdiri cemas sambil mengedarkan pandangannya.
"Tuhan, aku takut," batin Jane dengan rasa was-was.
"Kemari!" kata Joe dengan senyuman menggoda.
"Jangan macam-macam ya kamu!" kedua mata Jane terbelalak tajam ke arah Joe yang sedang terkekeh.
"Tidak usah galak-galak begitu dong," kata Joe dengan suara lembut.
Ia membuka seluruh pakaiannya secara perlahan, membuat Jane ingin menghindar.
"Jonathan, apa yang akan kamu lakukan, hah?!" Jane berusaha keluar, tetapi pintu kamar itu sudah terkunci.
Joe menertawakan ekspresi ketakutan Jane saat itu.
Joe bangkit dalam keadaan bertelanjang dada, lalu ia mendekati Jane dan berbisik halus di telinganya.
"Aku masih ingat, kamu meledekku sambil bergoyang, coba ulangi gerakan itu!" titahnya, dengan cepat Jane mendaratkan satu tamparan keras di pipi kiri Joe.
...
__ADS_1
Bersambung..