Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Dikira Maho


__ADS_3

Sesaat, Zico teringat kepada Zea, lantas ia segera meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat padanya. [Selamat malam Zea🙂] Sambil menunggu balasan dari Zea, Zico mencoba mengajak Joe mengobrol. Tampaknya Joe sedang asyik mendengarkan musik lewat headsfree sambil memejamkan kedua mata dan mengangguk anggukan kepala, sesekali mulutnya ikut bersenandung menyanyikan lagu beraliran rock favoritnya.


"Joe!!!" Zico kesal, ia dengan sengaja membuka heandsfree yang terpasang di telinga Joe, membuat Joe menghembuskan napas beratnya.


"Zico, kamu ganggu saja!" Joe hendak meraih headsfreenya kembali, tetapi Joe langsung melempar obrolan yang dirasa sangat serius.


"Eh, Jojo," Zico memanggil Joe menggunakan nama kesayangan kedua orangtua Joe sehari-hari.


"Ah, apaan sih, jadi orang rese banget!" Joe menatap Zico dengan malas.


"Temenin aku ngobrol kek, ini malah asyik sendiri! Tuh, tangan dan keningmu sudah persis mumy!" ledek Zico sambil melempar sukro kearah sahabatnya tersebut.


"Aish! kaya sendirinya enggak aja!" balas Joe, hingga mereka saling melempar makanan dan gelak tawa pun tak terhindarkan. Keduanya tampak asyik, sesaat Zico dapat melupakan hatinya yang masih galau karena ulah Tiara.


"Udah Joe, udah!" Zico mengangkat kedua tangannya keatas dan masih belum bisa menahan tawanya.


"Bangsat!!!" umpat Joe dengan gurauan, lalu ia beranjak dan menggelitiki pinggang Zico, sampai Zico semakin terpingkal dan terkencing di celana.


"Joe, geli Joe! udahan Joe!!!" tawa Zico bercampur dengan rasa geli.


Hingga aktifitas mereka tanpa sengaja terlihat oleh asisten rumah tangga Zico yang sering di sapa Teh Marni.


Marni membelalakan kedua matanya ketika melihat Joe berada di atas tubuh Zico, hingga ia mengira jika mereka memang tengah menjalin hubungan sesama.


"Astaghfirullah." Marni menatap kaget, dengan cepat Joe langsung menghentikan perbuatannya yang saat itu tengah menjahili Zico.


"Eh, Teteh," kata Zico, ia langsung merubah posisinya, sementara Joe merasa puas telah membuat Zico terkencing di celana.


"Sana! bau tuh!" usir Joe, Zico dengan cepat segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia membuka pakaian dengan sangat hati-hati karena lukanya masih basah.


Marni masih syok, ia tak menyangka dengan apa yang sudah ia lihat barusan.


"Astaga, ternyata benar gosip orang-orang," batin Marni, ia mematung sambil menggelengkan kepala. "Gak nyangka sih, ganteng-ganteng kok belok?" sambungnya yang tak habis pikir. Sementara, Zico tak terlalu memikirkan reaksi Marni, ia malah asyik mengguyur tubuhnya di bawah rintik air yang keluar dari atas shower dan sesekali menyanyikan lagu Korea favoritnya.


Marni mengira kalau Zico dan Joe barusan habis melakukan sesuatu di ruang tamu.


Sedangkan, malam itu, tepatnya pukul 10, Joe sedang membereskan pakaian dan lainnya, karena ia akan kembali ke Jakarta.


Ia berjalan menuju dapur dan bertemu Marni yang saat itu masih belum tidur.


"Teh, Zico kemana?" tanya Joe.


"Tuan, masih mandi," jawab Marni sambil menunduk.


Tiba-tiba, Zico membuka sedikit celah pintu kamar mandi dan memperlihatkan sedikit wajahnya.

__ADS_1


"Joe, ambilin handuk aku!" perintahnya, Joe berdecak kesal sedikit malas.


"Ah, ambil saja sendiri!" balas Joe, ia tak suka di suruh-suruh meski oleh sahabatnya sendiri.


Hingga akhirnya, Marni yang mengambilkan handuk untuknya dengan segera.


"Ini handuknya, Tuan." Marni menyerahkan benda tersebut tepat ke tangan Zico yang sedikit terhalang pintu.


"Makasih," ucap Zico.


Zico mengeringkan tubuhnya, lalu melilit handuk tersebut di bawah pusarnya yang menampilkan otot-otot di tangan dan perutnya, karena Zico dan Joe rajin berlatih fisik.


Ketika Zico keluar dari dalam kamar mandi, Marni yang menatapnya dari atas kepala sampai ujung kaki hanya bisa tertegun sambil menelan saliva dengan susah payah.


"Buset, badannya keren banget," batin Marni menatap kagum terhadap fisik sempurna yang dimiliki oleh Zico.


"Tapi sayang, ternyata doyan batang," sambungnya lagi sambil terkekeh.


Zico melihat tawa Marni, ia langsung memicingkan kedua mata kearah wanita tersebut.


"Teteh ngetawain aku?" tanya Zico dengan kedua mata yang membola sempurna.


