Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Antara 2 hati


__ADS_3

Di tengah keseruannya bersama Jane, Irsan merasa getaran ponselnya dan dengan penuh hormat, ia mengangkat teleponnya, lalu menjawab, "Assalamualaikum, Umi."


Dengan nada khawatir, ibunya bertanya, "Walaikumsalam, Irsan, kamu dimana? Cepat pulang!" Sang ibu, yang sangat peduli dan cemas terhadap Irsan, ingin memastikan putranya tidak terlalu lama bersama Jane, seorang gadis berbeda keyakinan.


Irsan dengan tulus menjawab, "Aku lagi membantu Jane merapihkan tempat tinggal sementaranya, sebentar lagi aku pulang, Umi." Ia selalu jujur kepada orangtuanya, karena nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan sejak kecil sangat berarti baginya.


Bu Hani memaksakan, "Pokoknya pulang, ya pulang!" Irsan hanya bisa mengangguk, meskipun gerakannya tidak terlihat oleh ibunya.


Setelah berbicara dengan ibunya, Irsan memandang Jane dengan berat hati. "Jane, aku harus segera pulang," ucapnya.


Jane mencoba meyakinkan Irsan, "Gak bisa nanti saja?" Namun Irsan menggeleng, "Lain waktu saja ya, Umi dan Abi ku sudah menunggu di rumah." Ia ingin mematuhi permintaan ibunya.


Dengan keramahan, Jane berucap, "Oke, hati-hati di jalan ya, Mas," dan Irsan mengangguk dengan senyum tulus. Ia bangkit dari duduknya dan Jane mengantar sampai ke depan pintu.


Jane masih mencoba menawarkan bantuan, "Mas, kan tidak bawa kendaraan, bagaimana kalau aku antar sampai rumah?" Tetapi Irsan tetap menolak, "Tidak usah, aku bisa pesan taksi online kok."


Jane merasa terharu atas bantuan Irsan dalam menyewa apartemen, namun dia tetap bersikeras, "Tidak usah, biar aku antar!" Irsan dengan lembut menasihatinya, "Jane, sebaiknya kamu istirahat saja, ya."


Jane mengangguk, dan Irsan dengan penuh hormat pamit untuk meninggalkan apartemen Jane. Saat pintu tertutup, Jane tersenyum riang, merasa beruntung bisa menjadi lebih dekat dengan Irsan, dan ia melangkah menuju kamar dengan kedua mata yang berbinar memancarkan cinta dan kebahagiaan yang tak terkira.


Namun, sialnya, Joe sepertinya tidak pernah berhenti mengganggunya dengan panggilan telepon, yang hanya membuat suasana hati Jane semakin buruk.


Ia merasa seperti berada dalam sebuah situasi yang sulit: jika ia mengabaikan panggilan itu, ia khawatir bahwa itu mungkin terkait dengan pekerjaan, tetapi jika ia mengangkatnya, ia merasa malas untuk mendengarkan basa-basi Jonathan yang tidak diinginkan.


Jane, dengan sedikit ketus, akhirnya mengangkat panggilan Joe, "Ya, halo, Pak Jonathan, selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" Kali ini, Jonathan berpura-pura ingin berbicara tentang pekerjaan, tapi sebenarnya ia hanya ingin kesempatan untuk bertemu dengan Jane.


Joe dengan santai mengatakan, "Jane, ada hal penting yang harus kita bahas, dan ini berkaitan dengan pekerjaan." Hal ini langsung membuat Jane merasa tertekan. Dengan ekspresi pasrah, Jane berkata, "Oke, katakan saja."


Joe mencoba memanfaatkan situasi ini untuk merebut hati Jane sebelum Jane benar-benar jatuh ke tangan Irsan, "Kita harus bertemu!" pintanya dengan nada tegas.


Jane yang merasa sangat malas dan enggan bertemu dengan Jonathan bertanya, "Bertemu?"

__ADS_1


Jonathan menjawab secara langsung, "Ya," dan memberikan alamat tempat pertemuan kepada Jane.


Setelah berbicara dengan Joe, Jane merasa sangat frustasi. Ia melempar ponselnya dengan keras ke permukaan tempat tidur dan merenggangkan tubuhnya dengan rasa pasrah yang kentara.


"Haduh!" keluh Jane sambil menggelengkan kepala, lalu ia mengambil ponsel lagi untuk melihat waktu.


"Ah, betapa malasnya!" sambungnya ketika melihat bahwa sudah pukul 7 malam.


***


Sementara itu di kediaman Irsan...


Setelah melaksanakan shalat Maghrib, Irsan mendapat teguran tegas dari ibunya, Bu Hani.


"Irsan, sebaiknya kamu hindari kedekatan dengan Jane. Dia memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita, dan Umi khawatir bahwa perasaan cinta akan tumbuh di antara kalian," ujar Bu Hani dengan ketegasan. Irsan tersenyum lembut sambil menggeleng, "Umi... Umi, jangan khawatir. aku dan Jane hanya teman biasa."


Namun, ibunya tetap khawatir, "Tapi, Nak, perasaan bisa muncul tanpa diduga. Kamu harus berhati-hati. Umi tidak ingin kamu terlalu dekat dengannya, kecuali jika dia memeluk keyakinan kita."