Marni menggeleng dan menjawab, " tidak, Tuan, saya lagi nahan bersin," kilahnya. Namun, Zico yang tak percaya langsung mendelik, kemudian berlalu dari hadapannya.


Ia kembali menghampiri Joe di ruang tamu dalam keadaan masih mengenakan handuk.


Zico kali ini menatap ponselnya yang menyala di atas sofa, lantas ia dengan antusias segera meraihnya karena ia tahu, Zea mengirim pesan balasan untuknya.


Karena terburu-buru, Zico tersandung kaki Joe, hingga tubuhnya hampir jatuh mengenai tubuh Joe. Tetapi, dengan gerak reflek Joe berhasil menahan tubuh Zico menggunakan kedua telapak tangannya yang menempel dengan perut Zico yang sixpact.


Lagi dan lagi, Marni memergoki mereka, sehingga ia semakin yakin jika Zico dan Joe memang sedang menjalin hubungan sesama jenis.


"Ya Allah." Marni tak henti-hentinya menyebut.


Kali ini Joe dan Zico tak sampai melihatnya, sehingga mereka merasa tak terjadi apa-apa, dan biasa saja.


Zico langsung membaca pesan singkat dari gadis pujaannya sambil tersenyum menatap ponselnya.


"Hadeuh yang lagi kasmaran," ledek Joe sambil beranjak dari duduknya, Zico sesaat meliriknya.


"Sirik aja bisanya! Makannya, kamu juga cari pacar, biar kita tidak di sangka maho sama orang-orang!" ucap Zico dengan tegas, Joe langsung memutar kedua matanya jengah seakan menganggap ucapan Zico sama sekali tak penting.


"Masa bodoh! Mau di katain maho kek! selama aku tak begitu, ngapain di pusingin!" Joe melangkah keluar rumah, dan meminta Aris, sopir pribadi Zico untuk mengantarnya ke Jakarta pada malam itu.


Zico membuntuti Joe. Namun, fokusnya masih menatap layar ponsel.

__ADS_1


"Joe, hati-hati ya, kalau sudah sampai, kabari aku," pesannya, dan Joe mengangguk dengan gerakan malas.


"Ya!" balasnya.


"Oya, besok calon Sekretarismu mau interview," sambung Zico kembali mengingatkan, dan Joe membalasnya dengan anggukan.


"Ya, kamu atur-atur saja, seleksi yang ketat, kalau O'on skip! bikin ribet!" ucap Joe dengan tegas supaya Zico memilihkan Sekretaris terbaik untuknya.


"Oke!" Zico kembali masuk kedalam rumah, sementara Joe segera meluncur untuk meninggalkan kota Bandung.


Di sepanjang jalan, Joe dan Aris berbincang-bincang untuk memecah kesunyian, karena lewat jalan tol suasananya sangat gelap dan sepi di beberapa titik.


Tampaknya mendengarkan musik lewat mp3 saja tidak cukup, Aris tetap mempertahankan rasa kantuk yang mulai menyerang.


"Ris, ngantuk?" tanya Joe, ia tak ingin mengambil resiko, lantas ia meminta Aris berhenti di rest area.


"Turun dulu, yuk!" ajak Joe, Aris mengangguk, dan keduanya turun dari dalam mobil menuju sebuah kafe lalu memesan kopi.


Sesaat mereka beristirahat setelah setengah perjalanan, sambil ngopi dan menyesap sebatang rokok, lalu kembali berbincang-bincang kurang lebih selama 20 menit.


"Kamu masih ngantuk?" Joe kembali mengamati kedua mata Aris, ia sendiri tak mampu mengambil alih kemudi untuk menggantikan Aris, karena tangannya masih cedera.


"Kita lanjut jalan saja, Tuan," kata Aris yang mulai sedikit segar setelah ngopi dan merokok di rest area.


Joe dan Aris melanjutkan perjalanan di malam yang sunyi. Aris berusaha untuk tetap terjaga dan fokus, meskipun rasa kantuk sesekali mencoba menghampirinya. Mereka merasakan betapa sepi dan gelapnya malam di jalan tol, dengan hanya cahaya lampu-lampu jalan sebagai panduan.


Setelah beberapa jam, mereka akhirnya sampai di Jakarta tepat pukul 1 dini hari.


Joe meminta aris untuk istirahat di kediamannya sampai pagi, sementara Joe yang sudah sangat ngantuk langsung memasuki kamar pribadinya, lalu merebahkan tubuh karena rasa lelah yang teramat menyiksa setelah mengunjungi Ciwidey.


***


Sementara itu...


Keesokan paginya, di tempat yang berbeda.


Jane dengan antusias bangun lebih pagi, karena hari ini ia akan menjalankan wawancara di perusahaan LotusSilk Corporation, yakni perusahaan yang bergerak di bidang garmen dan fashion.


Maka dari itu, Jane berusaha terlihat rapih dan trendy di balik pakaian formalnya.


Ia dengan terampil merias wajahnya menggunakan makeup yang sesuai, lalu kembali latihan berbicara depan cermin sampai ia merasa cukup puas.


"Hmm...mudah-mudahan aku lolos!" harapnya dengan ambisi.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2