Irsan tertawa mendengar saran ibunya, "Ya ampun, Umi, kenapa mikirnya begitu jauh? aku sudah jelaskan beberapa kali, kami hanya rekan kerja." Ia menghela napas sejenak dan menambahkan, "Jika bicara soal jodoh, tentu aku akan memilih wanita yang seiman."


***


Di unit apartemen Jane...


Jane bersiap-siap untuk bertemu dengan Jonathan di salah satu kafe elit. Meskipun ia merasa malas untuk berdandan, terutama hanya untuk bertemu dengan Jonathan, malam itu ia memilih tampil dengan keaslian dirinya.


Jane memutuskan untuk tampil apa adanya, tanpa make-up yang berlebihan. Namun, yang mengejutkan, Jonathan justru semakin terpesona oleh kepolosan Jane. Wajahnya terlihat begitu manis tanpa lapisan riasan yang tebal.


Keduanya duduk berhadapan di kafe, dan Joe telah memesan minuman untuk Jane. Dengan lembut, Joe menyuruhnya, "Silahkan diminum dulu." Jane meraih gelas yang tinggi di depannya, tetapi tidak bisa menahan keingintahuannya, "Ini tidak dicampur apa-apa, kan?" tanyanya dengan nada penyelidikan. Joe hanya tertawa dan menjawab, "Tentu saja tidak. Apa wajahku terlihat jahat?"


Saat Joe mendekatkan wajahnya dengan wajah Jane, membuatnya merasa sedikit kesal. Jane langsung memotongnya, "Mari kita langsung ke intinya," ujarnya dengan nada tegas.

__ADS_1


Jonathan sesaat terdiam, mencoba mencari topik pembicaraan, terutama karena pertemuan ini tidaklah direncanakan dengan baik, dan tujuannya hanya untuk bisa bertemu Jane. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya menyampaikan maksudnya, "Ehm... Jadi begini, aku memiliki rencana untuk koleksi mode pakaian terbaru..."


Jane mendengarkan Jonathan menjelaskan panjang lebar, dan ucapannya berbelit-belit, terkesan tak masuk akal, sehingga membuat Jane merasa semakin jenuh. Ia bahkan kesulitan untuk memberikan banyak komentar atau respon yang relevan.


Jonathan akhirnya menutup pembicaraannya dengan pertanyaan, "Gimana, Jane, kamu setuju?" Namun, pertanyaan ini terdengar palsu dan tidak berkaitan dengan diskusi sebelumnya. Jane hanya mengangguk dengan ekspresi datar, menunjukkan bahwa ia kurang tertarik pada topik pembicaraan Jonathan yang tampaknya tidak memiliki hubungan dengan bisnis perusahaan.


Di dalam hati, Jane merasa bingung saat melihat gerakan bibir Joe yang begitu cepat saat merangkai kata-kata yang terkesan tak beraturan. "Kesambet setan kali ya?" batin Jane, mencoba mencari penjelasan atas pembicaraan Jonathan yang sangat membingungkan.


Akhirnya, Jane tak kuasa lagi menahan kantuk, lalu ia menguap lebar, bibirnya terbuka dengan jelas. Joe segera menghentikan pembicaraannya, penuh kekhawatiran saat menatap Jane.


"Jane, kamu sudah ngantuk ya? Hmm... Padahal ini masih pukul 8, lho," kata Joe dengan nada prihatin.


Jane hanya mengangguk, namun pandangannya terlihat sinis. Sesekali, ia memeriksa ponselnya, mungkin berharap ada pesan dari Irsan, tetapi nihil.


Jane semakin merasa bosan, ketika tiba-tiba, Joe menggenggam tangan Jane di atas meja dan menatapnya intens. Jane mencoba menarik tangannya, namun Joe sulit untuk dilepaskan.


"Apa ini?" tanya Jane dengan ketidakpuasan, mencoba untuk melepaskan genggaman Joe.


"Jane..." seru Joe dengan nada memohon. Meskipun dengan enggan, Jane merespon, "Iya, apa?"


"Tolong, maafkan aku. Aku mohon," pinta Joe dengan tulus, meskipun Jane tampaknya menghindari kontak mata.


Jane menjawab singkat, "Ya."


Joe mencoba merayu, "Yang ikhlas, dong." Jane dengan malas menggerakkan bibirnya, lalu mencubit telapak tangan Joe dengan cubitan kecil.


"Aww, aww..." Joe menggelengkan lengannya sebagai respons atas cubitan Jane. "Jane, sakit, loh," keluh Joe sambil mengusap telapak tangannya sendiri, sementara Jane hanya tertawa geli.


"Rasain!" gumam Jane yang seakan puas.


Tiba-tiba, ponsel Jane bergetar, menandakan pesan masuk dari pria pujaannya, Irsan. Dengan mata yang membelalak, wajah Jane langsung bersemangat untuk membaca pesan tersebut, dan ia sepenuhnya mengabaikan Joe yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Joe mencoba untuk melanjutkan pembicaraannya, "Jadi, mengenai tren fashion itu..." Namun, ucapannya terhenti ketika Jane tiba-tiba membentangkan kelima jemarinya, dan kembali fokus membalas pesan dari Irsan. Joe merasa semakin kesal dan cemburu karena ia menyadari bahwa Jane sedang sibuk dengan percakapan bersama Irsan melalui pesan tersebut.


Bersambung...


__ADS_2